{"id":57277,"date":"2021-05-02T17:00:54","date_gmt":"2021-05-02T10:00:54","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=57277"},"modified":"2021-04-30T10:26:10","modified_gmt":"2021-04-30T03:26:10","slug":"ketika-gereja-ikut-berdonasi-pembangunan-masjid-di-jerman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/ketika-gereja-ikut-berdonasi-pembangunan-masjid-di-jerman\/","title":{"rendered":"Ketika Gereja Ikut Berdonasi Pembangunan Masjid di Jerman"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -Cologne Central Mosque atau Masjid Agung Koln menjadi salah satu ikon keberadaan umat Muslim di kota Cologne (Koln\/K\u00f6ln), Jerman. Ide pembangunan Masjid Agung Koln\u00a0muncul atas inisiatif komunitas Turki Diyanet \u0130\u015fleri T\u00fcrk \u0130slam Birli\u011fi (DITIB) di Jerman. Bahkan peresmiannya pada tahun 2017 dihadiri oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Masjid Agung Koln dibangun seluas 4.500 meter persegi dengan biaya pembangunan sekitar 20 juta poundsterling. Tak hanya 884 komunitas Muslim, bahkan St. Theodore Catholic Church ikut menyumbang dana untuk pembangunannya. Ayah dan anak Gottfried dan Paul B\u00f6hm merupakan arsitek masjid dua lantai ini. Sebelumnya mereka dikenal piawai dalam merancang gereja. Mereka merancang masjid dengan arsitektur Neo Ottoman. Tetap memiliki kubah dan dua menara, namun gaya bangunannya terlihat modern dan minimalis. Kubahnya beratapkan kaca, sementara menaranya setinggi 55 meter. Masjid ini mampu menampung hingga 4.000 jamaah. Meski jumlah umat Muslim di Jerman hanya sekitar 5,4 persen dari populasi keseluruhan pada 2015, Masjid Agung Koln kokoh berdiri dan menjadi salah satu masjid terbesar di Eropa. Di balik keindahan dan kemegahannya, pembangunan masjid ini diiringi oleh banyak kontroversi, mulai dari penolakan warga setempat sampai kritik dari politikus sayap kanan. Juru bicara DITIB, Alboga, mengatakan dinding serta kubah kaca digunakan untuk memberikan unsur keterbukaan kepada jemaah. Unsur tersebut semakin ditonjolkan lewat tangga-tangga masuk yang sudah terlihat dari pinggir jalan. Sang arsitek mengatakan keterbukaan menjadi filosofi pembangunan masjid dengan maksud masyarakat umum dipersilakan mengenal Islam lebih dekat melalui masjid tersebut. Masjid Agung Koln memang memiliki beberapa area sekuler yang bisa digunakan seluruh warga tanpa membatasi agamanya seperti taman, restoran yang menyajikan kuliner khas Turki, Arab, serta Asia Selatan, aula, serta pertokoan. Sementara itu, bagian bawah tanah Masjid Agung Koln menjadi ruangan belajar. Pintu masuk serta bazaar terletak di lantai dasar. Area salat berada di lantai atas bersama dengan ruang perpustakaan. Sebuah sumur terletak di tengah-tengah masjid untuk menghubungkan dua lantai tersebut dan menciptakan suasana menyenangkan. Masjid Agung Koln biasanya ramai dikunjungi warga Jerman pada 3 Oktober setiap tahun. Hal itu guna merayakan Hari Pintu Terbuka Masjid di Jerman sejak 1997. Hari tersebut ditetapkan sebab Dewan Pusat Muslim di Jerman ingin seluruh warga tanpa batasan agama bisa berkunjung ke masjid-masjid.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Cologne Central Mosque atau Masjid Agung Koln menjadi salah satu ikon keberadaan umat Muslim di kota Cologne (Koln\/K\u00f6ln), <strong>Jerman<\/strong>.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Ide pembangunan Masjid Agung Koln\u00a0muncul atas inisiatif komunitas Turki Diyanet \u0130\u015fleri T\u00fcrk \u0130slam Birli\u011fi (DITIB) di Jerman. Bahkan peresmiannya pada tahun 2017 dihadiri oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.<\/p>\n<p>Masjid Agung Koln dibangun seluas 4.500 meter persegi dengan biaya pembangunan sekitar 20 juta poundsterling.<\/p>\n<p>Tak hanya 884 komunitas Muslim, bahkan St. Theodore Catholic Church ikut menyumbang dana untuk pembangunannya.<\/p>\n<p>Ayah dan anak Gottfried dan Paul B\u00f6hm merupakan arsitek masjid dua lantai ini. Sebelumnya mereka dikenal piawai dalam merancang gereja.<\/p>\n<p>Mereka merancang masjid dengan arsitektur Neo Ottoman. Tetap memiliki kubah dan dua menara, namun gaya bangunannya terlihat modern dan minimalis.<\/p>\n<p>Kubahnya beratapkan kaca, sementara menaranya setinggi 55 meter. Masjid ini mampu menampung hingga 4.000 jamaah.<\/p>\n<p>Meski jumlah umat Muslim di Jerman hanya sekitar 5,4 persen dari populasi keseluruhan pada 2015, Masjid Agung Koln kokoh berdiri dan menjadi salah satu masjid terbesar di Eropa.<\/p>\n<p>Di balik keindahan dan kemegahannya, pembangunan masjid ini diiringi oleh banyak kontroversi, mulai dari penolakan warga setempat sampai kritik dari politikus sayap kanan.<\/p>\n<p>Juru bicara DITIB, Alboga, mengatakan dinding serta kubah kaca digunakan untuk memberikan unsur keterbukaan kepada jemaah. Unsur tersebut semakin ditonjolkan lewat tangga-tangga masuk yang sudah terlihat dari pinggir jalan.<\/p>\n<p>Sang arsitek mengatakan keterbukaan menjadi filosofi pembangunan masjid dengan maksud masyarakat umum dipersilakan mengenal Islam lebih dekat melalui masjid tersebut.<\/p>\n<p>Masjid Agung Koln memang memiliki beberapa area sekuler yang bisa digunakan seluruh warga tanpa membatasi agamanya seperti taman, restoran yang menyajikan kuliner khas Turki, Arab, serta Asia Selatan, aula, serta pertokoan.<\/p>\n<p>Sementara itu, bagian bawah tanah Masjid Agung Koln menjadi ruangan belajar. Pintu masuk serta bazaar terletak di lantai dasar. Area salat berada di lantai atas bersama dengan ruang perpustakaan.<\/p>\n<p>Sebuah sumur terletak di tengah-tengah masjid untuk menghubungkan dua lantai tersebut dan menciptakan suasana menyenangkan.<\/p>\n<p>Masjid Agung Koln biasanya ramai dikunjungi warga Jerman pada 3 Oktober setiap tahun. Hal itu guna merayakan Hari Pintu Terbuka Masjid di Jerman sejak 1997.<\/p>\n<p>Hari tersebut ditetapkan sebab Dewan Pusat Muslim di Jerman ingin seluruh warga tanpa batasan agama bisa berkunjung ke masjid-masjid.\n<\/p><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Cologne Central Mosque atau Masjid Agung Koln menjadi salah satu ikon keberadaan umat Muslim di kota Cologne (Koln\/K\u00f6ln), Jerman. Ide pembangunan Masjid Agung Koln\u00a0muncul atas inisiatif komunitas Turki Diyanet \u0130\u015fleri T\u00fcrk \u0130slam Birli\u011fi (DITIB) di Jerman. Bahkan peresmiannya pada tahun 2017 dihadiri oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Masjid Agung Koln dibangun seluas 4.500 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":57278,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/gaya-hidup\/20210427134647-269-635344\/ketika-gereja-ikut-berdonasi-pembangunan-masjid-di-jerman","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-57277","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja"],"better_featured_image":{"id":57278,"alt_text":"","caption":"","description":"573adc945bf6c56d82c732c30325d529","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/ketika-gereja-ikut-berdonasi-pembangunan-masjid-di-jerman_608a28772a4d8.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/ketika-gereja-ikut-berdonasi-pembangunan-masjid-di-jerman_608a28772a4d8.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/ketika-gereja-ikut-berdonasi-pembangunan-masjid-di-jerman_608a28772a4d8.jpeg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/ketika-gereja-ikut-berdonasi-pembangunan-masjid-di-jerman_608a28772a4d8.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1201","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57277","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57277"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57277\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57278"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57277"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57277"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57277"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}