{"id":54953,"date":"2021-04-05T11:55:24","date_gmt":"2021-04-05T04:55:24","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=54953"},"modified":"2021-04-05T11:55:27","modified_gmt":"2021-04-05T04:55:27","slug":"polri-ada-pihak-sebut-bom-makassar-serangan-mabes-rekayasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/polri-ada-pihak-sebut-bom-makassar-serangan-mabes-rekayasa\/","title":{"rendered":"Polri: Ada Pihak Sebut Bom Makassar &#8211; Serangan Mabes Rekayasa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Pol Rusdi Hartono, menyebut, saat ini masih ada sejumlah tantangan yang mesti dihadapi aparat kepolisian dan pemerintah dalam penindakan terorisme. Salah satunya berkaitan dengan paham atau ketidakpercayaan masyarakat terkait aksi-aksi terorisme yang baru saja terjadi saat ini. &quot;Gerakan radikal yang ada sebagian (masyarakat) masih tidak percaya. Atau sebagian sengaja tidak percaya. Ini masih terjadi di masyarakat,&quot; kata Rusdi saat menjadi salah satu pemberi materi dalam webinar Public Virtue dengan tema Bom di Makasar dan Penembakan di Mabes Polri, Persepektif Toleransi dan Demokrasi, Minggu (4\/4). Rusdi tak menyangkal saat ini masih banyak pihak yang menganggap dua aksi teror yakni yang terjadi di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret dan aksi penyerangan di Mabes Polri pada 31 Maret adalah bohong. &quot;Bahkan ada yang berpendapat bahwa kasus Makassar, terus kemudian juga penembakan di Mabes Polri itu rekayasa kata mereka,&quot; ucap Rusdi. Bahkan kelompok yang tidak percaya ini menyatakan pendapatnya di muka umum, sehingga menimbulkan kebingungan di masyarakat. &quot;Ini realitas yang perlu kita hadapi bersama,&quot; kata Rusdi. Padahal, kata Rusdi, saat ini aparat kepolisian terus berusaha meringkus jaringan-jaringan terorisme sejak munculnya dua aksi yang terpaut tiga hari itu. Saat ini identitas dan jaringan kedua pelaku terorisme itu telah berhasil dikantongi kepolisian. Rusdi menyebut dua aksi yang terjadi baru-baru ini memang berkaitan. Aksi ini juga bertaut penggerebekan terorisme yang dilakukan aparat pada 6 Januari. &quot;Sebelumnya pada tanggal 6 Januari Densus 88 telah melakukan tindakan preventif, tindakan pencegahan dengan melakukan penegakan hukum terhadap yang kami sebut itu kelompok villa mutiara. Itu di Makassar,&quot; kata dia. Sedikitnya ada 20 orang yang berhasil diamankan dalam operasi vila mutiara, 18 orang di antaranya, kata Rusdi, dibawa ke Jakarta. Sementara dua orang lainnya meninggal di tempat. &quot;Memang salah satu ciri khas kelompok ini adalah mereka memiliki kemampuan mental untuk melakukan bom bunuh diri seperti itu, kemampuan mereka mentalnya untuk melakukan itu mereka memiliki, seperti itu,&quot; kata dia. Dia pun menyebut dua pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar terafiliasi kelompok villa mutiara ini. Peristiwa di Katedral pun, kata dia, telah melukai 20 orang. Empat orang dari seluruh korban ini masih harus menjalani perawatan karena luka akibat bom yang meledak pekan lalu itu. &quot;Mereka ini kelompok Jamaah Anshor Daulah dan berafiliasi dengan ISIS, seperti itu,&quot; katanya. (tst\/fea)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Karo Penmas Mabes <strong>Polri<\/strong>, Brigjen Pol Rusdi Hartono, menyebut, saat ini masih ada sejumlah tantangan yang mesti dihadapi aparat kepolisian dan pemerintah dalam penindakan terorisme. Salah satunya berkaitan dengan paham atau ketidakpercayaan masyarakat terkait aksi-aksi terorisme yang baru saja terjadi saat ini.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>&#8220;Gerakan radikal yang ada sebagian (masyarakat) masih tidak percaya. Atau sebagian sengaja tidak percaya. Ini masih terjadi di masyarakat,&#8221; kata Rusdi saat menjadi salah satu pemberi materi dalam webinar Public Virtue dengan tema Bom di Makasar dan Penembakan di Mabes Polri, Persepektif Toleransi dan Demokrasi, Minggu (4\/4).<\/p>\n<p>Rusdi tak menyangkal saat ini masih banyak pihak yang menganggap dua aksi teror yakni yang terjadi di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret dan aksi penyerangan di Mabes Polri pada 31 Maret adalah bohong.<\/p>\n<p>&#8220;Bahkan ada yang berpendapat bahwa kasus Makassar, terus kemudian juga penembakan di Mabes Polri itu rekayasa kata mereka,&#8221; ucap Rusdi.<\/p>\n<p>Bahkan kelompok yang tidak percaya ini menyatakan pendapatnya di muka umum, sehingga menimbulkan kebingungan di masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Ini realitas yang perlu kita hadapi bersama,&#8221; kata Rusdi.<\/p>\n<p>Padahal, kata Rusdi, saat ini aparat kepolisian terus berusaha meringkus jaringan-jaringan terorisme sejak munculnya dua aksi yang terpaut tiga hari itu. Saat ini identitas dan jaringan kedua pelaku terorisme itu telah berhasil dikantongi kepolisian.<\/p>\n<p>Rusdi menyebut dua aksi yang terjadi baru-baru ini memang berkaitan. Aksi ini juga bertaut penggerebekan terorisme yang dilakukan aparat pada 6 Januari.<\/p>\n<p>&#8220;Sebelumnya pada tanggal 6 Januari Densus 88 telah melakukan tindakan preventif, tindakan pencegahan dengan melakukan penegakan hukum terhadap yang kami sebut itu kelompok villa mutiara. Itu di Makassar,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>Sedikitnya ada 20 orang yang berhasil diamankan dalam operasi vila mutiara, 18 orang di antaranya, kata Rusdi, dibawa ke Jakarta. Sementara dua orang lainnya meninggal di tempat.<\/p>\n<p>&#8220;Memang salah satu ciri khas kelompok ini adalah mereka memiliki kemampuan mental untuk melakukan bom bunuh diri seperti itu, kemampuan mereka mentalnya untuk melakukan itu mereka memiliki, seperti itu,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>Dia pun menyebut dua pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar terafiliasi kelompok villa mutiara ini.<\/p>\n<p>Peristiwa di Katedral pun, kata dia, telah melukai 20 orang. Empat orang dari seluruh korban ini masih harus menjalani perawatan karena luka akibat bom yang meledak pekan lalu itu.<\/p>\n<p>&#8220;Mereka ini kelompok Jamaah Anshor Daulah dan berafiliasi dengan ISIS, seperti itu,&#8221; katanya.<\/p>\n<p><b>(tst\/fea)<br \/>\n<\/b><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Pol Rusdi Hartono, menyebut, saat ini masih ada sejumlah tantangan yang mesti dihadapi aparat kepolisian dan pemerintah dalam penindakan terorisme. Salah satunya berkaitan dengan paham atau ketidakpercayaan masyarakat terkait aksi-aksi terorisme yang baru saja terjadi saat ini. &#8220;Gerakan radikal yang ada sebagian (masyarakat) masih tidak percaya. Atau sebagian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":54954,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"CNN","source_url":"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20210404151057-12-625789\/polri-ada-pihak-sebut-bom-makassar--serangan-mabes-rekayasa","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[209,7],"class_list":["post-54953","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-radikalisme","tag-terorisme"],"better_featured_image":{"id":54954,"alt_text":"","caption":"","description":"42529c8572a3cd713b4cb41bb00206cd","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/polri-ada-pihak-sebut-bom-makassar-serangan-mabes-rekayasa_606a83f5dae31.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/polri-ada-pihak-sebut-bom-makassar-serangan-mabes-rekayasa_606a83f5dae31.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/polri-ada-pihak-sebut-bom-makassar-serangan-mabes-rekayasa_606a83f5dae31.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/polri-ada-pihak-sebut-bom-makassar-serangan-mabes-rekayasa_606a83f5dae31.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"912","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54953","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54953"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54953\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54954"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54953"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54953"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54953"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}