{"id":59289,"date":"2021-09-03T08:33:42","date_gmt":"2021-09-03T01:33:42","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=59289"},"modified":"2021-09-03T08:33:51","modified_gmt":"2021-09-03T01:33:51","slug":"deretan-gereja-gereja-bersejarah-di-dki-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/deretan-gereja-gereja-bersejarah-di-dki-jakarta\/","title":{"rendered":"Deretan Gereja-Gereja Bersejarah di DKI Jakarta"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Sebagai bekas pusat pemerintahan Hindia Belanda dan Portugis, Jakarta memiliki beberapa gedung bersejarah. Salah satu gedung-gedung bersejarah yang ada di Jakarta adalah bangunan\u00a0gereja. Bangunan gereja ini menjadi simbol kekristenan dan penyebaran agama Kristen di Indonesia pada saat itu. Di\u00a0Jakarta\u00a0sendiri setidaknya ada beberapa gereja yang merupakan peninggalan abad 18 dan abad 19. Gereja tertua di wilayah Jakarta adalah Gereja Sion dan Gereja Tugu. Berikut ini adalah deretan gereja tua nan bersejarah di Jakarta: Gereja Tugu Gereja tugu dibangun tahun 1676 dan selesai tahun 1678. Gereja ini merupakan peninggalan orang Portugis dan memili luas hingga 1,5 hekatre. Gereja ini beberapa kali mengalami renovasi karena kerusakan dan mengalami kehancuran. Gereja ini bertempat di Kampung Tugu, Jakarta Utara \u00a0Gereja Tugu, di Kampung Tugu, Jakarta. TEMPO\/Arif Fadillah Gereja Sion Gereja ini bertembok putih dan beratapkan genteng merah. Gereja ini berlokasi di Jalan Pangeran Jayakarta dan memiliki 11 makan kuno. Pada awalnya, gereja ini dibangun sebagai tempat ibadah [ara tawanan Portugis yang dibawa dari Malaya dan India. \u00a0Seorang warga melintasi gereja Sion yang berumur 318 tahun di Pangeran Jayakarta, Jakarta (09\/05). Gereja ini dibangun bangsa Portugis. (TEMPO\/Yosep Arkian) Gereja Santa Maria de Fatima Gereja Santa Maria de Fatima di wilayah Glodok merupakan gedung gereja yang bergaya oriental. Bangunan gedung gerja ini mirip dengan arsitektur Tiongkok, khas Fukien. Misa yang dialkukan dalam gereja ini dilangsungkan dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Mandarin. \u00a0Gereja Katolik Santa Maria De Fatima di Glodok, Jakarta. (ANTARA News) Gereja Pniel atau Gereja Ayam Gereja ini disebut Gereja Ayam karena pada bagaian atap gereja terdapat sebuah arah mata angin yang berbentuk ayam. Gereja ini dibangun tahun 1913 dan memiliki perpaduan arsitektur khas Portugis dan Italia. Lokasinya ada di Jalan Samanhudi, Pasar Baru. Gereja\u00a0Immanuel Gereja yang terletak di seberang Stasiun Gambir merupakan salah satu gereja beraliran Calvinis peninggalan Belanda. Gereja ini dibangun tahun 1845 dan memiliki pilar khas yang sangat besar. \u00a0Gereja Immanuel di Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir. TEMPO\/Subekti EIBEN HEIZIER\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Sebagai bekas pusat pemerintahan Hindia Belanda dan Portugis, Jakarta memiliki beberapa gedung bersejarah. Salah satu gedung-gedung bersejarah yang ada di Jakarta adalah bangunan\u00a0gereja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bangunan gereja ini menjadi simbol kekristenan dan penyebaran agama Kristen di Indonesia pada saat itu. Di\u00a0Jakarta\u00a0sendiri setidaknya ada beberapa gereja yang merupakan peninggalan abad 18 dan abad 19. Gereja tertua di wilayah Jakarta adalah Gereja Sion dan Gereja Tugu. Berikut ini adalah deretan gereja tua nan bersejarah di Jakarta:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Gereja Tugu<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja tugu dibangun tahun 1676 dan selesai tahun 1678. Gereja ini merupakan peninggalan orang Portugis dan memili luas hingga 1,5 hekatre. Gereja ini beberapa kali mengalami renovasi karena kerusakan dan mengalami kehancuran. Gereja ini bertempat di Kampung Tugu, Jakarta Utara<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.tmpo.co\/data\/2011\/12\/25\/id_100345\/100345_650.jpg?ssl=1\"  \/><small>Gereja Tugu, di Kampung Tugu, Jakarta. TEMPO\/Arif Fadillah<\/small><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"2\">\n<li><strong>Gereja Sion<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja ini bertembok putih dan beratapkan genteng merah. Gereja ini berlokasi di Jalan Pangeran Jayakarta dan memiliki 11 makan kuno. Pada awalnya, gereja ini dibangun sebagai tempat ibadah [ara tawanan Portugis yang dibawa dari Malaya dan India.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.tmpo.co\/data\/2013\/05\/11\/id_183712\/183712_650.jpg?ssl=1\"  \/><small>Seorang warga melintasi gereja Sion yang berumur 318 tahun di Pangeran Jayakarta, Jakarta (09\/05). Gereja ini dibangun bangsa Portugis. (TEMPO\/Yosep Arkian)<\/small><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"3\">\n<li><strong>Gereja Santa Maria de Fatima<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja Santa Maria de Fatima di wilayah Glodok merupakan gedung gereja yang bergaya oriental. Bangunan gedung gerja ini mirip dengan arsitektur Tiongkok, khas Fukien. Misa yang dialkukan dalam gereja ini dilangsungkan dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Mandarin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.tmpo.co\/data\/2019\/02\/06\/id_817369\/817369_720.jpg?ssl=1\"  \/><small>Gereja Katolik Santa Maria De Fatima di Glodok, Jakarta. (ANTARA News)<\/small><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"4\">\n<li><strong>Gereja Pniel atau Gereja Ayam<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja ini disebut Gereja Ayam karena pada bagaian atap gereja terdapat sebuah arah mata angin yang berbentuk ayam. Gereja ini dibangun tahun 1913 dan memiliki perpaduan arsitektur khas Portugis dan Italia. Lokasinya ada di Jalan Samanhudi, Pasar Baru.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"5\">\n<li><strong>Gereja\u00a0<\/strong><strong>Immanue<\/strong>l<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja yang terletak di seberang Stasiun Gambir merupakan salah satu gereja beraliran Calvinis peninggalan Belanda. Gereja ini dibangun tahun 1845 dan memiliki pilar khas yang sangat besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/cdn.tmpo.co\/data\/2013\/12\/10\/id_245265\/245265_650.jpg?ssl=1\"  \/><small>Gereja Immanuel di Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir. TEMPO\/Subekti<\/small><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>EIBEN HEIZIER<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Sebagai bekas pusat pemerintahan Hindia Belanda dan Portugis, Jakarta memiliki beberapa gedung bersejarah. Salah satu gedung-gedung bersejarah yang ada di Jakarta adalah bangunan\u00a0gereja. Bangunan gereja ini menjadi simbol kekristenan dan penyebaran agama Kristen di Indonesia pada saat itu. Di\u00a0Jakarta\u00a0sendiri setidaknya ada beberapa gereja yang merupakan peninggalan abad 18 dan abad 19. Gereja tertua [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":59349,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"Tempo","source_url":"https:\/\/metro.tempo.co\/read\/1500614\/deretan-gereja-gereja-bersejarah-di-dki-jakarta\/","via_name":"","via_url":"","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":"109"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,109],"tags":[],"class_list":["post-59289","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-site"],"better_featured_image":{"id":59349,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/gereja_immanuel_jakarta.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/gereja_immanuel_jakarta.jpg?fit=650%2C372&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/gereja_immanuel_jakarta.jpg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":109,"name":"Situs Bersejarah","description":"","slug":"site","count":30,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/gereja_immanuel_jakarta.jpg?fit=650%2C372&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1790","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59289","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59289"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59289\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59349"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59289"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59289"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59289"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}