{"id":57981,"date":"2021-05-29T10:36:14","date_gmt":"2021-05-29T03:36:14","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=57981"},"modified":"2021-05-29T10:36:21","modified_gmt":"2021-05-29T03:36:21","slug":"novel-baswedan-cs-sambangi-pgi-bantah-tuduhan-taliban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/novel-baswedan-cs-sambangi-pgi-bantah-tuduhan-taliban\/","title":{"rendered":"Novel Baswedan Cs Sambangi PGI, Bantah Tuduhan &#8216;Taliban&#8217;"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan\u00a0bersama sembilan pegawai lembaga antirasuah yang tak lolos\u00a0tes wawasan kebangsaan (TWK) akan menemui Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Gomar Gultom. Kuasa hukum 75 pegawai KPK yang dinyatakan gagal TWK, Saor Siagian mengatakan kedatangan Novel tersebut untuk membantah tuduhan isu &#039;kelompok taliban&#039; di internal KPK selama ini. &quot;Tuduhan-tuduhan taliban itu betul-betul isapan jempol, omong kosong,&quot; kata Saor di Gedung KPK, Jumat (28\/5). Saor mengatakan tuduhan terhadap 75 pegawai KPK tersebut sangat serius. Mereka dipersepsikan seolah-olah musuh negara dan anti-Pancasila. Selain itu, kata Saor, tuduhan bahwa Novel Cs merupakan &#039;kelompok taliban&#039; juga tak bisa diterima. Menurutnya, dari 75 pegawai KPK tersebut ada yang menganut agama selain Islam. &quot;Sebagian kawan-kawan ini adalah beragama lain dan mereka yang selama ini betul-betul telah menunjukkan integritas komitmennya,&quot; ujarnya. Lebih lanjut, Saor mengatakan Novel dan kawan-kawan akan berbincang dengan rohaniawan gereja terkait tuduhan bahwa mereka tidak lagi bisa dibina hingga dinyatakan anti-Pancasila. Langkah sowan atau menemui tokoh agamawan ini untuk menunjukkan bahwa mereka merupakan orang yang taat sesuai dengan kepercayaan masing-masing. &quot;Novel sendiri nanti hadir di sana bersama dengan kawan-kawan, sekalipun mereka berbeda iman dan kepercayaan,&quot; tutur Saor. Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan 51 dari 75 pegawai KPK yang tak lolos TWK memiliki catatan merah dan sudah tak bisa dibina. Mereka tak bisa bergabung lagi dengan KPK. Sementara, 24 pegawai KPK lainnya masih bisa dibina sebelum diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN). &quot;Yang 51 orang, ini kembali lagi dari asesor itu sudah warnanya dia bilang sudah &#039;merah&#039;, dan dia tidak memungkinkan untuk dilakukan pembinaan,&quot; kata Alex dalam jumpa pers di Kantor BKN, Selasa (25\/5). Pengumuman tersebut mendapat kritik dari sejumlah pihak, termasuk 75 pegawai KPK yang dinyatakan gagal TWK. Mereka menganggap pengumuman yang dilakukan Alex sebagai bentuk pelecehan. Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Giri Suprapdiono mengaku lebih baik dipecat daripada harus dibina ulang. Sementara, Direktur Pembinaan Jaringan Kerja Antar-Komisi dan Instansi (PJKAKI) KPK Sujanarko menantang\u00a0Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana perang terbuka terkait TWK. (iam\/fra)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)<strong> Novel Baswedan<\/strong>\u00a0bersama sembilan pegawai lembaga antirasuah yang tak lolos\u00a0<strong>tes wawasan kebangsaan<\/strong> (TWK) akan menemui Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Gomar Gultom.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Kuasa hukum 75 pegawai KPK yang dinyatakan gagal TWK, Saor Siagian mengatakan kedatangan Novel tersebut untuk membantah tuduhan isu &#8216;kelompok taliban&#8217; di internal KPK selama ini.<\/p>\n<p>&#8220;Tuduhan-tuduhan taliban itu betul-betul isapan jempol, omong kosong,&#8221; kata Saor di Gedung KPK, Jumat (28\/5).<\/p>\n<p>Saor mengatakan tuduhan terhadap 75 pegawai KPK tersebut sangat serius. Mereka dipersepsikan seolah-olah musuh negara dan anti-Pancasila.<\/p>\n<p>Selain itu, kata Saor, tuduhan bahwa Novel Cs merupakan &#8216;kelompok taliban&#8217; juga tak bisa diterima. Menurutnya, dari 75 pegawai KPK tersebut ada yang menganut agama selain Islam.<\/p>\n<p>&#8220;Sebagian kawan-kawan ini adalah beragama lain dan mereka yang selama ini betul-betul telah menunjukkan integritas komitmennya,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Saor mengatakan Novel dan kawan-kawan akan berbincang dengan rohaniawan gereja terkait tuduhan bahwa mereka tidak lagi bisa dibina hingga dinyatakan anti-Pancasila.<\/p>\n<p>Langkah sowan atau menemui tokoh agamawan ini untuk menunjukkan bahwa mereka merupakan orang yang taat sesuai dengan kepercayaan masing-masing.<\/p>\n<p>&#8220;Novel sendiri nanti hadir di sana bersama dengan kawan-kawan, sekalipun mereka berbeda iman dan kepercayaan,&#8221; tutur Saor.<\/p>\n<p>Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan 51 dari 75 pegawai KPK yang tak lolos TWK memiliki catatan merah dan sudah tak bisa dibina. Mereka tak bisa bergabung lagi dengan KPK.<\/p>\n<p>Sementara, 24 pegawai KPK lainnya masih bisa dibina sebelum diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN).<\/p>\n<p>&#8220;Yang 51 orang, ini kembali lagi dari asesor itu sudah warnanya dia bilang sudah &#8216;merah&#8217;, dan dia tidak memungkinkan untuk dilakukan pembinaan,&#8221; kata Alex dalam jumpa pers di Kantor BKN, Selasa (25\/5).<\/p>\n<p>Pengumuman tersebut mendapat kritik dari sejumlah pihak, termasuk 75 pegawai KPK yang dinyatakan gagal TWK. Mereka menganggap pengumuman yang dilakukan Alex sebagai bentuk pelecehan.<\/p>\n<p>Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Giri Suprapdiono mengaku lebih baik dipecat daripada harus dibina ulang.<\/p>\n<p>Sementara, Direktur Pembinaan Jaringan Kerja Antar-Komisi dan Instansi (PJKAKI) KPK Sujanarko menantang\u00a0Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana perang terbuka terkait TWK.<\/p>\n<p><b>(iam\/fra)<\/b><\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan\u00a0bersama sembilan pegawai lembaga antirasuah yang tak lolos\u00a0tes wawasan kebangsaan (TWK) akan menemui Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Gomar Gultom. Kuasa hukum 75 pegawai KPK yang dinyatakan gagal TWK, Saor Siagian mengatakan kedatangan Novel tersebut untuk membantah tuduhan isu &#8216;kelompok taliban&#8217; di internal KPK selama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":57982,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"CNN","source_url":"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20210528154159-12-647945\/novel-baswedan-cs-sambangi-pgi-bantah-tuduhan-taliban","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-57981","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":57982,"alt_text":"","caption":"","description":"a7ca4e9121d4d68a92fb7c581615fae1","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/novel-baswedan-cs-sambangi-pgi-bantah-tuduhan-taliban_60b1b54b08a15.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/novel-baswedan-cs-sambangi-pgi-bantah-tuduhan-taliban_60b1b54b08a15.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/novel-baswedan-cs-sambangi-pgi-bantah-tuduhan-taliban_60b1b54b08a15.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/novel-baswedan-cs-sambangi-pgi-bantah-tuduhan-taliban_60b1b54b08a15.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"933","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57981","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57981"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57981\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57982"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57981"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57981"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57981"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}