{"id":54584,"date":"2021-04-01T15:42:29","date_gmt":"2021-04-01T08:42:29","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=54584"},"modified":"2021-04-01T15:42:34","modified_gmt":"2021-04-01T08:42:34","slug":"bahaya-efek-domino-serangan-di-mabes-polri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bahaya-efek-domino-serangan-di-mabes-polri\/","title":{"rendered":"Bahaya Efek Domino Serangan di Mabes Polri"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Penembakan di Mabes Polri, Jakarta, oleh ZA (25) dinilai memiliki pola serangan yang biasa dilakukan pengikut Jamaah Ansharut\u00a0Daulah\u00a0(JAD). Kuncinya, serangan sporadis, tanpa komando. Ini dianggap berbahaya lantaran bisa ditiru siapapun tanpa terlacak sebelumnya.\u00a0 Diketahui, ZA\u00a0melakukan penembakan di Mabes Polri setelah melewati penjagaan petugas yang renggang. Ia menodongkan sepucuk senjata yang ia bawa ke arah petugas. Aksi saling tembak tak terhindarkan. Ia pun tewas dengan tembakan di jantung. Aksi teror di Mabes Polri\u00a0yang terjadi, Rabu (31\/3),\u00a0itu hanya berselang tiga hari sejak aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28\/3). Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib menduga aksi semacam ini memicu efek domino alias menginspirasi\u00a0pengikut jaringan teroris lain melakukan serangan serupa. &quot;Ini yang wanita aja berani, masa laki-laki cuma rebahan. Ini makanya harus hati-hati, aksi ini menjadi inspirasi bagi aksi-aksi yang lain,&quot; kata dia kepada CNNIndonesia.com, Rabu (31\/3) malam. Habib menyebut pola serangan sporadis, tak terstruktur, tanpa rencana matang, serta beberapa kali melibatkan perempuan seperti itu memang menjadi pola serangan yang digunakan kelompok JAD. Kata dia, aksi tersebut dilakukan tanpa komando dan tidak bergantung pada pemimpin. Kasus lainnya ialah serangan dua perempuan menyerang Mako Brimob, Depok,\u00a02018; dan bom bunuh diri oleh satu keluarga di Surabaya di tahun yang sama. Pola serangan itu, katanya, berbeda dengan aksi-aksi teror asal 2000-an yang dilakukan oleh Jemaah Islamiyah (JI). Dalam beberapa kasus, JI melakukan serangan mereka dengan terstruktur dan memberi korban jiwa lebih banyak. Misalnya, dalam serangan Bom Bali I (2002), Bom JW Marriot (2003), Bom Bali II (2005), hingga Bom Ritz Carlton (2009). Dibanding sejumlah aksi teror tersebut, pola serangan JAD\u00a0bak frenchise atau bisa dilakukan siapapun tanpa memerlukan izin dari pimpinan. &quot;Enggak perlu ada fatwa pimpinan. Pokoknya siapa pun dari anggota yang meyakini ideologi ini kalau melakukan aksi ijtihadiyah, bunuh diri, dipersilakan siapapun yang ready,&quot; katanya. Sebab, Habib menyebut\u00a0para pengikut JAD\u00a0memiliki keyakinan yang sama bahwa aksi tersebut adalah ibadah amaliyah yang akan membawa pelakunya ke surga meski tak terikat struktur organisasi. &quot;Jadi pengendalian jaringannya bisa saja terputus-putus. Maksudnya setiap sel bahkan tidak saling mengenal. Tapi sama-sama dalam satu pemahaman ideologi yg sama,&quot; kata dia. Ideologi ini, kata dia, bisa didapatkan lewat sejumlah ceramah pemimpin JAD\u00a0sendiri, Aman Abdurrahman, yang saat ini hanya tinggal menunggu eksekusi mati, yang masih dapat diakses lewat internet secara bebas. Walhasil, menurutnya, pola serangan tersebut justru lebih berbahaya\u00a0karena akan memotivasi sesama anggota yang lain untuk melakukan hal serupa. &quot;Apalagi ini wanita. Wanita bisa menginsipirasi laki-laki. Mereka pasti malu. Laki-laki, teroris maksud saya. Mereka pasti malu lah,&quot; ucapnya. Bukan Lonewolf Habib mencurigai ZA bukan merupakan lonewolf atau teroris tunggal tanpa jaringan. Menurut dia, serangan teror oleh anggota JAD\u00a0kerap dilakukan secara bersama-sama, minimal dua sampai tiga orang. Setidaknya, dalam hal pengajaran\u00a0teknik\u00a0terornya. Pihaknya pun menunggu penyelidikan polisi terkait kemungkinan ada pelaku lain dalam serangan terakhir di Mabes Polri itu. &quot;Kalau lonewolf, itu kalau sama sekali dia enggak punya jaringan. Kalau saya sih menduga ini ada temennya, entah dua, tiga orang. Tapi saya melihat dia enggak mungkin belajar sendiri,&quot; katanya. Sebelumnya, Kapolri Listyo\u00a0Sigit\u00a0menyebut ZA merupakan pelaku tunggal alias lonewolf. Kepolisian juga menyita surat wasiat dari rumahnya di Ciracas, Jakarta Timur.(thr\/arh)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/><strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Penembakan di <strong>Mabes Polri<\/strong>, Jakarta, oleh ZA (25) dinilai memiliki pola serangan yang biasa dilakukan pengikut <strong>Jamaah Ansharut\u00a0Daulah<\/strong>\u00a0(JAD). Kuncinya, serangan sporadis, tanpa komando. Ini dianggap berbahaya lantaran bisa ditiru siapapun tanpa terlacak sebelumnya.\u00a0<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Diketahui, ZA\u00a0melakukan penembakan di Mabes Polri setelah melewati penjagaan petugas yang renggang. Ia menodongkan sepucuk senjata yang ia bawa ke arah petugas. Aksi saling tembak tak terhindarkan. Ia pun tewas dengan tembakan di jantung.<\/p>\n<p>Aksi teror di Mabes Polri\u00a0yang terjadi, Rabu (31\/3),\u00a0itu hanya berselang tiga hari sejak aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28\/3).<\/p>\n<p>Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib menduga aksi semacam ini memicu efek domino alias menginspirasi\u00a0pengikut jaringan teroris lain melakukan serangan serupa.<\/p>\n<p>&#8220;Ini yang wanita aja berani, masa laki-laki cuma rebahan. Ini makanya harus hati-hati, aksi ini menjadi inspirasi bagi aksi-aksi yang lain,&#8221; kata dia kepada <em>CNNIndonesia.com<\/em>, Rabu (31\/3) malam.<\/p>\n<p>Habib menyebut pola serangan sporadis, tak terstruktur, tanpa rencana matang, serta beberapa kali melibatkan perempuan seperti itu memang menjadi pola serangan yang digunakan kelompok JAD. Kata dia, aksi tersebut dilakukan tanpa komando dan tidak bergantung pada pemimpin.<\/p>\n<p>Kasus lainnya ialah serangan dua perempuan menyerang Mako Brimob, Depok,\u00a02018; dan bom bunuh diri oleh satu keluarga di Surabaya di tahun yang sama.<\/p>\n<p>Pola serangan itu, katanya, berbeda dengan aksi-aksi teror asal 2000-an yang dilakukan oleh Jemaah Islamiyah (JI).<\/p>\n<p>Dalam beberapa kasus, JI melakukan serangan mereka dengan terstruktur dan memberi korban jiwa lebih banyak. Misalnya, dalam serangan Bom Bali I (2002), Bom JW Marriot (2003), Bom Bali II (2005), hingga Bom Ritz Carlton (2009).<\/p>\n<p>Dibanding sejumlah aksi teror tersebut, pola serangan JAD\u00a0bak <em>frenchise<\/em> atau bisa dilakukan siapapun tanpa memerlukan izin dari pimpinan.<\/p>\n<p>&#8220;Enggak perlu ada fatwa pimpinan. Pokoknya siapa pun dari anggota yang meyakini ideologi ini kalau melakukan aksi <em>ijtihadiyah<\/em>, bunuh diri, dipersilakan siapapun yang <em>ready<\/em>,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Sebab, Habib menyebut\u00a0para pengikut JAD\u00a0memiliki keyakinan yang sama bahwa aksi tersebut adalah ibadah amaliyah yang akan membawa pelakunya ke surga meski tak terikat struktur organisasi.<\/p>\n<p>&#8220;Jadi pengendalian jaringannya bisa saja terputus-putus. Maksudnya setiap sel bahkan tidak saling mengenal. Tapi sama-sama dalam satu pemahaman ideologi yg sama,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>Ideologi ini, kata dia, bisa didapatkan lewat sejumlah ceramah pemimpin JAD\u00a0sendiri, Aman Abdurrahman, yang saat ini hanya tinggal menunggu eksekusi mati, yang masih dapat diakses lewat internet secara bebas.<\/p>\n<p>Walhasil, menurutnya, pola serangan tersebut justru lebih berbahaya\u00a0karena akan memotivasi sesama anggota yang lain untuk melakukan hal serupa.<\/p>\n<p>&#8220;Apalagi ini wanita. Wanita bisa menginsipirasi laki-laki. Mereka pasti malu. Laki-laki, teroris maksud saya. Mereka pasti malu lah,&#8221; ucapnya.<\/p>\n<h2>Bukan Lonewolf<\/h2>\n<p>Habib mencurigai ZA bukan merupakan <em>lonewolf<\/em> atau teroris tunggal tanpa jaringan. Menurut dia, serangan teror oleh anggota JAD\u00a0kerap dilakukan secara bersama-sama, minimal dua sampai tiga orang. Setidaknya, dalam hal pengajaran\u00a0teknik\u00a0terornya.<\/p>\n<p>Pihaknya pun menunggu penyelidikan polisi terkait kemungkinan ada pelaku lain dalam serangan terakhir di Mabes Polri itu.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau <em>lonewolf<\/em>, itu kalau sama sekali dia enggak punya jaringan. Kalau saya sih menduga ini ada temennya, entah dua, tiga orang. Tapi saya melihat dia enggak mungkin belajar sendiri,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Sebelumnya, Kapolri Listyo\u00a0Sigit\u00a0menyebut ZA merupakan pelaku tunggal alias <em>lonewolf. <\/em>Kepolisian juga menyita surat wasiat dari rumahnya di Ciracas, Jakarta Timur.<br \/><b>(thr\/arh)<\/b><br \/><br \/><\/p>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Penembakan di Mabes Polri, Jakarta, oleh ZA (25) dinilai memiliki pola serangan yang biasa dilakukan pengikut Jamaah Ansharut\u00a0Daulah\u00a0(JAD). Kuncinya, serangan sporadis, tanpa komando. Ini dianggap berbahaya lantaran bisa ditiru siapapun tanpa terlacak sebelumnya.\u00a0 Diketahui, ZA\u00a0melakukan penembakan di Mabes Polri setelah melewati penjagaan petugas yang renggang. Ia menodongkan sepucuk senjata yang ia bawa ke [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":54585,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"CNN","source_url":"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20210401073245-12-624720\/bahaya-efek-domino-serangan-di-mabes-polri","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[420,422,7],"class_list":["post-54584","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-jad","tag-jemaah-islamiyah","tag-terorisme"],"better_featured_image":{"id":54585,"alt_text":"","caption":"","description":"6d0a0027e88d5ef4dfff6b826f715d47","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/bahaya-efek-domino-serangan-di-mabes-polri_60653e587e9ab.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/bahaya-efek-domino-serangan-di-mabes-polri_60653e587e9ab.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/bahaya-efek-domino-serangan-di-mabes-polri_60653e587e9ab.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/bahaya-efek-domino-serangan-di-mabes-polri_60653e587e9ab.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1189","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54584","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54584"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54584\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54585"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54584"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54584"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54584"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}