{"id":58173,"date":"2021-06-09T09:25:25","date_gmt":"2021-06-09T02:25:25","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=58173"},"modified":"2021-06-09T09:25:31","modified_gmt":"2021-06-09T02:25:31","slug":"autopsi-pendeta-yeremia-komnas-ham-duga-ada-tindakan-fisik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/autopsi-pendeta-yeremia-komnas-ham-duga-ada-tindakan-fisik\/","title":{"rendered":"Autopsi Pendeta Yeremia, Komnas HAM Duga Ada Tindakan Fisik"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Komisioner Pemantauan\/ Penyelidikan Komnas HAM, Choirul Anam, mengatakan proses ekshumasi dan autopsi jenazah Pendeta Yeremia Zanambani telah dilakukan dengan cukup baik karena melibatkan masyarakat Hitadipa dan lembaga pengawas. Salah satu poin yang disorot, ujar Anam, adalah kesimpulan bahwa Pendeta Yeremia tewas karena kehabisan darah usai ditembak. &quot;Apa yang jadi highlight, inilah sebenarnya nyambung dengan apa yang ditemukan Komnas HAM, waktu itu mengatakan Pendeta Yeremia meninggal karena kehabisan darah akibat luka tembak dalam jarak dekat, kedua ada potensi body contact, potensi tindakan fisik sebelum adanya kematian atau bahkan di antara penembakan itu. Body contact ini sedang diuji,&quot; ujar Anam dalam jumpa pers secara virtual, Minggu (6\/6). Ia menerangkan proses ekshumasi dan autopsi melibatkan tim ahli forensik dari Makassar dan Pusdokkes Polda Papua. Adapun proses autopsi membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan di laboratorium forensik dan saintifik di sebuah universitas yang tidak disebutkan namanya. Komnas HAM, lanjut Anam, akan terus memantau proses tersebut karena semangat transparan dan independen mengungkap kasus sedari awal. &quot;Hasil autopsi kemungkinan antara 1 sampai 2 bulan karena ada beberapa bagian yang memang diambil dan memakan waktu secara saintifik dibuktikan apakah betul tewas karena pendarahan akibat tembakan atau karena kematian yang lain. Apakah betul ada tindakan-tindakan kekerasan lain di luar soal penembakan itu. Nah, itu diuji secara saintifik dan kami mendapat penjelasan prosesnya bagaimana dan sebagainya, kami apresiasi,&quot; tambah Anam. Proses ekshumasi dan autopsi jenazah pendeta Yeremia Zanambani dilakukan pada Sabtu (5\/6) sekitar pukul 09.00-11.30 WIT di Hitadipa, Intan Jaya, Papua. Kegiatan itu juga melibatkan pendamping keluarga korban, masyarakat Hitadipa, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Kompolnas hingga Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Sebelumnya, hasil investigasi Komnas HAM menemukan bahwa terduga pelaku penembakan Pendeta Yeremia Zanambani adalah Wakil Danramil Hitadipa, Alpius. Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan pengakuan Yeremia sebelum meninggal kepada dua orang saksi. Serta pengakuan saksi-saksi lain yang melihat Alpius berada di sekitar kandang babi, tempat di mana Yeremia mengembuskan napas terakhir kali. &quot;Diduga bahwa pelaku adalah Alpius, Wakil Danramil Hitadipa,&quot; kata Anam saat dikonfirmasi melalui keterangan resminya, Kamis (5\/11). (ryn\/wis)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Komisioner Pemantauan\/ Penyelidikan <strong>Komnas HAM<\/strong>, Choirul Anam, mengatakan proses ekshumasi dan autopsi jenazah <strong>Pendeta Yeremia Zanambani <\/strong>telah dilakukan dengan cukup baik karena melibatkan masyarakat Hitadipa dan lembaga pengawas.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Salah satu poin yang disorot, ujar Anam, adalah kesimpulan bahwa Pendeta Yeremia tewas karena kehabisan darah usai ditembak.<\/p>\n<p>&#8220;Apa yang jadi highlight, inilah sebenarnya nyambung dengan apa yang ditemukan Komnas HAM, waktu itu mengatakan Pendeta Yeremia meninggal karena kehabisan darah akibat luka tembak dalam jarak dekat, kedua ada potensi body contact, potensi tindakan fisik sebelum adanya kematian atau bahkan di antara penembakan itu. Body contact ini sedang diuji,&#8221; ujar Anam dalam jumpa pers secara virtual, Minggu (6\/6).<\/p>\n<p>Ia menerangkan proses ekshumasi dan autopsi melibatkan tim ahli forensik dari Makassar dan Pusdokkes Polda Papua. Adapun proses autopsi membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan di laboratorium forensik dan saintifik di sebuah universitas yang tidak disebutkan namanya.<\/p>\n<p>Komnas HAM, lanjut Anam, akan terus memantau proses tersebut karena semangat transparan dan independen mengungkap kasus sedari awal.<\/p>\n<p>&#8220;Hasil autopsi kemungkinan antara 1 sampai 2 bulan karena ada beberapa bagian yang memang diambil dan memakan waktu secara saintifik dibuktikan apakah betul tewas karena pendarahan akibat tembakan atau karena kematian yang lain. Apakah betul ada tindakan-tindakan kekerasan lain di luar soal penembakan itu. Nah, itu diuji secara saintifik dan kami mendapat penjelasan prosesnya bagaimana dan sebagainya, kami apresiasi,&#8221; tambah Anam.<\/p>\n<p>Proses ekshumasi dan autopsi jenazah pendeta Yeremia Zanambani dilakukan pada Sabtu (5\/6) sekitar pukul 09.00-11.30 WIT di Hitadipa, Intan Jaya, Papua. Kegiatan itu juga melibatkan pendamping keluarga korban, masyarakat Hitadipa, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Kompolnas hingga Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).<\/p>\n<p>Sebelumnya, hasil investigasi Komnas HAM menemukan bahwa terduga pelaku penembakan Pendeta Yeremia Zanambani adalah Wakil Danramil Hitadipa, Alpius.<\/p>\n<p>Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan pengakuan Yeremia sebelum meninggal kepada dua orang saksi. Serta pengakuan saksi-saksi lain yang melihat Alpius berada di sekitar kandang babi, tempat di mana Yeremia mengembuskan napas terakhir kali.<\/p>\n<p>&#8220;Diduga bahwa pelaku adalah Alpius, Wakil Danramil Hitadipa,&#8221; kata Anam saat dikonfirmasi melalui keterangan resminya, Kamis (5\/11).<\/p>\n<p><b>(ryn\/wis)<\/b><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Komisioner Pemantauan\/ Penyelidikan Komnas HAM, Choirul Anam, mengatakan proses ekshumasi dan autopsi jenazah Pendeta Yeremia Zanambani telah dilakukan dengan cukup baik karena melibatkan masyarakat Hitadipa dan lembaga pengawas. Salah satu poin yang disorot, ujar Anam, adalah kesimpulan bahwa Pendeta Yeremia tewas karena kehabisan darah usai ditembak. &#8220;Apa yang jadi highlight, inilah sebenarnya nyambung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":58174,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"CNN","source_url":"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20210606175651-12-650975\/autopsi-pendeta-yeremia-komnas-ham-duga-ada-tindakan-fisik","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[464],"class_list":["post-58173","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-pendeta-yeremia-zanambani"],"better_featured_image":{"id":58174,"alt_text":"","caption":"","description":"39179d17c6338357cab0eee49bae6436","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/autopsi-pendeta-yeremia-komnas-ham-duga-ada-tindakan-fisik_60bee441c1373.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/autopsi-pendeta-yeremia-komnas-ham-duga-ada-tindakan-fisik_60bee441c1373.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/autopsi-pendeta-yeremia-komnas-ham-duga-ada-tindakan-fisik_60bee441c1373.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/autopsi-pendeta-yeremia-komnas-ham-duga-ada-tindakan-fisik_60bee441c1373.jpeg?fit=650%2C365&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"2668","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58173"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58173\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58174"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}