{"id":54607,"date":"2021-04-01T14:34:31","date_gmt":"2021-04-01T07:34:31","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=54607"},"modified":"2021-04-01T14:34:38","modified_gmt":"2021-04-01T07:34:38","slug":"cerita-eks-jad-dicekoki-berita-kondisi-muslim-di-timur-tengah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/cerita-eks-jad-dicekoki-berita-kondisi-muslim-di-timur-tengah\/","title":{"rendered":"Cerita Eks JAD Dicekoki Berita Kondisi Muslim di Timur Tengah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Gilang Nabaris menceritakan pengalamannya kala menjadi anggota\u00a0kelompok\u00a0teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Tegal, Jawa Tengah, beberapa tahun silam. Gilang sempat ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 pada Agustus 2017, dan bebas dari Lapas pada Agustus 2020. Dalam riwayatnya, Gilang mengungkapkan JAD Tegal yang hanya terdiri dari delapan orang itu kerap didoktrin oleh amir atau pemimpin mereka dengan berita-berita keadaan muslim di Timur Tengah. &quot;Pertama yang disampaikan tentang Imam Mahdi akhir zaman, jadi saya merasa inilah jalan saya untuk ikut sumbangsih pada agama saya. Di situ saya yakin doktrin begitu kuat karena yang disampaikan berita Timur Tengah terus,&quot; tutur Gilang dalam program Mata Najwa yang ditayangkan di Trans7, Rabu (31\/1) malam. Gilang pun mengaku awal mula ketertarikannya dengan jaringan JAD saat berempati atas kondisi muslim di Timur Tengah seperti Palestina dan Suriah. Akhirnya, ia mencoba mencari jaringan yang mampu mengantarkannya ke Suriah kala itu. Dari pintu ke pintu pengajian, Gilang akhirnya bergabung dalam jaringan JAD di tempat asalnya, Tegal. Gilang pun mengaku kala itu lebih banyak diajari latihan fisik oleh pimpinannya. Ia kerap disuruh naik gunung, berenang, dan juga belajar bela diri. Gilang juga mengaku tak langsung diajari merakit bahan peledak, sebab menurutnya ia fokus untuk pemberangkatan di Suriah. Namun demikian, sebelum Gilang akhirnya dikirim ke Suriah, ia terlebih dahulu tertangkap usai bertugas mengirimkan uang sebesar Rp300 juta ke Filipina melalui western union. &quot;Namun tidak semua tahu karena rencana yang dibebankan kepada kita masing-masing anggota, tidak boleh bocor kepada teman kita sendiri,&quot; jelasnya. Setelah bebas dari Lapas, Gilang mengaku sudah tidak berhubungan lagi dengan anggota JAD, bahkan ia mengaku telah dimusuhi mereka. Gilang mengatakan setelah ia membaca ikrar setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), para anggota JAD memutus kontak dengannya. Dari kejadian itu, Gilang menyadari bahwa gerakan yang ia ikuti tidak menjunjung persatuan di dalam kelompoknya sendiri seperti yang ia idamkan sebelumnya. &quot;Justru ketika saya masuk ke rutan mereka saling mengkafirkan, padahal kita satu organisasi, senasib di rutan. Lalu saya mikir kalau seperti itu, di mana persatuan kita?&quot; kata dia. Atas pengalamannya itu, Gilang mewanti-wanti kepada seluruh orang tua beserta keluarga untuk ikut memantau aktivitas anak mereka. Sebab, usia keemasan yang menjadi sasaran jaringan ini adalah anak muda berusia 17-24 tahun. &quot;Intinya apapun di luar sana, ketika mengajak untuk istilahnya kekerasan atau membunuh dan melakukan bom, harus diwaspadai,&quot; ujarnya. Pendiri JAD\u00a0Oman Rochman alias Aman Abdurrahman saat menjalani sidang sebagai terdakwa kasus serangan bom Thamrin\u00a0di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat, 25 Mei 2018. (CNN Indonesia\/Safir Makki) Pada 2018 lalu, Jamaah Ansarut Daulah (JAD) divonis sebagai organisasi terlarang oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. JAD pimpinan Zainal Anshori alias Abu Fahry alias Qomaruddin bin M Ali. Hakim pun dibekukan. Hakim PN Jaksel memvonis JAD sebagai korporasi tindak pidana terorisme. Organisasi ini disebut berafiliasi dengan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Awal mula pembentukan JAD diinisiasi oleh Aman Abdurrahman di Lapas Nusakambangan pada 2014. Aman saat itu mengumpulkan para pengikutnya, antara lain Abu Musa, Zainal Anshori, dan Marwan. Aman kemudian menunjuk Zainal sebagai pemimpin karena mengetahui Zainal dan Marwan punya banyak pengikut di Jawa Timur, terutama yang mendukung khilafah dan ISIS dengan pimpinannya Abu Bakar Al Baghdadi. JAD dinilai bertanggung jawab atas serangkaian teror di berbagai daerah sejak 2016. Beberapa di antaranya teror bom Thamrin (Jakarta Pusat), Kampung Melayu (Jakarta Timur), hingga Gereja Ouikumen Samarinda (Kalimantan Timur). (khr\/pmg)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Gilang Nabaris menceritakan pengalamannya kala menjadi anggota\u00a0kelompok\u00a0<strong>teroris<\/strong> Jamaah Ansharut Daulah (<strong>JAD<\/strong>) di Tegal, Jawa Tengah, beberapa tahun silam. Gilang sempat ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 pada Agustus 2017, dan bebas dari Lapas pada Agustus 2020.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam riwayatnya, Gilang mengungkapkan JAD Tegal yang hanya terdiri dari delapan orang itu kerap didoktrin oleh amir atau pemimpin mereka dengan berita-berita keadaan muslim di Timur Tengah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pertama yang disampaikan tentang Imam Mahdi akhir zaman, jadi saya merasa inilah jalan saya untuk ikut sumbangsih pada agama saya. Di situ saya yakin doktrin begitu kuat karena yang disampaikan berita Timur Tengah terus,&#8221; tutur Gilang dalam program Mata Najwa yang ditayangkan di Trans7, Rabu (31\/1) malam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gilang pun mengaku awal mula ketertarikannya dengan jaringan JAD saat berempati atas kondisi muslim di Timur Tengah seperti Palestina dan Suriah. Akhirnya, ia mencoba mencari jaringan yang mampu mengantarkannya ke Suriah kala itu. Dari pintu ke pintu pengajian, Gilang akhirnya bergabung dalam jaringan JAD di tempat asalnya, Tegal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gilang pun mengaku kala itu lebih banyak diajari latihan fisik oleh pimpinannya. Ia kerap disuruh naik gunung, berenang, dan juga belajar bela diri. Gilang juga mengaku tak langsung diajari merakit bahan peledak, sebab menurutnya ia fokus untuk pemberangkatan di Suriah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun demikian, sebelum Gilang akhirnya dikirim ke Suriah, ia terlebih dahulu tertangkap usai bertugas mengirimkan uang sebesar Rp300 juta ke Filipina melalui western union.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Namun tidak semua tahu karena rencana yang dibebankan kepada kita masing-masing anggota, tidak boleh bocor kepada teman kita sendiri,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah bebas dari Lapas, Gilang mengaku sudah tidak berhubungan lagi dengan anggota JAD, bahkan ia mengaku telah dimusuhi mereka. Gilang mengatakan setelah ia membaca ikrar setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), para anggota JAD memutus kontak dengannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari kejadian itu, Gilang menyadari bahwa gerakan yang ia ikuti tidak menjunjung persatuan di dalam kelompoknya sendiri seperti yang ia idamkan sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Justru ketika saya masuk ke rutan mereka saling mengkafirkan, padahal kita satu organisasi, senasib di rutan. Lalu saya mikir kalau seperti itu, di mana persatuan kita?&#8221; kata dia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Atas pengalamannya itu, Gilang mewanti-wanti kepada seluruh orang tua beserta keluarga untuk ikut memantau aktivitas anak mereka. Sebab, usia keemasan yang menjadi sasaran jaringan ini adalah anak muda berusia 17-24 tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Intinya apapun di luar sana, ketika mengajak untuk istilahnya kekerasan atau membunuh dan melakukan bom, harus diwaspadai,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<table class=\"pic_artikel_sisip_table\" align=\"center\">\n<tbody>\n<tr>\n<td>\n<div class=\"pic_artikel_sisip\" align=\"center\">\n<div class=\"pic\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" title=\"PLEDOI AMAN ABDURRAHMAN\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/akcdn.detik.net.id\/community\/media\/visual\/2018\/05\/25\/927762d8-f78e-42f4-b7a7-4f75a256bce8_169.jpeg?ssl=1\" alt=\"Terdakwa kasus serangan bom thamrin, Oman Rochman alias Aman Abdurrahman menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat, 25 Mei 2018. Agenda sidang kali ini adalah pembacaan nota pembelaan terdakwa (pledoi), sidang sebelumnya, Jaksa penuntut umum menuntut terdakwa dengan hukuman mati. CNNIndonesia\/Safir Makki\" \/><\/div>\n<div class=\"pic\">Pendiri JAD\u00a0Oman Rochman alias Aman Abdurrahman saat menjalani sidang sebagai terdakwa kasus serangan bom Thamrin\u00a0di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat, 25 Mei 2018. (CNN Indonesia\/Safir Makki)<\/div>\n<\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada 2018 lalu, Jamaah Ansarut Daulah (JAD) divonis sebagai organisasi terlarang oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. JAD pimpinan Zainal Anshori alias Abu Fahry alias Qomaruddin bin M Ali. Hakim pun dibekukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hakim PN Jaksel memvonis JAD sebagai korporasi tindak pidana terorisme. Organisasi ini disebut berafiliasi dengan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Awal mula pembentukan JAD diinisiasi oleh Aman Abdurrahman di Lapas Nusakambangan pada 2014. Aman saat itu mengumpulkan para pengikutnya, antara lain Abu Musa, Zainal Anshori, dan Marwan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aman kemudian menunjuk Zainal sebagai pemimpin karena mengetahui Zainal dan Marwan punya banyak pengikut di Jawa Timur, terutama yang mendukung khilafah dan ISIS dengan pimpinannya Abu Bakar Al Baghdadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">JAD dinilai bertanggung jawab atas serangkaian teror di berbagai daerah sejak 2016. Beberapa di antaranya teror bom Thamrin (Jakarta Pusat), Kampung Melayu (Jakarta Timur), hingga Gereja Ouikumen Samarinda (Kalimantan Timur).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>(khr\/pmg)<br \/>\n<\/b><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Gilang Nabaris menceritakan pengalamannya kala menjadi anggota\u00a0kelompok\u00a0teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Tegal, Jawa Tengah, beberapa tahun silam. Gilang sempat ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 pada Agustus 2017, dan bebas dari Lapas pada Agustus 2020. Dalam riwayatnya, Gilang mengungkapkan JAD Tegal yang hanya terdiri dari delapan orang itu kerap didoktrin oleh amir atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":54608,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"CNN","source_url":"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20210401100946-20-624807\/cerita-eks-jad-dicekoki-berita-kondisi-muslim-di-timur-tengah","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[420,421],"class_list":["post-54607","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-jad","tag-jamaah-ansarut-daulah"],"better_featured_image":{"id":54608,"alt_text":"","caption":"","description":"1f8b01e055b21d89cdb19d9d46e0a798","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/cerita-eks-jad-dicekoki-berita-kondisi-muslim-di-timur-tengah_606555ade5714.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/cerita-eks-jad-dicekoki-berita-kondisi-muslim-di-timur-tengah_606555ade5714.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/cerita-eks-jad-dicekoki-berita-kondisi-muslim-di-timur-tengah_606555ade5714.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/cerita-eks-jad-dicekoki-berita-kondisi-muslim-di-timur-tengah_606555ade5714.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1030","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54607","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54607"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54607\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54608"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54607"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54607"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54607"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}