{"id":55456,"date":"2022-05-23T13:47:46","date_gmt":"2022-05-23T06:47:46","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=55456"},"modified":"2022-05-23T13:47:46","modified_gmt":"2022-05-23T06:47:46","slug":"daftar-martir-kristen-pada-masa-pemerintahan-diokletianus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/daftar-martir-kristen-pada-masa-pemerintahan-diokletianus\/","title":{"rendered":"Daftar martir Kristen pada masa pemerintahan Diokletianus"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Pemerintahan Kaisar Diokletianus (284\u2212305) merupakan masa penindasan atau penganiayaan terakhir yang berlangsung secara luas terhadap umat Kristiani di Kekaisaran Romawi. Periode kekerasan yang paling intens terjadi setelah Diokletianus mengeluarkan suatu maklumat pada tahun 303 untuk menerapkan ketaatan yang lebih ketat terhadap praktik-praktik keagamaan tradisional di Roma terkait dengan kultus Imperial. Para sejarawan modern memperkirakan bahwa selama periode ini, yang dikenal sebagai Penganiayaan Besar dan berlanjut beberapa tahun lagi setelah pemerintahan Diokletianus, sebanyak 3.000\u22123.500 umat Kristiani dieksekusi di bawah otoritas berbagai maklumat Imperial.[1] \u00a0Sejarawan Gereja bernama Eusebius, seorang Uskup Kaisarea yang hidup baik pada masa &quot;Kedamaian Kecil&quot; dalam Gereja maupun Penganiayaan Besar, merupakan sumber utama untuk mengidentifikasi para martir Kristen dalam periode ini. Berbagai narasi mengenai martir berkembang kemudian sebagai salah satu genre literatur Kristen, tetapi belum tentu mengisahkan para martir yang hidup pada zaman penganiayaan tersebut dan sering kali historisitasnya meragukan. Artikel ini berisikan tokoh-tokoh historis maupun legendaris yang menurut tradisi diidentifikasi sebagai para martir dalam masa pemerintahan Diokletianus. \u00a0 \u00a0 \u00a0\u00a0Para martir Palestina \u00a0 Nama-nama para martir berikut ini dicatat oleh Eusebius dalam Para Martir Palestina karyanya: Prokopius dari Skitopolis, 7 Juli 303 Timolaus dan kawan-kawan, 303 Alfeus dan Zakeus, 303 atau 304 Romanus dari Kaisarea, 303 atau 304 Apianus, 2 April 305 \u00a0 Para martir Nikomedia Dalam Sejarah Gereja karyanya, Eusebius membahas kisah-kisah kemartiran di Nikomedia, menyebutkan dua di antaranya: Sebastianus, ca. 288, pertama kali dibutikan oleh Ambrosius, uskup Milan 374\u2013397 Eufemia, 303, dibuktikan dalam Martyrologium Hieronymianum dan Fasti vindobonenses Feliks dan Adauktus, ca. 303, dibuktikan dalam karya-karya Paus Gregorius I (akhir abad ke-6) dan dalam suatu martirologi ajaib karya Ado pada abad ke-9 yang mungkin diambil dari sebuah catatan abad ke-4 karya Paus Damasus I Agnes dari Roma, ca. 304, dicatat oleh Ambrosius Marselinus dan Petrus, 304, pertama kali dicatat oleh Paus Damasus \u00a0\u00a0\u00a0Sebagian besar ataupun seluruhnya legendaris Agape, Kionia, dan Irene 304, menurut tradisi Fidelis dari Como ca. 304, menurut tradisi Asisklus dari Kordoba 304, menurut tradisi Leokadia dari Toledo ca. 304, menurut tradisi Kuriakos dan Yulieta 304, menurut tradisi Eulalia dari M\u00e9rida Prokulus dari Pozzuoli dan Yanuarius ca. 305, menurut tradisi Vinsen, Orontius, dan Viktor 305, menurut tradisi Krisogonus Santo Akasius, menurut tradisi Anastasia dari Sirmium, menurut tradisi Filomena, menurut tradisi Pankrasius dari Roma \u00a0 Kutipan Frend, Martyrdom and Persecution, 393\u201394; Liebeschuetz, 251\u201352. \u00a0 Referensi Frend, William H.C. Martyrdom and persecution in the early church: a study of a conflict from the Maccabees to Donatus. New York University Press, 1967. Reissued in 2008 by James Clarke Company, U.K. ISBN 0-227-17229-9 Liebeschuetz, J. H. W. G. Continuity and Change in Roman Religion. Oxford: Oxford University Press, 1979. ISBN 0-19-814822-4 \u00a0\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/><strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Pemerintahan Kaisar Diokletianus (284\u2212305) merupakan masa penindasan atau penganiayaan terakhir yang berlangsung secara luas terhadap umat Kristiani di Kekaisaran Romawi. Periode kekerasan yang paling intens terjadi setelah Diokletianus mengeluarkan suatu maklumat pada tahun 303 untuk menerapkan ketaatan yang lebih ketat terhadap praktik-praktik keagamaan tradisional di Roma terkait dengan kultus Imperial. Para sejarawan modern memperkirakan bahwa selama periode ini, yang dikenal sebagai Penganiayaan Besar dan berlanjut beberapa tahun lagi setelah pemerintahan Diokletianus, sebanyak 3.000\u22123.500 umat Kristiani dieksekusi di bawah otoritas berbagai maklumat Imperial.<sup id=\"cite_ref-1\" class=\"reference\">[1]<\/sup><\/p>\n<figure style=\"width: 170px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img decoding=\"async\" class=\"thumbimage\" src=\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/thumb\/a\/a8\/St._George_before_Diocletianus_%28Ubisi_mural%29.JPG\/170px-St._George_before_Diocletianus_%28Ubisi_mural%29.JPG\" alt=\"Santo Georgius di hadapan Diokletianus, penggambaran sebuah mural abad ke-14 di Ubisi.\" width=\"170\" height=\"249\" data-file-width=\"1106\" data-file-height=\"1620\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Santo Georgius di hadapan Diokletianus, penggambaran sebuah mural abad ke-14 di Ubisi.<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0Sejarawan Gereja bernama Eusebius, seorang Uskup Kaisarea yang hidup baik pada masa &#8220;Kedamaian Kecil&#8221; dalam Gereja maupun Penganiayaan Besar, merupakan sumber utama untuk mengidentifikasi para martir Kristen dalam periode ini. Berbagai narasi mengenai martir berkembang kemudian sebagai salah satu genre literatur Kristen, tetapi belum tentu mengisahkan para martir yang hidup pada zaman penganiayaan tersebut dan sering kali historisitasnya meragukan. Artikel ini berisikan tokoh-tokoh historis maupun legendaris yang menurut tradisi diidentifikasi sebagai para martir dalam masa pemerintahan Diokletianus.<\/p>\n<div id=\"mw-content-text\" dir=\"ltr\" lang=\"id\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"mw-parser-output\">\n<div class=\"thumb tright\">\n<div class=\"thumbinner\">\u00a0<\/div>\n<\/div>\n<p>\u00a0<\/p>\n<h2>\u00a0\u00a0<span id=\"Para_martir_Palestina\" class=\"mw-headline\">Para martir Palestina<\/span><\/h2>\n<div class=\"thumbinner\">\n<figure style=\"width: 170px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img decoding=\"async\" class=\"thumbimage\" src=\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/thumb\/f\/f4\/Timolaus_and_companions.jpg\/170px-Timolaus_and_companions.jpg\" alt=\"Ikon Santo Timolaus dan kawan-kawan.\" width=\"170\" height=\"234\" data-file-width=\"262\" data-file-height=\"360\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Ikon Santo Timolaus dan kawan-kawan.<\/figcaption><\/figure>\n<div class=\"thumbcaption\">\n<div class=\"magnify\">\u00a0<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Nama-nama para martir berikut ini dicatat oleh Eusebius dalam <i>Para Martir Palestina<\/i> karyanya:<\/p>\n<ul>\n<li>Prokopius dari Skitopolis, 7 Juli 303<\/li>\n<li>Timolaus dan kawan-kawan, 303<\/li>\n<li>Alfeus dan Zakeus, 303 atau 304<\/li>\n<li>Romanus dari Kaisarea, 303 atau 304<\/li>\n<li>Apianus, 2 April 305<\/li>\n<\/ul>\n<p>\u00a0<\/p>\n<h2><span id=\"Para_martir_Nikomedia\" class=\"mw-headline\">Para martir Nikomedia<\/span><\/h2>\n<p>Dalam <i>Sejarah Gereja<\/i> karyanya, Eusebius membahas kisah-kisah kemartiran di Nikomedia, menyebutkan dua di antaranya:<\/p>\n<div class=\"thumb tright\">\n<div class=\"thumbinner\">\n<figure style=\"width: 170px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img decoding=\"async\" class=\"thumbimage\" src=\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/thumb\/9\/91\/Sodoma_003.jpg\/170px-Sodoma_003.jpg\" alt=\"Santo Sebastianus (1525) karya Il Sodoma\" width=\"170\" height=\"238\" data-file-width=\"772\" data-file-height=\"1080\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Santo Sebastianus (1525) karya Il Sodoma<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n<ul>\n<li>Sebastianus, <abbr title=\"kira-kira\">ca.<\/abbr> 288, pertama kali dibutikan oleh Ambrosius, uskup Milan 374\u2013397<\/li>\n<li>Eufemia, 303, dibuktikan dalam <i>Martyrologium Hieronymianum<\/i> dan <i>Fasti vindobonenses<\/i><\/li>\n<li>Feliks dan Adauktus, <abbr title=\"kira-kira\">ca.<\/abbr> 303, dibuktikan dalam karya-karya Paus Gregorius I (akhir abad ke-6) dan dalam suatu martirologi ajaib karya Ado pada abad ke-9 yang mungkin diambil dari sebuah catatan abad ke-4 karya Paus Damasus I<\/li>\n<li>Agnes dari Roma, <abbr title=\"kira-kira\">ca.<\/abbr> 304, dicatat oleh Ambrosius<\/li>\n<li>Marselinus dan Petrus, 304, pertama kali dicatat oleh Paus Damasus<\/li>\n<\/ul>\n<h2>\u00a0\u00a0\u00a0<span id=\"Sebagian_besar_ataupun_seluruhnya_legendaris\" class=\"mw-headline\">Sebagian besar ataupun seluruhnya legendaris<\/span><\/h2>\n<ul>\n<li>Agape, Kionia, dan Irene 304, menurut tradisi<\/li>\n<li>Fidelis dari Como <abbr title=\"kira-kira\">ca.<\/abbr> 304, menurut tradisi<\/li>\n<li>Asisklus dari Kordoba 304, menurut tradisi<\/li>\n<li>Leokadia dari Toledo <abbr title=\"kira-kira\">ca.<\/abbr> 304, menurut tradisi<\/li>\n<li>Kuriakos dan Yulieta 304, menurut tradisi<\/li>\n<li>Eulalia dari M\u00e9rida<\/li>\n<li>Prokulus dari Pozzuoli dan Yanuarius <abbr title=\"kira-kira\">ca.<\/abbr> 305, menurut tradisi<\/li>\n<li>Vinsen, Orontius, dan Viktor 305, menurut tradisi<\/li>\n<li>Krisogonus<\/li>\n<li>Santo Akasius, menurut tradisi<\/li>\n<li>Anastasia dari Sirmium, menurut tradisi<\/li>\n<li>Filomena, menurut tradisi<\/li>\n<li>Pankrasius dari Roma<\/li>\n<\/ul>\n<div class=\"thumb tright\">\n<div class=\"thumbinner\">\u00a0<\/div>\n<\/div>\n<h2><span id=\"Kutipan\" class=\"mw-headline\">Kutipan<\/span><\/h2>\n<div class=\"reflist\">\n<div class=\"mw-references-wrap\">\n<ol class=\"references\">\n<li id=\"cite_note-1\"><span class=\"reference-text\">Frend, <i>Martyrdom and Persecution<\/i>, 393\u201394; Liebeschuetz, 251\u201352.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"reflist\">\n<div class=\"mw-references-wrap\">\u00a0<\/div>\n<\/div>\n<h2><span id=\"Referensi\" class=\"mw-headline\">Referensi<\/span><\/h2>\n<ul>\n<li>Frend, William H.C. <i>Martyrdom and persecution in the early church: a study of a conflict from the Maccabees to Donatus<\/i>. New York University Press, 1967. Reissued in 2008 by James Clarke Company, U.K. <a class=\"internal mw-magiclink-isbn\" href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Istimewa:Sumber_buku\/0227172299\">ISBN 0-227-17229-9<\/a><\/li>\n<li>Liebeschuetz, J. H. W. G. <i>Continuity and Change in Roman Religion<\/i>. Oxford: Oxford University Press, 1979. <a class=\"internal mw-magiclink-isbn\" href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Istimewa:Sumber_buku\/0198148224\">ISBN 0-19-814822-4<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Pemerintahan Kaisar Diokletianus (284\u2212305) merupakan masa penindasan atau penganiayaan terakhir yang berlangsung secara luas terhadap umat Kristiani di Kekaisaran Romawi. Periode kekerasan yang paling intens terjadi setelah Diokletianus mengeluarkan suatu maklumat pada tahun 303 untuk menerapkan ketaatan yang lebih ketat terhadap praktik-praktik keagamaan tradisional di Roma terkait dengan kultus Imperial. Para sejarawan modern [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61713,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[20,13],"tags":[],"class_list":["post-55456","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah","category-tokoh"],"better_featured_image":{"id":61713,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Diokletianus.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Diokletianus.jpg?fit=600%2C400&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Diokletianus.jpg"},"categories_detail":[{"id":20,"name":"Sejarah","description":"","slug":"sejarah","count":39,"parent":0},{"id":13,"name":"Tokoh Kristiani","description":"","slug":"tokoh","count":15,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Diokletianus.jpg?fit=600%2C400&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1419","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55456","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55456"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55456\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61713"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55456"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55456"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55456"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}