{"id":61476,"date":"2022-06-05T15:57:20","date_gmt":"2022-06-05T08:57:20","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=61476"},"modified":"2022-06-05T15:57:42","modified_gmt":"2022-06-05T08:57:42","slug":"kecanduan-smartphone-media-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kecanduan-smartphone-media-sosial\/","title":{"rendered":"Kecanduan Smartphone \/ Media Sosial"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Berikut ini disadur dari \u201cYour smartphone is making you stupid, antisocial and unhealthy,\u201d The Globe and Mail, 10 Apr. 2018: \u201cJika kita telah kehilangan kendali atas hubungan kita dengan smartphone, maka itu memang sesuai dengan desainnya. Faktanya, model bisnis dari alat-alat ini memang mengharuskan demikian. Karena kebanyakan website dan app yang paling populer tidak memungut bayaran, maka internet ditopang secara finansial oleh banyaknya perhatian manusia. Jadi, semakin lama dan semakin sering kamu menghabiskan waktu menatapi Facebook atau Google, semakin banyak jumlah uang yang bisa mereka tarik dari para pengiklan. Untuk memastikan bahwa mata kita tetap terpatri ke layar kita, yaitu smartphone kita \u2013 dan dunia-dunia digital yang tersambung dengannya \u2013 para raksasa internet telah menjadi sangat jago dalam meyakinkan, memanggil-manggil kita untuk mengecek mereka lagi dan lagi \u2013 dan untuk waktu yang lebih lama dari yang kita maksudkan. Para pemakai rata-rata mengecek telepon mereka sekitar 150 kali sehari, menurut beberapa perkiraan, dan itu sekitar dua kali lebih banyak dari estimasi mereka sendiri, menurut sebuah studi tahun 2015 yang dilakukan oleh psikolog-psikolog Inggris. Jika ditambahkan, maka para pengguna di Amerika Utara menghabiskan antara tiga hingga lima jam sehari menatapi smartphone mereka. Sebagaimana dinyatakan oleh profesor marketing dari New York University, Adam Alter, itu berarti bahwa dalam rentang waktu kehidupan rata-rata, kebanyakan dari kita akan menghabiskan tujuh tahun terbenam dalam komputer bawaan kita itu. Perusahaan-perusahaan ini telah berhasil meyakinkan kita untuk menyerahkan begitu banyak dari kehidupan kita dengan cara mengeksploitasi beberapa kelemahan manusia. Salah satunya adalah yang disebut NOVELTY BIAS (Bias Barang Baru). Ini berarti bahwa otak kita sungguh terpincut oleh barang-barang baru. \u2026 membuat kita tidak bisa tinggal tenang menghadapi notifikasi Facebook dan nada masuknya email. Itulah mengapa app media sosial terus merengek meminta anda untuk menyalakan notifikasi. Mereka tahu bahwa begitu icon-icon tersebut mulai berkedip di lock-screen anda, anda tidak akan mungkin bisa mengabaikannya. Ini juga alasan mengapa Facebook mengganti warna notifikasinya, dari biru tenang ke merah yang menarik perhatian. \u2026 Matt Mayberry, yang bekerja di perusahaan start-up California bernama Dopamine Labs, mengatakan bahwa adalah pengetahuan umum dalam industri bahwa Instagram mengeksploitasi rasa kecanduan ini dengan secara strategis menahan \u201clike\u201d dari pengguna tertentu. Jika app untuk saling berbagi foto tersebut memutuskan bahwa kamu perlu menggunakan pelayanan mereka lebih sering, ia akan hanya menampilkan sepersekian dari \u201clike\u201d yang kamu dapatkan pada post tertentu, awalnya, dengan harapan kamu akan kecewa dengan pendapatan \u201clike\u201d kamu dan mengecek kembali dalam satu atau dua menit ke depan. \u2018Mereka menyerang rasa tidak nyaman terbesarmu,\u2019 kata Mr. Mayberr. \u2026 Beberapa logika mental dari eksploitasi smartphone sangat jelas, tetapi ada yang tidak begitu jelas. Prinsip \u2018hadiah bervariasi\u2019 masuk dalam kategori kedua ini. Ditemukan oleh psikolog B.F. Skinner dan para pengikutnya dalam serangkaian eksperimen atas tikus dan merpati, prinsip ini memprediksikan bahwa makhluk akan lebih mungkin mencari hadiah jika mereka tidak yakin seberapa sering hadiah itu dbagikan. Merpati, misalnya, ditemukan lebih sering mematuk tombol untuk makanan, jika makanan itu dibagikan secara tidak konsisten daripada jika selalu konsisten waktunya, demikian penjabaran profesor hukum Columbia University, Tim Wu, dalam bukunya baru-baru ini: The Attention Merchants. Jadi begitu juga dengan app media sosial: walaupun empat dari lima post Facebook berisikan hal yang tidak berarti, feed yang me-refresh tanpa henti secara otomatis itu selalu menjanjikan adanya kata-kata bagus, atau gosip hangat, pas di bawah batasan layar, yang dapat diakses dengan melakukan swipe pada gelas kaca.\u201d (wayoflife)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Berikut ini disadur dari \u201c<em>Your smartphone is making you stupid, antisocial and unhealthy<\/em>,\u201d <em>The Globe and Mail<\/em>, 10 Apr. 2018: \u201cJika kita telah kehilangan kendali atas hubungan kita dengan smartphone, maka itu memang sesuai dengan desainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Faktanya, model bisnis dari alat-alat ini memang mengharuskan demikian. Karena kebanyakan website dan app yang paling populer tidak memungut bayaran, maka internet ditopang secara finansial oleh banyaknya perhatian manusia. Jadi, semakin lama dan semakin sering kamu menghabiskan waktu menatapi Facebook atau Google, semakin banyak jumlah uang yang bisa mereka tarik dari para pengiklan. Untuk memastikan bahwa mata kita tetap terpatri ke layar kita, yaitu smartphone kita \u2013 dan dunia-dunia digital yang tersambung dengannya \u2013 para raksasa internet telah menjadi sangat jago dalam meyakinkan, memanggil-manggil kita untuk mengecek mereka lagi dan lagi \u2013 dan untuk waktu yang lebih lama dari yang kita maksudkan. Para pemakai rata-rata mengecek telepon mereka sekitar 150 kali sehari, menurut beberapa perkiraan, dan itu sekitar dua kali lebih banyak dari estimasi mereka sendiri, menurut sebuah studi tahun 2015 yang dilakukan oleh psikolog-psikolog Inggris. Jika ditambahkan, maka para pengguna di Amerika Utara menghabiskan antara tiga hingga lima jam sehari menatapi smartphone mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagaimana dinyatakan oleh profesor marketing dari New York University, Adam Alter, itu berarti bahwa dalam rentang waktu kehidupan rata-rata, kebanyakan dari kita akan menghabiskan tujuh tahun terbenam dalam komputer bawaan kita itu. Perusahaan-perusahaan ini telah berhasil meyakinkan kita untuk menyerahkan begitu banyak dari kehidupan kita dengan cara mengeksploitasi beberapa kelemahan manusia. Salah satunya adalah yang disebut NOVELTY BIAS (Bias Barang Baru). Ini berarti bahwa otak kita sungguh terpincut oleh barang-barang baru. \u2026 membuat kita tidak bisa tinggal tenang menghadapi notifikasi Facebook dan nada masuknya email. Itulah mengapa app media sosial terus merengek meminta anda untuk menyalakan notifikasi. Mereka tahu bahwa begitu icon-icon tersebut mulai berkedip di lock-screen anda, anda tidak akan mungkin bisa mengabaikannya. Ini juga alasan mengapa Facebook mengganti warna notifikasinya, dari biru tenang ke merah yang menarik perhatian. \u2026<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Matt Mayberry, yang bekerja di perusahaan start-up California bernama Dopamine Labs, mengatakan bahwa adalah pengetahuan umum dalam industri bahwa Instagram mengeksploitasi rasa kecanduan ini dengan secara strategis menahan \u201clike\u201d dari pengguna tertentu. Jika app untuk saling berbagi foto tersebut memutuskan bahwa kamu perlu menggunakan pelayanan mereka lebih sering, ia akan hanya menampilkan sepersekian dari \u201clike\u201d yang kamu dapatkan pada post tertentu, awalnya, dengan harapan kamu akan kecewa dengan pendapatan \u201clike\u201d kamu dan mengecek kembali dalam satu atau dua menit ke depan. \u2018Mereka menyerang rasa tidak nyaman terbesarmu,\u2019 kata Mr. Mayberr. \u2026 Beberapa logika mental dari eksploitasi smartphone sangat jelas, tetapi ada yang tidak begitu jelas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prinsip \u2018hadiah bervariasi\u2019 masuk dalam kategori kedua ini. Ditemukan oleh psikolog B.F. Skinner dan para pengikutnya dalam serangkaian eksperimen atas tikus dan merpati, prinsip ini memprediksikan bahwa makhluk akan lebih mungkin mencari hadiah jika mereka tidak yakin seberapa sering hadiah itu dbagikan. Merpati, misalnya, ditemukan lebih sering mematuk tombol untuk makanan, jika makanan itu dibagikan secara tidak konsisten daripada jika selalu konsisten waktunya, demikian penjabaran profesor hukum Columbia University, Tim Wu, dalam bukunya baru-baru ini: <i>The Attention Merchants<\/i>. Jadi begitu juga dengan app media sosial: walaupun empat dari lima post Facebook berisikan hal yang tidak berarti, feed yang me-refresh tanpa henti secara otomatis itu selalu menjanjikan adanya kata-kata bagus, atau gosip hangat, pas di bawah batasan layar, yang dapat diakses dengan melakukan swipe pada gelas kaca.\u201d (wayoflife)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Berikut ini disadur dari \u201cYour smartphone is making you stupid, antisocial and unhealthy,\u201d The Globe and Mail, 10 Apr. 2018: \u201cJika kita telah kehilangan kendali atas hubungan kita dengan smartphone, maka itu memang sesuai dengan desainnya. Faktanya, model bisnis dari alat-alat ini memang mengharuskan demikian. Karena kebanyakan website dan app yang paling populer [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":53707,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"70"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[70,3],"tags":[],"class_list":["post-61476","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-relasi","category-umum"],"better_featured_image":{"id":53707,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/media-industry-banner-img.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/media-industry-banner-img.png?fit=768%2C335&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/media-industry-banner-img.png"},"categories_detail":[{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/media-industry-banner-img.png?fit=1852%2C808&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"794","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61476","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61476"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61476\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53707"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61476"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61476"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61476"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}