{"id":57990,"date":"2021-05-30T09:35:04","date_gmt":"2021-05-30T02:35:04","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=57990"},"modified":"2021-05-30T09:35:10","modified_gmt":"2021-05-30T02:35:10","slug":"gereja-myanmar-diserang-uskup-minta-hentikan-kekerasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/gereja-myanmar-diserang-uskup-minta-hentikan-kekerasan\/","title":{"rendered":"Gereja Myanmar Diserang, Uskup Minta Hentikan Kekerasan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Pemimpin Gereja Katolik Roma\u00a0Myanmar menyerukan agar serangan ke tempat ibadah diakhiri usai empat orang tewas dan delapan lainnya luka-luka akibat serangan junta militer. Pertempuran antara militer Myanmar dan kelompok milisi terjadi beberapa hari terakhir di negara bagian Shan dan Kayah. &quot;Tindakan kekerasan, termasuk penembakan terus-menerus, menggunakan senjata berat membuat kelompok (pengungsi) ketakutan, yang sebagian besar terdiri dari perempuan dan anak-anak,&quot; kata Uskup Agung Yangon, Kardinal Charles Maung Bo, dalam sebuah surat yang diposting di Twitter. &quot;Ini perlu dihentikan. Kami mohon kepada kalian semua, mohon jangan meningkatkan perang,&quot; ujarnya. Diketahui, gereja di Desa Kayan Thaya, di ibu kota negara bagian Loikaw menyediakan penampungan bagi warga sipil setelah pertempuran terjadi. &quot;Dengan kesedihan dan rasa sakit yang luar biasa, kami mencatat penderitaan kami atas serangan terhadap warga sipil yang tidak bersalah, yang mencari perlindungan di Gereja Hati Kudus, Kayanthayar,&quot; ujar Bo dikutip dari Reuters. Meski Myanmar didominasi penganut Buddha, namun di beberapa wilayah termasuk Kayah banyak masyarakat yang beragama Kristen. Menurut Bo, gereja, rumah sakit dan sekolah dilindungi oleh konvensi internasional selama konflik berlangsung. Serangan itu, kata Bo, menyebabkan lebih dari 20 ribu orang mengungsi. Mereka dilaporkan sangat membutuhkan makanan, obat-obat-obatan dan lingkungan yang bersih. Penduduk lain di wilayah itu mencoba membantu orang-orang yang terlantar. Sementara mereka yang mencari tempat aman menjadikan gereja sebagai tempat berlindung. Menurut catatan, sekitar 30 ribu hingga 50 ribu orang telah meninggalkan rumah. &quot;Orang tua dan anak-anak ada di gereja. Semua gereja telah memasang bendera putih untuk menghentikan penembakan,&quot; kata seorang laki-laki yang tak ingin disebutkan namanya. Berdasarkan keterangan laki-laki itu, situasi di wilayah Kayah masih tegang. Ia juga menuding militer terus menggunakan senjata berat terhadap milisi lokal yang hanya menggunakan senjata seadanya. Myanmar berada dalam krisis politik dan kemanusiaan sejak tentara mengambil alih kekuasaan pada 1 Februari. Sebagai tanggapan menolak kudeta, warga sipil ramai-ramai menggelar aksi protes. Namun, tentara justru menggunakan kekuatan mematikan untuk menindak para pengunjuk rasa. Hingga kini, menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) korban tewas mencapai 827 orang, sementara yang ditahan junta sebanyak 4.313. Militer Myanmar menampik jumlah korban yang dilaporkan lembaga pemantau hak asasi manusia tersebut. Pemimpin kudeta, Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan korban tewas hanya 300 orang, termasuk 47 anggota kepolisian. Aung Hlaing juga disebut telah meremehkan dampak risiko kekerasan yang kini telah menjadi besar. &quot;Saya tidak berpikir akan ada perang saudara,&quot; katanya kepada Phoenix Television, pada 20 Mei lalu. Padahal sejumlah kelompok milisi dan warga sipil telah membentuk pasukan pertahanan rakyat. Sejumlah aktivis juga dilaporkan bersembunyi di hutan untuk berlatih mengangkat senjata. Militer kali ini menghadapi gempuran dari kelompok milisi yang semakin banyak, meski menggunakan senjata sederhana. (isa\/dea)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/><strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Pemimpin Gereja Katolik Roma\u00a0<strong>Myanmar<\/strong> menyerukan agar serangan ke tempat ibadah diakhiri usai empat orang tewas dan delapan lainnya luka-luka akibat serangan <strong>junta militer<\/strong>.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Pertempuran antara militer Myanmar dan kelompok milisi terjadi beberapa hari terakhir di negara bagian Shan dan Kayah.<\/p>\n<p>&#8220;Tindakan kekerasan, termasuk penembakan terus-menerus, menggunakan senjata berat membuat kelompok (pengungsi) ketakutan, yang sebagian besar terdiri dari perempuan dan anak-anak,&#8221; kata Uskup Agung Yangon, Kardinal Charles Maung Bo, dalam sebuah surat yang diposting di Twitter.<\/p>\n<p>&#8220;Ini perlu dihentikan. Kami mohon kepada kalian semua, mohon jangan meningkatkan perang,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Diketahui, gereja di Desa Kayan Thaya, di ibu kota negara bagian Loikaw menyediakan penampungan bagi warga sipil setelah pertempuran terjadi.<\/p>\n<p>&#8220;Dengan kesedihan dan rasa sakit yang luar biasa, kami mencatat penderitaan kami atas serangan terhadap warga sipil yang tidak bersalah, yang mencari perlindungan di Gereja Hati Kudus, Kayanthayar,&#8221; ujar Bo dikutip dari <em>Reuters<\/em>.<\/p>\n<p>Meski Myanmar didominasi penganut Buddha, namun di beberapa wilayah termasuk Kayah banyak masyarakat yang beragama Kristen.<\/p>\n<p>Menurut Bo, gereja, rumah sakit dan sekolah dilindungi oleh konvensi internasional selama konflik berlangsung.<\/p>\n<p>Serangan itu, kata Bo, menyebabkan lebih dari 20 ribu orang mengungsi. Mereka dilaporkan sangat membutuhkan makanan, obat-obat-obatan dan lingkungan yang bersih.<\/p>\n<p>Penduduk lain di wilayah itu mencoba membantu orang-orang yang terlantar. Sementara mereka yang mencari tempat aman menjadikan gereja sebagai tempat berlindung.<\/p>\n<p>Menurut catatan, sekitar 30 ribu hingga 50 ribu orang telah meninggalkan rumah.<\/p>\n<p>&#8220;Orang tua dan anak-anak ada di gereja. Semua gereja telah memasang bendera putih untuk menghentikan penembakan,&#8221; kata seorang laki-laki yang tak ingin disebutkan namanya.<\/p>\n<p>Berdasarkan keterangan laki-laki itu, situasi di wilayah Kayah masih tegang. Ia juga menuding militer terus menggunakan senjata berat terhadap milisi lokal yang hanya menggunakan senjata seadanya.<\/p>\n<p>Myanmar berada dalam krisis politik dan kemanusiaan sejak tentara mengambil alih kekuasaan pada 1 Februari. Sebagai tanggapan menolak kudeta, warga sipil ramai-ramai menggelar aksi protes.<\/p>\n<p>Namun, tentara justru menggunakan kekuatan mematikan untuk menindak para pengunjuk rasa.<\/p>\n<p>Hingga kini, menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) korban tewas mencapai 827 orang, sementara yang ditahan junta sebanyak 4.313.<\/p>\n<p>Militer Myanmar menampik jumlah korban yang dilaporkan lembaga pemantau hak asasi manusia tersebut. Pemimpin kudeta, Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan korban tewas hanya 300 orang, termasuk 47 anggota kepolisian.<\/p>\n<p>Aung Hlaing juga disebut telah meremehkan dampak risiko kekerasan yang kini telah menjadi besar.<\/p>\n<p>&#8220;Saya tidak berpikir akan ada perang saudara,&#8221; katanya kepada Phoenix Television, pada 20 Mei lalu.<\/p>\n<p>Padahal sejumlah kelompok milisi dan warga sipil telah membentuk pasukan pertahanan rakyat. Sejumlah aktivis juga dilaporkan bersembunyi di hutan untuk berlatih mengangkat senjata.<\/p>\n<p>Militer kali ini menghadapi gempuran dari kelompok milisi yang semakin banyak, meski menggunakan senjata sederhana.<\/p>\n<p><b>(isa\/dea)<\/b><\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><br \/><br \/><\/p>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Pemimpin Gereja Katolik Roma\u00a0Myanmar menyerukan agar serangan ke tempat ibadah diakhiri usai empat orang tewas dan delapan lainnya luka-luka akibat serangan junta militer. Pertempuran antara militer Myanmar dan kelompok milisi terjadi beberapa hari terakhir di negara bagian Shan dan Kayah. &#8220;Tindakan kekerasan, termasuk penembakan terus-menerus, menggunakan senjata berat membuat kelompok (pengungsi) ketakutan, yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":57991,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"CNN","source_url":"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/internasional\/20210527114710-106-647370\/gereja-myanmar-diserang-uskup-minta-hentikan-kekerasan","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22],"tags":[],"class_list":["post-57990","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional"],"better_featured_image":{"id":57991,"alt_text":"","caption":"","description":"975e4ee904d1408966b98bded736685d","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/gereja-myanmar-diserang-uskup-minta-hentikan-kekerasan_60b1b5ab22dc4.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/gereja-myanmar-diserang-uskup-minta-hentikan-kekerasan_60b1b5ab22dc4.jpeg?fit=650%2C364&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/gereja-myanmar-diserang-uskup-minta-hentikan-kekerasan_60b1b5ab22dc4.jpeg"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/gereja-myanmar-diserang-uskup-minta-hentikan-kekerasan_60b1b5ab22dc4.jpeg?fit=650%2C364&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"998","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57990","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57990"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57990\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57991"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57990"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57990"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57990"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}