{"id":61779,"date":"2022-06-15T09:20:29","date_gmt":"2022-06-15T02:20:29","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=61779"},"modified":"2022-06-15T09:20:34","modified_gmt":"2022-06-15T02:20:34","slug":"2-dosen-stt-ekumene-diberhentikan-setelah-ungkap-pemalsuan-nilai-mahasiswa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/2-dosen-stt-ekumene-diberhentikan-setelah-ungkap-pemalsuan-nilai-mahasiswa\/","title":{"rendered":"2 Dosen STT Ekumene Diberhentikan setelah Ungkap Pemalsuan Nilai Mahasiswa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Dua dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Ekumene, Kelapa Gading Jakarta Utara, Yohanes Parapat dan Madya Andreas Agus Wurjanto, mengaku telah diberhentikan oleh pihak kampus. Kedua dosen itu sebelumnya melaporkan dugaan pemalsuan nilai dan tandatangan yang bertujuan meluluskan mahasiswa di kampus tersebut. Yohanes Parapat melaporkan 5 mahasiswa yang diduga memalsukan nilai ke Polda Metro Jaya. Laporan itu dibuat pada Desember 2021 dengan nomor STTLP\/B\/6294\/XII\/2021\/SPKT\/Polda Metro Jaya. Sementara itu, Andreas Agus melaporkan STT Ekumene ke Polda Metro Jaya karena diduga memalsukan tanda tangannya untuk dilekatkan pada dokumen kelulusan para mahasiswa. Laporan itu teregister dengan nomor STTLP\/B\/1.195\/III\/2022\/SPKT\/Polda Metro Jaya tertanggal 9 Maret 2022. Pada 28 Mei 2022, Yohanes dan Andreas mengaku menerima sebuah surat dari pihak kampus yang berisi pemberhentian mereka. &quot;Ini bentuk penzaliman dan menginjak-injak rasa keadilan. Ketika kami menyampaikan suara kebenaran dan coba meluruskan yang salah, malah kami diberhentikan,&quot; kata Yohanes dalam jumpa pers di kawasan Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (10\/6). Kuasa hukum Yohanes Parapat, Vincent Suriadinata, mengatakan upaya kepolisian memeriksa saksi-saksi menemui hambatan. Menurutnya, hal itu tertuang dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP). Ia menyebutkan, seorang saksi berinisial SE yang termasuk salah satu mahasiswa yang dilaporkan, tidak memenuhi panggilan penyidik dengan alasan tengah menjalani rawat jalan berdasarkan resume medik dari rumah sakit. &quot;Dari hasil penelusuran kami, ternyata SE tengah pergi ke Turki bersama orangtuanya,&quot; kata Vincent. Vincent juga meminta agar polisi memeriksa ES sebagai penanggung jawab STT Ekumene Jakarta dan mahasiswa berinisial ARH. Di sisi lain, Andreas mengungkapkan alasannya melaporkan pihak kampus. &quot;Penggunaan tanda tangan tersebut tanpa seizin dari saya. Dan, saya tidak pernah dimintai persetujuan dengan cara apapun oleh pihak STT Ekumene,&quot; kata Andreas. (dil\/jpnn)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Dua dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Ekumene, Kelapa Gading Jakarta Utara, Yohanes Parapat dan Madya Andreas Agus Wurjanto, mengaku telah diberhentikan oleh pihak kampus.<\/p>\n<div class=\"\" style=\"text-align: justify;\">\n<div id=\"div-gpt-ad-1601113788040-0\" style=\"margin: 0px auto; text-align: center; display: none;\" data-google-query-id=\"CKve-M2xrvgCFRInaAodYW0G5A\"><script><br \/>\n            googletag.cmd.push(function() {<br \/>\n                googletag.display('div-gpt-ad-1601113788040-0');<br \/>\n            });<br \/>\n        <\/script><\/p>\n<div id=\"google_ads_iframe_\/51205855\/D_Art_005_0__container__\" style=\"border: 0pt none; width: 300px; height: 0px;\"><\/div>\n<\/div>\n<p>Kedua dosen itu sebelumnya melaporkan dugaan pemalsuan nilai dan tandatangan yang bertujuan meluluskan mahasiswa di kampus tersebut.<\/p>\n<p>Yohanes Parapat melaporkan 5 mahasiswa yang diduga memalsukan nilai ke Polda Metro Jaya.<\/p>\n<p>Laporan itu dibuat pada Desember 2021 dengan nomor STTLP\/B\/6294\/XII\/2021\/SPKT\/Polda Metro Jaya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Andreas Agus melaporkan STT Ekumene ke Polda Metro Jaya karena diduga memalsukan tanda tangannya untuk dilekatkan pada dokumen kelulusan para mahasiswa.<\/p>\n<p>Laporan itu teregister dengan nomor STTLP\/B\/1.195\/III\/2022\/SPKT\/Polda Metro Jaya tertanggal 9 Maret 2022.<\/p>\n<p>Pada 28 Mei 2022, Yohanes dan Andreas mengaku menerima sebuah surat dari pihak kampus yang berisi pemberhentian mereka.<\/p>\n<p>&#8220;Ini bentuk penzaliman dan menginjak-injak rasa keadilan. Ketika kami menyampaikan suara kebenaran dan coba meluruskan yang salah, malah kami diberhentikan,&#8221; kata Yohanes dalam jumpa pers di kawasan Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (10\/6).<\/p>\n<p><!-- --><\/p>\n<\/div>\n<div class=\"\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Kuasa hukum Yohanes Parapat, Vincent Suriadinata, mengatakan upaya kepolisian memeriksa saksi-saksi menemui hambatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, hal itu tertuang dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menyebutkan, seorang saksi berinisial SE yang termasuk salah satu mahasiswa yang dilaporkan, tidak memenuhi panggilan penyidik dengan alasan tengah menjalani rawat jalan berdasarkan resume medik dari rumah sakit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dari hasil penelusuran kami, ternyata SE tengah pergi ke Turki bersama orangtuanya,&#8221; kata Vincent.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Vincent juga meminta agar polisi memeriksa ES sebagai penanggung jawab STT Ekumene Jakarta dan mahasiswa berinisial ARH.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, Andreas mengungkapkan alasannya melaporkan pihak kampus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Penggunaan tanda tangan tersebut tanpa seizin dari saya. Dan, saya tidak pernah dimintai persetujuan dengan cara apapun oleh pihak STT Ekumene,&#8221; kata Andreas.<strong> (dil\/jpnn)<\/strong><\/p>\n<p><!-- --><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Dua dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Ekumene, Kelapa Gading Jakarta Utara, Yohanes Parapat dan Madya Andreas Agus Wurjanto, mengaku telah diberhentikan oleh pihak kampus. Kedua dosen itu sebelumnya melaporkan dugaan pemalsuan nilai dan tandatangan yang bertujuan meluluskan mahasiswa di kampus tersebut. Yohanes Parapat melaporkan 5 mahasiswa yang diduga memalsukan nilai ke Polda Metro [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":62293,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"3"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[3],"tags":[514],"class_list":["post-61779","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-stt-ekumene"],"better_featured_image":{"id":62293,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/dua-dosen-sekolah-tinggi-teologi-stt-ekumene-kelapa-gading.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/dua-dosen-sekolah-tinggi-teologi-stt-ekumene-kelapa-gading.jpg?fit=768%2C432&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/dua-dosen-sekolah-tinggi-teologi-stt-ekumene-kelapa-gading.jpg"},"categories_detail":[{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/dua-dosen-sekolah-tinggi-teologi-stt-ekumene-kelapa-gading.jpg?fit=1600%2C900&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"768","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61779","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61779"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61779\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/62293"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61779"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61779"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61779"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}