{"id":61788,"date":"2022-06-19T10:39:00","date_gmt":"2022-06-19T03:39:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=61788"},"modified":"2022-06-18T14:30:15","modified_gmt":"2022-06-18T07:30:15","slug":"pembelaan-diri-martin-luther-di-sidang-worms-april-1521","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/pembelaan-diri-martin-luther-di-sidang-worms-april-1521\/","title":{"rendered":"Pembelaan Diri Martin Luther di Sidang Worms, April 1521"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - 500 tahun lalu, seorang biarawan Katolik menggugat ajaran dan otoritas pemimpin gerejanya. April 1521 dia dihadapkan ke persidangan di kota Worms. Tapi Martin Luther menolak menarik kritiknya. Sisanya adalah sejarah. Nama kota Worms di Jerman menjadi nama yang dikenal dunia, karena di sinilah Martin Luther &quot;diadili&quot; otoritas gereja dan kekaisaran atas tesis-tesisnya yang memojokkan\u00a0Gereja Katolik\u00a0dan pimpinannya, Paus Leo X. Luther\u00a0 adalah &quot;tokoh perintis&quot; dan pembaharu, kata pendeta perempuan Jutta Herbert, 58 tahun. Dia adalah dekan gereja Protestan Jerman di wilayah barat daya kota Worms. Pengadilan tesis Martin Luther 500 tahun lalu itu kemudian dikenal sebagai &quot;Sidang Worms&quot; dalam sejarah gereja. Di sinilah teolog Katolik itu mengucapkan kalimat yang paling sering dikutip di Jerman: &quot;Di sini saya berdiri, dan saya tidak bisa (bersikap) lain&quot;. Martin Luther menolak menarik kembali kritik-kritiknya terhadap gereja Katolik, yang tertuang dalam 95 tesisnya yang disebar kepada publik. Pertikaian itu membuat dia berhadapan dengan Kaisar Jerman dan Gereja Katolik yang ketika itu sangat berkuasa. Beberapa bulan setelah Sidang Worms, Martin Luther dikucilkan dari Gereja Katolik, dan di kemudian hari melahirkan sebuah &quot;gereja reformasi&quot; yang disebut\u00a0Gereja Protestan. Tugu peringatan Martin Luther di kota Worms, JermanFoto: Hans-Peter Marschall\/imageBROKER\/picture alliance Pembelaan dramatis atas 95 tesis Sidang Worms (Diet of Worms) berawal dari peristiwa di kota Wittenberg, sekitar 500 kilometer di timur laut Worms. Di sanalah Martin Luther memperkenalkan 95 tesisnya yang terkenal kepada publik, dengan memancangkan tulisannya di pintu gerbang katedral utama. Karena dia berulangkali menolak merevisi pandangannya, Luther dipanggil menghadap ke sidang kekaisaran di kota Worms. Dalam sidang inilah Martin Luther bersikeras mempertahankan tesis-tesisnya, sekaligus menyerang praktek penjualan surat penghapus dosa yang ketika itu diperdagangkan Gereja Katolik untuk mengumpulkan dana. Siapa yang membeli surat itu, bisa menghapus dosa-dosanya, begitu doktrin yang melatarbelakangi jual-beli surat itu, yang dikritik keras oleh Luther. Persidangan dramatis di Worms kemudian disebut-sebut sebagai awal kebangkitan gerakan protes yang kemudian melahirkan gereja baru, yaitu Gereja Protestan. Tidak heran kalau kota Worms terutama menjadi kota tujuan wisata utama bagi kelompok-kelompok gereja Protestan dari seluruh dunia. Katedral St. Peter di kota Worms Foto: Thomas Lohnes\/epd\/imago Pada 18 April lalu di kota Worms digelar peringatan 500 tahun persidangan Martin Luther dengan acara multimedia &quot;The Luther Moment,&quot; yang memproyeksikan peristiwa dramatis lima abad lalu itu ke dinding gereja. Slogan yang dipertanyakan para ahli sejarah Apakah dalam Sidang Worms Martin Luther benar-benar mengeluarkan kata-kata &quot;Di sini aku berdiri..&quot; yang menjadi sangat terkenal itu, masih dipertanyakan para ahli sejarah. Karena dalam protokol dari Sidang Worms tidak tercatat ada kata-kata itu. Yang dicatat adalah seruan Martin Luther ke langit: &quot;Tuhan tolonglah saya..&quot; Yang pasti, dari Sidang Worms terjadilah perpecahan besar antara Gereja Katolik dan Protestan, yang berlangsung hingga saat ini, sekalipun sekarang kedua gereja tidak terlibat pertikaian. Bahkan sejak lama ada Gerakan Ekumene yang bertujuan menjembatani dua cabang utama gereja kristen ini. Di kota Worms sendiri, dengan jumlah penduduk sekitar 85 ribu orang, 28,3% beragama Protestan dan 23,4% beragama Katolik. Jutta Herbert menekankan, kota Worms memang dikenal sebagai kota Martin Luther, tetapi bukan kotanya kaum Protestan, melainkan kota Protestan dan Katolik sekaligus. (hp\/gtp\/dw)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><\/p>\n<p class=\"sc-iwjdpV ejoqCv sc-iqVWFU eoXwze teaser-text\"><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211; 500 tahun lalu, seorang biarawan Katolik menggugat ajaran dan otoritas pemimpin gerejanya. April 1521 dia dihadapkan ke persidangan di kota Worms. Tapi <strong>Martin Luther <\/strong>menolak menarik kritiknya. Sisanya adalah sejarah.<\/p>\n<div class=\"sc-iwjdpV ejoqCv sc-kTqLtj oydwJ rich-text has-italic\" style=\"text-align: center;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Nama kota Worms di Jerman menjadi nama yang dikenal dunia, karena di sinilah Martin Luther &#8220;diadili&#8221; otoritas gereja dan kekaisaran atas tesis-tesisnya yang memojokkan\u00a0Gereja Katolik\u00a0dan pimpinannya, <strong>Paus Leo X<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Luther\u00a0 adalah &#8220;tokoh perintis&#8221; dan pembaharu, kata pendeta perempuan Jutta Herbert, 58 tahun. Dia adalah dekan gereja Protestan Jerman di wilayah barat daya kota Worms. Pengadilan tesis Martin Luther 500 tahun lalu itu kemudian dikenal sebagai &#8220;Sidang Worms&#8221; dalam sejarah gereja. Di sinilah teolog Katolik itu mengucapkan kalimat yang paling sering dikutip di Jerman: &#8220;Di sini saya berdiri, dan saya tidak bisa (bersikap) lain&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Martin Luther menolak menarik kembali kritik-kritiknya terhadap gereja Katolik, yang tertuang dalam 95 tesisnya yang disebar kepada publik. Pertikaian itu membuat dia berhadapan dengan Kaisar Jerman dan Gereja Katolik yang ketika itu sangat berkuasa. Beberapa bulan setelah Sidang Worms, Martin Luther dikucilkan dari Gereja Katolik, dan di kemudian hari melahirkan sebuah &#8220;gereja reformasi&#8221; yang disebut\u00a0Gereja Protestan.<\/p>\n<figure class=\"placeholder-image master_landscape big\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"render-container\">\n<div class=\"sc-jQrDum encROs sc-fvxzrP bYmypm lazy-load-container\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"hq-img loaded\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/static.dw.com\/image\/57209819_906.jpg?ssl=1\" alt=\"Tugu peringatan Martin Luther di kota Worms, Jerman\" \/><\/div>\n<\/div><figcaption class=\"img-caption\">Tugu peringatan Martin Luther di kota Worms, Jerman<small class=\"copyright\">Foto: Hans-Peter Marschall\/imageBROKER\/picture alliance<\/small><\/figcaption><\/figure>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Pembelaan dramatis atas 95 tesis<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sidang Worms (Diet of Worms) berawal dari peristiwa di kota Wittenberg, sekitar 500 kilometer di timur laut Worms. Di sanalah Martin Luther memperkenalkan 95 tesisnya yang terkenal kepada publik, dengan memancangkan tulisannya di pintu gerbang katedral utama. Karena dia berulangkali menolak merevisi pandangannya, Luther dipanggil menghadap ke sidang kekaisaran di kota Worms.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sidang inilah Martin Luther bersikeras mempertahankan tesis-tesisnya, sekaligus menyerang praktek penjualan surat penghapus dosa yang ketika itu diperdagangkan Gereja Katolik untuk mengumpulkan dana. Siapa yang membeli surat itu, bisa menghapus dosa-dosanya, begitu doktrin yang melatarbelakangi jual-beli surat itu, yang dikritik keras oleh Luther.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persidangan dramatis di Worms kemudian disebut-sebut sebagai awal kebangkitan gerakan protes yang kemudian melahirkan gereja baru, yaitu Gereja Protestan. Tidak heran kalau kota Worms terutama menjadi kota tujuan wisata utama bagi kelompok-kelompok gereja Protestan dari seluruh dunia.<\/p>\n<figure class=\"placeholder-image master_landscape big\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"render-container\">\n<div class=\"sc-jQrDum encROs sc-fvxzrP bYmypm lazy-load-container\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"hq-img loaded aligncenter\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/static.dw.com\/image\/57209857_906.jpg?ssl=1\" alt=\"Katedral St. Peter di kota Worms\" \/><\/div>\n<\/div><figcaption class=\"img-caption\">Katedral St. Peter di kota Worms <small class=\"copyright\">Foto: Thomas Lohnes\/epd\/imago<\/small><\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada 18 April lalu di kota Worms digelar peringatan 500 tahun persidangan Martin Luther dengan acara multimedia &#8220;The Luther Moment,&#8221; yang memproyeksikan peristiwa dramatis lima abad lalu itu ke dinding gereja.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Slogan yang dipertanyakan para ahli sejarah<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah dalam Sidang Worms Martin Luther benar-benar mengeluarkan kata-kata &#8220;Di sini aku berdiri..&#8221; yang menjadi sangat terkenal itu, masih dipertanyakan para ahli sejarah. Karena dalam protokol dari Sidang Worms tidak tercatat ada kata-kata itu. Yang dicatat adalah seruan Martin Luther ke langit: &#8220;Tuhan tolonglah saya..&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang pasti, dari Sidang Worms terjadilah perpecahan besar antara Gereja Katolik dan Protestan, yang berlangsung hingga saat ini, sekalipun sekarang kedua gereja tidak terlibat pertikaian. Bahkan sejak lama ada Gerakan Ekumene yang bertujuan menjembatani dua cabang utama gereja kristen ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di kota Worms sendiri, dengan jumlah penduduk sekitar 85 ribu orang, 28,3% beragama Protestan dan 23,4% beragama Katolik. Jutta Herbert menekankan, kota Worms memang dikenal sebagai kota Martin Luther, tetapi bukan kotanya kaum Protestan, melainkan kota Protestan dan Katolik sekaligus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(hp\/gtp\/dw)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; 500 tahun lalu, seorang biarawan Katolik menggugat ajaran dan otoritas pemimpin gerejanya. April 1521 dia dihadapkan ke persidangan di kota Worms. Tapi Martin Luther menolak menarik kritiknya. Sisanya adalah sejarah. Nama kota Worms di Jerman menjadi nama yang dikenal dunia, karena di sinilah Martin Luther &#8220;diadili&#8221; otoritas gereja dan kekaisaran atas tesis-tesisnya yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":53575,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[134,20],"tags":[503,515,517,516,518],"class_list":["post-61788","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-apologetika","category-sejarah","tag-katolik","tag-marthin-luther","tag-paus-leo-x","tag-protestaan","tag-worms"],"better_featured_image":{"id":53575,"alt_text":"","caption":"","description":"10567b35730ab8e25df3271aef82ba88","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/luther-at-the-diet-of-worms_605500baa6a7d-scaled.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/luther-at-the-diet-of-worms_605500baa6a7d-scaled.jpeg?fit=768%2C404&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/luther-at-the-diet-of-worms_605500baa6a7d-scaled.jpeg"},"categories_detail":[{"id":134,"name":"Apologetika","description":"","slug":"apologetika","count":299,"parent":0},{"id":20,"name":"Sejarah","description":"","slug":"sejarah","count":39,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/luther-at-the-diet-of-worms_605500baa6a7d-scaled.jpeg?fit=2560%2C1348&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1456","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61788","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61788"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61788\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61788"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61788"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61788"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}