{"id":57283,"date":"2021-05-18T10:23:00","date_gmt":"2021-05-18T03:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=57283"},"modified":"2021-05-13T06:54:50","modified_gmt":"2021-05-12T23:54:50","slug":"sejarah-gereja-pribumi-pertama-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sejarah-gereja-pribumi-pertama-2\/","title":{"rendered":"Sejarah Gereja Pribumi Pertama"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran sarat sejarah: mulai dari gereja pertama yang dibuat untuk pribumi hingga menjadi tempat pertemuan khusus antara Presiden Soekarno dengan Mgr. Soegijapranata S.J. untuk membahas strategi melawan Belanda. Gereja yang gaya bangunannya perpaduan gaya Belanda dengan unsur Jawa ini termasuk bangunan yang dilindungi pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25\/PW.007\/MKP\/\/2007 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala. Keistimewaan gereja Jawa Pertama di Yogyakarta ini dengan luasnya \u00a0kurang lebih 5,024 meter persegi ternyata tak hanya dilihat dari unsur bangunan. Gereja dengan kompleks seluas 5.024 meter persegi \u00a0ini punya peran dalam sejarah perjuangan Indonesia dalam kurun waktu 1945 hingga 1949. Sejak kedatangan Mgr. Soegijapranata S.J pada tahun 1947 sebagai pastor pembantu, \u00a0gereja ini menjadi tempat berkumpulnya para pejuang Katolik. Menurut FX. Agus Suryana Gunadi, pastor Pastor Gereja Santo Yusup saat ini, gereja menjadi tempat pertemuan rutin antara Presiden Soekarno dengan Soegijapranata. &quot;Mereka membahas strategi melawan Belanda,&quot; kata Romo Agus. Saat itu, ketika Yogyakarta menjadi ibu kota negara, Soekarno menujuk Gereja Bintaran sebagai mediator dalam hubungan dengan Belanda. Berkat Soegijapranata gereja ini akhirnya menjadi basis pers Katolik \u00a0yang waktu itu mendukung penuh perjuangan \u00a0Indonesia. Pers dinilai menjadi media komunikasi strategis yang menjadi pusat informasi bagi masyarakat. Beberapa pers yang didirikan Soegijapranata di antaranya, Majalah Swara Tama,\u00a0Peraba,\u00a0Semangat, serta radio\u00a0Bikima. Organisasi lain seperti \u00a0Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) turut didirikannya. Romo Agus juga menjelaskan bahwa waktu itu antusiasme umat Katolik terhadap perjuangan melawan Belanda sangatlah besar. Terbukti dengan diadakannya Kongres Umat Katolik seluruh Indonesia pada tahun 1949 yang melahirkan partai Katolik dengan pimpinan I.J. Kasimo. Gereja ini dipugar pada tahun 2007 dan baru saja selesai pada Oktober 2010 lalu. Pada 17 Oktober 2010, Sultan Sultan Hamengkubuwono X meresmikannya kembali. Pemugaran ini tak mengubah bentuknya dan tetap \u00a0mengajak umat merefleksikan \u00a0rekaman-rekaman sejarah yang pernah terjadi di setiap sudut ruangannya. Gereja juga menyimpan beberapa benda bersejarah, termuask lukisan Maria dari Italia yang diberikan kepada Soegijapranata sebagai penghargaan pada umat Katolik di Indonesia.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran sarat sejarah: mulai dari gereja pertama yang dibuat untuk pribumi hingga menjadi tempat pertemuan khusus antara Presiden Soekarno dengan Mgr. Soegijapranata S.J. untuk membahas strategi melawan Belanda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja yang gaya bangunannya perpaduan gaya Belanda dengan unsur Jawa ini termasuk bangunan yang dilindungi pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25\/PW.007\/MKP\/\/2007 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keistimewaan gereja Jawa Pertama di Yogyakarta ini dengan luasnya \u00a0kurang lebih 5,024 meter persegi ternyata tak hanya dilihat dari unsur bangunan. Gereja dengan kompleks seluas 5.024 meter persegi \u00a0ini punya peran dalam sejarah perjuangan Indonesia dalam kurun waktu 1945 hingga 1949. Sejak kedatangan Mgr. Soegijapranata S.J pada tahun 1947 sebagai pastor pembantu, \u00a0gereja ini menjadi tempat berkumpulnya para pejuang Katolik. Menurut FX. Agus Suryana Gunadi, pastor Pastor Gereja Santo Yusup saat ini, gereja menjadi tempat pertemuan rutin antara Presiden Soekarno dengan Soegijapranata. &#8220;Mereka membahas strategi melawan Belanda,&#8221; kata Romo Agus. Saat itu, ketika Yogyakarta menjadi ibu kota negara, Soekarno menujuk Gereja Bintaran sebagai mediator dalam hubungan dengan Belanda.<\/p>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"57678\" data-permalink=\"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sejarah-gereja-pribumi-pertama-2\/gereja-katolik-santo-yusup-bintaran\/\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Katolik-Santo-Yusup-Bintaran.jpg?fit=700%2C465&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"700,465\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Katolik-Santo-Yusup-Bintaran.jpg?fit=700%2C465&amp;ssl=1\" class=\"aligncenter size-full wp-image-57678\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Katolik-Santo-Yusup-Bintaran.jpg?resize=700%2C465&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"465\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berkat Soegijapranata gereja ini akhirnya menjadi basis pers Katolik \u00a0yang waktu itu mendukung penuh perjuangan \u00a0Indonesia. Pers dinilai menjadi media komunikasi strategis yang menjadi pusat informasi bagi masyarakat. Beberapa pers yang didirikan Soegijapranata di antaranya, <i>Majalah Swara Tama<\/i>,\u00a0<i>Peraba<\/i>,\u00a0<i>Semangat<\/i>, serta radio\u00a0<i>Bikima<\/i>. Organisasi lain seperti \u00a0Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) turut didirikannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Romo Agus juga menjelaskan bahwa waktu itu antusiasme umat Katolik terhadap perjuangan melawan Belanda sangatlah besar. Terbukti dengan diadakannya Kongres Umat Katolik seluruh Indonesia pada tahun 1949 yang melahirkan partai Katolik dengan pimpinan I.J. Kasimo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja ini dipugar pada tahun 2007 dan baru saja selesai pada Oktober 2010 lalu. Pada 17 Oktober 2010, Sultan Sultan Hamengkubuwono X meresmikannya kembali. Pemugaran ini tak mengubah bentuknya dan tetap \u00a0mengajak umat merefleksikan \u00a0rekaman-rekaman sejarah yang pernah terjadi di setiap sudut ruangannya. Gereja juga menyimpan beberapa benda bersejarah, termuask lukisan Maria dari Italia yang diberikan kepada Soegijapranata sebagai penghargaan pada umat Katolik di Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran sarat sejarah: mulai dari gereja pertama yang dibuat untuk pribumi hingga menjadi tempat pertemuan khusus antara Presiden Soekarno dengan Mgr. Soegijapranata S.J. untuk membahas strategi melawan Belanda. Gereja yang gaya bangunannya perpaduan gaya Belanda dengan unsur Jawa ini termasuk bangunan yang dilindungi pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":57678,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"nationalgeographic","source_url":"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/13280525\/sejarah-gereja-pribumi-pertama","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"109"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[109],"tags":[],"class_list":["post-57283","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-site"],"better_featured_image":{"id":57678,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Katolik-Santo-Yusup-Bintaran.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Katolik-Santo-Yusup-Bintaran.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Katolik-Santo-Yusup-Bintaran.jpg"},"categories_detail":[{"id":109,"name":"Situs Bersejarah","description":"","slug":"site","count":30,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Gereja-Katolik-Santo-Yusup-Bintaran.jpg?fit=700%2C465&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1376","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57283","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57283"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57283\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57283"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57283"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57283"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}