{"id":59203,"date":"2021-08-26T14:04:23","date_gmt":"2021-08-26T07:04:23","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=59203"},"modified":"2021-08-26T14:04:31","modified_gmt":"2021-08-26T07:04:31","slug":"bima-ungkap-ada-kementerian-ganggu-penyelesaian-gki-yasmin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/bima-ungkap-ada-kementerian-ganggu-penyelesaian-gki-yasmin\/","title":{"rendered":"Bima Ungkap Ada Kementerian Ganggu Penyelesaian GKI Yasmin"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Wali Kota Bogor Bima Arya\u00a0mengatakan persoalan pendirian Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin sebenarnya hampir selesai dua tahun lalu. Namun, permasalahan menjadi bertambah panjang saat proses penyelesaian itu terganggu oleh salah satu kementerian. Kata dia, kementerian itu justru menambah persoalan karena melakukan pendekatan secara formalistik. &quot;Jadi sempat sekitar dua tahun lalu konflik itu sebetulnya sudah mendekati penyelesaian,&quot; kata Bima dalam webinar Memperkokoh Jembatan kebangsaan: Belajar Mediasi Konflik dari Pengalaman Jusuf Kalla, Kamis (19\/8). Bima tidak menjelaskan kementerian yang dimaksud. Akan tetapi, menurut Bima, kementerian tersebut melakukan pendekatan dengan cara yang kaku dan birokratis dalam penyelesaian konflik GKI Yasmin. Dia bercerita, kementerian tersebut mengundang kedua belah pihak yang berkonflik untuk bertemu secara langsung dalam satu ruangan. &quot;Dan terbuka lagi luka lama dan sebagainya,&quot; kata Bima. Bima mengatakan perwakilan yang datang dalam undangan kementerian itu justru bukan dari Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). &quot;Jadi yang datang bukan teman-teman dari gereja tapi teman-teman golf. Karena pendekatannya sangat formalistik tadi dan ini membuat kami geregetan,&quot; kata Bima. Padahal, kata Bima, saat itu Pemkot Bogor sedang menjalin komunikasi dan berdiskusi dengan kedua pihak secara intens. Dalam upaya penyelesaian itu, kata Bima, Pemkot Bogor turun ke lapangan, menjalin komunikasi dengan tokoh agama di masjid terdekat, ketua RT, hingga Pimpinan Pusat Muhammadiyah. &quot;Ketika ada intervensi dari kekuasaan dengan tatanan formal, pendekatan yang kaku, birokratik ya, menjadi buyar kembali,&quot; tambahnya. Meski demikian, pada akhirnya Pemkot Bogor dan beberapa pihak yang terlibat konflik menyepakati solusi final. Pemkot Bogor menerbitkan izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk GKI Yasmin dua minggu lalu. Pada 8 Agustus 2021, Bima mengatakan dengan terbitnya IMB tersebut, pengurus sudah bisa membangun GKI Yasmin Kisruh pemberian IMB GKI Yasmin berlangsung setelah 15 tahun pembangunan GKI Yasmin disengketakan. Kisruh berawal saat 19 Juli 2006 Pemerintah Kota Bogor menerbitkan IMB Nomor: 645.8-372\/2006 untuk pembangunan rumah ibadah atas nama GKI Pengadilan (Yasmin). IMB itu diberikan di lahan yang terletak di jalan K.H Abdullah Bin Nuh nomor 31, Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Namun, warga setempat menolak pembangunan karena menduga ada pemalsuan persetujuan warga.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Wali Kota Bogor <strong>Bima Arya<\/strong>\u00a0mengatakan persoalan pendirian Gereja Kristen Indonesia <strong>(GKI) Yasmin<\/strong> sebenarnya hampir selesai dua tahun lalu. Namun, permasalahan menjadi bertambah panjang saat proses penyelesaian itu terganggu oleh salah satu kementerian.<\/p>\n<div id=\"detikdetailtext\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Kata dia, kementerian itu justru menambah persoalan karena melakukan pendekatan secara formalistik.<\/p>\n<p>&#8220;Jadi sempat sekitar dua tahun lalu konflik itu sebetulnya sudah mendekati penyelesaian,&#8221; kata Bima dalam webinar Memperkokoh Jembatan kebangsaan: Belajar Mediasi Konflik dari Pengalaman Jusuf Kalla, Kamis (19\/8).<\/p>\n<p>Bima tidak menjelaskan kementerian yang dimaksud. Akan tetapi, menurut Bima, kementerian tersebut melakukan pendekatan dengan cara yang kaku dan birokratis dalam penyelesaian konflik GKI Yasmin.<\/p>\n<p>Dia bercerita, kementerian tersebut mengundang kedua belah pihak yang berkonflik untuk bertemu secara langsung dalam satu ruangan.<\/p>\n<p>&#8220;Dan terbuka lagi luka lama dan sebagainya,&#8221; kata Bima.<\/p>\n<p>Bima mengatakan perwakilan yang datang dalam undangan kementerian itu justru bukan dari Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI).<\/p>\n<p>&#8220;Jadi yang datang bukan teman-teman dari gereja tapi teman-teman golf. Karena pendekatannya sangat formalistik tadi dan ini membuat kami geregetan,&#8221; kata Bima.<\/p>\n<p>Padahal, kata Bima, saat itu Pemkot Bogor sedang menjalin komunikasi dan berdiskusi dengan kedua pihak secara intens.<\/p>\n<p>Dalam upaya penyelesaian itu, kata Bima, Pemkot Bogor turun ke lapangan, menjalin komunikasi dengan tokoh agama di masjid terdekat, ketua RT, hingga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.<\/p>\n<p>&#8220;Ketika ada intervensi dari kekuasaan dengan tatanan formal, pendekatan yang kaku, birokratik ya, menjadi buyar kembali,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>Meski demikian, pada akhirnya Pemkot Bogor dan beberapa pihak yang terlibat konflik menyepakati solusi final. Pemkot Bogor menerbitkan izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk GKI Yasmin dua minggu lalu.<\/p>\n<p>Pada 8 Agustus 2021, Bima mengatakan dengan terbitnya IMB tersebut, pengurus sudah bisa membangun GKI Yasmin<\/p>\n<p>Kisruh pemberian IMB GKI Yasmin berlangsung setelah 15 tahun pembangunan GKI Yasmin disengketakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kisruh berawal saat 19 Juli 2006 Pemerintah Kota Bogor menerbitkan IMB Nomor: 645.8-372\/2006 untuk pembangunan rumah ibadah atas nama GKI Pengadilan (Yasmin). IMB itu diberikan di lahan yang terletak di jalan K.H Abdullah Bin Nuh nomor 31, Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Namun, warga setempat menolak pembangunan karena menduga ada pemalsuan persetujuan warga.<b> <\/b><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Wali Kota Bogor Bima Arya\u00a0mengatakan persoalan pendirian Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin sebenarnya hampir selesai dua tahun lalu. Namun, permasalahan menjadi bertambah panjang saat proses penyelesaian itu terganggu oleh salah satu kementerian. Kata dia, kementerian itu justru menambah persoalan karena melakukan pendekatan secara formalistik. &#8220;Jadi sempat sekitar dua tahun lalu konflik itu sebetulnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":59204,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"CNN","source_url":"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20210819151649-20-682507\/bima-ungkap-ada-kementerian-ganggu-penyelesaian-gki-yasmin","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[471],"class_list":["post-59203","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-gki-yasmin"],"better_featured_image":{"id":59204,"alt_text":"","caption":"","description":"ac37f08d5ec61b6f8275fff8f8b954f6","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/bima-ungkap-ada-kementerian-ganggu-penyelesaian-gki-yasmin_612072fe6156b.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/bima-ungkap-ada-kementerian-ganggu-penyelesaian-gki-yasmin_612072fe6156b.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/bima-ungkap-ada-kementerian-ganggu-penyelesaian-gki-yasmin_612072fe6156b.jpeg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/bima-ungkap-ada-kementerian-ganggu-penyelesaian-gki-yasmin_612072fe6156b.jpeg?fit=650%2C366&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"54606","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59203","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59203"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59203\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59204"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59203"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59203"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59203"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}