{"id":57366,"date":"2021-05-16T07:00:52","date_gmt":"2021-05-16T00:00:52","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=57366"},"modified":"2021-05-06T19:42:35","modified_gmt":"2021-05-06T12:42:35","slug":"sejarah-gereja-pribumi-pertama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sejarah-gereja-pribumi-pertama\/","title":{"rendered":"Sejarah Gereja Pribumi Pertama"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran sarat sejarah: mulai dari gereja pertama yang dibuat untuk pribumi hingga menjadi tempat pertemuan khusus antara Presiden Soekarno dengan Mgr. Soegijapranata S.J. untuk membahas strategi melawan Belanda. Gereja yang gaya bangunannya perpaduan gaya Belanda dengan unsur Jawa ini termasuk bangunan yang dilindungi pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25\/PW.007\/MKP\/\/2007 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala. Keistimewaan gereja Jawa Pertama di Yogyakarta ini dengan luasnya \u00a0kurang lebih 5,024 meter persegi ternyata tak hanya dilihat dari unsur bangunan. Gereja dengan kompleks seluas 5.024 meter persegi \u00a0ini punya peran dalam sejarah perjuangan Indonesia dalam kurun waktu 1945 hingga 1949. Sejak kedatangan Mgr. Soegijapranata S.J pada tahun 1947 sebagai pastor pembantu, \u00a0gereja ini menjadi tempat berkumpulnya para pejuang Katolik. Menurut FX. Agus Suryana Gunadi, pastor\u00a0Pastor Gereja Santo Yusup saat ini, gereja menjadi tempat pertemuan rutin antara Presiden Soekarno dengan Soegijapranata. \\\"Mereka membahas strategi melawan Belanda,\\\" kata Romo Agus. Saat itu, ketika Yogyakarta menjadi ibu kota negara, Soekarno menujuk Gereja Bintaran sebagai mediator dalam hubungan dengan Belanda. Berkat Soegijapranata gereja ini akhirnya menjadi basis pers Katolik \u00a0yang waktu itu mendukung penuh perjuangan \u00a0Indonesia. Pers dinilai menjadi media komunikasi strategis yang menjadi pusat informasi bagi masyarakat. Beberapa pers yang didirikan Soegijapranata di antaranya,\u00a0Majalah Swara Tama,\u00a0Peraba,\u00a0Semangat, serta radio\u00a0Bikima. Organisasi lain seperti \u00a0Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) turut didirikannya. Romo Agus juga menjelaskan bahwa waktu itu antusiasme umat Katolik terhadap perjuangan melawan Belanda sangatlah besar. Terbukti dengan diadakannya Kongres Umat Katolik seluruh Indonesia pada tahun 1949 yang melahirkan partai Katolik dengan pimpinan I.J. Kasimo. Gereja ini dipugar pada tahun 2007 dan baru saja selesai pada Oktober 2010 lalu. Pada 17 Oktober 2010, Sultan Sultan Hamengkubuwono X meresmikannya kembali. Pemugaran ini tak mengubah bentuknya dan tetap \u00a0mengajak umat merefleksikan \u00a0rekaman-rekaman sejarah yang pernah terjadi di setiap sudut ruangannya. Gereja juga menyimpan beberapa benda bersejarah, termuask lukisan\u00a0Maria dari Italia yang diberikan kepada Soegijapranata sebagai penghargaan pada umat Katolik di Indonesia.\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>-Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran sarat sejarah: mulai dari gereja pertama yang dibuat untuk pribumi hingga menjadi tempat pertemuan khusus antara Presiden Soekarno dengan Mgr. Soegijapranata S.J. untuk membahas strategi melawan Belanda.<\/p>\n<div class=\"read__right read__article\">\n<div style=\"text-align: justify;\">Gereja yang gaya bangunannya perpaduan gaya Belanda dengan unsur Jawa ini termasuk bangunan yang dilindungi pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25\/PW.007\/MKP\/\/2007 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Keistimewaan gereja Jawa Pertama di Yogyakarta ini dengan luasnya \u00a0kurang lebih 5,024 meter persegi ternyata tak hanya dilihat dari unsur bangunan. Gereja dengan kompleks seluas 5.024 meter persegi \u00a0ini punya peran dalam sejarah perjuangan Indonesia dalam kurun waktu 1945 hingga 1949. Sejak kedatangan Mgr. Soegijapranata S.J pada tahun 1947 sebagai pastor pembantu, \u00a0gereja ini menjadi tempat berkumpulnya para pejuang Katolik.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Menurut FX. Agus Suryana Gunadi, pastor\u00a0Pastor Gereja Santo Yusup saat ini, gereja menjadi tempat pertemuan rutin antara Presiden Soekarno dengan Soegijapranata. &#8220;Mereka membahas strategi melawan Belanda,&#8221; kata Romo Agus. Saat itu, ketika Yogyakarta menjadi ibu kota negara, Soekarno menujuk Gereja Bintaran sebagai mediator dalam hubungan dengan Belanda.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Berkat Soegijapranata gereja ini akhirnya menjadi basis pers Katolik \u00a0yang waktu itu mendukung penuh perjuangan \u00a0Indonesia. Pers dinilai menjadi media komunikasi strategis yang menjadi pusat informasi bagi masyarakat. Beberapa pers yang didirikan Soegijapranata di antaranya,\u00a0<i>Majalah Swara Tama<\/i>,\u00a0<i>Peraba<\/i>,\u00a0<i>Semangat<\/i>, serta radio\u00a0<i>Bikima<\/i>. Organisasi lain seperti \u00a0Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) turut didirikannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Romo Agus juga menjelaskan bahwa waktu itu antusiasme umat Katolik terhadap perjuangan melawan Belanda sangatlah besar. Terbukti dengan diadakannya Kongres Umat Katolik seluruh Indonesia pada tahun 1949 yang melahirkan partai Katolik dengan pimpinan I.J. Kasimo.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Gereja ini dipugar pada tahun 2007 dan baru saja selesai pada Oktober 2010 lalu. Pada 17 Oktober 2010, Sultan Sultan Hamengkubuwono X meresmikannya kembali. Pemugaran ini tak mengubah bentuknya dan tetap \u00a0mengajak umat merefleksikan \u00a0rekaman-rekaman sejarah yang pernah terjadi di setiap sudut ruangannya. Gereja juga menyimpan beberapa benda bersejarah, termuask lukisan\u00a0Maria dari Italia yang diberikan kepada Soegijapranata sebagai penghargaan pada umat Katolik di Indonesia.<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran sarat sejarah: mulai dari gereja pertama yang dibuat untuk pribumi hingga menjadi tempat pertemuan khusus antara Presiden Soekarno dengan Mgr. Soegijapranata S.J. untuk membahas strategi melawan Belanda. Gereja yang gaya bangunannya perpaduan gaya Belanda dengan unsur Jawa ini termasuk bangunan yang dilindungi pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":50926,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"5"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-57366","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja"],"better_featured_image":{"id":50926,"alt_text":"","caption":"","description":"7de77b77c12350e2f9a7f1a626fa6a5e","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/kemenag-data-gereja-gereja-yang-sulit-dibangun-dampak-skb_601e7fbe9be39.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/kemenag-data-gereja-gereja-yang-sulit-dibangun-dampak-skb_601e7fbe9be39.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/kemenag-data-gereja-gereja-yang-sulit-dibangun-dampak-skb_601e7fbe9be39.jpeg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/kemenag-data-gereja-gereja-yang-sulit-dibangun-dampak-skb_601e7fbe9be39.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1208","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57366","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57366"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57366\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50926"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57366"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57366"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57366"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}