{"id":57700,"date":"2021-05-30T09:48:08","date_gmt":"2021-05-30T02:48:08","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=57700"},"modified":"2021-05-30T09:48:15","modified_gmt":"2021-05-30T02:48:15","slug":"pendeta-sae-nababan-di-mata-luhut-tokoh-visioner-sering-jadi-teman-debat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/pendeta-sae-nababan-di-mata-luhut-tokoh-visioner-sering-jadi-teman-debat\/","title":{"rendered":"Pendeta SAE Nababan di Mata Luhut: Tokoh Visioner, Sering Jadi Teman Debat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan turut mengenang pendeta senior gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) SAE Nababan sebagai tokoh yang memiliki banyak pengaruh. Luhut mengatakan Nababan ialah salah satu sosok yang visioner. \u201cMenurut Pak Luhut, beliau (Pendeta Nababan) orang hebat, tokoh visioner yang mempunyai banyak pemikiran bagus untuk negara kita,\u201d ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jodi Mahardi. Luhut juga mengakui Nababan kerap menjadi kawan debatnya dalam berbagai hal. \u201cSering menjadi teman berdebat Pak Luhut yang beliau hormati,\u201d tutur Jodi. Nababan wafat di usia 88 tahun setelah dirawat di RS Medistra Jakarta. Nababan pun dikenal sebagai tokoh gerakan oikoumene nasional dan internasional. Ia lahir pada 24 Mei 1933 di Tarutung, Tapanuli Utara. Ia merupakan lulusan Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (sekarang STFT Jakarta) 1956 dan pada tahun yang sama ditahbiskan menjadi pendeta. Sejak muda, Nababan aktif dalam pelayanan ekumenis dan sosial kemasyarakatan. Ia juga dikenal di gerakan ekumenis baik tingkat nasional, Asia, maupun dunia. Nababan pun berperan cukup lama, dari 1967-1984, sebagai Sekretaris Umum Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) yang kemudian berganti nama menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Ia juga menjadi ketua umum di lembaga ekumenis tersebut pada 1984-1987. SAE pernah mengemban sejumlah jabatan di berbagai forum ekumenis dunia. Misalnya, Lutheran World Federation (LWF), Christian Conference of Asia (CCA), United Evangelical Mission (UEM) dan Dewan Gereja Dunia (World Council of Churches, WCC). Bagi masyarakat Indonesia, namanya lebih dikenal saat menjadi pimpinan (Ephorus) HKBP selama 1987-1998. Di periode kedua kepemimpinannya (1992-1998), rezim Orde Baru melakukan intervensi pada pemilihan pimpinan HKBP. SAE Nababan termasuk salah satu inisiator untuk mempertemukan tokoh dan kelompok reformasi yang akhirnya melahirkan Deklarasi Ciganjur serta mengamanatkan agenda reformasi Indonesia. Sumbangsih pemikiran SAE Nababan bagi gereja dan masyarakat Indonesia terangkum dalam sejumlah khotbah dan tulisannya, seperti buku berjudul \u201cSelagi Masih Siang\u201d yang telah terbit tahun lalu.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan turut mengenang pendeta senior gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) SAE Nababan sebagai tokoh yang memiliki banyak pengaruh. Luhut mengatakan Nababan ialah salah satu sosok yang visioner.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMenurut Pak Luhut, beliau (Pendeta Nababan) orang hebat, tokoh visioner yang mempunyai banyak pemikiran bagus untuk negara kita,\u201d ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jodi Mahardi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Luhut juga mengakui Nababan kerap menjadi kawan debatnya dalam berbagai hal. \u201cSering menjadi teman berdebat Pak Luhut yang beliau hormati,\u201d tutur Jodi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nababan wafat di usia 88 tahun setelah dirawat di RS Medistra Jakarta. Nababan pun dikenal sebagai tokoh gerakan oikoumene nasional dan internasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia lahir pada 24 Mei 1933 di Tarutung, Tapanuli Utara. Ia merupakan lulusan Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (sekarang STFT Jakarta) 1956 dan pada tahun yang sama ditahbiskan menjadi pendeta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak muda, Nababan aktif dalam pelayanan ekumenis dan sosial kemasyarakatan. Ia juga dikenal di gerakan ekumenis baik tingkat nasional, Asia, maupun dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nababan pun berperan cukup lama, dari 1967-1984, sebagai Sekretaris Umum Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) yang kemudian berganti nama menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Ia juga menjadi ketua umum di lembaga ekumenis tersebut pada 1984-1987.<br \/>\nSAE pernah mengemban sejumlah jabatan di berbagai forum ekumenis dunia. Misalnya, Lutheran World Federation (LWF), Christian Conference of Asia (CCA), United Evangelical Mission (UEM) dan Dewan Gereja Dunia (World Council of Churches, WCC).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi masyarakat Indonesia, namanya lebih dikenal saat menjadi pimpinan (Ephorus) HKBP selama 1987-1998. Di periode kedua kepemimpinannya (1992-1998), rezim Orde Baru melakukan intervensi pada pemilihan pimpinan HKBP.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">SAE Nababan termasuk salah satu inisiator untuk mempertemukan tokoh dan kelompok reformasi yang akhirnya melahirkan Deklarasi Ciganjur serta mengamanatkan agenda reformasi Indonesia. Sumbangsih pemikiran SAE Nababan bagi gereja dan masyarakat Indonesia terangkum dalam sejumlah khotbah dan tulisannya, seperti buku berjudul \u201cSelagi Masih Siang\u201d yang telah terbit tahun lalu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan turut mengenang pendeta senior gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) SAE Nababan sebagai tokoh yang memiliki banyak pengaruh. Luhut mengatakan Nababan ialah salah satu sosok yang visioner. \u201cMenurut Pak Luhut, beliau (Pendeta Nababan) orang hebat, tokoh visioner yang mempunyai banyak pemikiran bagus untuk negara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":58016,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"single_blog_custom":"","sidebar":"","second_sidebar":"","share_position":"","share_float_style":"","post_date_format":"","post_date_format_custom":"","post_reading_time_wpm":"","zoom_button_out_step":"1","zoom_button_in_step":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"","single_post_gallery_size":""}],"trending_post_position":"","trending_post_label":"","sponsored_post_label":"","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,3],"tags":[455,150,454,452,453,456,457],"class_list":["post-57700","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-umum","tag-christian-conference-of-asia","tag-hkbp","tag-lutheran-world-federation","tag-sae-nababan","tag-stft-jakarta","tag-united-evangelical-mission","tag-world-council-of-churches"],"better_featured_image":{"id":58016,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/SAE_Nababan.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/SAE_Nababan.jpg?fit=720%2C405&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/SAE_Nababan.jpg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/SAE_Nababan.jpg?fit=720%2C405&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1490","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57700","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57700"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57700\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58016"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57700"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57700"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57700"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}