{"id":54917,"date":"2021-04-14T19:24:00","date_gmt":"2021-04-14T12:24:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=54917"},"modified":"2021-04-09T23:22:04","modified_gmt":"2021-04-09T16:22:04","slug":"gereja-rahasia-kuno-dari-abad-ke-1-ditemukan-di-bekas-wilayah-isis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/gereja-rahasia-kuno-dari-abad-ke-1-ditemukan-di-bekas-wilayah-isis\/","title":{"rendered":"&#8216;Gereja Rahasia\u2019 Kuno Dari Abad Ke-1 Ditemukan di Bekas Wilayah ISIS"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Para arkeolog di Suriah menemukan sisa-sisa \u2018gereja rahasia\u2019 yang kira-kira berasal dari abad pertama Kekristenan. Itu tersembunyi di wilayah yang pernah menjadi kekuasaan ISIS selama dua tahun. Namun, entah bagaimana caranya, gerbang kuno yang mengarah ke bawah tanah, tampaknya telah luput dari perhatian pasukan ISIS yang pernah menempatinya. Di samping gundukan tanah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, para peneliti menemukan terowongan luas yang menjadi rute pelarian, pintu tersembunyi, prasasti Yunani, dan altar dengan ukiran salib dan simbol kristiani lainnya. \u2018Gereja rahasia\u2019 yang ditemukan di kota Manbij ini diduga pernah berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan selama Kekaisaran Romawi. Di dalamnya bahkan terdapat kuburan yang mungkin digunakan untuk pendeta gereja. Sisa-sisa manusia juga ditemukan di dalam makam batu besar. Seandainya ISIS mengetahui tentang reruntuhan gereja yang pertama kali ditemukan peneliti pada 2014 ini, mereka pasti sudah menghancurkannya. Para arkeolog merahasiakannya selama bertahun-tahun sebelum menggalinya pada 2017, setahun setelah ISIS meninggalkan area tersebut. Penduduk setempat juga membantu menemukan bagian kedua terowongan dengan menggunakan tangga batu menuju gua yang dipenuhi dengan kamar-kamar dan simbol Kristen. \u201cTempat ini sangat spesial. Saya pikir, di sinilah para penjaga akan berdiri di gerbang untuk melihat pergerakan di luar. Selanjutnya mereka akan memperingatkan yang lainnya untuk keluar di pintu lain apabila perlu melarikan diri,\u201d papar Abdulwahab Sheko, kepala Exploration Committee di Manbij. Pada abad-abad awal Kekristerinan, umat Kristen menghadapi persekusi dari Kekaisaran Romawi. Pertama-tama oleh Kaisar Nero. Ada kesalahpahaman dengan ajaran mereka yang menimbulkan tuduhan inses, kanibalisme, dan kekejaman lainnya. Menurut John Wineland, profesor sejarah dan arkeologi di Southeastern University, itu mungkin terkait dengan salah paham tentang \u201cpersekutuan Kristen di mana Kristus berkata untuk mengambil dan memakan tubuh dan meminum darah-Nya\u201d. Akibatnya, umat Kristen dipaksa untuk beribadah secara rahasia sampai abad 313. Pada saat itu, agama Kristen tidak dianggap sebagai kejahatan lagi oleh Kaisar Konstatinus. Meskipun lokasi pertama mungkin digunakan sebagai tempat perlindungan bagi orang Kristen yang ingin berdoa, namun penemuan simbol relijius di seluruh situs kedua menunjukkan bahwa itu muncul setelah agama Kristen diterima. Saat ini, setelah ISIS keluar dari wilayah tersebut, para peneliti mengatakan, mereka berkomitmen untuk melindungi \u2018gereja rahasia\u2019 ini.\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Para arkeolog di Suriah menemukan sisa-sisa \u2018gereja rahasia\u2019 yang kira-kira berasal dari abad pertama Kekristenan. Itu tersembunyi di wilayah yang pernah menjadi kekuasaan ISIS selama dua tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, entah bagaimana caranya, gerbang kuno yang mengarah ke bawah tanah, tampaknya telah luput dari perhatian pasukan ISIS yang pernah menempatinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di samping gundukan tanah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, para peneliti menemukan terowongan luas yang menjadi rute pelarian, pintu tersembunyi, prasasti Yunani, dan altar dengan ukiran salib dan simbol kristiani lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2018Gereja rahasia\u2019 yang ditemukan di kota Manbij ini diduga pernah berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan selama Kekaisaran Romawi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dalamnya bahkan terdapat kuburan yang mungkin digunakan untuk pendeta gereja. Sisa-sisa manusia juga ditemukan di dalam makam batu besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seandainya ISIS mengetahui tentang reruntuhan gereja yang pertama kali ditemukan peneliti pada 2014 ini, mereka pasti sudah menghancurkannya. Para arkeolog merahasiakannya selama bertahun-tahun sebelum menggalinya pada 2017, setahun setelah ISIS meninggalkan area tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penduduk setempat juga membantu menemukan bagian kedua terowongan dengan menggunakan tangga batu menuju gua yang dipenuhi dengan kamar-kamar dan simbol Kristen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTempat ini sangat spesial. Saya pikir, di sinilah para penjaga akan berdiri di gerbang untuk melihat pergerakan di luar. Selanjutnya mereka akan memperingatkan yang lainnya untuk keluar di pintu lain apabila perlu melarikan diri,\u201d papar Abdulwahab Sheko, kepala Exploration Committee di Manbij.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada abad-abad awal Kekristerinan, umat Kristen menghadapi persekusi dari Kekaisaran Romawi. Pertama-tama oleh Kaisar Nero. Ada kesalahpahaman dengan ajaran mereka yang menimbulkan tuduhan inses, kanibalisme, dan kekejaman lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut John Wineland, profesor sejarah dan arkeologi di Southeastern University, itu mungkin terkait dengan salah paham tentang \u201cpersekutuan Kristen di mana Kristus berkata untuk mengambil dan memakan tubuh dan meminum darah-Nya\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akibatnya, umat Kristen dipaksa untuk beribadah secara rahasia sampai abad 313. Pada saat itu, agama Kristen tidak dianggap sebagai kejahatan lagi oleh Kaisar Konstatinus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun lokasi pertama mungkin digunakan sebagai tempat perlindungan bagi orang Kristen yang ingin berdoa, namun penemuan simbol relijius di seluruh situs kedua menunjukkan bahwa itu muncul setelah agama Kristen diterima.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat ini, setelah ISIS keluar dari wilayah tersebut, para peneliti mengatakan, mereka berkomitmen untuk melindungi \u2018gereja rahasia\u2019 ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Para arkeolog di Suriah menemukan sisa-sisa \u2018gereja rahasia\u2019 yang kira-kira berasal dari abad pertama Kekristenan. Itu tersembunyi di wilayah yang pernah menjadi kekuasaan ISIS selama dua tahun. Namun, entah bagaimana caranya, gerbang kuno yang mengarah ke bawah tanah, tampaknya telah luput dari perhatian pasukan ISIS yang pernah menempatinya. Di samping gundukan tanah yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55276,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"nationalgeographic","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"109"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[22,109],"tags":[],"class_list":["post-54917","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional","category-site"],"better_featured_image":{"id":55276,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Rahasia-Kuno-Suriah.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Rahasia-Kuno-Suriah.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Rahasia-Kuno-Suriah.jpg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":109,"name":"Situs Bersejarah","description":"","slug":"site","count":30,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Rahasia-Kuno-Suriah.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1427","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54917","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54917"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54917\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55276"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54917"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54917"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54917"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}