{"id":59161,"date":"2021-09-20T09:13:43","date_gmt":"2021-09-20T02:13:43","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=59161"},"modified":"2021-09-20T09:13:49","modified_gmt":"2021-09-20T02:13:49","slug":"pengamat-radikalisme-selalu-diawali-sikap-intoleran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/pengamat-radikalisme-selalu-diawali-sikap-intoleran\/","title":{"rendered":"Pengamat: Radikalisme Selalu Diawali Sikap Intoleran"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi menilai semua kegiatan radikalisme yang kemudian mengarah ke ekstrimisme lalu berbentuk terorisme selalu diawali sikap intoleransi. Dia menuturkan, intoleransi dengan radikalisme itu bukan irisan yang berbeda, tetapi saling menopang. &quot;Intoleransi itu lah yang membentuk radikalisme, kalau sudah terbentuk radikalisme, terbentuklah ekstrimisme, kalau ekstrimisme yang terbentuk kemudian berbentuk terorisme pada tataran terakhir nantinya, ini yang harus kita pahami dulu,&quot; ujar Islah Bahrawi. Maka itu, dia menilai pernyataan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud Md tidak salah mengungkapkan ada tiga kelompok atau tingkatan radikalisme yang masih ada di tanah air. Tiga kelompok itu adalah bentuknya intoleran, melakukan aksi teror dan dengan menyusup masuk ke dalam lembaga-lembaga di Indonesia. &quot;Jadi, memang pernyataan Pak Mahfud ini tidak ada salahnya, tapi sebenarnya intoleran dengan radikalisme ini adalah proses yang saling terkait dan bukanlah irisan yang berbeda memang,&quot; ungkapnya. Diakuinya bahwa radikalisme sudah menjadi polemik sejak dulu. Dia membeberkan definisi tentang radikalisme, ekstrimisme dan terorisme itu memang selalu simpang siur di seluruh dunia. Definisi versi Daniel Kohler dianggap berbeda dengan versi Syaikh Usamah, maupun Habib Ali Al-Jufri serta Scott Atran. &quot;Jadi memang ada beberapa permasalahan yang mendasar dari soal definisi, definisi ini pengaruhnya kemana, kepada proses pencegahan dan penindakan masing-masing negara terhadap radikalisme itu berbeda, nah kita saat ini memang jangan sampai terlambat seperti negara lain yang kurang sensitif terhadap radikalisme, karena radikalisme ini diawali dengan intoleran,&quot; pungkasnya.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi menilai semua kegiatan radikalisme yang kemudian mengarah ke ekstrimisme lalu berbentuk terorisme selalu diawali sikap intoleransi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia menuturkan, intoleransi dengan radikalisme itu bukan irisan yang berbeda, tetapi saling menopang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Intoleransi itu lah yang membentuk radikalisme, kalau sudah terbentuk radikalisme, terbentuklah ekstrimisme, kalau ekstrimisme yang terbentuk kemudian berbentuk terorisme pada tataran terakhir nantinya, ini yang harus kita pahami dulu,&#8221; ujar Islah Bahrawi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"59515\" data-permalink=\"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/pengamat-radikalisme-selalu-diawali-sikap-intoleran\/demi-nkri-demi-kemanusiaan\/\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/demi-nkri-demi-kemanusiaan.jpg?fit=1280%2C720&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"1280,720\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"demi-nkri-demi-kemanusiaan\" data-image-description=\"\" data-image-caption=\"\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/demi-nkri-demi-kemanusiaan.jpg?fit=1024%2C576&amp;ssl=1\" class=\"aligncenter size-large wp-image-59515\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/demi-nkri-demi-kemanusiaan.jpg?resize=1024%2C576&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"576\" \/><br \/>\nMaka itu, dia menilai pernyataan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud Md tidak salah mengungkapkan ada tiga kelompok atau tingkatan radikalisme yang masih ada di tanah air. Tiga kelompok itu adalah bentuknya intoleran, melakukan aksi teror dan dengan menyusup masuk ke dalam lembaga-lembaga di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jadi, memang pernyataan Pak Mahfud ini tidak ada salahnya, tapi sebenarnya intoleran dengan radikalisme ini adalah proses yang saling terkait dan bukanlah irisan yang berbeda memang,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diakuinya bahwa radikalisme sudah menjadi polemik sejak dulu. Dia membeberkan definisi tentang radikalisme, ekstrimisme dan terorisme itu memang selalu simpang siur di seluruh dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Definisi versi Daniel Kohler dianggap berbeda dengan versi Syaikh Usamah, maupun Habib Ali Al-Jufri serta Scott Atran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jadi memang ada beberapa permasalahan yang mendasar dari soal definisi, definisi ini pengaruhnya kemana, kepada proses pencegahan dan penindakan masing-masing negara terhadap radikalisme itu berbeda, nah kita saat ini memang jangan sampai terlambat seperti negara lain yang kurang sensitif terhadap radikalisme, karena radikalisme ini diawali dengan intoleran,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi menilai semua kegiatan radikalisme yang kemudian mengarah ke ekstrimisme lalu berbentuk terorisme selalu diawali sikap intoleransi. Dia menuturkan, intoleransi dengan radikalisme itu bukan irisan yang berbeda, tetapi saling menopang. &#8220;Intoleransi itu lah yang membentuk radikalisme, kalau sudah terbentuk radikalisme, terbentuklah ekstrimisme, kalau ekstrimisme yang terbentuk kemudian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":59515,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"liputan6","source_url":"https:\/\/www.liputan6.com\/news\/read\/4438364\/pengamat-radikalisme-selalu-diawali-sikap-intoleran","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[178,209,7],"class_list":["post-59161","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-intoleransi","tag-radikalisme","tag-terorisme"],"better_featured_image":{"id":59515,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/demi-nkri-demi-kemanusiaan.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/demi-nkri-demi-kemanusiaan.jpg?fit=768%2C432&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/demi-nkri-demi-kemanusiaan.jpg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/demi-nkri-demi-kemanusiaan.jpg?fit=1280%2C720&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1308","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59161","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59161"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59161\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59515"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59161"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59161"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59161"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}