{"id":55182,"date":"2021-04-08T14:08:20","date_gmt":"2021-04-08T07:08:20","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=55182"},"modified":"2021-04-08T14:14:42","modified_gmt":"2021-04-08T07:14:42","slug":"lonceng-dan-toa-andalan-warga-adonara-untuk-peringatan-dini-bencana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/lonceng-dan-toa-andalan-warga-adonara-untuk-peringatan-dini-bencana\/","title":{"rendered":"Lonceng dan toa andalan warga Adonara untuk peringatan dini bencana"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Masyarakat di pesisir Laut Selor, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mengandalkan toa atau alat pengeras suara dari sejumlah tempat ibadah dan lonceng sebagai alat komunikasi saat terjadi bencana.&quot;Kita tidak tahu yang namanya informasi prakiraan cuaca dari telepon genggam. Biasanya kalau yang Muslim ada pengumuman dari toa masjid. Kalau yang Nasrani membunyikan lonceng di gereja. Itu saja,&quot; kata warga Desa Lamahala, Adonara Timur, Hamid Atapuka,(40) di Flores Timur, Kamis. Desa Lamahala memiliki pengeras suara di Masjid Jami Al Maruf serta 14 surau di lingkungan warga. Sementara lonceng dibunyikan dari Gereja Kristus Raja, Waiwerang Kota. Seperti pengumuman yang berlangsung pada Kamis pagi. Imam Mushala Nur Hikmah Lamahala mengundang pemuda setempat bergotong royong untuk membersihkan Masjid Waiburak yang terendam banjir bandang pada Ahad (4\/4) 2021. Pengumuman disampaikan menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia melalui pengeras suara. &quot;Diberitahukan seluruh pemuda pemudi Desa Lamahala Jaya, mengundang untuk membersihkan Masjid Waiburak untuk persiapan Shalat Jumat,&quot; kata Imam Mushola Nur Hikmah. Namun sebagian warga setempat ada pula yang mulai mempelajari informasi sistem peringatan dini yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) usai bencana alam yang terjadi. &quot;Saya sudah menginstal (memasang program) aplikasi BMKG. Kalau dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tidak ada aplikasinya,&quot; kata Kartini\u00a0(23), bidan yang bekerja di kantor Desa Lamahala. Kartini mengatakan mayoritas warga pesisir memberi peringatan dini dari mulut ke mulut atau sambungan telepon. &quot;Pada Rabu (7\/4) sekitar jam 00.00 WITA, saya dapat laporan dari warga di sekitar dermaga Waiwerang katanya akan ada banjir susulan. Warga berlarian sampai ada yang jatuh. Tapi kan ternyata itu berita bohong,&quot; katanya. Warga setempat, kata dia, cenderung mudah terprovokasi sebab bencana datang dari orang-orang terdekat mereka tanpa konfirmasi kepada pihak terkait. Kartini ceritakan, sejak Rabu dini hari seluruh telepon seluler warga di Flores Timur mengalami gangguan selama 16 jam. Situasi itu dibarengi dengan beredarnya informasi akan ada banjir susulan. &quot;Masyarakat banyak lari ke gunung, tapi kan ternyata itu tidak benar,&quot; katanya. Sementara itu dari pantauan ANTARA di sekitar kawasan Waiburak dan Waiwerang Kota tidak tampak adanya alat sirine mitigasi bencana. Satu spanduk bertuliskan &quot;Flores Timur Tanggap Bencana&quot; terpasang di dekat pusat pertokoan dan Pasar Waiwerang Kota dalam kondisi yang lusuh dan sebagian spanduknya robek akibat faktor usia. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur, Thomas Bangke, yang dihubungi melalui sambungan telepon belum memberikan tanggapan hingga berita ini dilaporkan.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Masyarakat di pesisir Laut Selor, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mengandalkan toa atau alat pengeras suara dari sejumlah tempat ibadah dan lonceng sebagai alat komunikasi saat terjadi bencana.&#8221;Kita tidak tahu yang namanya informasi prakiraan cuaca dari telepon genggam. Biasanya kalau yang Muslim ada pengumuman dari toa masjid. Kalau yang Nasrani membunyikan lonceng di gereja. Itu saja,&#8221; kata warga Desa Lamahala, Adonara Timur, Hamid Atapuka,(40) di Flores Timur, Kamis.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Desa Lamahala memiliki pengeras suara di Masjid Jami Al Maruf serta 14 surau di lingkungan warga. Sementara lonceng dibunyikan dari Gereja Kristus Raja, Waiwerang Kota.<\/p>\n<p>Seperti pengumuman yang berlangsung pada Kamis pagi. Imam Mushala Nur Hikmah Lamahala mengundang pemuda setempat bergotong royong untuk membersihkan Masjid Waiburak yang terendam banjir bandang pada Ahad (4\/4) 2021.<\/p>\n<p>Pengumuman disampaikan menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia melalui pengeras suara.<\/p>\n<p>&#8220;Diberitahukan seluruh pemuda pemudi Desa Lamahala Jaya, mengundang untuk membersihkan Masjid Waiburak untuk persiapan Shalat Jumat,&#8221; kata Imam Mushola Nur Hikmah.<\/p>\n<p>Namun sebagian warga setempat ada pula yang mulai mempelajari informasi sistem peringatan dini yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) usai bencana alam yang terjadi.<\/p>\n<p>&#8220;Saya sudah menginstal (memasang program) aplikasi BMKG. Kalau dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tidak ada aplikasinya,&#8221; kata Kartini\u00a0(23), bidan yang bekerja di kantor Desa Lamahala.<\/p>\n<p>Kartini mengatakan mayoritas warga pesisir memberi peringatan dini dari mulut ke mulut atau sambungan telepon.<\/p>\n<p>&#8220;Pada Rabu (7\/4) sekitar jam 00.00 WITA, saya dapat laporan dari warga di sekitar dermaga Waiwerang katanya akan ada banjir susulan. Warga berlarian sampai ada yang jatuh. Tapi kan ternyata itu berita bohong,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Warga setempat, kata dia, cenderung mudah terprovokasi sebab bencana datang dari orang-orang terdekat mereka tanpa konfirmasi kepada pihak terkait.<\/p>\n<p>Kartini ceritakan, sejak Rabu dini hari seluruh telepon seluler warga di Flores Timur mengalami gangguan selama 16 jam. Situasi itu dibarengi dengan beredarnya informasi akan ada banjir susulan.<\/p>\n<p>&#8220;Masyarakat banyak lari ke gunung, tapi kan ternyata itu tidak benar,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Sementara itu dari pantauan ANTARA di sekitar kawasan Waiburak dan Waiwerang Kota tidak tampak adanya alat sirine mitigasi bencana.<\/p>\n<p>Satu spanduk bertuliskan &#8220;Flores Timur Tanggap Bencana&#8221; terpasang di dekat pusat pertokoan dan Pasar Waiwerang Kota dalam kondisi yang lusuh dan sebagian spanduknya robek akibat faktor usia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur, Thomas Bangke, yang dihubungi melalui sambungan telepon belum memberikan tanggapan hingga berita ini dilaporkan.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Masyarakat di pesisir Laut Selor, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mengandalkan toa atau alat pengeras suara dari sejumlah tempat ibadah dan lonceng sebagai alat komunikasi saat terjadi bencana.&#8221;Kita tidak tahu yang namanya informasi prakiraan cuaca dari telepon genggam. Biasanya kalau yang Muslim ada pengumuman dari toa masjid. Kalau yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55183,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"Antara","source_url":"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/2087922\/toa-dan-lonceng-andalan-warga-adonara-untuk-peringatan-dini-bencana","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"single_blog_custom":"","parallax":"0","fullscreen":"0","sidebar":"","second_sidebar":"","sticky_sidebar":"0","share_position":"","share_float_style":"","show_share_counter":"0","show_view_counter":"0","show_featured":"0","show_post_meta":"0","show_post_author":"0","show_post_author_image":"0","show_post_date":"0","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","show_post_tag":"0","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"0","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post":"0","trending_post_position":"","trending_post_label":"","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[441],"class_list":["post-55182","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-bencana-alam"],"better_featured_image":{"id":55183,"alt_text":"","caption":"","description":"7e64bba0c37c9e0c50c0c51ed229e2c1","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/toa-dan-lonceng-andalan-warga-adonara-untuk-peringatan-dini-bencana_606e77399aaf9.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/toa-dan-lonceng-andalan-warga-adonara-untuk-peringatan-dini-bencana_606e77399aaf9.jpeg?fit=768%2C512&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/toa-dan-lonceng-andalan-warga-adonara-untuk-peringatan-dini-bencana_606e77399aaf9.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/toa-dan-lonceng-andalan-warga-adonara-untuk-peringatan-dini-bencana_606e77399aaf9.jpeg?fit=800%2C533&ssl=1","comment_count":0,"views":"1362","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55182","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55182"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55182\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55183"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55182"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55182"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55182"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}