{"id":55082,"date":"2021-04-13T10:24:00","date_gmt":"2021-04-13T03:24:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=55082"},"modified":"2021-04-07T22:24:42","modified_gmt":"2021-04-07T15:24:42","slug":"arkeologi-bawah-air-gereja-kuno-ditemukan-terendam-di-danau-turki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/arkeologi-bawah-air-gereja-kuno-ditemukan-terendam-di-danau-turki\/","title":{"rendered":"Arkeologi Bawah Air: Gereja Kuno Ditemukan Terendam di Danau Turki"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ketika Mustafa Sahin pertama kali melihat foto gereja kuno yang terendam di bawah danau Iznik, Turki, dia sempat tidak memercayainya. Kepala arkeologi di Bursa Uluda\u011f University ini telah mencari di tepi danau selama beberapa tahun, namun tak pernah menemukannya. Barulah pada 2014, pemerintah lokal menunjukkan potret udara dari reruntuhan kuno di bawah danau yang selama ini dicari Sahin. \u201cKetika pertama kali melihat foto danau itu, saya sangat terkejut karena ada struktur gereja yang begitu jelas. Saya telah melakukan survei lapangan di sekitar Iznik sejak 2006, tapi tidak pernah menemukan bangunan luar biasa seperti itu,\u201d papar Sahin. Reruntuhan gereja kuno terletak sekitar tiga meter di bawah air dan 50 meter dari tepi danau Iznik. Para arkeolog berpikir bahwa gereja kuno bergaya Romawi tersebut, dikenal dengan nama basilika, dibangun di pinggir danau sekitar A.D 390, ketika Iznik bernama Nicea dan Istanbul dengan Konstatinopel. Namun menurut mereka, gereja itu juga menyimpan misteri lain di baliknya: yakni berfungsi sebagai kuil pagan. Pada A.D 740, sebuah gempa bumi menghacurkan gereja yang kemudian tenggelam di bawah permukaan danau. Membuat reruntuhannya terendam dan terlupakan sampai akhirnya ditemukan 1.600 tahun kemudian. Sebelum kekayaan ini hilang dari sejarah, Sahin dan pemerintah lokal, meminta agar situs ini bisa dilestarikan sebagai museum bawah air pertama di Turki. Arkeologi bawah air Sahin dan timnya dari Museum Arkeologi Iznik telah melakukan penggalian bawah laut pada basilika yang tenggelam sejak 2015. Iklim panas membuat danau dipenuhi oleh alga dan itu mengurangi visibilitas penyelam saat melakukan penggalian. Para arkeolog kemudian menggunakan menggunakan peralatan vakum khusus untuk membawa tanah dari penggalian bawah air ke daratan. Sahin mengatakan, penemuan yang paling penting meliputi beberapa kuburan manusia di bawah dinding melintang basilika. Selain itu, ada juga beberapa koin Romawi dari masa Kekaisaran Valens (a.d 364-378) dan Valentinian II (A.D 375-392) \u2013 yang memastikan bahwa basilika dibangun setelah A.D 390. Sahin yakin, gereja kuno tersebut didekasikan kepada Saint Neophytos yang dihukum mati di Nicea pada A.D 303, di masa pemerintahan Kaisar Diocletian. Sepuluh tahun kemudian, pada A.D 313, Konstatinus Agung mengeluarkan Edik Milan, keputusan yang memberi kebebasan pada seluruh rakyat di Kekaisaran Romawi untuk beragama dan beribadah. Perjuangan Neophytos pun dirayakan dan ia dianggap sebagai martir Kristen pertama. Kota Nicea sendiri menjadi populer di dunia Kristen sejak A.D 325. Kuil misteri Meski begitu, misteri runtuhan gereja di danau Iznik ini mungkin lebih tua dari agama Kristen. Sahin mengatakan, basilika mungkin dibangun di atas kuil pagan untuk Apollo, dewa Matahari Yunani dan Romawi yang terkadang dikaitkan dengan Yesus pada awal periode Kekristenan. Catatan Romawi menyebutkan bahwa Kaisar Commodus, yang memimpin Kekaisaran Romawi dari A.D 180 hingga 192, membangun sebuah kuil untuk Apollo di Nicea. Beberapa koin dan reruntuhan yang ditemukan di situs gereja kuno itu mengisyaratakan struktur yang lebih tua. Namun, para arkeolog belum bisa memastikannya. Jika rencana museum arkeologi bawah air disetujui, konstruksi bisa dimulai tahun ini, dan dibuka untuk umum pada 2019. Bangunan museum akan mencakup menara setinggi 60 kaki (20 meter) agar dapat dilihat dari pantai, jalanan dekat danau, dan dari atas gereja kuno itu sendiri. Sahin menambahkan, fasilitasi museum juga akan dilengkapi dengan klub menyelam sehingga para wisatawan dapat menjalahi reruntuhan di air serta mengunjungi ruang berdinding kaca di bagian bawah basilika.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Ketika Mustafa Sahin pertama kali melihat foto gereja kuno yang terendam di bawah danau Iznik, Turki, dia sempat tidak memercayainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala arkeologi di Bursa Uluda\u011f University ini telah mencari di tepi danau selama beberapa tahun, namun tak pernah menemukannya. Barulah pada 2014, pemerintah lokal menunjukkan potret udara dari reruntuhan kuno di bawah danau yang selama ini dicari Sahin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKetika pertama kali melihat foto danau itu, saya sangat terkejut karena ada struktur gereja yang begitu jelas. Saya telah melakukan survei lapangan di sekitar Iznik sejak 2006, tapi tidak pernah menemukan bangunan luar biasa seperti itu,\u201d papar Sahin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Reruntuhan gereja kuno terletak sekitar tiga meter di bawah air dan 50 meter dari tepi danau Iznik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para arkeolog berpikir bahwa gereja kuno bergaya Romawi tersebut, dikenal dengan nama basilika, dibangun di pinggir danau sekitar A.D 390, ketika Iznik bernama Nicea dan Istanbul dengan Konstatinopel.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun menurut mereka, gereja itu juga menyimpan misteri lain di baliknya: yakni berfungsi sebagai kuil pagan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada A.D 740, sebuah gempa bumi menghacurkan gereja yang kemudian tenggelam di bawah permukaan danau. Membuat reruntuhannya terendam dan terlupakan sampai akhirnya ditemukan 1.600 tahun kemudian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum kekayaan ini hilang dari sejarah, Sahin dan pemerintah lokal, meminta agar situs ini bisa dilestarikan sebagai museum bawah air pertama di Turki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Arkeologi bawah air<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sahin dan timnya dari Museum Arkeologi Iznik telah melakukan penggalian bawah laut pada basilika yang tenggelam sejak 2015. Iklim panas membuat danau dipenuhi oleh alga dan itu mengurangi visibilitas penyelam saat melakukan penggalian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para arkeolog kemudian menggunakan menggunakan peralatan vakum khusus untuk membawa tanah dari penggalian bawah air ke daratan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sahin mengatakan, penemuan yang paling penting meliputi beberapa kuburan manusia di bawah dinding melintang basilika. Selain itu, ada juga beberapa koin Romawi dari masa Kekaisaran Valens (a.d 364-378) dan Valentinian II (A.D 375-392) \u2013 yang memastikan bahwa basilika dibangun setelah A.D 390.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sahin yakin, gereja kuno tersebut didekasikan kepada Saint Neophytos yang dihukum mati di Nicea pada A.D 303, di masa pemerintahan Kaisar Diocletian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sepuluh tahun kemudian, pada A.D 313, Konstatinus Agung mengeluarkan Edik Milan, keputusan yang memberi kebebasan pada seluruh rakyat di Kekaisaran Romawi untuk beragama dan beribadah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjuangan Neophytos pun dirayakan dan ia dianggap sebagai martir Kristen pertama. Kota Nicea sendiri menjadi populer di dunia Kristen sejak A.D 325.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kuil misteri<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski begitu, misteri runtuhan gereja di danau Iznik ini mungkin lebih tua dari agama Kristen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sahin mengatakan, basilika mungkin dibangun di atas kuil pagan untuk Apollo, dewa Matahari Yunani dan Romawi yang terkadang dikaitkan dengan Yesus pada awal periode Kekristenan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Catatan Romawi menyebutkan bahwa Kaisar Commodus, yang memimpin Kekaisaran Romawi dari A.D 180 hingga 192, membangun sebuah kuil untuk Apollo di Nicea.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa koin dan reruntuhan yang ditemukan di situs gereja kuno itu mengisyaratakan struktur yang lebih tua. Namun, para arkeolog belum bisa memastikannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika rencana museum arkeologi bawah air disetujui, konstruksi bisa dimulai tahun ini, dan dibuka untuk umum pada 2019.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bangunan museum akan mencakup menara setinggi 60 kaki (20 meter) agar dapat dilihat dari pantai, jalanan dekat danau, dan dari atas gereja kuno itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sahin menambahkan, fasilitasi museum juga akan dilengkapi dengan klub menyelam sehingga para wisatawan dapat menjalahi reruntuhan di air serta mengunjungi ruang berdinding kaca di bagian bawah basilika.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ketika Mustafa Sahin pertama kali melihat foto gereja kuno yang terendam di bawah danau Iznik, Turki, dia sempat tidak memercayainya. Kepala arkeologi di Bursa Uluda\u011f University ini telah mencari di tepi danau selama beberapa tahun, namun tak pernah menemukannya. Barulah pada 2014, pemerintah lokal menunjukkan potret udara dari reruntuhan kuno di bawah danau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55150,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"nationalgeographic","source_url":"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/13932868\/arkeologi-bawah-air-gereja-kuno-ditemukan-terendam-di-danau-turki","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"109"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22,109],"tags":[],"class_list":["post-55082","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional","category-site"],"better_featured_image":{"id":55150,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Kuno-Ditemukan-Terendam-di-Danau-Turki.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Kuno-Ditemukan-Terendam-di-Danau-Turki.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Kuno-Ditemukan-Terendam-di-Danau-Turki.jpg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":109,"name":"Situs Bersejarah","description":"","slug":"site","count":30,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Kuno-Ditemukan-Terendam-di-Danau-Turki.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":1,"views":"1609","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55082","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55082"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55082\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55150"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55082"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55082"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55082"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}