{"id":61653,"date":"2022-05-21T11:10:21","date_gmt":"2022-05-21T04:10:21","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=61653"},"modified":"2022-05-21T11:10:27","modified_gmt":"2022-05-21T04:10:27","slug":"sabam-sirait-dan-spiritualitas-politiknya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/sabam-sirait-dan-spiritualitas-politiknya\/","title":{"rendered":"Sabam Sirait dan Spiritualitas Politiknya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id -Membicarakan sepak terjang Sabam Sirait dalam dunia politik selalu menarik. Apalagi bila dikaitkan dengan bukunya \u201cPolitik itu Suci.\u201d Konon, gagasan Politik itu Suci ia dapatkan dari Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno adalah tokoh idolanya. \u2018Bila mengusir penjajah, mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan itu adalah politik maka politik itu suci\u2019. Artinya, bagi Sabam, kesucian politik terletak pada motif dan tindakan perjuangannya. Politik memperjuangkan nilai positif demi kebangsaan dan kemanusiaan. Politik menjadi suci. Gagasan Politik itu Suci ini menarik dan inovatif karena paling sedikit dua aspek. Pertama, kesucian politik tidak tergantung pada upaya menerapkan norma agama tertentu atau apakah suatu kebijakan sesuai dengan\u00a0 ayat-ayat Kitab Suci agama. Tidak! Dalam kemajemukkan bangsa menyamakan kesucian politik dengan penerapan norma agama tertentu akan menimbulkan hegemoni dan dominasi. Lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Ia akan mengundang intoleransi dan diskriminasi. Bagi Sabam, politik itu suci lebih tergantung pada motif dan tujuan kebangsaan dan kemanusiaan. Dengan nilai itu seorang politisi mengukur tindakannya. Dengan motif dan tujuan itu kita bisa menilai segala isu politik maupun kebijakan politik yang sedang diberlakukan. Aspek kedua, pandangan Kristen cenderung memisahkan politik sebagai sesuatu yang profan alias sekuler. Sedangkan agama berurusan dengan yang sacred, yang suci. Keduanya terpisah. Tidak boleh saling mendominasi, tetapi bisa saling berkolaborasi. Tentu saja asal demi kebangsaan dan kemanusiaan. Nah, mengatakan Politik itu Suci berarti meruntuhkan \u2018tembok pemisah\u2019 yang suci dan yang sekuler. Kesucian bukan lagi pada \u2018locus\u2019 pelayanan tetapi motif dan tujuan pelayanan. Dengan norma ini, dunia sacred pun bisa berubah menjadi sekuler bila tujuannya mengejar kekuasaan\u00a0 dan kekayaan. Sebaliknya, dunia profan bisa menjadi sacred bila motif dan tujuannya untuk pelayanan bagi bangsa dan kemanusiaan. Dengan nilai itu, Sabam Sirait mengingatkan bahwa semuanya tergantung motif dan tujuannya. Dengan mempraktekkan Politik itu Suci, Sabam Sirait menghayati fungsinya sebagai imamat rajani. Dia adalah \u2018imam\u2019 dalam dunia politik. Komitmen dan konsistensi perjuangannya adalah untuk dan demi rakyat kecil serta untuk \u2018mengawasi\u2019 kekuasaan. Kita ingat, saat Orde Baru berkuasa, Sabam nekad melanggar \u2018tabu\u2019 politik dengan melakukan interupsi. Padahal resikonya sangat besar. Bukan saja jabatannya bisa dicopot, tetapi juga bisa di \u2018petrus\u2019kan. Sabam seperti tidak perduli. Dia lebih takut pada Tuhan daripada kepada penguasa mana pun. Bagi Sabam, bangsa Indonesia dengan segala persoalannya adalah gerejanya. Dunia politik adalah medan pelayanannya. Dalam\u00a0 politik, Sabam beribadah kepada Tuhan. Melalui politik, Sabam komit total melayani bangsa dan kemanusiaan. Sesungguhnya Sabam sedang mempraktekkan suatu spiritualitas politik! Komitmen\u00a0 dan integritas kokoh membuat Sabam menjadi tokoh yang dihormati. Sabam tokoh panutan. Ia patut diteladani siapa pun, terutama para politisi yang sedang menjabat dan generasi muda bangsa ini. (Albertus Patty \/ PGI)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Diakonia.id<\/strong> -Membicarakan sepak terjang Sabam Sirait dalam dunia politik selalu menarik. Apalagi bila dikaitkan dengan bukunya \u201cPolitik itu Suci.\u201d Konon, gagasan Politik itu Suci ia dapatkan dari Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno adalah tokoh idolanya.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>\u2018Bila mengusir penjajah, mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan itu adalah politik maka politik itu suci\u2019. Artinya, bagi Sabam, kesucian politik terletak pada motif dan tindakan perjuangannya. Politik memperjuangkan nilai positif demi kebangsaan dan kemanusiaan. Politik menjadi suci.<\/p>\n<p>Gagasan Politik itu Suci ini menarik dan inovatif karena paling sedikit dua aspek. Pertama, kesucian politik tidak tergantung pada upaya menerapkan norma agama tertentu atau apakah suatu kebijakan sesuai dengan\u00a0 ayat-ayat Kitab Suci agama. Tidak! Dalam kemajemukkan bangsa menyamakan kesucian politik dengan penerapan norma agama tertentu akan menimbulkan hegemoni dan dominasi. Lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Ia akan mengundang intoleransi dan diskriminasi.<\/p>\n<p>Bagi Sabam, politik itu suci lebih tergantung pada motif dan tujuan kebangsaan dan kemanusiaan. Dengan nilai itu seorang politisi mengukur tindakannya. Dengan motif dan tujuan itu kita bisa menilai segala isu politik maupun kebijakan politik yang sedang diberlakukan.<\/p>\n<p>Aspek kedua, pandangan Kristen cenderung memisahkan politik sebagai sesuatu yang profan alias sekuler. Sedangkan agama berurusan dengan yang sacred, yang suci. Keduanya terpisah. Tidak boleh saling mendominasi, tetapi bisa saling berkolaborasi. Tentu saja asal demi kebangsaan dan kemanusiaan.<\/p>\n<p>Nah, mengatakan Politik itu Suci berarti meruntuhkan \u2018tembok pemisah\u2019 yang suci dan yang sekuler. Kesucian bukan lagi pada \u2018locus\u2019 pelayanan tetapi motif dan tujuan pelayanan. Dengan norma ini, dunia sacred pun bisa berubah menjadi sekuler bila tujuannya mengejar kekuasaan\u00a0 dan kekayaan. Sebaliknya, dunia profan bisa menjadi sacred bila motif dan tujuannya untuk pelayanan bagi bangsa dan kemanusiaan. Dengan nilai itu, Sabam Sirait mengingatkan bahwa semuanya tergantung motif dan tujuannya.<\/p>\n<p>Dengan mempraktekkan Politik itu Suci, Sabam Sirait menghayati fungsinya sebagai imamat rajani. Dia adalah \u2018imam\u2019 dalam dunia politik. Komitmen dan konsistensi perjuangannya adalah untuk dan demi rakyat kecil serta untuk \u2018mengawasi\u2019 kekuasaan.<\/p>\n<p>Kita ingat, saat Orde Baru berkuasa, Sabam nekad melanggar \u2018tabu\u2019 politik dengan melakukan interupsi. Padahal resikonya sangat besar. Bukan saja jabatannya bisa dicopot, tetapi juga bisa di \u2018petrus\u2019kan. Sabam seperti tidak perduli. Dia lebih takut pada Tuhan daripada kepada penguasa mana pun.<\/p>\n<p>Bagi Sabam, bangsa Indonesia dengan segala persoalannya adalah gerejanya. Dunia politik adalah medan pelayanannya. Dalam\u00a0 politik, Sabam beribadah kepada Tuhan. Melalui politik, Sabam komit total melayani bangsa dan kemanusiaan. Sesungguhnya Sabam sedang mempraktekkan suatu spiritualitas politik!<\/p>\n<p>Komitmen\u00a0 dan integritas kokoh membuat Sabam menjadi tokoh yang dihormati. Sabam tokoh panutan. Ia patut diteladani siapa pun, terutama para politisi yang sedang menjabat dan generasi muda bangsa ini. <strong>(Albertus Patty \/ PGI)<\/strong><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id -Membicarakan sepak terjang Sabam Sirait dalam dunia politik selalu menarik. Apalagi bila dikaitkan dengan bukunya \u201cPolitik itu Suci.\u201d Konon, gagasan Politik itu Suci ia dapatkan dari Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno adalah tokoh idolanya. \u2018Bila mengusir penjajah, mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan itu adalah politik maka politik itu suci\u2019. Artinya, bagi Sabam, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61654,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"13"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-61653","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tokoh"],"better_featured_image":{"id":61654,"alt_text":"","caption":"","description":"911902aff94d894585cb148f68205f07","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/sabam-sirait-dan-spiritualitas-politiknya_6287d221ccebd.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/sabam-sirait-dan-spiritualitas-politiknya_6287d221ccebd.jpeg?fit=622%2C350&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/sabam-sirait-dan-spiritualitas-politiknya_6287d221ccebd.jpeg"},"categories_detail":[{"id":13,"name":"Tokoh Kristiani","description":"","slug":"tokoh","count":15,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/sabam-sirait-dan-spiritualitas-politiknya_6287d221ccebd.jpeg?fit=622%2C350&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"892","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61653","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61653"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61653\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61654"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61653"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61653"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61653"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}