{"id":55179,"date":"2021-04-08T16:30:05","date_gmt":"2021-04-08T09:30:05","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=55179"},"modified":"2021-04-08T16:30:09","modified_gmt":"2021-04-08T09:30:09","slug":"antisipasi-kekerasan-anti-asia-kjri-bertemu-masyarakat-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/antisipasi-kekerasan-anti-asia-kjri-bertemu-masyarakat-indonesia\/","title":{"rendered":"Antisipasi kekerasan anti Asia, KJRI bertemu masyarakat Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Konsulat Jenderal RI di San Francisco bertemu secara virtual dengan masyarakat dan diaspora Indonesia untuk membahas langkah-langkah antisipasi terhadap aksi kekerasan bermotif rasial, terutama anti Asia, yang meningkat di Amerika Serikat.Menyikapi maraknya aksi kekerasan bermotif rasial terhadap komunitas Asia di Amerika Serikat dalam 3 bulan terakhir, Konsulat Jenderal RI di San Francisco menyelenggarakan pertemuan virtual dengan masyarakat dan diaspora Indonesia di wilayah kerjanya, demikian disampaikan KJRI San Francisco dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis. Sebanyak 150 orang dari kalangan masyarakat dan diaspora Indonesia dari California Utara, Nevada Utara, Oregon, Washington, Alaska, Montana, Idaho dan Wyoming berpartisipasi dalam pertemuan virtual yang berlangsung sekitar 2 jam pada Selasa (6\/4) waktu setempat. Pertemuan itu juga diikuti oleh Direktur Pelindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha, Atase Polisi KBRI Washington DC Brigjen. Pol. Ir. Ari Laksmana Widjaj, serta Konsul Protokol dan Konsuler KJRI San Francisco,Susapto Anggoro Broto. Menurut pihak KJRI San Francisco, diskusi mengenai langkah antisipasi terhadap kekerasan anti Asia di AS itu merupakan suatu bentuk perhatian dan upaya perlindungan negara bagi masyarakat dan diaspora Indonesia dalam mengatasi dan melewati masa yang penuh tantangan ini. Konsul Jenderal RI San Francisco, Simon D.I. Soekarno menyampaikan langkah yang telah dilakukan oleh KJRI San Francisco untuk mengantisipasi meningkatnya aksi kekerasan bermotif rasial terhadap komunitas Asia dalam dua bulan terakhir, salah satunya dengan berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat. KJRI SF telah dan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan pihak-pihak terkait di 8 negara bagian di wilayah kerja KJRI SF. Selain itu, atas inisiatif KJRI SF, para perwakilan negara-negara ASEAN di San Francisco sepakat untuk bersama-sama menyampaikan keprihatinan dan meminta perhatian pemerintah dan aparat keamanan setempat untuk menangani peningkatan aksi kekerasan anti Asia secara serius. KJRI San Francisco juga telah mendapat beberapa laporan insiden bermotif rasial yang dialami oleh warga Indonesia, antara lain aksi vandalisme bermotif rasial yang terjadi di salah satu gereja Indonesia di Seattle, serta insiden pelecehan kekerasan verbal yang dialami mahasiswa Indonesia di Davis, California. Konsul Jenderal RI mengimbau\u00a0 masyarakat dan diaspora Indonesia untuk tetap tenang namun juga meningkatkan kewaspadaan, tidak bepergian seorang diri serta mengajak masyarakat untuk tidak ragu melaporkan ke aparat setempat maupun KJRI atau Perwakilan RI terdekat jika menghadapi situasi gangguan atau kekerasan bermotif rasial. Untuk mendapatkan pelindungan, WNI yang sedang berada di luar Indonesia diimbau untuk melakukan lapor diri yang dapat dilakukan secara daring melalui portal peduli WNI. Dengan lapor diri maka pemerintah dapat mengetahui keberadaan WNI di suatu wilayah dan memberikan pelindungan sekiranya terjadi situasi darurat atau bencana lainnya. Di samping itu, Kementerian Luar Negeri juga memiliki aplikasi safe travel yang dapat digunakan oleh WNI yang sedang bepergian untuk dapat mengetahui situasi keamanan terkini di suatu wilayah sekaligus juga fitur tombol darurat yang dapat digunakan untuk menghubungkan WNI dengan perwakilan terdekat ketika menghadapi situasi darurat. Dalam situasi peningkatan aksi kekerasan terhadap komunitas Asia, masyarakat Indonesia diimbau untuk memahami hukum Amerika Serikat dan tidak diam ketika mendapat perlakuan kekerasan bermotif rasial. Keberanian untuk melaporkan kepada aparat setempat akan membantu untuk mencegah terjadinya kejahatan serupa di masa mendatang. Atase Polisi KBRI Washington DC, Ary L. Widjaja dalam paparannya menyampaikan bahwa semakin meningkatnya aksi kekerasan bermotif rasial terhadap komunitas Asia di AS antara lain disebabkan tekanan ekonomi sebagai dampak dari pandemi COVID-19 serta juga residu politik dari pemilihan presiden AS yang baru saja selesai pada akhir 2020. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah aksi kekerasan antara lain langkah awal, yakni jangan memberikan kesempatan pada para pelaku dengan bersikap tidak menyolok, langkah pencegahan dengan bersikap waspada dan hati-hati, serta langkah penanganan sekiranya terjadi aksi kekerasan dengan segera melaporkan kepada pihak berwenang ataupun perwakilan RI terdekat. Masyarakat Indonesia di AS juga diimbau untuk berani meminta pertolongan dan melaporkan jika mengalami aksi kekerasan bermotif rasial. KJRI San Francisco telah mengeluarkan beberapa imbauan di media sosial KJRI serta kepada simpul-simpul masyarakat Indonesia agar mereka selalu waspada dan berhati-hati ketika sedang bepergian keluar rumah. KJRI juga telah berkoordinasi dengan pihak keamanan untuk menyampaikan kegelisahan di kalangan masyarakat Indonesia terkait perkembangan situasi terkini.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Konsulat Jenderal RI di San Francisco bertemu secara virtual dengan masyarakat dan diaspora Indonesia untuk membahas langkah-langkah antisipasi terhadap aksi kekerasan bermotif rasial, terutama anti Asia, yang meningkat di Amerika Serikat.Menyikapi maraknya aksi kekerasan bermotif rasial terhadap komunitas Asia di Amerika Serikat dalam 3 bulan terakhir, Konsulat Jenderal RI di San Francisco menyelenggarakan pertemuan virtual dengan masyarakat dan diaspora Indonesia di wilayah kerjanya, demikian disampaikan KJRI San Francisco dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Sebanyak 150 orang dari kalangan masyarakat dan diaspora Indonesia dari California Utara, Nevada Utara, Oregon, Washington, Alaska, Montana, Idaho dan Wyoming berpartisipasi dalam pertemuan virtual yang berlangsung sekitar 2 jam pada Selasa (6\/4) waktu setempat.<\/p>\n<p>Pertemuan itu juga diikuti oleh Direktur Pelindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha, Atase Polisi KBRI Washington DC Brigjen. Pol. Ir. Ari Laksmana Widjaj, serta Konsul Protokol dan Konsuler KJRI San Francisco,Susapto Anggoro Broto.<b><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p>Menurut pihak KJRI San Francisco, diskusi mengenai langkah antisipasi terhadap kekerasan anti Asia di AS itu merupakan suatu bentuk perhatian dan upaya perlindungan negara bagi masyarakat dan diaspora Indonesia dalam mengatasi dan melewati masa yang penuh tantangan ini.<\/p>\n<p>Konsul Jenderal RI San Francisco, Simon D.I. Soekarno menyampaikan langkah yang telah dilakukan oleh KJRI San Francisco untuk mengantisipasi meningkatnya aksi kekerasan bermotif rasial terhadap komunitas Asia dalam dua bulan terakhir, salah satunya dengan berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat.<\/p>\n<p>KJRI SF telah dan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan pihak-pihak terkait di 8 negara bagian di wilayah kerja KJRI SF.<\/p>\n<p>Selain itu, atas inisiatif KJRI SF, para perwakilan negara-negara ASEAN di San Francisco sepakat untuk bersama-sama menyampaikan keprihatinan dan meminta perhatian pemerintah dan aparat keamanan setempat untuk menangani peningkatan aksi kekerasan anti Asia secara serius.<\/p>\n<p>KJRI San Francisco juga telah mendapat beberapa laporan insiden bermotif rasial yang dialami oleh warga Indonesia, antara lain aksi vandalisme bermotif rasial yang terjadi di salah satu gereja Indonesia di Seattle, serta insiden pelecehan kekerasan verbal yang dialami mahasiswa Indonesia di Davis, California.<b><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p>Konsul Jenderal RI mengimbau\u00a0 masyarakat dan diaspora Indonesia untuk tetap tenang namun juga meningkatkan kewaspadaan, tidak bepergian seorang diri serta mengajak masyarakat untuk tidak ragu melaporkan ke aparat setempat maupun KJRI atau Perwakilan RI terdekat jika menghadapi situasi gangguan atau kekerasan bermotif rasial.<\/p>\n<p>Untuk mendapatkan pelindungan, WNI yang sedang berada di luar Indonesia diimbau untuk melakukan lapor diri yang dapat dilakukan secara daring melalui portal peduli WNI. Dengan lapor diri maka pemerintah dapat mengetahui keberadaan WNI di suatu wilayah dan memberikan pelindungan sekiranya terjadi situasi darurat atau bencana lainnya.<\/p>\n<p>Di samping itu, Kementerian Luar Negeri juga memiliki aplikasi safe travel yang dapat digunakan oleh WNI yang sedang bepergian untuk dapat mengetahui situasi keamanan terkini di suatu wilayah sekaligus juga fitur tombol darurat yang dapat digunakan untuk menghubungkan WNI dengan perwakilan terdekat ketika menghadapi situasi darurat.<\/p>\n<p>Dalam situasi peningkatan aksi kekerasan terhadap komunitas Asia, masyarakat Indonesia diimbau untuk memahami hukum Amerika Serikat dan tidak diam ketika mendapat perlakuan kekerasan bermotif rasial. Keberanian untuk melaporkan kepada aparat setempat akan membantu untuk mencegah terjadinya kejahatan serupa di masa mendatang.<\/p>\n<p>Atase Polisi KBRI Washington DC, Ary L. Widjaja dalam paparannya menyampaikan bahwa semakin meningkatnya aksi kekerasan bermotif rasial terhadap komunitas Asia di AS antara lain disebabkan tekanan ekonomi sebagai dampak dari pandemi COVID-19 serta juga residu politik dari pemilihan presiden AS yang baru saja selesai pada akhir 2020.<\/p>\n<p>Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah aksi kekerasan antara lain langkah awal, yakni jangan memberikan kesempatan pada para pelaku dengan bersikap tidak menyolok, langkah pencegahan dengan bersikap waspada dan hati-hati, serta langkah penanganan sekiranya terjadi aksi kekerasan dengan segera melaporkan kepada pihak berwenang ataupun perwakilan RI terdekat.<\/p>\n<p>Masyarakat Indonesia di AS juga diimbau untuk berani meminta pertolongan dan melaporkan jika mengalami aksi kekerasan bermotif rasial.<br \/>\nKJRI San Francisco telah mengeluarkan beberapa imbauan di media sosial KJRI serta kepada simpul-simpul masyarakat Indonesia agar mereka selalu waspada dan berhati-hati ketika sedang bepergian keluar rumah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">KJRI juga telah berkoordinasi dengan pihak keamanan untuk menyampaikan kegelisahan di kalangan masyarakat Indonesia terkait perkembangan situasi terkini.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Konsulat Jenderal RI di San Francisco bertemu secara virtual dengan masyarakat dan diaspora Indonesia untuk membahas langkah-langkah antisipasi terhadap aksi kekerasan bermotif rasial, terutama anti Asia, yang meningkat di Amerika Serikat.Menyikapi maraknya aksi kekerasan bermotif rasial terhadap komunitas Asia di Amerika Serikat dalam 3 bulan terakhir, Konsulat Jenderal RI di San Francisco menyelenggarakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55180,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"Antara","source_url":" https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/2088090\/antisipasi-kekerasan-anti-asia-kjri-bertemu-masyarakat-indonesia","via_name":"","via_url":"","override":[{"single_blog_custom":"","sidebar":"","second_sidebar":"","share_position":"","share_float_style":"","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","post_reading_time_wpm":"","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post_position":"","trending_post_label":"","sponsored_post_label":"","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-55179","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":55180,"alt_text":"","caption":"","description":"5ab1df0e6031d1490397e963a0a448c1","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/antisipasi-kekerasan-anti-asia-kjri-bertemu-masyarakat-indonesia_606e772c25625.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/antisipasi-kekerasan-anti-asia-kjri-bertemu-masyarakat-indonesia_606e772c25625.jpeg?fit=768%2C512&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/antisipasi-kekerasan-anti-asia-kjri-bertemu-masyarakat-indonesia_606e772c25625.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/antisipasi-kekerasan-anti-asia-kjri-bertemu-masyarakat-indonesia_606e772c25625.jpeg?fit=800%2C533&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"966","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55179","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55179"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55179\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55180"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55179"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55179"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55179"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}