{"id":55079,"date":"2021-04-14T10:23:00","date_gmt":"2021-04-14T03:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=55079"},"modified":"2021-04-07T22:29:32","modified_gmt":"2021-04-07T15:29:32","slug":"koin-iblis-pemujaan-setan-dan-tipuan-arkeologi-yang-rumit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/koin-iblis-pemujaan-setan-dan-tipuan-arkeologi-yang-rumit\/","title":{"rendered":"\u2018Koin Iblis\u2019, Pemujaan Setan, dan Tipuan Arkeologi yang Rumit"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Para pekerja proyek renovasi gereja Bath Abbey di Inggris, membuat penemuan mengejutkan ketika mereka sedang mengangkat kursi-kursi di bangunan kuno tersebut. Sepasang koin misterius dengan gambar iblis terletak di sana. Di bawah gambar iblis, terdapat tulisan dalam bahasa Latin \u201cCIVITAS DIABOLI\u201d yang berarti kota iblis. Sementara di baliknya, tertulis kata-kata dalam bahasa Denmark, \u201c13 MAJ ANHOLT 1973\u201d. Tertegun oleh penemuan aneh tersebut, peneliti berusaha mengungkap kisah luar biasa di balik \u2018koin iblis\u2019. Menurut para ahli dari Wessex Archaeology, tanggal yang tertulis di koin, mengacu pada sebuah insiden di pulau Anholt, Denmark, pada 1973. Pada saat itu, penduduk lokal menemukan 13 \u2018tempat pemujaan\u2019 di Anholt \u2013 memicu penyelidikan lebih lanjut oleh polisi. Topeng, lilin hitam, tumpukan batu yang aneh, tulang dililit tali, hingga kepala palsu yang tertancap di tiang, ditemukan di sana. Benda-benda \u2018aneh\u2019 itu kemudian diliput oleh media nasional Denmark, memunculkan spekulasi adanya ilmu hitam dan pemujaan setan di Anholt. Bahkan, ada rumor tentang pengorbanan manusia di pulau tersebut. Namun, teori terakhir ini terbantahkan karena terduga korban menghubungi polisi. Saat kehebohan mulai mereda, misteri baru justru muncul. Koin-koin dengan gambar iblis mulai muncul di gereja-gereja dan museum di Denmark. Hampir 400 koin ditemukan. \u201cBeberapa koin bahkan dilengkapi dengan surat yang menyatakan bahwa itu berasal dari imam iblis tertinggi bernama Alice Mandragora,\u201d papar arkeolog. Namun, ternyata, artefak-artefak aneh yang ditemukan \u2013 termasuk \u2018koin iblis\u2019 \u2013 merupakan bagian dari tipuan rumit. Di 2013 lalu, koran Denmark, Politiken, mengungkap bahwa lelucon itu berasal dari gagasan Knud Langkow, pegawai di National Gallery of Denmark yang meninggal pada 2004. Keponakannya, Lene Langkow Saaek, menjelaskan bahwa Knud Langkow bukanlah pemuja setan. Tipuan itu hanyalah bagian dari selera humornya. &quot;Saya rasa, kenormalan adalah hal membosankan bagi Knud. Ia tidak suka hidup yang biasa-biasa saja,&quot; papar Lene. Beberapa koin memang dicetak oleh Knud sendiri. Namun, sisanya, kemungkinan dibuat oleh para ahli yang ikut terlibat. Bruce Eaton, Project Manager Wessex Archaeology di Bath Abbey, mengatakan, banyak sejarawan dan arkeolog yang sering memalsukan artefak. Namun, biasanya hanya berupa tulisan, bukan benda fisik seperti yang dilakukan Knud. Ia menambahkan, penemuan \u2018koin iblis\u2019 ini, menekankan pentingnya menyelidiki benda-benda misterius yang baru ditemukan dengan kecurigaan. \u201cUntuk mendeteksi temuan palsu yang dirancang untuk menyesatkan, diperlukan mata yang kritis,\u201d katanya. Meskipun begitu, masih ada satu misteri tentang \u2018koin iblis\u2019 yang belum terpecahkan hingga saat ini. Masih belum jelas bagaimana koin dari Denmark tersebut bisa sampai ke gereja Bath Abbey di Inggris. Ada pola yang menunjukkan bahwa \u2018koin iblis\u2019 ini muncul di lokasi-lokasi liburan. Jadi, ada kemungkinan Knud Langkow atau salah satu bawahannya, meletakkan koin-koin tersebut saat sedang mengunjungi gereja bersejarah Bath Abbey. Namun, tidak ada bukti kuat bahwa itu pernah terjadi. &#039;Koin iblis&#039; yang ditemukan di Bath Abbey, kini berada dalam perawatan Wessex Archaeology. Mereka akan dimasukkan ke dalam arsip situs bersama dengan artefak-artefak yang berasal dari zaman Romawi hingga modern.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Para pekerja proyek renovasi gereja Bath Abbey di Inggris, membuat penemuan mengejutkan ketika mereka sedang mengangkat kursi-kursi di bangunan kuno tersebut. Sepasang koin misterius dengan gambar iblis terletak di sana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di bawah gambar iblis, terdapat tulisan dalam bahasa Latin \u201cCIVITAS DIABOLI\u201d yang berarti kota iblis. Sementara di baliknya, tertulis kata-kata dalam bahasa Denmark, \u201c13 MAJ ANHOLT 1973\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tertegun oleh penemuan aneh tersebut, peneliti berusaha mengungkap kisah luar biasa di balik \u2018koin iblis\u2019.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut para ahli dari Wessex Archaeology, tanggal yang tertulis di koin, mengacu pada sebuah insiden di pulau Anholt, Denmark, pada 1973.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada saat itu, penduduk lokal menemukan 13 \u2018tempat pemujaan\u2019 di Anholt \u2013 memicu penyelidikan lebih lanjut oleh polisi. Topeng, lilin hitam, tumpukan batu yang aneh, tulang dililit tali, hingga kepala palsu yang tertancap di tiang, ditemukan di sana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Benda-benda \u2018aneh\u2019 itu kemudian diliput oleh media nasional Denmark, memunculkan spekulasi adanya ilmu hitam dan pemujaan setan di Anholt. Bahkan, ada rumor tentang pengorbanan manusia di pulau tersebut. Namun, teori terakhir ini terbantahkan karena terduga korban menghubungi polisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat kehebohan mulai mereda, misteri baru justru muncul. Koin-koin dengan gambar iblis mulai muncul di gereja-gereja dan museum di Denmark. Hampir 400 koin ditemukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBeberapa koin bahkan dilengkapi dengan surat yang menyatakan bahwa itu berasal dari imam iblis tertinggi bernama Alice Mandragora,\u201d papar arkeolog.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, ternyata, artefak-artefak aneh yang ditemukan \u2013 termasuk \u2018koin iblis\u2019 \u2013 merupakan bagian dari tipuan rumit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di 2013 lalu, koran Denmark, Politiken, mengungkap bahwa lelucon itu berasal dari gagasan Knud Langkow, pegawai di National Gallery of Denmark yang meninggal pada 2004.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keponakannya, Lene Langkow Saaek, menjelaskan bahwa Knud Langkow bukanlah pemuja setan. Tipuan itu hanyalah bagian dari selera humornya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya rasa, kenormalan adalah hal membosankan bagi Knud. Ia tidak suka hidup yang biasa-biasa saja,&#8221; papar Lene.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa koin memang dicetak oleh Knud sendiri. Namun, sisanya, kemungkinan dibuat oleh para ahli yang ikut terlibat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bruce Eaton, Project Manager Wessex Archaeology di Bath Abbey, mengatakan, banyak sejarawan dan arkeolog yang sering memalsukan artefak. Namun, biasanya hanya berupa tulisan, bukan benda fisik seperti yang dilakukan Knud.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menambahkan, penemuan \u2018koin iblis\u2019 ini, menekankan pentingnya menyelidiki benda-benda misterius yang baru ditemukan dengan kecurigaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cUntuk mendeteksi temuan palsu yang dirancang untuk menyesatkan, diperlukan mata yang kritis,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun begitu, masih ada satu misteri tentang \u2018koin iblis\u2019 yang belum terpecahkan hingga saat ini. Masih belum jelas bagaimana koin dari Denmark tersebut bisa sampai ke gereja Bath Abbey di Inggris.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada pola yang menunjukkan bahwa \u2018koin iblis\u2019 ini muncul di lokasi-lokasi liburan. Jadi, ada kemungkinan Knud Langkow atau salah satu bawahannya, meletakkan koin-koin tersebut saat sedang mengunjungi gereja bersejarah Bath Abbey. Namun, tidak ada bukti kuat bahwa itu pernah terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8216;Koin iblis&#8217; yang ditemukan di Bath Abbey, kini berada dalam perawatan Wessex Archaeology. Mereka akan dimasukkan ke dalam arsip situs bersama dengan artefak-artefak yang berasal dari zaman Romawi hingga modern.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Para pekerja proyek renovasi gereja Bath Abbey di Inggris, membuat penemuan mengejutkan ketika mereka sedang mengangkat kursi-kursi di bangunan kuno tersebut. Sepasang koin misterius dengan gambar iblis terletak di sana. Di bawah gambar iblis, terdapat tulisan dalam bahasa Latin \u201cCIVITAS DIABOLI\u201d yang berarti kota iblis. Sementara di baliknya, tertulis kata-kata dalam bahasa Denmark, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55153,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"nationalgeographic","source_url":"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/13891400\/koin-iblis-pemujaan-setan-dan-tipuan-arkeologi-yang-rumit?page=all","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"109"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22,20,109],"tags":[],"class_list":["post-55079","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional","category-sejarah","category-site"],"better_featured_image":{"id":55153,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Koin-iblis-yang-ditemukan-di-gereja-Bath-Abbey.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Koin-iblis-yang-ditemukan-di-gereja-Bath-Abbey.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Koin-iblis-yang-ditemukan-di-gereja-Bath-Abbey.jpg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":20,"name":"Sejarah","description":"","slug":"sejarah","count":39,"parent":0},{"id":109,"name":"Situs Bersejarah","description":"","slug":"site","count":30,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Koin-iblis-yang-ditemukan-di-gereja-Bath-Abbey.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1436","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55079","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55079"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55079\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55153"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55079"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55079"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55079"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}