{"id":61927,"date":"2022-06-20T17:28:00","date_gmt":"2022-06-20T10:28:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=61927"},"modified":"2022-06-12T22:27:42","modified_gmt":"2022-06-12T15:27:42","slug":"nadiem-tak-biarkan-intoleransi-terjadi-di-dunia-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/nadiem-tak-biarkan-intoleransi-terjadi-di-dunia-pendidikan\/","title":{"rendered":"Nadiem Tak Biarkan Intoleransi Terjadi di Dunia Pendidikan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - Selain kekerasan seksual di dunia pendidikan, masih ada permasalahan lain yang perlu dituntaskan. Masalah lain yang kerap ditemui di dunia pendidikan yakni intoleransi dan perundungan. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Anwar Makarim mengatakan, dia berkomitmen bahwa segala bentuk intoleransi tidak akan dibiarkan terjadi dalam sistem pendidikan di Indonesia. Baca juga: Tangis Greysia Polii Pecah Usai Umumkan Pensiun: Darah Saya Bulu Tangkis, Terima Kasih Semua...\\\"Prakondisi dari pembelajaran adalah perasaan aman psikologis bagi para murid dan guru-gurunya,\\\" kata Nadiem seperti dikutip dari laman Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Ristek. Menurut Nadiem, hubungan psikologis antara guru, orangtua, dan teman di sekitar kampus, memegang peranan penting dalam keberlangsungan ekosistem pembelajaran yang kondusif. Intoleransi juga menjadi dosa besar dunia pendidikan Sehingga ekosistem yang tidak kondusif seperti hal-hal intoleran yang terjadi di dalamnya, tidak boleh dibiarkan ada di lingkungan pendidikan. \\\"Masa depan dia (korban) terancam, dengan adanya trauma yang diakibatkan dosa besar tersebut,\\\" imbuh Nadiem. Kebijakan Kemendikbud Ristek saat ini juga merambah pada nilai-nilai keberagaman dan toleransi. Baca juga: Laga Ekshibisi Greysia Polii Testimonial Day: Penuh Tawa dan Hasilkan Rp 156 jutaHal ini terlihat pada program Kampus Merdeka dan pertukaran pelajar baik di dalam negeri maupun luar negeri. \\\"Mereka (mahasiswa) akan praktik langsung mengenai toleransi dalam kerukunan antaragama (dari program ini),\\\" ungkap Nadiem. Keberagaman merupakan hal wajar Senada dengan itu, Sekretaris Umum (Katib Aam) PBNU, Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa keberagaman merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Siapapun berhak memiliki cara pandang yang berbeda tentang suatu kebajikan. Satu sama lain tidak boleh memaksakan kehendak atas kepercayaan yang dianut, dan setiap orang harus diperlakukan secara adil dan setara. \\\"Peniadaan prasangka, tidak boleh ada paksaan. Kita harus berbuat adil kepada sesama, ini merupakan basis ajaran fundamental dalam Islam,\\\" tegas Yahya. Sebagai bentuk penerapan toleransi antarumat beragama yang baik, Mendikbudristek bercerita tentang pengalamannya mengunjungi salah satu sekolah di Medan. Sekolah tersebut kata dia, memiliki empat fasilitas ibadah, yaitu: masjid, gereja, wihara, dan pura. \\\"Pada saat menerima saya, dilafalkan empat doa berbeda pada waktu yang bersamaan, sangat menginspirasi saya,\\\" tandas Yahya. Saling menghormati keyakinan satu sama lain Sementara itu Rohaniwan Katolik, Franz Magnis Suseno menambahkan, pengenalan terhadap latar belakang orang lain diperlukan supaya masing-masing individu dapat saling menghormati keyakinan satu sama lain. Franz mengingatkan, agar seluruh lapisan masyarakat mawas diri dengan keragaman yang terjadi di sekitarnya. Ia menekankan bahwa tidak selalu yang berbeda itu mengancam, mencurigakan, atau membahayakan. Meskipun tingkat kewaspadaan juga harus senantiasa kita utamakan. Baca juga: Posisi Timnas Indonesia di Ranking FIFA Usai Lawan Yordania\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Selain kekerasan seksual di dunia pendidikan, masih ada permasalahan lain yang perlu dituntaskan.<\/p>\n<div class=\"clearfix\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah lain yang kerap ditemui di dunia pendidikan yakni intoleransi dan perundungan.<br \/>\nMenteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Anwar Makarim mengatakan, dia berkomitmen bahwa segala bentuk intoleransi tidak akan dibiarkan terjadi dalam sistem pendidikan di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"read__bacajuga\" style=\"display: none;\"><strong>Baca juga: Tangis Greysia Polii Pecah Usai Umumkan Pensiun: Darah Saya Bulu Tangkis, Terima Kasih Semua&#8230;<\/strong><\/span>&#8220;Prakondisi dari pembelajaran adalah perasaan aman psikologis bagi para murid dan guru-gurunya,&#8221; kata Nadiem seperti dikutip dari laman Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Ristek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"ads-on-body\"><!-- (ads.paragraph.4) --><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Nadiem, hubungan psikologis antara guru, orangtua, dan teman di sekitar kampus, memegang peranan penting dalam keberlangsungan ekosistem pembelajaran yang kondusif.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Intoleransi juga menjadi dosa besar dunia pendidikan<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sehingga ekosistem yang tidak kondusif seperti hal-hal intoleran yang terjadi di dalamnya, tidak boleh dibiarkan ada di lingkungan pendidikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Masa depan dia (korban) terancam, dengan adanya trauma yang diakibatkan dosa besar tersebut,&#8221; imbuh Nadiem.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebijakan Kemendikbud Ristek saat ini juga merambah pada nilai-nilai keberagaman dan toleransi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"read__bacajuga\" style=\"display: none;\"><strong>Baca juga: Laga Ekshibisi Greysia Polii Testimonial Day: Penuh Tawa dan Hasilkan Rp 156 juta<\/strong><\/span>Hal ini terlihat pada program Kampus Merdeka dan pertukaran pelajar baik di dalam negeri maupun luar negeri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mereka (mahasiswa) akan praktik langsung mengenai toleransi dalam kerukunan antaragama (dari program ini),&#8221; ungkap Nadiem.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Keberagaman merupakan hal wajar<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Senada dengan itu, Sekretaris Umum (Katib Aam) PBNU, Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa keberagaman merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siapapun berhak memiliki cara pandang yang berbeda tentang suatu kebajikan.<br \/>\nSatu sama lain tidak boleh memaksakan kehendak atas kepercayaan yang dianut, dan setiap orang harus diperlakukan secara adil dan setara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Peniadaan prasangka, tidak boleh ada paksaan. Kita harus berbuat adil kepada sesama, ini merupakan basis ajaran fundamental dalam Islam,&#8221; tegas Yahya.<strong><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai bentuk penerapan toleransi antarumat beragama yang baik, Mendikbudristek bercerita tentang pengalamannya mengunjungi salah satu sekolah di Medan. Sekolah tersebut kata dia, memiliki empat fasilitas ibadah, yaitu: masjid, gereja, wihara, dan pura.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pada saat menerima saya, dilafalkan empat doa berbeda pada waktu yang bersamaan, sangat menginspirasi saya,&#8221; tandas Yahya.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Saling menghormati keyakinan satu sama lain<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu Rohaniwan Katolik, Franz Magnis Suseno menambahkan, pengenalan terhadap latar belakang orang lain diperlukan supaya masing-masing individu dapat saling menghormati keyakinan satu sama lain.<strong><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Franz mengingatkan, agar seluruh lapisan masyarakat mawas diri dengan keragaman yang terjadi di sekitarnya. Ia menekankan bahwa tidak selalu yang berbeda itu mengancam, mencurigakan, atau membahayakan. Meskipun tingkat kewaspadaan juga harus senantiasa kita utamakan.<i><br \/>\n<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"read__bacajuga\" style=\"display: none;\"><strong>Baca juga: Posisi Timnas Indonesia di Ranking FIFA Usai Lawan Yordania<\/strong><\/span><!-- (ads.native_banner) --><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Selain kekerasan seksual di dunia pendidikan, masih ada permasalahan lain yang perlu dituntaskan. Masalah lain yang kerap ditemui di dunia pendidikan yakni intoleransi dan perundungan. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Anwar Makarim mengatakan, dia berkomitmen bahwa segala bentuk intoleransi tidak akan dibiarkan terjadi dalam sistem pendidikan di Indonesia. Baca [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":62172,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"14"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[14,3],"tags":[513,178,209],"class_list":["post-61927","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan","category-umum","tag-bullying","tag-intoleransi","tag-radikalisme"],"better_featured_image":{"id":62172,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Nadiem_makarim.jpg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Nadiem_makarim.jpg?fit=720%2C403&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Nadiem_makarim.jpg"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Nadiem_makarim.jpg?fit=720%2C403&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"837","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61927","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61927"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61927\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/62172"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61927"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61927"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61927"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}