{"id":55057,"date":"2021-04-12T19:23:00","date_gmt":"2021-04-12T12:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=55057"},"modified":"2021-04-09T23:02:07","modified_gmt":"2021-04-09T16:02:07","slug":"gereja-bawah-laut-pertama-di-dunia-ada-di-perairan-rusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/gereja-bawah-laut-pertama-di-dunia-ada-di-perairan-rusia\/","title":{"rendered":"Gereja Bawah Laut Pertama di Dunia Ada di Perairan Rusia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Gereja bawah laut pertama di dunia dibangun di perairan Rusia, persisnya di Cape Florent, 200 meter dari Pesisir Krimea. Gereja bawah laut ini dibangun sekitar 20 meter di bawah permukaan laut, dan disebut sebagai proyek yang \u201cambisius\u201d. Dilansir dari\u00a0Moscow Times, proyek gereja bawah laut ini didanai oleh dua kelompok: sebuah klub motor lokal bernama Night Wolves dan Gereja Ortodoks Rusia dari Moscow Patriarchate. Kedua kelompok menyebut gereja ini tidak hanya akan mengundang jamaat untuk beribadah, tapi juga akan wisatawan. Gereja bawah laut ini akan dibangun laiknya gereja-gereja yang ada di daratan pada umumnya. \u201cAkan ada banyak ikon di dalamnya\u2014seperti gereja pada umumnya. Kebanyakan mungkin akan berupa ikon bas-reliefs dari\u00a0stainless steel\u00a0atau dari batu,\u201d tutur Archimandrite Tikhon, ahli selam dan inisiator proyek. Ia juga menjelaskan bahwa para arsitek tengah mengerjakan detail-detail gereja. Gereja ini juga akan menampilkan sejarah Krimea termasuk kapal militer, amunisi, dan mekanisme pertahanan lain yang digunakan di masa-masa awal. Proyek ini sendiri sejalan dengan upaya dinas pariwisata Rusia untuk mempromosikan Krimea pascaaneksasi dari Ukraina. Sementara pengerjaan gereja belum berjalan lancar, salib sudah diletakkan di lokasi pembangunan untuk memudahkan para penyelam\u2014juga pengunjung\u2014menemukan lokasi gereja. Perlu diketahui, salib ini dibuat dalam bentuk jangkar, yang melambangkan tema proyek. Dalam beberapa bulan ke depan, para penyelam akan menempatkan altar besar dan cawan lilin raksasa di dekat gereja supaya orang bisa segera beribadah di sana. Untuk penamaan, penyelenggara proyek memilih St. Nicholas sang pelindung pelaut. Hingga berita ini ditulis, belum ada kepastian dari pemegang proyek perihal kapan gereja ini diselesaikan. Menurut juru bicara Gereja Ortodoks, Krym Realii, \u201cWaktu akan bergantung pada banyak faktor.\u201d\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Gereja bawah laut pertama di dunia dibangun di perairan Rusia, persisnya di Cape Florent, 200 meter dari Pesisir Krimea. Gereja bawah laut ini dibangun sekitar 20 meter di bawah permukaan laut, dan disebut sebagai proyek yang \u201cambisius\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dilansir dari\u00a0<em>Moscow Times<\/em>, proyek gereja bawah laut ini didanai oleh dua kelompok: sebuah klub motor lokal bernama Night Wolves dan Gereja Ortodoks Rusia dari Moscow Patriarchate. Kedua kelompok menyebut gereja ini tidak hanya akan mengundang jamaat untuk beribadah, tapi juga akan wisatawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja bawah laut ini akan dibangun laiknya gereja-gereja yang ada di daratan pada umumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAkan ada banyak ikon di dalamnya\u2014seperti gereja pada umumnya. Kebanyakan mungkin akan berupa ikon bas-reliefs dari\u00a0<em>stainless steel<\/em>\u00a0atau dari batu,\u201d tutur Archimandrite Tikhon, ahli selam dan inisiator proyek. Ia juga menjelaskan bahwa para arsitek tengah mengerjakan detail-detail gereja.<\/p>\n<div id=\"div-Inside-MediumRectangle\" style=\"text-align: justify;\" data-google-query-id=\"CM6Fvt3D8e8CFYKJ5godv10LvA\"><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja ini juga akan menampilkan sejarah Krimea termasuk kapal militer, amunisi, dan mekanisme pertahanan lain yang digunakan di masa-masa awal. Proyek ini sendiri sejalan dengan upaya dinas pariwisata Rusia untuk mempromosikan Krimea pascaaneksasi dari Ukraina.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara pengerjaan gereja belum berjalan lancar, salib sudah diletakkan di lokasi pembangunan untuk memudahkan para penyelam\u2014juga pengunjung\u2014menemukan lokasi gereja. Perlu diketahui, salib ini dibuat dalam bentuk jangkar, yang melambangkan tema proyek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam beberapa bulan ke depan, para penyelam akan menempatkan altar besar dan cawan lilin raksasa di dekat gereja supaya orang bisa segera beribadah di sana. Untuk penamaan, penyelenggara proyek memilih St. Nicholas sang pelindung pelaut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hingga berita ini ditulis, belum ada kepastian dari pemegang proyek perihal kapan gereja ini diselesaikan. Menurut juru bicara Gereja Ortodoks, Krym Realii, \u201cWaktu akan bergantung pada banyak faktor.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Gereja bawah laut pertama di dunia dibangun di perairan Rusia, persisnya di Cape Florent, 200 meter dari Pesisir Krimea. Gereja bawah laut ini dibangun sekitar 20 meter di bawah permukaan laut, dan disebut sebagai proyek yang \u201cambisius\u201d. Dilansir dari\u00a0Moscow Times, proyek gereja bawah laut ini didanai oleh dua kelompok: sebuah klub motor lokal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55268,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"nationalgeographic","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,22],"tags":[],"class_list":["post-55057","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-internasional"],"better_featured_image":{"id":55268,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Bawah-Laut-Rusia.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Bawah-Laut-Rusia.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Bawah-Laut-Rusia.jpg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Bawah-Laut-Rusia.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1410","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55057","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55057"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55057\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55268"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55057"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55057"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55057"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}