{"id":55091,"date":"2021-04-09T09:40:01","date_gmt":"2021-04-09T02:40:01","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=55091"},"modified":"2021-04-09T09:40:05","modified_gmt":"2021-04-09T02:40:05","slug":"ratapan-korban-bencana-ntt-tolong-carikan-anak-saya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/ratapan-korban-bencana-ntt-tolong-carikan-anak-saya\/","title":{"rendered":"Ratapan Korban Bencana NTT: Tolong Carikan Anak Saya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - &quot;Saya tidak minta apapun, saya tidak minta makanan, minuman atau bahkan dibangunkan rumah. Saya cuma mau minta pemerintah, tolong, tolong, tolong carikan anak saya, anak angkat saya belum juga ketemu, tolong saya, minta carikan anak saya.&quot; Suara Elisabeth Lenahuki yang kini genap berusia 61 tahun itu terdengar gemetar. Dia berkali-kali terisak. Elisabeth menangis saat meminta tolong agar anak laki-lakinya yang hilang dalam bencana\u00a0banjir bandang di\u00a0Nusa Tenggara Timur (NTT) dicarikan. Elisabeth adalah satu dari sekian banyak orang tua yang kehilangan anaknya di Pulau Adonara, Weiwerang. Bencana NTT, kata Elisabeth, memang tak meninggalkan luka fisik berlebihan di tubuhnya, namun luka batin dan trauma tak bisa dia hilangkan begitu saja. Di sela isak tangis dan rasa kehilangannya, Elisabeth bercerita perihal peristiwa yang kini membuat keluarganya belum utuh kembali. Sabtu (3\/4) malam pekan lalu tak jauh berbeda dengan malam perayaan Paskah pada tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja hujan terus mengguyur tanah kelahiran Elisabeth sepanjang malam. Sepulang dari Gereja, dia tak langsung menarik selimut untuk tidur di samping suaminya yang sudah lelap. Dia memilih duduk di ruang tengah, sambil sesekali mengintip air hujan yang semakin lebat dari balik tirai jendela rumahnya. Suami dan anak-anaknya tengah tidur di kamar masing-masing. Hingga sekira mendekati tengah malam, gemuruh mulai terdengar. Dari luar angin kencang juga terlihat berkelebat. Keduanya seperti berperang saling bersahutan. Elisabeth ketakutan. Apalagi tak lama setelah itu air masuk ke dalam rumah. &quot;Saya langsung teriak, &#039;Air masuk! Air masuk!&#039; Suami saya keluar kamar, dan tahu-tahu sudah lebih selutut saja itu air. Cepat sekali dan sangat deras,&quot; kata Elisabeth menceritakan pengalamannya. Warga membahu dalam proses evakuasi korban banjir bandang NTT. Foto: ANTARA FOTO\/PION RATULOLI Bercerita dari balik sambungan telepon yang sempat terputus beberapa kali karena gangguan jaringan di Pulau Adonara tak menghilangkan gambaran kengerian yang terjadi Minggu (4\/4) dini hari itu di Weiwerang. Elisabeth dan suami serta anak-anaknya langsung berhamburan ke luar rumah. Tetangganya pun sama, kocar kacir mencoba menyelamatkan diri dari terjangan air yang semakin tinggi dan deras. &quot;Terus, terus terus lah itu kami lari ke jalan raya, tampak di belakang hunian sudah seperti kali. Airnya deras. Sudah (air) naik. Tinggi sekali. Teriak saya, &#039;tolong! tolong!&#039;,&quot; kata dia. Pada saat itulah Elisabeth menyadari dia dan suaminya sudah terpisah dari salah satu anak angkatnya yang paling bontot. Yeremia, 33 tahun, diakui Elisabeth sempat mendorong dirinya yang memang sudah tak sanggup berlari di tengah terjangan air bah. Dengan sekuat tenaga, Yeremia terus berusaha mendorong\u00a0Elisabeth namun hal itu justru membuat Yeremia tertinggal jauh di belakang dan tak pernah lagi ditemukan hingga selang dua hari setelah kejadian. &quot;Anak angkat saya, dia masih bujang. Baru 33 tahun. Dia pegawai di Kelurahan. Sangat sayang dengan mamaknya yang sudah tua ini. Saya minta tolong carikan bujang saya, tolong carikan,&quot; kata Elisabeth terisak. Elisabeth yakin Yeremia masih ada di antara tumpukan rumah. Apalagi dia telah berbicara dengan tetua adat di Adonara yang mendapat penerawangan bahwa jenazah Yeremia masih berada di sekitar kediamannya. &quot;Karena kami di Adonara percaya dengan adat kuat, kami percaya dari tokoh adat ada menyatakan bahwa mayat anak saya tertimbun di lokasi, masih ada di sekitar rumah itu,&quot; kata Elisabeth. Wilayah Adonara Flores Timur porak poranda diterjang banjir bandang NTT. Foto: AFP\/JOY CHRISTIAN Saat ini kata Elisabeth, pencarian hanya dilakukan seadanya. Belum ada perbantuan yang turun langsung dari pemerintah. Hanya warga yang berusaha membantu mencari Yeremia di antara rumah penduduk yang telah rata dengan tanah. &quot;Saya sebagai mama, sebagai ibu, wanita yang kehilangan anaknya, saya minta dari pemerintah tolong tinjau ke lokasi saya. Tolong carikan anak saya,&quot; kata dia. &quot;Mereka (warga) sudah bantu cari. Tapi kalau bisa dari tim pemerintah untuk bisa cari anak saya walau memang usianya sudah diambil Tuhan. Saya minta tolong,&quot; tutupnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 128 orang meninggal dunia dampak bencana banjir dan longsor di NTT. Sebanyak 8.424 orang dari 2.019 keluarga mengungsi. Sementara untuk orang hilang tercatat mencapai 72 orang, dengan rincian Kabupaten Alor 28 orang, Flores Timur 23, dan Lembata 21. Pemerintah menyatakan bencana NTT dipengaruhi cuaca buruk berupa sikon tropis Seroja. Penanganan dan pemulihan bencana hingga kini masih diupayakan oleh pemerintah.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; <em>&#8220;Saya tidak minta apapun, saya tidak minta makanan, minuman atau bahkan dibangunkan rumah. Saya cuma mau minta pemerintah, tolong, tolong, tolong carikan anak saya, anak angkat saya belum juga ketemu, tolong saya, minta carikan anak saya.&#8221;<\/em><\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Suara Elisabeth Lenahuki yang kini genap berusia 61 tahun itu terdengar gemetar. Dia berkali-kali terisak. Elisabeth menangis saat meminta tolong agar anak laki-lakinya yang hilang dalam bencana\u00a0<strong>banjir bandang<\/strong> di\u00a0<strong>Nusa Tenggara Timur<\/strong> (<strong>NTT<\/strong>) dicarikan.<\/p>\n<p>Elisabeth adalah satu dari sekian banyak orang tua yang kehilangan anaknya di Pulau Adonara, Weiwerang. Bencana NTT, kata Elisabeth, memang tak meninggalkan luka fisik berlebihan di tubuhnya, namun luka batin dan trauma tak bisa dia hilangkan begitu saja.<\/p>\n<p>Di sela isak tangis dan rasa kehilangannya, Elisabeth bercerita perihal peristiwa yang kini membuat keluarganya belum utuh kembali.<\/p>\n<p>Sabtu (3\/4) malam pekan lalu tak jauh berbeda dengan malam perayaan Paskah pada tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja hujan terus mengguyur tanah kelahiran Elisabeth sepanjang malam.<\/p>\n<p>Sepulang dari Gereja, dia tak langsung menarik selimut untuk tidur di samping suaminya yang sudah lelap. Dia memilih duduk di ruang tengah, sambil sesekali mengintip air hujan yang semakin lebat dari balik tirai jendela rumahnya.<\/p>\n<p>Suami dan anak-anaknya tengah tidur di kamar masing-masing. Hingga sekira mendekati tengah malam, gemuruh mulai terdengar. Dari luar angin kencang juga terlihat berkelebat. Keduanya seperti berperang saling bersahutan.<\/p>\n<p>Elisabeth ketakutan. Apalagi tak lama setelah itu air masuk ke dalam rumah.<\/p>\n<p>&#8220;Saya langsung teriak, &#8216;Air masuk! Air masuk!&#8217; Suami saya keluar kamar, dan tahu-tahu sudah lebih selutut saja itu air. Cepat sekali dan sangat deras,&#8221; kata Elisabeth menceritakan pengalamannya.<\/p>\n<table class=\"pic_artikel_sisip_table\" align=\"center\">\n<tbody>\n<tr>\n<td>\n<div class=\"pic_artikel_sisip\" align=\"center\">\n<div class=\"pic\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" title=\"BANJIR BANDANG FLORES TIMUR\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/akcdn.detik.net.id\/community\/media\/visual\/2021\/04\/05\/banjir-bandang-flores-timur-5_169.jpeg?ssl=1\" alt=\"Banjir bandang di Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Senin (5\/4\/2021).  Berdasarkan data BNPB hingga senin siang, korban meninggal dunia akibat banjir bandang di Flores Timur mencapai  68 jiwa. ANTARA FOTO\/Pion Ratuloli\/wpa\/wsj.\" \/><\/div>\n<div class=\"pic\">Warga membahu dalam proses evakuasi korban banjir bandang NTT. Foto: ANTARA FOTO\/PION RATULOLI<\/div>\n<\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Bercerita dari balik sambungan telepon yang sempat terputus beberapa kali karena gangguan jaringan di Pulau Adonara tak menghilangkan gambaran kengerian yang terjadi Minggu (4\/4) dini hari itu di Weiwerang.<\/p>\n<p>Elisabeth dan suami serta anak-anaknya langsung berhamburan ke luar rumah. Tetangganya pun sama, kocar kacir mencoba menyelamatkan diri dari terjangan air yang semakin tinggi dan deras.<\/p>\n<p>&#8220;Terus, terus terus lah itu kami lari ke jalan raya, tampak di belakang hunian sudah seperti kali. Airnya deras. Sudah (air) naik. Tinggi sekali. Teriak saya, &#8216;tolong! tolong!&#8217;,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>Pada saat itulah Elisabeth menyadari dia dan suaminya sudah terpisah dari salah satu anak angkatnya yang paling bontot. Yeremia, 33 tahun, diakui Elisabeth sempat mendorong dirinya yang memang sudah tak sanggup berlari di tengah terjangan air bah.<\/p>\n<p>Dengan sekuat tenaga, Yeremia terus berusaha mendorong\u00a0Elisabeth namun hal itu justru membuat Yeremia tertinggal jauh di belakang dan tak pernah lagi ditemukan hingga selang dua hari setelah kejadian.<\/p>\n<p>&#8220;Anak angkat saya, dia masih bujang. Baru 33 tahun. Dia pegawai di Kelurahan. Sangat sayang dengan mamaknya yang sudah tua ini. Saya minta tolong carikan bujang saya, tolong carikan,&#8221; kata Elisabeth terisak.<\/p>\n<p>Elisabeth yakin Yeremia masih ada di antara tumpukan rumah. Apalagi dia telah berbicara dengan tetua adat di Adonara yang mendapat penerawangan bahwa jenazah Yeremia masih berada di sekitar kediamannya.<\/p>\n<p>&#8220;Karena kami di Adonara percaya dengan adat kuat, kami percaya dari tokoh adat ada menyatakan bahwa mayat anak saya tertimbun di lokasi, masih ada di sekitar rumah itu,&#8221; kata Elisabeth.<\/p>\n<table class=\"pic_artikel_sisip_table\" align=\"center\">\n<tbody>\n<tr>\n<td>\n<div class=\"pic_artikel_sisip\" align=\"center\">\n<div class=\"pic\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" title=\"Badai Sapu NTT\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/akcdn.detik.net.id\/community\/media\/visual\/2021\/04\/05\/badai-sapu-ntt-9_169.jpeg?ssl=1\" alt=\"This general view shows debris left behind in the town of Adonara in East Flores on April 4, 2021, after flash floods and landslides swept eastern Indonesia and neighbouring East Timor. (Photo by Joy Christian \/ AFP)\" \/><\/div>\n<div class=\"pic\">Wilayah Adonara Flores Timur porak poranda diterjang banjir bandang NTT. Foto: AFP\/JOY CHRISTIAN<\/div>\n<\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Saat ini kata Elisabeth, pencarian hanya dilakukan seadanya. Belum ada perbantuan yang turun langsung dari pemerintah. Hanya warga yang berusaha membantu mencari Yeremia di antara rumah penduduk yang telah rata dengan tanah.<\/p>\n<p>&#8220;Saya sebagai mama, sebagai ibu, wanita yang kehilangan anaknya, saya minta dari pemerintah tolong tinjau ke lokasi saya. Tolong carikan anak saya,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>&#8220;Mereka (warga) sudah bantu cari. Tapi kalau bisa dari tim pemerintah untuk bisa cari anak saya walau memang usianya sudah diambil Tuhan. Saya minta tolong,&#8221; tutupnya.<\/p>\n<p>Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 128 orang meninggal dunia dampak bencana banjir dan longsor di NTT. Sebanyak 8.424 orang dari 2.019 keluarga mengungsi.<\/p>\n<p>Sementara untuk orang hilang tercatat mencapai 72 orang, dengan rincian Kabupaten Alor 28 orang, Flores Timur 23, dan Lembata 21.<\/p>\n<p>Pemerintah menyatakan bencana NTT dipengaruhi cuaca buruk berupa sikon tropis Seroja. Penanganan dan pemulihan bencana hingga kini masih diupayakan oleh pemerintah.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; &#8220;Saya tidak minta apapun, saya tidak minta makanan, minuman atau bahkan dibangunkan rumah. Saya cuma mau minta pemerintah, tolong, tolong, tolong carikan anak saya, anak angkat saya belum juga ketemu, tolong saya, minta carikan anak saya.&#8221; Suara Elisabeth Lenahuki yang kini genap berusia 61 tahun itu terdengar gemetar. Dia berkali-kali terisak. Elisabeth menangis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55092,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[441],"class_list":["post-55091","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-bencana-alam"],"better_featured_image":{"id":55092,"alt_text":"","caption":"","description":"4bfb2e925050c95b040bb39749652e60","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/ratapan-korban-bencana-ntt-tolong-carikan-anak-saya_606d27348a2a4.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/ratapan-korban-bencana-ntt-tolong-carikan-anak-saya_606d27348a2a4.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/ratapan-korban-bencana-ntt-tolong-carikan-anak-saya_606d27348a2a4.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/ratapan-korban-bencana-ntt-tolong-carikan-anak-saya_606d27348a2a4.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1116","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55091","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55091"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55091\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55092"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55091"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55091"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55091"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}