{"id":61395,"date":"2022-05-22T16:29:04","date_gmt":"2022-05-22T09:29:04","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=61395"},"modified":"2022-05-22T16:29:17","modified_gmt":"2022-05-22T09:29:17","slug":"gereja-gereja-yang-lebih-menuruti-hawa-nafsu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/gereja-gereja-yang-lebih-menuruti-hawa-nafsu\/","title":{"rendered":"Gereja-Gereja yang Lebih Menuruti Hawa Nafsu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Nubuat Paulus tentang hari-hari terakhir di 2 Timotius 3 menggambarkan orang-orang yang sesat demikian: \u201clebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah\u201d (2 Tim. 3:4). Ini adalah gambaran yang sempurna dari masyarakat akhir zaman, yang sangat gila tentang hiburan dan mencari kesenangan diri. Tidak pernah sebelumnya ada kemakmuran ekonomi yang sedemikian dan tidak pernah sebelumnya ada begitu banyak cara mencari kesenangan. Bahkan kebanyakan orang yang mengaku Kristen, lebih menuruti hawa nafsu, kesenangan diri, daripada Allah. Ada memang kasih terhadap Allah, tetapi ada kasih yang lebih besar terhadap kesenangan. Untuk menguji hal ini, perhatikan masalah waktu. Berapa banyak waktu yang dihabiskan pada Allah dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan untuk kesenangan? Ujilah juga dengan uang, energi, dan antusiaisme. Begitu banyak orang Kristen, bahkan di gereja-gereja yang kuat mengajarkan Alkitab, yang sama gilanya terhadap sports dengan orang-orang sekuler. Muda-mudi Kristen sama mencintai video-game dan rock & roll dan hip hop dan film-film dewasa dan ekspresi diri di Facebook, dengan orang-orang sekuler. Perhatikan kalender aktivitas gereja pada umumnya, yang penuh dengan berbagai hiburan, bukan hanya untuk anak-anak dan muda-mudi, tetapi juga untuk para \u201cwarga senior.\u201d Ditaruh di atas program-program hiburan ini adalah sehelai tipis hal-hal ilahi. Perhatikan rata-rata keluarga Kristen yang mengaku Injili atau bahkan \u201cfundamentalis.\u201d Ada sedikit doa, sedikit Alkitab, sedikit penginjilan, sedikit pelayanan, mungkin, tetapi ada begitu banyak hawa nafsu. Ini dianggap sebagai kekristenan yang normal, tetapi sebenarnya adalah kesesatan. (wayoflife)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Nubuat Paulus tentang hari-hari terakhir di 2 Timotius 3 menggambarkan orang-orang yang sesat demikian: \u201clebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah\u201d (2 Tim. 3:4). Ini adalah gambaran yang sempurna dari masyarakat akhir zaman, yang sangat gila tentang hiburan dan mencari kesenangan diri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak pernah sebelumnya ada kemakmuran ekonomi yang sedemikian dan tidak pernah sebelumnya ada begitu banyak cara mencari kesenangan. Bahkan kebanyakan orang yang mengaku Kristen, lebih menuruti hawa nafsu, kesenangan diri, daripada Allah. Ada memang kasih terhadap Allah, tetapi ada kasih yang lebih besar terhadap kesenangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menguji hal ini, perhatikan masalah waktu. Berapa banyak waktu yang dihabiskan pada Allah dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan untuk kesenangan? Ujilah juga dengan uang, energi, dan antusiaisme.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitu banyak orang Kristen, bahkan di gereja-gereja yang kuat mengajarkan Alkitab, yang sama gilanya terhadap sports dengan orang-orang sekuler. Muda-mudi Kristen sama mencintai video-game dan rock &amp; roll dan hip hop dan film-film dewasa dan ekspresi diri di Facebook, dengan orang-orang sekuler.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perhatikan kalender aktivitas gereja pada umumnya, yang penuh dengan berbagai hiburan, bukan hanya untuk anak-anak dan muda-mudi, tetapi juga untuk para \u201cwarga senior.\u201d Ditaruh di atas program-program hiburan ini adalah sehelai tipis hal-hal ilahi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perhatikan rata-rata keluarga Kristen yang mengaku Injili atau bahkan \u201cfundamentalis.\u201d Ada <i>sedikit <\/i>doa, <i>sedikit<\/i> Alkitab, <i>sedikit<\/i> penginjilan<i>, sedikit<\/i> pelayanan, mungkin, tetapi ada <i>begitu banyak<\/i> hawa nafsu. Ini dianggap sebagai kekristenan yang normal, tetapi sebenarnya adalah kesesatan. <strong>(wayoflife)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Nubuat Paulus tentang hari-hari terakhir di 2 Timotius 3 menggambarkan orang-orang yang sesat demikian: \u201clebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah\u201d (2 Tim. 3:4). Ini adalah gambaran yang sempurna dari masyarakat akhir zaman, yang sangat gila tentang hiburan dan mencari kesenangan diri. Tidak pernah sebelumnya ada kemakmuran ekonomi yang sedemikian dan tidak pernah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":41678,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"5"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-61395","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja"],"better_featured_image":{"id":41678,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png?fit=768%2C726&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/gereja.png?fit=980%2C926&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"912","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61395","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61395"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61395\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61395"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61395"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61395"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}