{"id":55006,"date":"2021-04-06T21:23:12","date_gmt":"2021-04-06T14:23:12","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=55006"},"modified":"2021-04-06T21:23:58","modified_gmt":"2021-04-06T14:23:58","slug":"ketua-mpr-ri-masih-ada-masalah-patogenik-terkait-ideologi-negara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/ketua-mpr-ri-masih-ada-masalah-patogenik-terkait-ideologi-negara\/","title":{"rendered":"Ketua MPR RI: Masih ada masalah &#8220;patogenik&#8221; terkait ideologi negara"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai sampai saat ini masih terdapat dua masalah &quot;patogenik&quot; (menimbulkan penyakit) besar terkait ideologi negara, pertama, kelemahan dalam merawat dan mentransformasikan ideologi kebangsaan dari rumusan ideal abstrak menjadi praktik kolektif kenegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan.Kedua menurut dia, kelemahan mencegah infiltrasi narasi dan gerakan kontra ideologi negara dalam berbagai aspek. &quot;Kita harus mengakui, ada kealpaan dalam konteks tersebut. Kealpaan itu membuat kelompok konservatif-eksklusif mudah meng-intrusi dunia pendidikan dan kelembagaan sosial-kemasyarakatan dengan paham, ideologi, dan doktrin keagamaan eksklusif yang menebarkan ancaman terhadap negara Pancasila,&quot; kata Bamsoet dalam keterangannya di Jakarta, Senin. Hal itu dikatakan Bamsoet saat melantik anggota MPR RI pergantian antar waktu MF Nurhuda dari Fraksi PKB, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin. Dia menjelaskan, ancaman tersebut semakin nyata dengan adanya bom bunuh diri yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar dan penyerangan di Markas Besar Polri oleh perempuan bersenjata. Bamsoet meminta Polri bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) harus terus mengungkap jaringan terorisme, dan mendalami pihak-pihak yang menjadi pemasok bahan perakit bom, senjata maupun aliran dana dari pihak yang menjadi sponsor terorisme. &quot;Polri bersama BNPT dan Badan Intelijen Negara juga harus bekerja sama melakukan upaya preventif dalam mencegah aksi terorisme maupun radikalisme dengan mengedepankan aspek pencegahan dini,&quot; ujarnya. Menurut dia, sesuai UU nomor 13 tahun 2019 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3), MPR RI secara nyata terus mengambil peran sebagai lembaga pengawal ideologi bangsa. Salah satunya menurut Bamsoet dengan melaksanakan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. &quot;Sosialisasi Empat Pilar MPR harus dilakukan secara sungguh-sungguh seluruh anggota MPR RI. Bukan sekadar formalitas bertemu konstituen di daerah pemilihan, tetapi juga dapat menyasar kelompok masyarakat yang rawan dimasuki oleh paham radikal,&quot; katanya. Dia mengajak seluruh anggota MPR RI terus menggali metode sosialisasi empat konsensus dasar secara tepat karena Pancasila sebagai sistem nilai bukan sekadar bahan untuk dihafal atau dimengerti saja. Namun menurut dia, Pancasila perlu diterima dan dihayati, dipraktikkan sebagai kebiasaan sehingga Pancasila harus dijadikan sifat yang menetap pada diri orang Indonesia. &quot;Pancasila perlu menjadi bagian dari kepribadian orang Indonesia. Hanya dengan cara ini, tanah Indonesia akan menjadi lahan gersang bagi sikap intoleran,&quot; ujarnya.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai sampai saat ini masih terdapat dua masalah &#8220;patogenik&#8221; (menimbulkan penyakit) besar terkait ideologi negara, pertama, kelemahan dalam merawat dan mentransformasikan ideologi kebangsaan dari rumusan ideal abstrak menjadi praktik kolektif kenegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan.Kedua menurut dia, kelemahan mencegah infiltrasi narasi dan gerakan kontra ideologi negara dalam berbagai aspek.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>&#8220;Kita harus mengakui, ada kealpaan dalam konteks tersebut. Kealpaan itu membuat kelompok konservatif-eksklusif mudah meng-intrusi dunia pendidikan dan kelembagaan sosial-kemasyarakatan dengan paham, ideologi, dan doktrin keagamaan eksklusif yang menebarkan ancaman terhadap negara Pancasila,&#8221; kata Bamsoet dalam keterangannya di Jakarta, Senin.<b><\/b><\/p>\n<p>Hal itu dikatakan Bamsoet saat melantik anggota MPR RI pergantian antar waktu MF Nurhuda dari Fraksi PKB, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin.<\/p>\n<p>Dia menjelaskan, ancaman tersebut semakin nyata dengan adanya bom bunuh diri yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar dan penyerangan di Markas Besar Polri oleh perempuan bersenjata.<\/p>\n<p>Bamsoet meminta Polri bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) harus terus mengungkap jaringan terorisme, dan mendalami pihak-pihak yang menjadi pemasok bahan perakit bom, senjata maupun aliran dana dari pihak yang menjadi sponsor terorisme.<\/p>\n<p>&#8220;Polri bersama BNPT dan Badan Intelijen Negara juga harus bekerja sama melakukan upaya preventif dalam mencegah aksi terorisme maupun radikalisme dengan mengedepankan aspek pencegahan dini,&#8221; ujarnya.<b><\/b><\/p>\n<p>Menurut dia, sesuai UU nomor 13 tahun 2019 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3), MPR RI secara nyata terus mengambil peran sebagai lembaga pengawal ideologi bangsa.<\/p>\n<p>Salah satunya menurut Bamsoet dengan melaksanakan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.<\/p>\n<p>&#8220;Sosialisasi Empat Pilar MPR harus dilakukan secara sungguh-sungguh seluruh anggota MPR RI. Bukan sekadar formalitas bertemu konstituen di daerah pemilihan, tetapi juga dapat menyasar kelompok masyarakat yang rawan dimasuki oleh paham radikal,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Dia mengajak seluruh anggota MPR RI terus menggali metode sosialisasi empat konsensus dasar secara tepat karena Pancasila sebagai sistem nilai bukan sekadar bahan untuk dihafal atau dimengerti saja.<\/p>\n<p>Namun menurut dia, Pancasila perlu diterima dan dihayati, dipraktikkan sebagai kebiasaan sehingga Pancasila harus dijadikan sifat yang menetap pada diri orang Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Pancasila perlu menjadi bagian dari kepribadian orang Indonesia. Hanya dengan cara ini, tanah Indonesia akan menjadi lahan gersang bagi sikap intoleran,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai sampai saat ini masih terdapat dua masalah &#8220;patogenik&#8221; (menimbulkan penyakit) besar terkait ideologi negara, pertama, kelemahan dalam merawat dan mentransformasikan ideologi kebangsaan dari rumusan ideal abstrak menjadi praktik kolektif kenegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan.Kedua menurut dia, kelemahan mencegah infiltrasi narasi dan gerakan kontra ideologi negara dalam berbagai aspek. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55007,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"Antara","source_url":"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/2082698\/bamsoet-masih-ada-masalah-patogenik-terkait-ideologi-negara","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"14"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[14],"tags":[239,7],"class_list":["post-55006","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan","tag-pancasila","tag-terorisme"],"better_featured_image":{"id":55007,"alt_text":"","caption":"","description":"cb1814100f50635726b0ddbdf2179762","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/bamsoet-masih-ada-masalah-patogenik-terkait-ideologi-negara_606b2b67d3b87.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/bamsoet-masih-ada-masalah-patogenik-terkait-ideologi-negara_606b2b67d3b87.jpeg?fit=768%2C512&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/bamsoet-masih-ada-masalah-patogenik-terkait-ideologi-negara_606b2b67d3b87.jpeg"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/bamsoet-masih-ada-masalah-patogenik-terkait-ideologi-negara_606b2b67d3b87.jpeg?fit=800%2C533&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1134","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55006","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55006"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55006\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55007"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55006"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55006"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55006"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}