{"id":61491,"date":"2022-05-22T19:25:49","date_gmt":"2022-05-22T12:25:49","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=61491"},"modified":"2022-05-22T19:25:57","modified_gmt":"2022-05-22T12:25:57","slug":"anak-anak-kecanduan-pornografi-lewat-smartphone","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/anak-anak-kecanduan-pornografi-lewat-smartphone\/","title":{"rendered":"Anak-Anak Kecanduan Pornografi Lewat Smartphone"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Berikut ini disadur dari \u201cWhat\u2019s the Right Age for a Child to Get a Smartphone,\u201d New York Times, 20 Juli 2016: \u201cTidak lama yang lalu, banyak orang tua yang bertanya-tanya, pada usia berapakah mereka patut memberikan anak mereka akses penuh kepada kunci mobil. Zaman sekarang ini, orang tua menghadapi pertanyaan yang lebih sulit dijawab: pada usia berapakah seorang anak patut memiliki sebuah smartphone? Topik ini sedang semakin banyak diperdebatkan, dan anak-anak mendapatkan smartphone pada usia yang semakin muda. Rata-rata, anak-anak mendapatkan smartphone mereka pada sekitar usia 10 tahun, menurut agensi riset Influence Central, dan ini menurun dari usia 12 tahun pada tahun 2012. Bagi sebagian anak, kepemilikan smartphone bermula bahkan lebih awal lagi \u2013 termasuk ada yang kelas dua dengan usia 7 tahun, menurut para ahli keamanan internet. \u2026 \u2018Semakin lama anda bisa menutup kotak Pandora ini, semakin baik anda,\u2019 kata Jesse Weinberger, seorang pembicara keamanan internet yang berbasis di Ohio, yang memberikan presentasi kepada para orang tua, sekolah, dan petugas penegak hukum. \u2018Tidak ada interaksi dengan dunia gelap jika tidak memiliki barang ini.\u2019 \u2026 Ms. Weinberger, yang menulis buku panduan keamanan smartphone dan internet, The Boogeyman Exists: And He\u2019s in Your Child\u2019s Back Pocket, mengatakan bahwa dia mensurvei anak-anak dalam waktu 18 bulan terakhir, da menemukan, bahwa rata-rata, sexting (mengirim foto seksual diri sendiri) dimulai di kelas 5, konsumsi pornografi dimulai ketika anak berusia 8 tahun, dan kecanduan pornografi dimulai pada usia 11.\u201d\u00a0 (wayoflife)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Berikut ini disadur dari \u201c<em>What\u2019s the Right Age for a Child to Get a Smartphone<\/em>,\u201d <em>New York Times<\/em>, 20 Juli 2016: \u201cTidak lama yang lalu, banyak orang tua yang bertanya-tanya, pada usia berapakah mereka patut memberikan anak mereka akses penuh kepada kunci mobil. Zaman sekarang ini, orang tua menghadapi pertanyaan yang lebih sulit dijawab: pada usia berapakah seorang anak patut memiliki sebuah smartphone?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Topik ini sedang semakin banyak diperdebatkan, dan anak-anak mendapatkan smartphone pada usia yang semakin muda. Rata-rata, anak-anak mendapatkan smartphone mereka pada sekitar usia 10 tahun, menurut agensi riset Influence Central, dan ini menurun dari usia 12 tahun pada tahun 2012. Bagi sebagian anak, kepemilikan smartphone bermula bahkan lebih awal lagi \u2013 termasuk ada yang kelas dua dengan usia 7 tahun, menurut para ahli keamanan internet. \u2026 \u2018Semakin lama anda bisa menutup kotak Pandora ini, semakin baik anda,\u2019 kata Jesse Weinberger, seorang pembicara keamanan internet yang berbasis di Ohio, yang memberikan presentasi kepada para orang tua, sekolah, dan petugas penegak hukum. \u2018Tidak ada interaksi dengan dunia gelap jika tidak memiliki barang ini.\u2019 \u2026 Ms. Weinberger, yang menulis buku panduan keamanan smartphone dan internet, <i>The <\/i><em>Boogeyman Exists: And He\u2019s in Your Child\u2019s Back Pocket<\/em>, mengatakan bahwa dia mensurvei anak-anak dalam waktu 18 bulan terakhir, da menemukan, bahwa rata-rata, sexting (mengirim foto seksual diri sendiri) dimulai di kelas 5, konsumsi pornografi dimulai ketika anak berusia 8 tahun, dan kecanduan pornografi dimulai pada usia 11.\u201d\u00a0 (<strong>wayoflife<\/strong>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Berikut ini disadur dari \u201cWhat\u2019s the Right Age for a Child to Get a Smartphone,\u201d New York Times, 20 Juli 2016: \u201cTidak lama yang lalu, banyak orang tua yang bertanya-tanya, pada usia berapakah mereka patut memberikan anak mereka akses penuh kepada kunci mobil. Zaman sekarang ini, orang tua menghadapi pertanyaan yang lebih sulit [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61527,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-61491","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum"],"better_featured_image":{"id":61527,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/damage-of-smartphone.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/damage-of-smartphone.jpg?fit=700%2C393&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/damage-of-smartphone.jpg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/damage-of-smartphone.jpg?fit=700%2C393&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"739","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61491","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61491"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61491\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61491"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61491"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61491"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}