{"id":56974,"date":"2021-09-22T09:21:19","date_gmt":"2021-09-22T02:21:19","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=56974"},"modified":"2021-09-22T09:25:29","modified_gmt":"2021-09-22T02:25:29","slug":"perceraian-dalam-kristen-larangan-dan-akibatnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/perceraian-dalam-kristen-larangan-dan-akibatnya\/","title":{"rendered":"Perceraian Dalam Kristen: Larangan dan Akibatnya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Perceraian Dalam Kristen: Larangan dan Akibatnya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Perceraian Dalam Kristen: Larangan dan Akibatnya Diakonia.id - Matius 19:6, \u201dDemikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.\u201d.\u00a0Ikatan sebuah pernikahan di dalam iman Kristen yang sudah ditetapkan Allah merupakan ikatan seumur hidup. Dalam proses penyatuan terlihat jelas jika Allah menjadi inisiatif pertama yang membuat perkawinan tersebut bisa terjadi dan juga dengan otoritas yang Tuhan berikan. Ia meneguhkan pernikahan melalui lembaga gereja.\u00a0Pernikahan sendiri bukanlah hanya bersifat sementara namun seumur hidup hingga maut memisahkan. Apabila sebuah perceraian dilakukan maka ini sudah mencederai pemberian dan juga penyatuan yang sudah diberikan oleh Allah dan ini melanggar sebagai tujuan hidup orang Kristen\u00a0merupakan kesalahan serta dosa di mata Allah.\u00a0Penegasan larangan perceraian sebuah pernikahan harus selalu dipegang dan Tuhan Yesus berkata dengan sangat jelas pada Matius 19:4-6, \u201cTidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? dan firmanNya: sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging, Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang sudah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia\u201d. Pengertian Perceraian Jika diartikan secara sederhana, perceraian dalam Kristen merupakan berakhirnya ikatan pernikahan yang sudah seharusnya seumur hidup tersebut. Perceraian tidak hanya berakhirnya hubungan diantara dua belah pihak, namun juga aspek yang luas yakni anak, harta benda, lembaga gereja, perintah dan tentunya Allah. Semua yang terlibat di dalam pernikahan tersebut juga harus menanggung akibatnya sebab perceraian akan melibatkan banyak aspek yang akhirnya akan menimbulkan konflik berkepanjangan sampai akhirnya menuju ke kehancuran secara langsung ataupun tidak langsung. Bentuk-bentuk perceraian, perceraian sendiri bisa dilihat dari 2 perspektif yang berbeda yakni ceria hidup dan cerai mati: Cerai hidup: Ini bisa terjadi karena adanya ketidak cocokan seperti masalah perzinahan, ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, pertengkaran dan alasan lain yang dipakai sebagai alasan bercerai. Cerai mati: Perceraian ini terjadi karena salah satu pasangan suami atau istri meninggal dunia. Dalam hal ini, ikatan suami istri akan selesai disaat pasangan meninggal sehingga tidak wajib untuk tetap setia. Namun jika masih setia, maka itu merupakan bukti nyata dari ikatan yang mulia atas dasar kasih murni sampai mati dengan cara tidak menikah kembali. Larangan Perceraian Kristen Dalam Matius 19:8 diungkapkan alasan mengapa Tuhan Yesus sangat melarang perceraian terjadi, \u201cketegaran hati manusia\u2019 \u2013 pikiran dan hati manusia yang membatu, menjadi keras dan mau menang sendiri\u201d. Gereja yang mempunyai\u00a0peran Gereja dalam masyarakat\u00a0yang menyatukan umat Kristen dalam pernikahan namun, tidak bisa memisahkan mereka. Allah Tidak menghendaki Perceraian Allah tidak pernah menghendaki sebuah perceraian terjadi dan apabila manusia masih membatu, egois dan tetap ingin bercerai, maka ada syaratnya yakni karena alasan perzinahan denga konsekuensi pasangan tersebut tidak boleh menikah kembali dan jika sampai menikah kembali maka akan dikategorikan menjadi berzinah. Ini dikategorikan berzinah sbab masih hidup dengan bukan suami atyau istri yang sah, tidak sah di mata Tuhan dan juga gereja, meskipun pemerintah mengijinkan perceraian tersebut bisa terjadi. Sampai kapanpun, gereja tidak akan memberikan peneguhan untuk kedua kalinya di dalam sebuah pernikahan. Yesus Melarang Perceraian Kecuali Zinah Di dalam Perjanjian Baru, pandangan Yesus tentang perceraian dalam Kristen bisa dilihat dari Matius 5:31-32 dan juga Matius 19:9. Dalam dua ayat tersebut, Yesus secara tegas melarang perceraian terjadi, namun ada pengecualian yakni zinah. Dalam bahasa Yunani kata zinah adalah Porneia. Porneia merupakan sesuatu yang najis dan Yesus juga tidak memberi batasan tentang pengertian dalam arti sempit atau dalam arti luas. Pernikahan Adalah Sakral dan Kudus Di dalam 1 Korintus 7:1-15, tertulis mengenai perspektif Paulus yang sangat tidak setuju jika orang percaya melakukan perceraian dan dalam situasi apapun keputusan etis dari Paulus tidak menyetujui pernikahan terjadi sebab pernikahan merupakan sesuatu yang kudus dan juga sakral.\u00a0Bisa diartikan perzinahan yang dimaksud adalah bukan hanya percabulan keinginan daging akan tetapi juga perzinahan rohani. Sebab jika perceraian hanya dibatasi dari percabulan saja, maka akan sangat banyak orang yang akan bercerai hanya karena hawa nafsu saja. Perceraian Membatalkan Penilik Jemaat Salah satu kualifikasi dari seorang penilik jemaat yakni ia haruslah suami dari seorang istri sehingga intinya perceraian tidak boleh terjadi sebab di dalam Alkitab sudah sangat jelas dan perkataan Tuhan Yesus sendiri juga melarang perceraian terjadi. Apabila Tuhan sendiri sudah mengatakan jangan, maka kita sebagai umat-Nya juga harus menjalankan perintah tersebut dan berkata tidak pada perceraian. Akibat Perceraian Perceraian dalam Kristen dasarnya sangat merugikan semua pihak dan anak yang dibesarkan dalam keluarga yang orangtuanya bercerai juga memungkinkan akan mengulang hal serupa di kemudian hari. Ada beberapa fakta yang timbul akibat dari sebuah perceraian. Tiga dari lima orang anak akan merasakan penolakan dari setidaknya salah satu orangtua baik itu ayah atau ibu. Sesudah perceraian memasuki usia diatas 5 tahun, maka sepertiga dari jumlah anak akan mendapatkan nilai buruk di sekolah dibandingkan sebelum perceraian terjadi. Sepertiga jumlah perempuan dan juga seperempat jumlah pria akan merasa jika hidup tidaklah adil, sepi dan sangat mengecewakan. Mereka yang bercerai akan lebih banyak datang ke psikiater dibandingkan mereka yang lajang atau masih terikat dalam pernikahan. Anak-anak yang memiliki orang tua bercerai, prestasinya akan lebih rendah di sekolah dan juga mempunyai masalah tingkah laku di lingkungan sekolah dan juga rumah serta sering terlibat dengan kejahatan\u00a0 ataupun seksual lebih cepat jika dibandingkan dengan anak-anak yang orangtuanya tidak bercerai. Masa kecil dari seseorang yang orangtuanya bercerai akan sulit menyesuaikan diri dari segi psikologi, pendapatan sosial ekonomi yang jauh lebih rendah dan juga tidak stabil saat nantinya menjalani sebuah pernikahan. Perkawinan adalah suatu hal suci yang sudah diberikan oleh Allah bagi kita umat-Nya dari sejak semula. Perkawinan diberikan karena sebuah tujuan, akan tetapi saat tujuan tersebut di langgar, maka ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan kembali dan perceraian tetap suatu hal yang jahat dan menghasilkan dosa. Perceraian juga akan memberikan kerugian untuk mereka yang berpisah, anak-anak dan bahkan keluarga besar. Dengan ulasan kali ini, semoga bisa memberikan perenungan dan menjadi penolong serta pembuka jalan, supaya perceraian jangan sampai terjadi dan harus dihindari sebab merupakan larangan dari Tuhan, merusak sumpah sakral dalam pernikahan yang sudah dibuat oleh Allah dan juga akan membatalkan penilik jemaat.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Matius 19:6, \u201dDemikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.\u201d.\u00a0Ikatan sebuah pernikahan di dalam iman Kristen yang sudah ditetapkan Allah merupakan ikatan seumur hidup. Dalam proses penyatuan terlihat jelas jika Allah menjadi inisiatif pertama yang membuat perkawinan tersebut bisa terjadi dan juga dengan otoritas yang Tuhan berikan. Ia meneguhkan pernikahan melalui lembaga gereja.\u00a0Pernikahan sendiri bukanlah hanya bersifat sementara namun seumur hidup hingga maut memisahkan.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apabila sebuah perceraian dilakukan maka ini sudah mencederai pemberian dan juga penyatuan yang sudah diberikan oleh Allah dan ini melanggar sebagai tujuan hidup orang Kristen\u00a0merupakan kesalahan serta dosa di mata Allah.\u00a0Penegasan larangan perceraian sebuah pernikahan harus selalu dipegang dan Tuhan Yesus berkata dengan sangat jelas pada Matius 19:4-6, \u201cTidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? dan firmanNya: sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging, Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang sudah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pengertian Perceraian<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika diartikan secara sederhana, perceraian dalam Kristen merupakan berakhirnya ikatan pernikahan yang sudah seharusnya seumur hidup tersebut. Perceraian tidak hanya berakhirnya hubungan diantara dua belah pihak, namun juga aspek yang luas yakni anak, harta benda, lembaga gereja, perintah dan tentunya Allah. Semua yang terlibat di dalam pernikahan tersebut juga harus menanggung akibatnya sebab perceraian akan melibatkan banyak aspek yang akhirnya akan menimbulkan konflik berkepanjangan sampai akhirnya menuju ke kehancuran secara langsung ataupun tidak langsung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bentuk-bentuk perceraian, perceraian sendiri bisa dilihat dari 2 perspektif yang berbeda yakni ceria hidup dan cerai mati:<\/strong><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Cerai hidup<\/strong>: Ini bisa terjadi karena adanya ketidak cocokan seperti masalah perzinahan, ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, pertengkaran dan alasan lain yang dipakai sebagai alasan bercerai.<\/li>\n<li><strong>Cerai mati<\/strong>: Perceraian ini terjadi karena salah satu pasangan suami atau istri meninggal dunia. Dalam hal ini, ikatan suami istri akan selesai disaat pasangan meninggal sehingga tidak wajib untuk tetap setia. Namun jika masih setia, maka itu merupakan bukti nyata dari ikatan yang mulia atas dasar kasih murni sampai mati dengan cara tidak menikah kembali.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Larangan Perceraian Kristen<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam Matius 19:8 diungkapkan alasan mengapa Tuhan Yesus sangat melarang perceraian terjadi, \u201cketegaran hati manusia\u2019 \u2013 pikiran dan hati manusia yang membatu, menjadi keras dan mau menang sendiri\u201d. Gereja yang mempunyai\u00a0peran Gereja dalam masyarakat\u00a0yang menyatukan umat Kristen dalam pernikahan namun, tidak bisa memisahkan mereka.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Allah Tidak menghendaki Perceraian<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Allah tidak pernah menghendaki sebuah perceraian terjadi dan apabila manusia masih membatu, egois dan tetap ingin bercerai, maka ada syaratnya yakni karena alasan perzinahan denga konsekuensi pasangan tersebut tidak boleh menikah kembali dan jika sampai menikah kembali maka akan dikategorikan menjadi berzinah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ini dikategorikan berzinah sbab masih hidup dengan bukan suami atyau istri yang sah, tidak sah di mata Tuhan dan juga gereja, meskipun pemerintah mengijinkan perceraian tersebut bisa terjadi. Sampai kapanpun, gereja tidak akan memberikan peneguhan untuk kedua kalinya di dalam sebuah pernikahan.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Yesus Melarang Perceraian Kecuali Zinah<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dalam Perjanjian Baru, pandangan Yesus tentang perceraian dalam Kristen bisa dilihat dari Matius 5:31-32 dan juga Matius 19:9. Dalam dua ayat tersebut, Yesus secara tegas melarang perceraian terjadi, namun ada pengecualian yakni zinah. Dalam bahasa Yunani kata zinah adalah Porneia. Porneia merupakan sesuatu yang najis dan Yesus juga tidak memberi batasan tentang pengertian dalam arti sempit atau dalam arti luas.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Pernikahan Adalah Sakral dan Kudus<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dalam 1 Korintus 7:1-15, tertulis mengenai perspektif Paulus yang sangat tidak setuju jika orang percaya melakukan perceraian dan dalam situasi apapun keputusan etis dari Paulus tidak menyetujui pernikahan terjadi sebab pernikahan merupakan sesuatu yang kudus dan juga sakral.\u00a0Bisa diartikan perzinahan yang dimaksud adalah bukan hanya percabulan keinginan daging akan tetapi juga perzinahan rohani. Sebab jika perceraian hanya dibatasi dari percabulan saja, maka akan sangat banyak orang yang akan bercerai hanya karena hawa nafsu saja.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Perceraian Membatalkan Penilik Jemaat<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu kualifikasi dari seorang penilik jemaat yakni ia haruslah suami dari seorang istri sehingga intinya perceraian tidak boleh terjadi sebab di dalam Alkitab sudah sangat jelas dan perkataan Tuhan Yesus sendiri juga melarang perceraian terjadi. Apabila Tuhan sendiri sudah mengatakan jangan, maka kita sebagai umat-Nya juga harus menjalankan perintah tersebut dan berkata tidak pada perceraian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Akibat Perceraian<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perceraian dalam Kristen dasarnya sangat merugikan semua pihak dan anak yang dibesarkan dalam keluarga yang orangtuanya bercerai juga memungkinkan akan mengulang hal serupa di kemudian hari. Ada beberapa fakta yang timbul akibat dari sebuah perceraian.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Tiga dari lima orang anak akan merasakan penolakan dari setidaknya salah satu orangtua baik itu ayah atau ibu.<\/li>\n<li>Sesudah perceraian memasuki usia diatas 5 tahun, maka sepertiga dari jumlah anak akan mendapatkan nilai buruk di sekolah dibandingkan sebelum perceraian terjadi.<\/li>\n<li>Sepertiga jumlah perempuan dan juga seperempat jumlah pria akan merasa jika hidup tidaklah adil, sepi dan sangat mengecewakan.<\/li>\n<li>Mereka yang bercerai akan lebih banyak datang ke psikiater dibandingkan mereka yang lajang atau masih terikat dalam pernikahan.<\/li>\n<li>Anak-anak yang memiliki orang tua bercerai, prestasinya akan lebih rendah di sekolah dan juga mempunyai masalah tingkah laku di lingkungan sekolah dan juga rumah serta sering terlibat dengan kejahatan\u00a0 ataupun seksual lebih cepat jika dibandingkan dengan anak-anak yang orangtuanya tidak bercerai.<\/li>\n<li>Masa kecil dari seseorang yang orangtuanya bercerai akan sulit menyesuaikan diri dari segi psikologi, pendapatan sosial ekonomi yang jauh lebih rendah dan juga tidak stabil saat nantinya menjalani sebuah pernikahan.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkawinan adalah suatu hal suci yang sudah diberikan oleh Allah bagi kita umat-Nya dari sejak semula. Perkawinan diberikan karena sebuah tujuan, akan tetapi saat tujuan tersebut di langgar, maka ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan kembali dan perceraian tetap suatu hal yang jahat dan menghasilkan dosa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perceraian juga akan memberikan kerugian untuk mereka yang berpisah, anak-anak dan bahkan keluarga besar. Dengan ulasan kali ini, semoga bisa memberikan perenungan dan menjadi penolong serta pembuka jalan, supaya perceraian jangan sampai terjadi dan harus dihindari sebab merupakan larangan dari Tuhan, merusak sumpah sakral dalam pernikahan yang sudah dibuat oleh Allah dan juga akan membatalkan penilik jemaat.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perceraian Dalam Kristen: Larangan dan Akibatnya Diakonia.id &#8211; Matius 19:6, \u201dDemikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.\u201d.\u00a0Ikatan sebuah pernikahan di dalam iman Kristen yang sudah ditetapkan Allah merupakan ikatan seumur hidup. Dalam proses penyatuan terlihat jelas jika Allah menjadi inisiatif pertama yang membuat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32190,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"tuhanyesus.org","source_url":"https:\/\/tuhanyesus.org\/perceraian-dalam-kristen","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"70"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1,70],"tags":[],"class_list":["post-56974","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-alkitab","category-relasi"],"better_featured_image":{"id":32190,"alt_text":"","caption":"","description":"d21b8eadf9ab44ba9e2d28532122c8bc","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/benarkah-allah-membenci-perceraian_5df71446a6a12.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":1,"name":"Belajar Alkitab","description":"","slug":"belajar-alkitab","count":437,"parent":0},{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/benarkah-allah-membenci-perceraian_5df71446a6a12.jpeg?fit=511%2C288&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"4745","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56974","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56974"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56974\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56974"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56974"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56974"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}