{"id":57670,"date":"2021-05-19T16:23:00","date_gmt":"2021-05-19T09:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=57670"},"modified":"2021-05-18T16:28:32","modified_gmt":"2021-05-18T09:28:32","slug":"dua-aspek-pelayanan-kasih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/dua-aspek-pelayanan-kasih\/","title":{"rendered":"DUA ASPEK PELAYANAN KASIH"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Pelayanan kasih terdiri dari atau mengandung dua aspek, yakni solidaritas dan penatalayanan. Solider berarti menjadi sesama bagi orang lain. Menjadi sesama bagi orang yang tersisih, tetapi juga menjadi sesama bagi orang yang mempunyai kedudukan. Menjadi sesama bagi orang yang miskin, tetapi juga menjadi sesama bagi orang yang kaya. Menjadi sesama bagi orang yang lemah, tetapi juga menjadi sesama bagi orang yang berkuasa. Solidaritas harus disertai dengan visi dan orientasi, sebab kalau tidak, kita akan mudah diombang-ambingkan oleh optimisme yang berlebih-lebihan atau pesimisme yang melumpuhkan, oleh semangat yang memabukkan atau apatisme yang mematikan. Visi dan orientasi itu kita dapatkan dalam terang rencana Tuhan dan kasih Tuhan akan dunia ini. (Lihat kembali\u00a0Yohanes 3.16. Dengan visi dan orientasi tersebut, pelayanan kita akan terarah kepada suatu realisme yang berpengharapan. Pelayanan yang dijalankan dalam terang rencana Tuhan itu pada satu pihak akan bebas dari belenggu ilusi yang berlebih-lebihan dan tidak realistis, sebab kita maklum, bahwa selama sejarah manusia berlangsung, keadaan yang benar-benar sempurna tidak dapat diraih. Sebaliknya dalam terang rencana Tuhan itu kita tidak akan pernah berputus asa, sebab kita maklum, bahwa dalam keadaan yang bagaimanapun sulitnya, rencana Tuhan membuka perspektif-perspektif yang baru, yang mengajak manusia untuk melayani. Perlu pula dicatat, bahwa dalam terang rencana Tuhan dan kasih Tuhan akan isi dunia ini, solidaritas kita haruslah ditujukan kepada kepentingan umat manusia umumnya dan tidak hanya kepada kepentingan sesuatu golongan saja. Dengan visi dan orientasi tersebut solidaritas kita bukanlah solidaritas yang buta, melainkan solidaritas yang kritis. Fungsi kritis dari Gereja dan orang Kristen tidak pernah boleh ditinggalkan. Penatalayanan adalah prinsip yang mengakui, bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, sedangkan kita hanyalah pengurus rumahNya. &quot;Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?&quot; (Lukas 12:42). Allah telah menciptakan bumi dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya, lalu Allah mempercayakan kepada manusia untuk dikerjakan dan dipelihara, supaya semua orang memperoleh bagian dari kebaikan bumi ini dan Allah dimuliakan dalam dan melalui ciptaanNya. Allah juga memberikan bermacam-macam karunia kepada manusia: kesehatan, akal budi, perasaan estetis, keterampilan, kekayaan dan kekuatan untuk melengkapi manusia, agar manusia dapat menjalankan tugas sebagai pengurus rumah Allah yang setia dan bijaksana. Segala karunia tersebut harus dipergunakan untuk kesejahteraan sosial. Sayang, manusia cenderung untuk mengingkari hal tersebut di atas. Bumi yang dipercayakan Allah kepadanya, ia rebut bagi dirinya sendiri. Bermacam-macam karunia yang diberikan Allah kepadanya, ia salah gunakan untuk membesarkan dirinya sendiri. Semuanya dianggap. sebagai prestasi pribadi untuk menikmati kemewahan dan kejayaan. Akibatnya segala berkat Allah tersebut berubah menjadi laknat bagi kita.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Pelayanan kasih terdiri dari atau mengandung dua aspek, yakni solidaritas dan penatalayanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Solider berarti menjadi sesama bagi orang lain. Menjadi sesama bagi orang yang tersisih, tetapi juga menjadi sesama bagi orang yang mempunyai kedudukan. Menjadi sesama bagi orang yang miskin, tetapi juga menjadi sesama bagi orang yang kaya. Menjadi sesama bagi orang yang lemah, tetapi juga menjadi sesama bagi orang yang berkuasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Solidaritas harus disertai dengan visi dan orientasi, sebab kalau tidak, kita akan mudah diombang-ambingkan oleh optimisme yang berlebih-lebihan atau pesimisme yang melumpuhkan, oleh semangat yang memabukkan atau apatisme yang mematikan. Visi dan orientasi itu kita dapatkan dalam terang rencana Tuhan dan kasih Tuhan akan dunia ini. (Lihat kembali\u00a0<a id=\"26122-26157\" href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/bible.php?book=43&amp;chapter=3&amp;tab=text%20class=verse_trigger\">Yohanes 3<\/a>.<sup><a id=\"tf_16\" class=\"resource_fn\" href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/resource.php?topic=42&amp;res=jpz#\">16<\/a><\/sup>. Dengan visi dan orientasi tersebut, pelayanan kita akan terarah kepada suatu realisme yang berpengharapan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelayanan yang dijalankan dalam terang rencana Tuhan itu pada satu pihak akan bebas dari belenggu ilusi yang berlebih-lebihan dan tidak realistis, sebab kita maklum, bahwa selama sejarah manusia berlangsung, keadaan yang benar-benar sempurna tidak dapat diraih. Sebaliknya dalam terang rencana Tuhan itu kita tidak akan pernah berputus asa, sebab kita maklum, bahwa dalam keadaan yang bagaimanapun sulitnya, rencana Tuhan membuka perspektif-perspektif yang baru, yang mengajak manusia untuk melayani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perlu pula dicatat, bahwa dalam terang rencana Tuhan dan kasih Tuhan akan isi dunia ini, solidaritas kita haruslah ditujukan kepada kepentingan umat manusia umumnya dan tidak hanya kepada kepentingan sesuatu golongan saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan visi dan orientasi tersebut solidaritas kita bukanlah solidaritas yang buta, melainkan solidaritas yang kritis. Fungsi kritis dari Gereja dan orang Kristen tidak pernah boleh ditinggalkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penatalayanan adalah prinsip yang mengakui, bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, sedangkan kita hanyalah pengurus rumahNya. &#8220;Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?&#8221; (<a id=\"25502\" class=\"verse_trigger\" href=\"https:\/\/alkitab.sabda.org\/verse.php?book=Luk&amp;chapter=12&amp;verse=42&amp;tab=text\">Lukas 12:42<\/a>).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Allah telah menciptakan bumi dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya, lalu Allah mempercayakan kepada manusia untuk dikerjakan dan dipelihara, supaya semua orang memperoleh bagian dari kebaikan bumi ini dan Allah dimuliakan dalam dan melalui ciptaanNya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Allah juga memberikan bermacam-macam karunia kepada manusia: kesehatan, akal budi, perasaan estetis, keterampilan, kekayaan dan kekuatan untuk melengkapi manusia, agar manusia dapat menjalankan tugas sebagai pengurus rumah Allah yang setia dan bijaksana. Segala karunia tersebut harus dipergunakan untuk kesejahteraan sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sayang, manusia cenderung untuk mengingkari hal tersebut di atas. Bumi yang dipercayakan Allah kepadanya, ia rebut bagi dirinya sendiri. Bermacam-macam karunia yang diberikan Allah kepadanya, ia salah gunakan untuk membesarkan dirinya sendiri. Semuanya dianggap. sebagai prestasi pribadi untuk menikmati kemewahan dan kejayaan. Akibatnya segala berkat Allah tersebut berubah menjadi laknat bagi kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Pelayanan kasih terdiri dari atau mengandung dua aspek, yakni solidaritas dan penatalayanan. Solider berarti menjadi sesama bagi orang lain. Menjadi sesama bagi orang yang tersisih, tetapi juga menjadi sesama bagi orang yang mempunyai kedudukan. Menjadi sesama bagi orang yang miskin, tetapi juga menjadi sesama bagi orang yang kaya. Menjadi sesama bagi orang yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":46119,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"Sabda","source_url":"https:\/\/alkitab.sabda.org\/resource.php?topic=45&res=jpz","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"5"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,70],"tags":[],"class_list":["post-57670","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-relasi"],"better_featured_image":{"id":46119,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/bentuk-kasih.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/bentuk-kasih.jpg?fit=259%2C194&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/bentuk-kasih.jpg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/bentuk-kasih.jpg?fit=259%2C194&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1618","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57670","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57670"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57670\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46119"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57670"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57670"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57670"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}