{"id":58077,"date":"2021-06-10T09:11:26","date_gmt":"2021-06-10T02:11:26","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=58077"},"modified":"2021-06-10T09:11:37","modified_gmt":"2021-06-10T02:11:37","slug":"ini-alasan-soekarno-bangun-masjid-istiqlal-dan-gereja-katedral-berdekatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/ini-alasan-soekarno-bangun-masjid-istiqlal-dan-gereja-katedral-berdekatan\/","title":{"rendered":"Ini Alasan Soekarno Bangun Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Berdekatan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Humas dan Protokol Masjid Istiqlal, Abu mengatakan jika bangunan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral memang sengaja dibangun Presiden Soekarno secara berdekatan. Alasan utama Bung Karno membangun dua tempat ibadah itu berdekatan untuk mempererat kerukunan antara umat beragama di Indonesia. &quot;Memang sejarah Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral itu sangat erat. Kenapa, karena memang Bung Karno ingin memperatkan antar umat beragama. Bukan agama yang ingin dieratkan tapi umatnya. Agar dapat saling bersilahturahmi,&quot; kata Abu. Dia menceritakan awal mula di bangunnya Masjid termegah di Asia Tenggara itu. &quot;Nah sengaja bangunan Istiqlal itu dibangun di situ. Dulu ini taman yang dikorbankan untuk didirikan sebuah masjid. Yang adalah taman terbesar di Asia Tenggara. Waktu itu, terindah dan megah, sekarang tamannya (bernama) Wijayakusuma,\u201d terang Abu. Menurut dia, masjid tersebut juga dibangun dengan tujuan mensyukuri nikmat kemerdekaan dan untuk mempererat toleransi umat beragama. &quot;Makanya diberi nama istiqlal. Yang itu artinya merdeka dalam bahasa arab. Masjid juga diupayakan oleh Bung Karno bersama teman-teman dan pendiri sebagai simbol toleransi beragama di Indonesia,&quot; katanya. Pembangunan Masjid Istiqlal sendiri, katanya, juga dibangun oleh arsitek kenamaan yang bukan beragama Islam. &quot;Kalau kita lihat sejarahnya, pembangunan masjid ini tidak didominasi kaum muslim. Tapi ada juga tokoh-tokoh dari luar Islam. Dari\u00a0 non-Muslim, Protestan dan Katolik. Yang paling terkenal adalah bapak Fredrick Silaban, dia adalah arstitek Masjid Istiqlal. Beliau bukan Islam, beliau seorang Kristen. Tapi beliau sangat berjasa dalam pembangunan Masjid Istiqlal,&quot; kata Abu. Humas Paskah 2015 Gereja Katedral Jakarta Robert Kenji juga membenarkan jika salah satu arsitek yang membangun Masjid Istiqlal adalah seorang Nasrani. Untuk itu, dia berharap kerukunan antara umat beragama di Indonesia bisa terus terjalin. Seperti sejarah berdirinya Masjid Istiqlal dan Gereja Katolik Katedral yang menjadi simbol perekat antar umat beragama. &quot;Kami berharap kerukunan umat beragama di Indonesia ini semakin erat dengan tanpa adanya diskriminasi atau masalah-masalah. Kecurigaan-kecurigaan\u00a0 antar umat beragama kita berharap itu tidak terjadi, karena toh dari sejarah kita tahu, yang ikut membangun Masjid Istiqlal seorang Nasrani,&quot; kata Kenji.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Humas dan Protokol Masjid Istiqlal, Abu mengatakan jika bangunan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral memang sengaja dibangun Presiden Soekarno secara berdekatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Alasan utama Bung Karno membangun dua tempat ibadah itu berdekatan untuk mempererat kerukunan antara umat beragama di Indonesia.<\/p>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\" style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Memang sejarah Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral itu sangat erat. Kenapa, karena memang Bung Karno ingin memperatkan antar umat beragama. Bukan agama yang ingin dieratkan tapi umatnya. Agar dapat saling bersilahturahmi,&#8221; kata Abu.<\/p>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\" style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia menceritakan awal mula di bangunnya Masjid termegah di Asia Tenggara itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Nah sengaja bangunan Istiqlal itu dibangun di situ. Dulu ini taman yang dikorbankan untuk didirikan sebuah masjid. Yang adalah taman terbesar di Asia Tenggara. Waktu itu, terindah dan megah, sekarang tamannya (bernama) Wijayakusuma,\u201d terang Abu.<\/p>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\" style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut dia, masjid tersebut juga dibangun dengan tujuan mensyukuri nikmat kemerdekaan dan untuk mempererat toleransi umat beragama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Makanya diberi nama istiqlal. Yang itu artinya merdeka dalam bahasa arab. Masjid juga diupayakan oleh Bung Karno bersama teman-teman dan pendiri sebagai simbol toleransi beragama di Indonesia,&#8221; katanya.<\/p>\n<div class=\"google-auto-placed ap_container\" style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembangunan Masjid Istiqlal sendiri, katanya, juga dibangun oleh arsitek kenamaan yang bukan beragama Islam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kalau kita lihat sejarahnya, pembangunan masjid ini tidak didominasi kaum muslim. Tapi ada juga tokoh-tokoh dari luar Islam. Dari\u00a0 non-Muslim, Protestan dan Katolik. Yang paling terkenal adalah bapak Fredrick Silaban, dia adalah arstitek Masjid Istiqlal. Beliau bukan Islam, beliau seorang Kristen. Tapi beliau sangat berjasa dalam pembangunan Masjid Istiqlal,&#8221; kata Abu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Humas Paskah 2015 Gereja Katedral Jakarta Robert Kenji juga membenarkan jika salah satu arsitek yang membangun Masjid Istiqlal adalah seorang Nasrani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk itu, dia berharap kerukunan antara umat beragama di Indonesia bisa terus terjalin. Seperti sejarah berdirinya Masjid Istiqlal dan Gereja Katolik Katedral yang menjadi simbol perekat antar umat beragama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kami berharap kerukunan umat beragama di Indonesia ini semakin erat dengan tanpa adanya diskriminasi atau masalah-masalah. Kecurigaan-kecurigaan\u00a0 antar umat beragama kita berharap itu tidak terjadi, karena toh dari sejarah kita tahu, yang ikut membangun Masjid Istiqlal seorang Nasrani,&#8221; kata Kenji.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Humas dan Protokol Masjid Istiqlal, Abu mengatakan jika bangunan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral memang sengaja dibangun Presiden Soekarno secara berdekatan. Alasan utama Bung Karno membangun dua tempat ibadah itu berdekatan untuk mempererat kerukunan antara umat beragama di Indonesia. &#8220;Memang sejarah Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral itu sangat erat. Kenapa, karena memang Bung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":58213,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[468,469,466,343],"class_list":["post-58077","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-gereja-katedral","tag-masjid-istiqlal","tag-sukarno","tag-toleransi"],"better_featured_image":{"id":58213,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/istiqlal_katedral-jakarta.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/istiqlal_katedral-jakarta.jpg?fit=768%2C512&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/istiqlal_katedral-jakarta.jpg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/istiqlal_katedral-jakarta.jpg?fit=1024%2C683&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1447","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58077","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58077"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58077\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58213"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58077"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58077"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58077"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}