{"id":61374,"date":"2022-06-01T10:52:59","date_gmt":"2022-06-01T03:52:59","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=61374"},"modified":"2022-06-01T10:52:59","modified_gmt":"2022-06-01T03:52:59","slug":"kritik-ngaji-di-trotoar-eko-kuntadhi-bandingkan-kasus-larangan-bangun-gereja-di-cilegon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kritik-ngaji-di-trotoar-eko-kuntadhi-bandingkan-kasus-larangan-bangun-gereja-di-cilegon\/","title":{"rendered":"Kritik Ngaji di Trotoar, Eko Kuntadhi Bandingkan Kasus Larangan Bangun Gereja di Cilegon"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id -\u00a0 Pegiat media sosial Eko Kuntadhi mengritik aksi ibadah di trotoar. Di sisi lain ia juga membandingkan aksi tersebut dengan kasus pelarangan pembangunan gereja di Cilegon. &quot;Yang punya banyak rumah ibadah, memilih rendah hati. Ibadah di trotoar. Berkelindan dengan pejalan kaki. Yang susah bangun rumah ibadah, memilih ngelus dada. Mau ibadah di rumah sendiri saja takut digeruduk,&quot; kata Eko Kuntadhi melalui akun Twitternya. &quot;Tuhan meminta kami untuk rahmatan lil alamin, katanya,&quot; imbuh Eko Kuntadhi sambil mengunggah poster seruan aksi massa penolakan pembangunan gereja di Cilegon. Dalam poster tersebut, tertulis Masyarakat Banten Bersatu (MBB) sebagai penyebarnya. Sebelumnya diberitakan, di sosial media beredar video aksi masyarakat Kota Cilegon yang melakukan pembongkaran pagar yang terbuat dari bahan seng yang menutupi area lahan, pada malam Senin, (18\/4\/2022) . Dalam rekaman video tersebut, disebutkan aksi ini merupakan bentuk penolakan masyarakat atas rencana dibangunnya Rumah Ibadah Gereja di lokasi tersebut. Menurut info, lahan yang ditutupi pagar seng berlokasi di Lingkungan Sumur Wuluh, Cikuasa, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon itu akan dibangun gereja dari Jemaat Kristen HKBP. &quot;Pembongkaran pagar yang rencana besok akan dilaksanakan peletakan batu pertama pembuatan gereja,&quot; ujar warga dalam video tersebut. &quot;Kita dari dua Lingkungan di Sumur Wuluh membongkar pagar untuk menolak pembangunan gereja HKBP,&quot; pungkasnya. Hingga video ini menyebar, belum ada informasi sikap dan tindakan dari aparat pemerintah setempat maupun penegak hukum terkait penyelesaian masalah tersebut.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211;\u00a0 Pegiat media sosial Eko Kuntadhi mengritik aksi ibadah di trotoar. Di sisi lain ia juga membandingkan aksi tersebut dengan kasus pelarangan pembangunan gereja di Cilegon.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Yang punya banyak rumah ibadah, memilih rendah hati. Ibadah di trotoar. Berkelindan dengan pejalan kaki. Yang susah bangun rumah ibadah, memilih ngelus dada. Mau ibadah di rumah sendiri saja takut digeruduk,&#8221; kata Eko Kuntadhi melalui akun Twitternya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tuhan meminta kami untuk rahmatan lil alamin, katanya,&#8221; imbuh Eko Kuntadhi sambil mengunggah poster seruan aksi massa penolakan pembangunan gereja di Cilegon. Dalam poster tersebut, tertulis Masyarakat Banten Bersatu (MBB) sebagai penyebarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelumnya diberitakan, di sosial media beredar video aksi masyarakat Kota Cilegon yang melakukan pembongkaran pagar yang terbuat dari bahan seng yang menutupi area lahan, pada malam Senin, (18\/4\/2022) .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam rekaman video tersebut, disebutkan aksi ini merupakan bentuk penolakan masyarakat atas rencana dibangunnya Rumah Ibadah Gereja di lokasi tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut info, lahan yang ditutupi pagar seng berlokasi di Lingkungan Sumur Wuluh, Cikuasa, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon itu akan dibangun gereja dari Jemaat Kristen HKBP.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pembongkaran pagar yang rencana besok akan dilaksanakan peletakan batu pertama pembuatan gereja,&#8221; ujar warga dalam video tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kita dari dua Lingkungan di Sumur Wuluh membongkar pagar untuk menolak pembangunan gereja HKBP,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hingga video ini menyebar, belum ada informasi sikap dan tindakan dari aparat pemerintah setempat maupun penegak hukum terkait penyelesaian masalah tersebut.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211;\u00a0 Pegiat media sosial Eko Kuntadhi mengritik aksi ibadah di trotoar. Di sisi lain ia juga membandingkan aksi tersebut dengan kasus pelarangan pembangunan gereja di Cilegon. &#8220;Yang punya banyak rumah ibadah, memilih rendah hati. Ibadah di trotoar. Berkelindan dengan pejalan kaki. Yang susah bangun rumah ibadah, memilih ngelus dada. Mau ibadah di rumah sendiri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61911,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"5"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,14,3],"tags":[],"class_list":["post-61374","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-kebangsaan","category-umum"],"better_featured_image":{"id":61911,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/eko-kuntadhi-twitter.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/eko-kuntadhi-twitter.jpg?fit=768%2C363&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/eko-kuntadhi-twitter.jpg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/eko-kuntadhi-twitter.jpg?fit=1136%2C537&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"965","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61374","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61374"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61374\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61911"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61374"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61374"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61374"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}