{"id":55094,"date":"2021-04-10T10:30:00","date_gmt":"2021-04-10T03:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=55094"},"modified":"2021-04-07T22:10:41","modified_gmt":"2021-04-07T15:10:41","slug":"sisa-bangunan-dan-benda-peninggalan-kristen-kuno-ditemukan-di-mesir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sisa-bangunan-dan-benda-peninggalan-kristen-kuno-ditemukan-di-mesir\/","title":{"rendered":"Sisa Bangunan dan Benda Peninggalan Kristen Kuno Ditemukan di Mesir"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Sebuah tim arkeologi gabungan Prancis-Norwegia menemukan reruntuhan bangunan dan peninggalan Kristen kuno di Western Desert, Mesir. Sisa-sisa bangunan dan peninggalan ini mengungkapkan kehidupan biarawan di wilayah tersebut pada abad kelima Masehi, kata Kementerian Barang Antik Mesir akhir pekan lalu. Misi arkeologi tersebut menemukan &quot;beberapa bangunan yang terbuat dari basal, yang lain diukir di batuan dasar dan beberapa terbuat dari batu bata lumpur,&quot; kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP. Lokasi penggalian arkeologi tersebut berada di situs Tal Ganoub Qasr al-Agouz di Bahariya Oasis, Mesir. Penggalian itu merupakan bagian dari misi penggalian ketiga di situs tersebut. Kompleks bangunan Kristen kuno yang ditemukan dari tiga kali penggalian di situs tersebut tercatat cukup besar. Kompleks ini terdiri dari &quot;enam sektor yang berisi reruntuhan tiga gereja dan sel-sel biarawan,&quot; yang &quot;dindingnya mengandung grafiti dan simbol dengan konotasi Koptik,&quot; ujar Osama Talaat, Kepala Purbakala Islam, Koptik, dan Yahudi di kementerian tersebut. Baca Juga: Pabrik Bir Tertua di Dunia Ditemukan di Mesir, Pasok Kebutuhan RItual Victor Ghica, kepala misi penggalian arkeologi ini, berkata, &quot;19 bangunan dan sebuah gereja yang diukir di atas batuan dasar&quot; baru ditemukan tahun lalu dalam misi penggalian ketiga. Adapun penggalian sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2009 dan 2013 menghasilkan beberapa penemuan besar lainnya termasuk tempat &quot;produksi dan pelestarian anggur serta peternakan hewan,&quot; jelas Institut fran\u00e7ais d&#039;arch\u00e9ologie orientale (IFAO) yang bertanggung jawab dalam misi penggalian tersebut. Dinding reruntuhan gereja yang ditemukan di situs tersebut dihiasi dengan &quot;prasasti-prasasti religius&quot;. Selain itu ada juga temuan bagian-bagian Alkitab dalam bahasa Yunani yang mengungkapkan &quot;karakteristik kehidupan biarawan di wilayah tersebut,&quot; kata Ghica. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa para biarawan hadir di Mesir sejak abad kelima Masehi, tutur Ghica. Ia juga menambahkan bahwa temuan-temuan itu telah membantu memahami &quot;perkembangan bangunan dan pembentukan komunitas monastik pertama&quot; di wilayah Mesir tersebut. Situs tempat penggalian itu terletak wilayah gurun barat daya ibu kota Kairo. Wilayah tersebut diyakini telah ditempati masyarakat kuno dari abad keempat hingga kedelapan, dengan kemungkinan puncak aktivitas sekitar abad kelima dan keenam, menurut IFAO. Dalam beberapa bulan terakhir pemerintah Mesir telah mengumumkan beberapa penemuan arkeologi besar baru dengan harapan memacu sektor pariwisata mereka. Sektor ini telah mengalami banyak pukulan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pemberontakan tahun 2011 hingga pandemi virus corona sejak awal 2020. Beberapa temuan yang pemerintah Mesir umumkan di tahun 2021 ini antara lain tempat pembuatan bir produksi tinggi yang diyakini berusia lebih dari 5.000 tahun. Penemuan tempat produksi massal bir kuno di sebuah situs di area selatan Mesir itu diumumkan pada Februari lalu. Di bulan yang sama, misi tim arkeologi Mesir-Dominika yang bekerja di dekat Alexandria mengatakan telah menemukan mumi yang hidup dari sekitar 2.000 tahun lalu. Yang unik dari mumi itu adalah ia membawa jimat berlidah emas. Sementara bulan Januari, Mesir mengungkap harta kuno yang ditemukan di situs arkeologi Saqqara di selatan Kairo, termasuk sarkofagus berusia lebih dari 3.000 tahun. Temuan ini dianggap telah &quot;menuliskan ulang sejarah,&quot; menurut ahli Mesir Kuno Zahi Hawass.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Sebuah tim arkeologi gabungan Prancis-Norwegia menemukan reruntuhan bangunan dan peninggalan Kristen kuno di Western Desert, Mesir. Sisa-sisa bangunan dan peninggalan ini mengungkapkan kehidupan biarawan di wilayah tersebut pada abad kelima Masehi, kata Kementerian Barang Antik Mesir akhir pekan lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Misi arkeologi tersebut menemukan &#8220;beberapa bangunan yang terbuat dari basal, yang lain diukir di batuan dasar dan beberapa terbuat dari batu bata lumpur,&#8221; kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP. Lokasi penggalian arkeologi tersebut berada di situs Tal Ganoub Qasr al-Agouz di Bahariya Oasis, Mesir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penggalian itu merupakan bagian dari misi penggalian ketiga di situs tersebut. Kompleks bangunan Kristen kuno yang ditemukan dari tiga kali penggalian di situs tersebut tercatat cukup besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kompleks ini terdiri dari &#8220;enam sektor yang berisi reruntuhan tiga gereja dan sel-sel biarawan,&#8221; yang &#8220;dindingnya mengandung grafiti dan simbol dengan konotasi Koptik,&#8221; ujar Osama Talaat, Kepala Purbakala Islam, Koptik, dan Yahudi di kementerian tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baca Juga: Pabrik Bir Tertua di Dunia Ditemukan di Mesir, Pasok Kebutuhan RItual<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Victor Ghica, kepala misi penggalian arkeologi ini, berkata, &#8220;19 bangunan dan sebuah gereja yang diukir di atas batuan dasar&#8221; baru ditemukan tahun lalu dalam misi penggalian ketiga. Adapun penggalian sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2009 dan 2013 menghasilkan beberapa penemuan besar lainnya termasuk tempat &#8220;produksi dan pelestarian anggur serta peternakan hewan,&#8221; jelas Institut fran\u00e7ais d&#8217;arch\u00e9ologie orientale (IFAO) yang bertanggung jawab dalam misi penggalian tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dinding reruntuhan gereja yang ditemukan di situs tersebut dihiasi dengan &#8220;prasasti-prasasti religius&#8221;. Selain itu ada juga temuan bagian-bagian Alkitab dalam bahasa Yunani yang mengungkapkan &#8220;karakteristik kehidupan biarawan di wilayah tersebut,&#8221; kata Ghica.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa para biarawan hadir di Mesir sejak abad kelima Masehi, tutur Ghica. Ia juga menambahkan bahwa temuan-temuan itu telah membantu memahami &#8220;perkembangan bangunan dan pembentukan komunitas monastik pertama&#8221; di wilayah Mesir tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Situs tempat penggalian itu terletak wilayah gurun barat daya ibu kota Kairo. Wilayah tersebut diyakini telah ditempati masyarakat kuno dari abad keempat hingga kedelapan, dengan kemungkinan puncak aktivitas sekitar abad kelima dan keenam, menurut IFAO.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam beberapa bulan terakhir pemerintah Mesir telah mengumumkan beberapa penemuan arkeologi besar baru dengan harapan memacu sektor pariwisata mereka. Sektor ini telah mengalami banyak pukulan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pemberontakan tahun 2011 hingga pandemi virus corona sejak awal 2020.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa temuan yang pemerintah Mesir umumkan di tahun 2021 ini antara lain tempat pembuatan bir produksi tinggi yang diyakini berusia lebih dari 5.000 tahun. Penemuan tempat produksi massal bir kuno di sebuah situs di area selatan Mesir itu diumumkan pada Februari lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di bulan yang sama, misi tim arkeologi Mesir-Dominika yang bekerja di dekat Alexandria mengatakan telah menemukan mumi yang hidup dari sekitar 2.000 tahun lalu. Yang unik dari mumi itu adalah ia membawa jimat berlidah emas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara bulan Januari, Mesir mengungkap harta kuno yang ditemukan di situs arkeologi Saqqara di selatan Kairo, termasuk sarkofagus berusia lebih dari 3.000 tahun. Temuan ini dianggap telah &#8220;menuliskan ulang sejarah,&#8221; menurut ahli Mesir Kuno Zahi Hawass.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Sebuah tim arkeologi gabungan Prancis-Norwegia menemukan reruntuhan bangunan dan peninggalan Kristen kuno di Western Desert, Mesir. Sisa-sisa bangunan dan peninggalan ini mengungkapkan kehidupan biarawan di wilayah tersebut pada abad kelima Masehi, kata Kementerian Barang Antik Mesir akhir pekan lalu. Misi arkeologi tersebut menemukan &#8220;beberapa bangunan yang terbuat dari basal, yang lain diukir di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55136,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"grid.id","source_url":"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/132605057\/sisa-bangunan-dan-benda-peninggalan-kristen-kuno-ditemukan-di-mesir?page=all","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"109"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22,109],"tags":[],"class_list":["post-55094","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional","category-site"],"better_featured_image":{"id":55136,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/situs-mesir.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/situs-mesir.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/situs-mesir.jpg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":109,"name":"Situs Bersejarah","description":"","slug":"site","count":30,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/situs-mesir.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1329","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55094","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55094"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55094\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55136"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55094"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55094"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55094"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}