{"id":54877,"date":"2021-04-17T10:23:00","date_gmt":"2021-04-17T03:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=54877"},"modified":"2021-04-07T22:45:50","modified_gmt":"2021-04-07T15:45:50","slug":"gereja-terunik-di-dunia-berbentuk-sepatu-kaca","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/gereja-terunik-di-dunia-berbentuk-sepatu-kaca\/","title":{"rendered":"Gereja Terunik di Dunia Berbentuk Sepatu Kaca"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -\u00a0 Sebuah bangunan, terutama tempat ibadah seringkali memiliki arsitektur yang monoton dan cenderung serupa satu sama lain. Namun, berbeda halnya dengan gereja di Taiwan yang memiliki bentuk sangat di luar kebiasaan. Mungkin inilah gereja terunik di dunia jika dilihat dari bentuknya yang menyerupai sepatu hak tinggi perempuan. Bentuk ini seolah terobosan baru abad ke 21 dalam pembangunan gereja. Pembangunan gereja berbentuk sepatu hak tinggi ini tak terlepas dari upaya untuk menarik jemaat perempuan lebih banyak lagi. Juga diharapkan mampu mengarahkan jemaat perempuan untuk rajin beribadah di gereja. Gereja ini seluruhnya terbuat dari kaca berwarna biru sehingga terlihat transparan baik dari dalam maupun luar. Sekilas, struktur gereja ini serupa dengan sepatu kaca milik Cinderella. Gereja ini dirancang setinggi 55 kaki atau 16,7 meter dan lebar 36 kaki atau 10 meter. Pengerjaannya hanya memakan waktu dua bulan. Para pengunjung atau jemaat bisa datang ke gereja ini ketika sudah resmi dibuka pada tanggal 8 Februari 2016. Meski begitu, bentuk sepatu hak tinggi itu bukan satu-satunya cara untuk menarik hati jemaah wanita. Menurut Zheng Rongfeng, juru bicara Southwest Coast National Scenic Area, akan terdapat 100 fitur barang berorientasi perempuan seperti kursi untuk pecinta, daun mapel, biskuit dan kue.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;\u00a0 Sebuah bangunan, terutama tempat ibadah seringkali memiliki arsitektur yang monoton dan cenderung serupa satu sama lain. Namun, berbeda halnya dengan gereja di Taiwan yang memiliki bentuk sangat di luar kebiasaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin inilah gereja terunik di dunia jika dilihat dari bentuknya yang menyerupai sepatu hak tinggi perempuan. Bentuk ini seolah terobosan baru abad ke 21 dalam pembangunan gereja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembangunan gereja berbentuk sepatu hak tinggi ini tak terlepas dari upaya untuk menarik jemaat perempuan lebih banyak lagi. Juga diharapkan mampu mengarahkan jemaat perempuan untuk rajin beribadah di gereja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja ini seluruhnya terbuat dari kaca berwarna biru sehingga terlihat transparan baik dari dalam maupun luar. Sekilas, struktur gereja ini serupa dengan sepatu kaca milik Cinderella. Gereja ini dirancang setinggi 55 kaki atau 16,7 meter dan lebar 36 kaki atau 10 meter. Pengerjaannya hanya memakan waktu dua bulan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para pengunjung atau jemaat bisa datang ke gereja ini ketika sudah resmi dibuka pada tanggal 8 Februari 2016. Meski begitu, bentuk sepatu hak tinggi itu bukan satu-satunya cara untuk menarik hati jemaah wanita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Zheng Rongfeng, juru bicara Southwest Coast National Scenic Area, akan terdapat 100 fitur barang berorientasi perempuan seperti kursi untuk pecinta, daun mapel, biskuit dan kue.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;\u00a0 Sebuah bangunan, terutama tempat ibadah seringkali memiliki arsitektur yang monoton dan cenderung serupa satu sama lain. Namun, berbeda halnya dengan gereja di Taiwan yang memiliki bentuk sangat di luar kebiasaan. Mungkin inilah gereja terunik di dunia jika dilihat dari bentuknya yang menyerupai sepatu hak tinggi perempuan. Bentuk ini seolah terobosan baru abad ke [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55162,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"nationalgeographic","source_url":"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/13303373\/gereja-terunik-di-dunia-berbentuk-sepatu-kaca","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22],"tags":[],"class_list":["post-54877","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional"],"better_featured_image":{"id":55162,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/gereja-sepatu-kaca-taiwan.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/gereja-sepatu-kaca-taiwan.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/gereja-sepatu-kaca-taiwan.jpg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/gereja-sepatu-kaca-taiwan.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1248","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54877","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54877"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54877\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55162"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54877"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54877"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54877"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}