{"id":61386,"date":"2022-06-01T10:23:32","date_gmt":"2022-06-01T03:23:32","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=61386"},"modified":"2022-06-01T10:23:39","modified_gmt":"2022-06-01T03:23:39","slug":"gereja-gereja-yang-tak-memiliki-kuasa-telah-menghasilkan-bangsa-yang-jahat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/gereja-gereja-yang-tak-memiliki-kuasa-telah-menghasilkan-bangsa-yang-jahat\/","title":{"rendered":"Gereja-Gereja yang Tak Memiliki Kuasa Telah Menghasilkan Bangsa yang Jahat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Masalah mendasar bagi Amerika bukanlah rasisme sistemik; melainkan adalah kejahatan yang sistemik. Dan kami yakin bahwa akar masalahnya ada pada gereja-gereja di negara ini yang korup, duniawi, dan suam-suam kuku. Itu adalah akar masalah di komunitas-komunitas kulit hitam dan di semua komunitas. \u201cSecara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!\u201d (2 Tim. 3:5). \u201cNamun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat\u201d (Wahyu 2:4-5). Karena jemaat adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim. 3:15), jemaat Perjanjian Baru adalah institusi paling penting di muka bumi ini. Kebutuhan terbesar dalam setiap komunitas dan setiap bangsa adalah gereja-gereja Perjanjian Baru. Tidak ada yang dapat menggantikannya. Tetapi, sesuai dengan penggenapan nubuat Alkitab, mayoritas besar gereja-gereja hari ini sudah sesat total. Saya memaksudkan Roma Katolik, Ortodoks Yunani, Unitarian, Advent Hari Ketujuh, Saksi Yehovah, Mormon, World Council of Churches dan semua yang berafiliasi di dalamnya, dan banyak lagi lainnya. Bagaimana dengan kaum \u201cInjili\u201d? Kebanyakannya sudah terkhamiri oleh ragi keduniawian rock &amp; roll dan budaya liberalisme (mereka bersahabat dan menjadi serupa dengan dunia, yang adalah perzinahan rohani), kharismatikisme dan mistikisme kontemplatif, versi-versi \u201cAlkitab\u201d yang kacau (misal: The Message, the New Living, the Good News), versi-versi Alkitab yang secara tekstual sudah korup (misal: NIV, ESV), theologi \u201ckingdom now\u201d, Injil keadilan sosial, positivisme, dan sikap \u201ctidak boleh menghakimi.\u201d Mereka telah menolak \u201cseparation\u201d walaupun ini adalah pengajaran yang jelas dalam Alkitab. Tetapi bagaimana dengan kaum \u201cfundamentalis\u201d? Dengan tinggal beberapa pengecualian saja, kebanyakan gereja-gereja fundamentalis yang non-denominasi, hari ini sudah Injili Baru. Peperangan sudah tidak ada lagi; garis-garis tempur sudah bergeser. Yang tadinya lantang sudah menjadi diam. Yang kudus telah menjadi duniawi. Pendirian teguh untuk kebenaran Firman Tuhan yang tadinya hitam putih, sekarang sudah mengabur menjadi abu-abunya kaum injili baru. Jadi, yang tersisa adalah kaum Baptis fundamentalis. Tetapi mereka ini, juga, secara umum, sedang berubah menjadi suatu versi Injili baru yang tidak tegas namun dengan \u201crasa Baptis.\u201d Dan, kebanyakannya, dalam pengalaman kami, hampir-hampir tidak punya kuasa apapun. Mereka bisa saja masih memakai Alkitab yang benar dan sehat dalam doktrin dan bahwa ada kata \u201cseparation\u201d dalam perjanjian gereja mereka dan masih berpegang pada musik yang kudus. Tetapi mereka dengan sangat menyedihkannya, tidak memiliki kuasa. Seorang pengkhotbah yang sudah tua, yang mendirikan dan menggembalakan sebuah gereja besar dengan Sekolah Alkitabnya dan telah berkhotbah di ratusan gereja, berkata: \u201cSaya yakin bahwa tidak ada 50 gereja di Amerika yang saya bisa bergabung ke dalamnya, dan ini saya masih lebihkan angkanya. Bahkan banyak gembala sidang yang memiliki standar musik dan pakaian yang bagus, sikapnya lemah dan tidak mau \u2018menggoyangkan perahu\u2019 untuk hal apapun. Ini sungguh zaman yang sedih. Kebanyakan gereja yang saya akan rekomendasikan adalah usaha-usaha baru yang digembalakan oleh orang-orang muda.\u201d Perhatikan tes yng sederhana ini. Berapa banyak gereja di Amerika (Editor: atau Indonesia), yang dapat lulus dari tes yang alkitabiah ini, dan sebenarnya tes ini masih bisa diperlebar lagi. (1) tes pertobatan. Berapa banyak gereja yang memiliki kuasa kelahiran kembali? Begitu banyak gereja yang \u201cpercaya Alkitab\u201d yang menyaksikan sangat sedikit pertobatan yang alkitabiah yang mengubah hidup dan membuat seseorang \u201cberbalik dan berjalan ke arah sebaliknya.\u201d Jika ada yang dibaptis, biasanya adalah anak-anak jemaat lama, yang ketika mereka dewasa penuh, akhirnya langsung nyemplung ke dunia, toh membuktikan bahwa mereka tidak sungguh bertobat. (2) tes keluarga. Berapa banyak gereja yang memiliki kuasa untuk membangun keluarga-keluarga yang saleh? Suatu gereja Perjanjian Baru ditugaskan untuk membangun keluarga-keluarga yang saleh yang bisa menghasilkan keturunan-keturunan yang saleh bagi Kristus. Namun begitu banyak gereja-gereja yang katanya \u201cpercaya Alkitab\u201d yang tidak memiliki kuasa untuk membuat para ayah menjadi pemimpin rohani dalam rumah mereka dan para ibu menjadi penjaga rohani dan pengurus di keluarga mereka. Lihatlah karakter duniawi di rumah-rumah Kristen. Lihatlah pada entertainment dan media sosial yang diasup, percakapan yang terjadi, dan prioritas di rumah itu. Keluarga-keluarga ini adalah produk dari gereja-gereja. (3) tes pemuridan. Berapa banyak gereja yang memiliki kuasa untuk menghasilkan murid-murid sejati dari Yesus Kristus? Firman Allah dengan jelas menyatakan bahwa setiap anggota jemaat haruslah diperlengkapi untuk melakukan segala yang Kristus telah perintahkan dan dipimpin kepada kesempurnaan dalam Kristus (Mat. 28:20; Kol. 1:28). Ini adalah tugas pekerjaan suatu gereja Perjanjian Baru, dan jika sebuah gereja tidak dmampu melakukan apa yang Kristus telah perintahkan, maka ada sesuatu yang secara mendasar sangat salah. Di manakah gereja-gereja yang serius melakukan hal ini dan di mana hal ini secara efektif terjadi? (4) tes kemampuan Alkitab. Berapa banyak gereja yang memiliki kuasa untuk menghasilkan pelajar-pelajar Alkitab yang bersemangat dan berkemampuan? Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa setiap orang kudus haruslah terlatih dalam Kitab Suci, baik dalam kemampuan menggunakannya dan juga dalam mengaplikasikannya kehidupan setiap hari, sehingga dia memiliki pola pikir menguji dengan Alkitab (Ibr. 5:12-14). (5) tes anak-anak muda. Berapa banyak gereja yang memiliki kuasa untuk memenangkan hati anak-anak muda bagi Kristus dan kekudusan? Anak-anak muda ada produk dari gereja dan keluarga; keduanya tidak bisa lari dari tanggung jawab. Saya sering bertanya kepada para gembala: \u201cBerapa banyak orang muda yang berapi-api bagi Tuhan? Apakah mereka semangat untuk menjadi pelajar Alkitab yang mumpuni? Apakah mereka berserah untuk mencari kehendak Tuhan ang sempurna sesuai standar Roma 12?\u201d Gereja-gereja yang tak memiliki kuasa telah menghasilkan bangsa yang jahat. Sumber: www.wayoflife.org\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Masalah mendasar bagi Amerika bukanlah rasisme sistemik; melainkan adalah kejahatan yang sistemik. Dan kami yakin bahwa akar masalahnya ada pada gereja-gereja di negara ini yang korup, duniawi, dan suam-suam kuku. Itu adalah akar masalah di komunitas-komunitas kulit hitam dan di semua komunitas. \u201cSecara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!\u201d (2 Tim. 3:5). \u201cNamun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat\u201d (Wahyu 2:4-5). Karena jemaat adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim. 3:15), jemaat Perjanjian Baru adalah institusi paling penting di muka bumi ini. Kebutuhan terbesar dalam setiap komunitas dan setiap bangsa adalah gereja-gereja Perjanjian Baru. Tidak ada yang dapat menggantikannya. Tetapi, sesuai dengan penggenapan nubuat Alkitab, mayoritas besar gereja-gereja hari ini sudah sesat total. Saya memaksudkan Roma Katolik, Ortodoks Yunani, Unitarian, Advent Hari Ketujuh, Saksi Yehovah, Mormon, World Council of Churches dan semua yang berafiliasi di dalamnya, dan banyak lagi lainnya. Bagaimana dengan kaum \u201cInjili\u201d? Kebanyakannya sudah terkhamiri oleh ragi keduniawian rock &amp; roll dan budaya liberalisme (mereka bersahabat dan menjadi serupa dengan dunia, yang adalah perzinahan rohani), kharismatikisme dan mistikisme kontemplatif, versi-versi \u201cAlkitab\u201d yang kacau (misal: The Message, the New Living, the Good News), versi-versi Alkitab yang secara tekstual sudah korup (misal: NIV, ESV), theologi \u201ckingdom now\u201d, Injil keadilan sosial, positivisme, dan sikap \u201ctidak boleh menghakimi.\u201d Mereka telah menolak \u201cseparation\u201d walaupun ini adalah pengajaran yang jelas dalam Alkitab. Tetapi bagaimana dengan kaum \u201cfundamentalis\u201d? Dengan tinggal beberapa pengecualian saja, kebanyakan gereja-gereja fundamentalis yang non-denominasi, hari ini sudah Injili Baru. Peperangan sudah tidak ada lagi; garis-garis tempur sudah bergeser. Yang tadinya lantang sudah menjadi diam. Yang kudus telah menjadi duniawi. Pendirian teguh untuk kebenaran Firman Tuhan yang tadinya hitam putih, sekarang sudah mengabur menjadi abu-abunya kaum injili baru. Jadi, yang tersisa adalah kaum Baptis fundamentalis. Tetapi mereka ini, juga, <i>secara umum<\/i>, sedang berubah menjadi suatu versi Injili baru yang tidak tegas namun dengan \u201crasa Baptis.\u201d Dan, kebanyakannya, dalam pengalaman kami, hampir-hampir tidak punya kuasa apapun. Mereka bisa saja masih memakai Alkitab yang benar dan sehat dalam doktrin dan bahwa ada kata \u201cseparation\u201d dalam perjanjian gereja mereka dan masih berpegang pada musik yang kudus. <i>Tetapi mereka dengan sangat menyedihkannya, tidak memiliki kuasa<\/i>. Seorang pengkhotbah yang sudah tua, yang mendirikan dan menggembalakan sebuah gereja besar dengan Sekolah Alkitabnya dan telah berkhotbah di ratusan gereja, berkata: \u201cSaya yakin bahwa tidak ada 50 gereja di Amerika yang saya bisa bergabung ke dalamnya, dan ini saya masih lebihkan angkanya. Bahkan banyak gembala sidang yang memiliki standar musik dan pakaian yang bagus, sikapnya lemah dan tidak mau \u2018menggoyangkan perahu\u2019 untuk hal apapun. Ini sungguh zaman yang sedih. Kebanyakan gereja yang saya akan rekomendasikan adalah usaha-usaha baru yang digembalakan oleh orang-orang muda.\u201d<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Perhatikan tes yng sederhana ini. Berapa banyak gereja di Amerika (Editor: atau Indonesia), yang dapat lulus dari tes yang alkitabiah ini, dan sebenarnya tes ini masih bisa diperlebar lagi. (1) tes pertobatan. Berapa banyak gereja yang memiliki kuasa kelahiran kembali? Begitu banyak gereja yang \u201cpercaya Alkitab\u201d yang menyaksikan sangat sedikit pertobatan yang alkitabiah yang mengubah hidup dan membuat seseorang \u201cberbalik dan berjalan ke arah sebaliknya.\u201d Jika ada yang dibaptis, biasanya adalah anak-anak jemaat lama, yang ketika mereka dewasa penuh, akhirnya langsung nyemplung ke dunia, toh membuktikan bahwa mereka tidak sungguh bertobat. (2) tes keluarga. Berapa banyak gereja yang memiliki kuasa untuk membangun keluarga-keluarga yang saleh? Suatu gereja Perjanjian Baru ditugaskan untuk membangun keluarga-keluarga yang saleh yang bisa menghasilkan keturunan-keturunan yang saleh bagi Kristus. Namun begitu banyak gereja-gereja yang katanya \u201cpercaya Alkitab\u201d yang tidak memiliki kuasa untuk membuat para ayah menjadi pemimpin rohani dalam rumah mereka dan para ibu menjadi penjaga rohani dan pengurus di keluarga mereka. Lihatlah karakter duniawi di rumah-rumah Kristen. Lihatlah pada entertainment dan media sosial yang diasup, percakapan yang terjadi, dan prioritas di rumah itu. Keluarga-keluarga ini adalah produk dari gereja-gereja. (3) tes pemuridan. Berapa banyak gereja yang memiliki kuasa untuk menghasilkan murid-murid sejati dari Yesus Kristus? Firman Allah dengan jelas menyatakan bahwa setiap anggota jemaat haruslah diperlengkapi untuk melakukan segala yang Kristus telah perintahkan dan dipimpin kepada kesempurnaan dalam Kristus (Mat. 28:20; Kol. 1:28). Ini adalah tugas pekerjaan suatu gereja Perjanjian Baru, dan jika sebuah gereja tidak dmampu melakukan apa yang Kristus telah perintahkan, maka ada sesuatu yang secara mendasar sangat salah. Di manakah gereja-gereja yang serius melakukan hal ini dan di mana hal ini secara efektif terjadi? (4) tes kemampuan Alkitab. Berapa banyak gereja yang memiliki kuasa untuk menghasilkan pelajar-pelajar Alkitab yang bersemangat dan berkemampuan? Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa setiap orang kudus haruslah terlatih dalam Kitab Suci, baik dalam kemampuan menggunakannya dan juga dalam mengaplikasikannya kehidupan setiap hari, sehingga dia memiliki pola pikir menguji dengan Alkitab (Ibr. 5:12-14). (5) tes anak-anak muda. Berapa banyak gereja yang memiliki kuasa untuk memenangkan hati anak-anak muda bagi Kristus dan kekudusan? Anak-anak muda ada produk dari gereja dan keluarga; keduanya tidak bisa lari dari tanggung jawab. Saya sering bertanya kepada para gembala: \u201cBerapa banyak orang muda yang berapi-api bagi Tuhan? Apakah mereka semangat untuk menjadi pelajar Alkitab yang mumpuni? Apakah mereka berserah untuk mencari kehendak Tuhan ang sempurna sesuai standar Roma 12?\u201d Gereja-gereja yang tak memiliki kuasa telah menghasilkan bangsa yang jahat.<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber: <a href=\"http:\/\/www.wayoflife.org\/\"><strong>www.<\/strong><strong>wayoflife<\/strong><strong>.org<\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Masalah mendasar bagi Amerika bukanlah rasisme sistemik; melainkan adalah kejahatan yang sistemik. Dan kami yakin bahwa akar masalahnya ada pada gereja-gereja di negara ini yang korup, duniawi, dan suam-suam kuku. Itu adalah akar masalah di komunitas-komunitas kulit hitam dan di semua komunitas. \u201cSecara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41678,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"5"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[71,5],"tags":[],"class_list":["post-61386","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-denominasi","category-gereja"],"better_featured_image":{"id":41678,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png?fit=768%2C726&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png"},"categories_detail":[{"id":71,"name":"Denominasi","description":"","slug":"denominasi","count":11,"parent":0},{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png?fit=980%2C926&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1120","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61386","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61386"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61386\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61386"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61386"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61386"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}