{"id":58486,"date":"2021-07-11T18:09:52","date_gmt":"2021-07-11T11:09:52","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=58486"},"modified":"2021-07-11T18:09:58","modified_gmt":"2021-07-11T11:09:58","slug":"petugas-pemakaman-minta-rp-4-juta-ke-keluarga-pasien-covid-19-non-muslim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/petugas-pemakaman-minta-rp-4-juta-ke-keluarga-pasien-covid-19-non-muslim\/","title":{"rendered":"Petugas Pemakaman Minta Rp 4 Juta ke Keluarga Pasien Covid-19 Non-Muslim"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Perkenalkan, saya Yunita Tambunan., putri kandung dari Pak *Binsar Tambunan* (mama saya *Nelly br Sitorus* _alm_ ) - papa saya adalah Pensiunan Pegawai PT. KAI., tinggal di Jl. Teraso No. 15 Bandung. Papa meninggal karena Covid-19 di RS. Sentosa Bandung hari Selasa, 06 Juli 2021 pk. 10.30, dan dimakamkan ke TPU Khusus Covid-19 di TPU Cikadut hari itu juga.. Yang mau saya ceritakan disini adalah :Waktu saya datang ke TPU Cikadut mengurus rencana pemakaman papa saya, saya di datangi oleh *Pak Redi* - _Koordinator C_ TPU Cikadut. Dia minta uang *Rp 4.000.000,-* untuk biaya pemakaman papa. Dia bilang bahwa liang lahat sdh di siapkan.&quot;Saya bertanya., _kenapa saya harus bayar pak_?&quot;. Pak Redi mengatakan bahwa : *&quot;Kalau non muslim tidak ditanggung pemerintah.&quot;* . Karena waktu sudah semakin mendesak, saya minta keringanan sama beliau., alasannya saya sampaikan kepada pak Redi : _Pak kiranya punya hati sama saya pak karena saya tidak menginginkan papa saya meninggal karena covid 19 apalagi sekarang ada PPKM Darurat., sehingga pendapatan kami berkurang serta biaya hidup tinggi_. Akhirnya adik saya menawar harga menjadi Rp 2,8 jt. Lalu aku menawar harga jadi Rp 2 jt. Lalu., salah seorang rekan pak Redi nyeletuk : _Biar ibu tahu, kemarin aja bu ada nasrani bayarnya sdh 3,5 jt_. Akhirnya saya acc bayar Rp 2,8 jt tetapi minta ditulis dikwitansi serta dirinci. Lalu pak Redi., bilang _kalau pemakaman malam tidak ada kwitansi_. Lalu saya minta supaya di tulis dikertas putih aja pa serta dirinci Rp 2,8 jt itu biaya apa saja, nama yg meninggal, dan tanda tangan beliau, serta nama jelas pak Redi, dan jabatan bapak dan serta no HP nya. Lalu kuitansi diberikan dgn rincian :1. Biaya gali : Rp 1,5 juta2. Biaya pikul : Rp 1 juta3. Salib : Rp 300.000Total : Rp 2.800.000,- Saya katakan : &quot;siapa tahu saya perlu kontak bapak untuk melihat kuburan papa saya di tpu cikadut.&quot; Diapun mencantumkan No HP nya. Sesudah dibawa ke liang lahat tim gali kubur bertanya sama saya yang pakai baju APD : &quot;Bu., saya dengar ada 4 org _non muslim_ yg meninggal katanya ada yg belum bayar satu orang, apakah keluarga pak Binsar Tambunan yang belum bayar bu , maaf ya kalau tersinggung ?&quot; Saya dan adikku bilang sudah dibayar di bawah pa di kantor. &quot;Oh....!&quot; , kata tukang gali kubur yang pakai baju APD sambil mengucapkan terima kasih. Setelah selesai pemakaman bbrp tukang gali kubur yang pakai baju APD lain menyerbu adik saya dan saya meminta _tambahan uang_. Karena mereka perlu beli vitamin katanya . Adikku di datangi beberapa org gali kubur kecuali aku menghindar. Lalu terpaksa akhirnya dikeluarkan dana Rp 50.000 lagi selain membayar uang parkir Rp 10.000,- Demikian kisah saya yang sangat memilukan., setelah saya di timpa kemalangan papa saya , ternyata di TPU Covid-19 Cikadut Bandung ada praktek *Pungli* utk pemakaman yang meninggal, terutama Non Muslim. Apakah demikian peraturannya. Mohon pencerahan. Terlampir foto kwitansi, dan dokumen lainnya.. Terima kasih Salam,Yunita Tambunan(Bandung)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/><strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Perkenalkan, saya Yunita Tambunan., putri kandung dari Pak *Binsar Tambunan* (mama saya *Nelly br Sitorus* _alm_ ) &#8211; papa saya adalah Pensiunan Pegawai PT. KAI., tinggal di Jl. Teraso No. 15 Bandung. Papa meninggal karena Covid-19 di RS. Sentosa Bandung hari Selasa, 06 Juli 2021 pk. 10.30, dan dimakamkan ke TPU Khusus Covid-19 di TPU Cikadut hari itu juga..<\/p>\n<p>Yang mau saya ceritakan disini adalah :<br \/>Waktu saya datang ke TPU Cikadut mengurus rencana pemakaman papa saya, saya di datangi oleh *Pak Redi* &#8211; _Koordinator C_ TPU Cikadut. Dia minta uang *Rp 4.000.000,-* untuk biaya pemakaman papa. Dia bilang bahwa liang lahat sdh di siapkan.<br \/>&#8220;Saya bertanya., _kenapa saya harus bayar pak_?&#8221;. <br \/>Pak Redi mengatakan bahwa : *&#8221;Kalau non muslim tidak ditanggung pemerintah.&#8221;* .<\/p>\n<p>Karena waktu sudah semakin mendesak, saya minta keringanan sama beliau., alasannya saya sampaikan kepada pak Redi : _Pak kiranya punya hati sama saya pak karena saya tidak menginginkan papa saya meninggal karena covid 19 apalagi sekarang ada PPKM Darurat., sehingga pendapatan kami berkurang serta biaya hidup tinggi_. <\/p>\n<p>Akhirnya adik saya menawar harga menjadi Rp 2,8 jt. Lalu aku menawar harga jadi Rp 2 jt. Lalu., salah seorang rekan pak Redi nyeletuk : _Biar ibu tahu, kemarin aja bu ada nasrani bayarnya sdh 3,5 jt_. <\/p>\n<p>Akhirnya saya acc bayar Rp 2,8 jt tetapi minta ditulis dikwitansi serta dirinci. Lalu pak Redi., bilang _kalau pemakaman malam tidak ada kwitansi_. Lalu saya minta supaya di tulis dikertas putih aja pa serta dirinci Rp 2,8 jt itu biaya apa saja, nama yg meninggal, dan tanda tangan beliau, serta nama jelas pak Redi, dan jabatan bapak dan serta no HP nya.<\/p>\n<p>Lalu kuitansi diberikan dgn rincian :<br \/>1. Biaya gali : Rp 1,5 juta<br \/>2. Biaya pikul : Rp 1 juta<br \/>3. Salib : Rp 300.000<br \/>Total : Rp 2.800.000,-<\/p>\n<p>Saya katakan : &#8220;siapa tahu saya perlu kontak bapak untuk melihat kuburan papa saya di tpu cikadut.&#8221; Diapun mencantumkan No HP nya.<\/p>\n<p><br \/>Sesudah dibawa ke liang lahat tim gali kubur bertanya sama saya yang pakai baju APD : &#8220;Bu., saya dengar ada 4 org _non muslim_ yg meninggal katanya ada yg belum bayar satu orang, apakah keluarga pak Binsar Tambunan yang belum bayar bu , maaf ya kalau tersinggung ?&#8221;<\/p>\n<p>Saya dan adikku bilang sudah dibayar di bawah pa di kantor. &#8220;Oh&#8230;.!&#8221; , kata tukang gali kubur yang pakai baju APD sambil mengucapkan terima kasih. Setelah selesai pemakaman bbrp tukang gali kubur yang pakai baju APD lain menyerbu adik saya dan saya meminta _tambahan uang_. Karena mereka perlu beli vitamin katanya . Adikku di datangi beberapa org gali kubur kecuali aku menghindar. Lalu terpaksa akhirnya dikeluarkan dana Rp 50.000 lagi selain membayar uang parkir Rp 10.000,-<\/p>\n<p><br \/>Demikian kisah saya yang sangat memilukan., setelah saya di timpa kemalangan papa saya , ternyata di TPU Covid-19 Cikadut Bandung ada praktek *Pungli* utk pemakaman yang meninggal, terutama Non Muslim. Apakah demikian peraturannya. Mohon pencerahan.<\/p>\n<p>Terlampir foto kwitansi, dan dokumen lainnya..<\/p>\n<p><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"58703\" data-permalink=\"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/petugas-pemakaman-minta-rp-4-juta-ke-keluarga-pasien-covid-19-non-muslim\/kuitansi_pemakaman\/\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/kuitansi_pemakaman.jpg?fit=716%2C528&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"716,528\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"kuitansi_pemakaman\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/kuitansi_pemakaman.jpg?fit=716%2C528&amp;ssl=1\" class=\"aligncenter size-full wp-image-58703\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/kuitansi_pemakaman.jpg?resize=716%2C528&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"716\" height=\"528\" \/><\/p>\n<p>Terima kasih<\/p>\n<p><br \/>Salam,<br \/>Yunita Tambunan<br \/>(Bandung)<\/p>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Perkenalkan, saya Yunita Tambunan., putri kandung dari Pak *Binsar Tambunan* (mama saya *Nelly br Sitorus* _alm_ ) &#8211; papa saya adalah Pensiunan Pegawai PT. KAI., tinggal di Jl. Teraso No. 15 Bandung. Papa meninggal karena Covid-19 di RS. Sentosa Bandung hari Selasa, 06 Juli 2021 pk. 10.30, dan dimakamkan ke TPU Khusus Covid-19 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":58703,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[194,484,485],"class_list":["post-58486","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-covid-19","tag-diskriminasi","tag-pungutan-liar"],"better_featured_image":{"id":58703,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/kuitansi_pemakaman.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/kuitansi_pemakaman.jpg?fit=716%2C528&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/kuitansi_pemakaman.jpg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/kuitansi_pemakaman.jpg?fit=716%2C528&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1003","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58486","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58486"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58486\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58703"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58486"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58486"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58486"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}