{"id":61618,"date":"2022-11-05T09:29:00","date_gmt":"2022-11-05T02:29:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=61618"},"modified":"2022-06-18T15:15:22","modified_gmt":"2022-06-18T08:15:22","slug":"potret-gereja-chora-turki-yang-kini-diubah-menjadi-masjid","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/potret-gereja-chora-turki-yang-kini-diubah-menjadi-masjid\/","title":{"rendered":"Potret Gereja Chora Turki yang Kini Diubah Menjadi Masjid"},"content":{"rendered":"<p class=\"sc-iwjdpV ejoqCv sc-iqVWFU eoXwze teaser-text\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Sementara konversi Hagia Sophia menjadi masjid masih jadi kontroversi, pemerintahan Erdogan melakukan hal yang sama dengan Museum Chora. Sejarawan dan komunitas Kristen dihantui kecemasan. Setelah Hagia Sophia diubah menjadi masjid pada pertengahan Juli 2020 lalu, banyak gereja lain dilirik\u00a0 Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Menurut keputusan yang dikeluarkan, salat digelar lagi di Museum Chora. Selain itu, bangunan suci di distrik Fatih Istanbul ini akan berada di bawah kendali Kantor Urusan Agama Turki (Diyanet). Kompleks bekas gereja Chora Foto: picture-alliance\/M. Siepmann Museum tersebut memiliki sejarah yang mirip dengan Situs Warisan Dunia UNESCO Hagia Sophia: Dibangun oleh Kekaisaran Bizantium pada abad ke-6, kemudian di zaman pemerintahan Kekaisaran Utsmaniyah, penguasa Wazir Agung Bayezids II,\u00a0 Atik Ali Pasa mengubah gereja itu menjadi masjid pada tahun 1511. Setelah berdirinya Republik Turki, pada tahun 1945, kabinet Turki memutuskan untuk menjadikannya museum. Bekas gereja Chora terkenal dengan banyak lukisan dinding dan mozaik yang terawat baik. Video antrean pengunjung di depan\u00a0museum\u00a0kini beredar di media sosial. Jelas, banyak orang ingin melihat sekilas interior gereja itu untuk terakhir kalinya sebelum ditutup tirai, sebagaimana Hagia Sophia. &quot;Keragaman budaya tidak boleh dipertanyakan&quot; Konversi Museum Chora dikhawatirkan membuka perpecahan baru: perwakilan dari komunitas Ortodoks Turki, termasuk Patriark Bartholomew dari Konstantinopel, telah menentang penggunaan Hagia Sophia sebagai masjid. Dalam kasus Museum Chora, reaksinya juga serupa. Dia sangat menyesali perubahannya menjadi masjid, kata Presiden Asosiasi Yayasan Yunani (RUMVADER) Laki Vingas, kepada Deutsche Welle. Presiden Asosiasi Yayasan Yunani (RUMVADER) Laki VingasFoto: Privat &quot;Di ibu kota budaya seperti Istanbul, keragaman budaya tidak boleh dipertanyakan,&quot; jelas Vingas, yang juga terlibat dalam asosiasi pelestarian\u00a0warisan budaya. Apakah akan ada eksodus? Sikap tanpa kompromi pemerintah Turki akan semakin mendorong keterasingan minoritas, demikian ia memperingatkan. Semakin banyak kaum muda yang tergolong minoritas kini mencari pekerjaan baru di luar negeri. &quot;Dalam 15 tahun terakhir, banyak orang dari Yunani telah menetap di kota kami. Mereka telah berintegrasi di sini, mereka telah berkontribusi pada kehidupan masyarakat. Bahwa mereka sekarang berpikir untuk kembali pulang ke negaranya, membuat saya khawatir,&quot; kata Vingas. Sejarawan seni Osman Erden yakin rencana itu bertentangan dengan masa lalu bersejarah kota metropolis Bosporus. Alasan mengapa\u00a0Hagia Sophia\u00a0atau bekas gereja Chora dinyatakan sebagai museum adalah karena seseorang ingin menerima seluruh sejarah masa lalu. &quot;(Menjadikannnya museum) itu tidak pernah dimaksudkan sebagai dorongan melawan Kekaisaran Utsmaniyah dan Islam&quot;. Para akademisi sangat prihatin bahwa sejarah Istanbul semakin dipolitisasi politis. Mereka menganggap politisasi tersebut tidak adil\u00a0untuk sejarah kota itu. Peneliti isu konservatisme Ayse CavdarFoto: Privat Dugaan politisasi Peneliti isu konservatisme Ayse Cavdar melihat realokasi museum ini sebagai manuver politik Erdogan. &quot;Erdogan dan timnya kalah dari oposisi dalam pemilihan lokal Juni 2020 lalu di Istanbul. Mereka mungkin mencoba meninggalkan jejak mereka di Istanbul dengan cara lain.&quot; Menurut Cavdar, kebijakan yang diambil pemerintahan Erdogan itu adalah sinyal: &quot;Lihat, kami masih di sini.&quot; Bagi pemerintah, yang mengambil alih kekuasaan politik setelah periode Erdogan, akan agak bermasalah untuk membalikkan langkah-langkah menuju islamisasi ini, demikian disimpulkan ilmuwan tersebut.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Sementara konversi Hagia Sophia menjadi masjid masih jadi kontroversi, pemerintahan Erdogan melakukan hal yang sama dengan Museum Chora. Sejarawan dan komunitas Kristen dihantui kecemasan.<\/p>\n<div class=\"sc-iwjdpV ejoqCv sc-kTqLtj oydwJ rich-text has-italic\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah Hagia Sophia diubah menjadi masjid pada pertengahan Juli 2020 lalu, banyak gereja lain dilirik\u00a0 Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Menurut keputusan yang dikeluarkan, salat digelar lagi di Museum Chora. Selain itu, bangunan suci di distrik Fatih Istanbul ini akan berada di bawah kendali Kantor Urusan Agama Turki (Diyanet).<\/p>\n<figure class=\"placeholder-image master_landscape big\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"render-container\">\n<div class=\"sc-jQrDum encROs sc-fvxzrP bYmypm lazy-load-container\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"hq-img loaded\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/static.dw.com\/image\/54650026_906.jpg?ssl=1\" alt=\"Perubahan akan berlangsung di gedung kuno ini.\" \/><\/div>\n<\/div><figcaption class=\"img-caption\">Kompleks bekas gereja Chora <small class=\"copyright\">Foto: picture-alliance\/M. Siepmann<\/small><\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Museum tersebut memiliki sejarah yang mirip dengan Situs Warisan Dunia UNESCO Hagia Sophia: Dibangun oleh Kekaisaran Bizantium pada abad ke-6, kemudian di zaman pemerintahan Kekaisaran Utsmaniyah, penguasa Wazir Agung Bayezids II,\u00a0 Atik Ali Pasa mengubah gereja itu menjadi masjid pada tahun 1511. Setelah berdirinya Republik Turki, pada tahun 1945, kabinet Turki memutuskan untuk menjadikannya museum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bekas gereja Chora terkenal dengan banyak lukisan dinding dan mozaik yang terawat baik. Video antrean pengunjung di depan\u00a0museum\u00a0kini beredar di media sosial. Jelas, banyak orang ingin melihat sekilas interior gereja itu untuk terakhir kalinya sebelum ditutup tirai, sebagaimana Hagia Sophia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>&#8220;Keragaman budaya tidak boleh dipertanyakan&#8221;<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konversi Museum Chora dikhawatirkan membuka perpecahan baru: perwakilan dari komunitas Ortodoks Turki, termasuk Patriark Bartholomew dari Konstantinopel, telah menentang penggunaan Hagia Sophia sebagai masjid. Dalam kasus Museum Chora, reaksinya juga serupa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia sangat menyesali perubahannya menjadi masjid, kata Presiden Asosiasi Yayasan Yunani (RUMVADER) Laki Vingas, kepada Deutsche Welle.<\/p>\n<figure class=\"placeholder-image master_landscape right\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"render-container\">\n<div class=\"sc-jQrDum encROs sc-fvxzrP bYmypm lazy-load-container\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"hq-img loaded\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/static.dw.com\/image\/54657318_902.jpg?ssl=1\" alt=\"Presiden Asosiasi Yayasan Yunani (RUMVADER) Laki Vingas bicara soal perubahan ini.\" \/><\/div>\n<\/div><figcaption class=\"img-caption\">Presiden Asosiasi Yayasan Yunani (RUMVADER) Laki Vingas<small class=\"copyright\">Foto: Privat<\/small><\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Di ibu kota budaya seperti Istanbul, keragaman budaya tidak boleh dipertanyakan,&#8221; jelas Vingas, yang juga terlibat dalam asosiasi pelestarian\u00a0warisan budaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Apakah akan ada eksodus?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sikap tanpa kompromi pemerintah Turki akan semakin mendorong keterasingan minoritas, demikian ia memperingatkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semakin banyak kaum muda yang tergolong minoritas kini mencari pekerjaan baru di luar negeri. &#8220;Dalam 15 tahun terakhir, banyak orang dari Yunani telah menetap di kota kami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka telah berintegrasi di sini, mereka telah berkontribusi pada kehidupan masyarakat. Bahwa mereka sekarang berpikir untuk kembali pulang ke negaranya, membuat saya khawatir,&#8221; kata Vingas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejarawan seni Osman Erden yakin rencana itu bertentangan dengan masa lalu bersejarah kota metropolis Bosporus. Alasan mengapa\u00a0Hagia Sophia\u00a0atau bekas gereja Chora dinyatakan sebagai museum adalah karena seseorang ingin menerima seluruh sejarah masa lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;(Menjadikannnya museum) itu tidak pernah dimaksudkan sebagai dorongan melawan Kekaisaran Utsmaniyah dan Islam&#8221;. Para akademisi sangat prihatin bahwa sejarah Istanbul semakin dipolitisasi politis. Mereka menganggap politisasi tersebut tidak adil\u00a0untuk sejarah kota itu.<\/p>\n<figure class=\"placeholder-image master_landscape left\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"render-container\">\n<div class=\"sc-jQrDum encROs sc-fvxzrP bYmypm lazy-load-container\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"hq-img loaded\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/static.dw.com\/image\/53296569_902.jpg?ssl=1\" alt=\"Ayse Cavdar \" \/><\/div>\n<\/div><figcaption class=\"img-caption\">Peneliti isu konservatisme Ayse Cavdar<small class=\"copyright\">Foto: Privat<\/small><\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dugaan politisasi<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peneliti isu konservatisme Ayse Cavdar melihat realokasi museum ini sebagai manuver politik Erdogan. &#8220;Erdogan dan timnya kalah dari oposisi dalam pemilihan lokal Juni 2020 lalu di Istanbul. Mereka mungkin mencoba meninggalkan jejak mereka di Istanbul dengan cara lain.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Cavdar, kebijakan yang diambil pemerintahan Erdogan itu adalah sinyal: &#8220;Lihat, kami masih di sini.&#8221; Bagi pemerintah, yang mengambil alih kekuasaan politik setelah periode Erdogan, akan agak bermasalah untuk membalikkan langkah-langkah menuju islamisasi ini, demikian disimpulkan ilmuwan tersebut.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Sementara konversi Hagia Sophia menjadi masjid masih jadi kontroversi, pemerintahan Erdogan melakukan hal yang sama dengan Museum Chora. Sejarawan dan komunitas Kristen dihantui kecemasan. Setelah Hagia Sophia diubah menjadi masjid pada pertengahan Juli 2020 lalu, banyak gereja lain dilirik\u00a0 Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Menurut keputusan yang dikeluarkan, salat digelar lagi di Museum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":62352,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"22"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,22,20,109],"tags":[],"class_list":["post-61618","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-internasional","category-sejarah","category-site"],"better_featured_image":{"id":62352,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/gereja_chora-turki-diubah-jadi-masid.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/gereja_chora-turki-diubah-jadi-masid.jpg?fit=768%2C336&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/gereja_chora-turki-diubah-jadi-masid.jpg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":20,"name":"Sejarah","description":"","slug":"sejarah","count":39,"parent":0},{"id":109,"name":"Situs Bersejarah","description":"","slug":"site","count":30,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/gereja_chora-turki-diubah-jadi-masid.jpg?fit=1408%2C616&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1174","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61618","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61618"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61618\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/62352"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}