{"id":55032,"date":"2021-04-06T21:18:50","date_gmt":"2021-04-06T14:18:50","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=55032"},"modified":"2021-04-06T21:24:40","modified_gmt":"2021-04-06T14:24:40","slug":"lemkapi-kecam-anggapan-kasus-terorisme-direkayasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/lemkapi-kecam-anggapan-kasus-terorisme-direkayasa\/","title":{"rendered":"Lemkapi kecam anggapan kasus terorisme direkayasa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) mengecam sekelompok orang yang menganggap bahwa dua kasus terorisme yakni bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan di Mabes Polri merupakan hasil rekayasa.&quot;Kami melihat tuduhan adanya rekayasa keterlaluan. Itu pemikiran yang ngawur. Mana mungkin teror bisa direkayasa,&quot; kata Direktur Eksekutif Lemkapi Dr Edi Hasibuan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa. Edi meminta masyarakat untuk tidak menyampaikan informasi yang menyesatkan karena dapat membingungkan masyarakat. &quot;Semua bukti sangat jelas. Korbannya juga sangat jelas. Peristiwanya juga sangat jelas. Mana mungkin polisi bisa merekayasa,&quot; kata mantan anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) ini. Dia mengajak masyarakat agar menyamakan pandangan bahwa terorisme adalah musuh negara dan masyarakat. &quot;Jangan kita biarkan teror terus bermunculan dan menimbulkan ketakutan di masyarakat. Kami ajak semua masyarakat melawan teror demi keamanan negeri kita&quot; kata pakar hukum kepolisian dari Universitas Bhayangkara Jakarta ini. Dia juga menilai Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri dan seluruh jajaran Polri telah bekerja keras melakukan penegakan hukum dalam aksi teror. &quot;Mari kita dukung dedikasi dan loyalitas Polri yang siang malam bekerja demi melindungi masyarakat dari berbagai ancaman teror,&quot; katanya. Personel kepolisian dengan rompi anti peluru dan senjata laras panjang berjaga di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31\/3\/2021). Mabes Polri memperketat penjagaan pascaserangan dari terduga teroris yang tewas di tempat usai baku tembak. ANTARA FOTO\/Muhammad Adimaja\/rwa. Sebelumnya, tindakan teror berupa bom bunuh diri terjadi di depan gerbang Gereja Katedral Hati Yesus Maha Kudus, Kota Makassar, pada Minggu (28\/3). Kejadian itu menyebabkan dua pelaku teror tewas di tempat, sementara 19 orang luka-luka. Hingga kini, polisi telah menangkap 23 orang terkait dengan bom bunuh diri yang dilakukan oleh pasangan suami isteri itu. Mereka ditangkap di Makassar sebanyak 13 orang, lima orang ditangkap di Jakarta, Bekasi dan Bima, Nusa Tenggara Barat. Pelaku yang diduga menjadi perakit bom ikut ditangkap. Pada Rabu (31\/3), tindakan teror berupa penembakan oleh seorang perempuan terjadi di halaman Mabes Polri, Jakarta. Pelaku, yang diyakini beraksi seorang diri (lone wolf) tewas tertembak di lokasi kejadian. Polisi juga telah menangkap seseorang di Aceh karena menjual senjata via daring kepada wanita yang menyerang Mabes Polri.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) mengecam sekelompok orang yang menganggap bahwa dua kasus terorisme yakni bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan di Mabes Polri merupakan hasil rekayasa.&#8221;Kami melihat tuduhan adanya rekayasa keterlaluan. Itu pemikiran yang ngawur. Mana mungkin teror bisa direkayasa,&#8221; kata Direktur Eksekutif Lemkapi Dr Edi Hasibuan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Edi meminta masyarakat untuk tidak menyampaikan informasi yang menyesatkan karena dapat membingungkan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Semua bukti sangat jelas. Korbannya juga sangat jelas. Peristiwanya juga sangat jelas. Mana mungkin polisi bisa merekayasa,&#8221; kata mantan anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) ini.<b><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia mengajak masyarakat agar menyamakan pandangan bahwa terorisme adalah musuh negara dan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jangan kita biarkan teror terus bermunculan dan menimbulkan ketakutan di masyarakat. Kami ajak semua masyarakat melawan teror demi keamanan negeri kita&#8221; kata pakar hukum kepolisian dari Universitas Bhayangkara Jakarta ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia juga menilai Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri dan seluruh jajaran Polri telah bekerja keras melakukan penegakan hukum dalam aksi teror.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mari kita dukung dedikasi dan loyalitas Polri yang siang malam bekerja demi melindungi masyarakat dari berbagai ancaman teror,&#8221; katanya.<\/p>\n<figure id=\"fgimage_1\" class=\"figure-image\" style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" id=\"image_1\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/img.antaranews.com\/cache\/730x487\/2021\/03\/31\/thumb\/antarafoto-pasca-penyerangan-terduga-teroris-310321-adm-5.jpg?ssl=1\"><figcaption class=\"fig-caption\">Personel kepolisian dengan rompi anti peluru dan senjata laras panjang berjaga di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31\/3\/2021).<br \/>\nMabes Polri memperketat penjagaan pascaserangan dari terduga teroris yang tewas di tempat usai baku tembak. ANTARA FOTO\/Muhammad Adimaja\/rwa.<\/figcaption><b><\/b><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelumnya, tindakan teror berupa bom bunuh diri terjadi di depan gerbang Gereja Katedral Hati Yesus Maha Kudus, Kota Makassar, pada Minggu (28\/3).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kejadian itu menyebabkan dua pelaku teror tewas di tempat, sementara 19 orang luka-luka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hingga kini, polisi telah menangkap 23 orang terkait dengan bom bunuh diri yang dilakukan oleh pasangan suami isteri itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka ditangkap di Makassar sebanyak 13 orang, lima orang ditangkap di Jakarta, Bekasi dan Bima, Nusa Tenggara Barat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelaku yang diduga menjadi perakit bom ikut ditangkap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada Rabu (31\/3), tindakan teror berupa penembakan oleh seorang perempuan terjadi di halaman Mabes Polri, Jakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelaku, yang diyakini beraksi seorang diri (lone wolf) tewas tertembak di lokasi kejadian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Polisi juga telah menangkap seseorang di Aceh karena menjual senjata via daring kepada wanita yang menyerang Mabes Polri.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) mengecam sekelompok orang yang menganggap bahwa dua kasus terorisme yakni bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan di Mabes Polri merupakan hasil rekayasa.&#8221;Kami melihat tuduhan adanya rekayasa keterlaluan. Itu pemikiran yang ngawur. Mana mungkin teror bisa direkayasa,&#8221; kata Direktur Eksekutif Lemkapi Dr Edi Hasibuan dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55033,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"Antara","source_url":"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/2083494\/lemkapi-kecam-anggapan-kasus-terorisme-direkayasa","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[435,7],"class_list":["post-55032","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-hoax","tag-terorisme"],"better_featured_image":{"id":55033,"alt_text":"","caption":"","description":"14c786838789a4aa88e7fa1d5c46b309","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/lemkapi-kecam-anggapan-kasus-terorisme-direkayasa_606bd41fd4dd0.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/lemkapi-kecam-anggapan-kasus-terorisme-direkayasa_606bd41fd4dd0.jpeg?fit=768%2C512&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/lemkapi-kecam-anggapan-kasus-terorisme-direkayasa_606bd41fd4dd0.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/lemkapi-kecam-anggapan-kasus-terorisme-direkayasa_606bd41fd4dd0.jpeg?fit=800%2C533&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1084","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55032","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55032"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55032\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55033"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55032"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55032"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55032"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}