{"id":61954,"date":"2022-06-04T10:15:43","date_gmt":"2022-06-04T03:15:43","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=61954"},"modified":"2022-06-04T10:15:48","modified_gmt":"2022-06-04T03:15:48","slug":"hasiholan-dirikan-temani-selaraskan-teologi-kristen-dengan-pancasila","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/hasiholan-dirikan-temani-selaraskan-teologi-kristen-dengan-pancasila\/","title":{"rendered":"Hasiholan dirikan Temani selaraskan teologi Kristen dengan Pancasila"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca Artikel<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Diakonia.id - \u00a0Pendeta Hasiholan Sihalaho membentuk Teologi Mandiri Indonesia (Temani) untuk lebih menyelaraskan teologi Kristen dengan dengan prinsip Pancasila.\\\"Teologi Kristen yang berkembang di Indonesia banyak dipengaruhi oleh teologi dari Eropa sehingga penerapannya kurang beriringan dengan konsep Pancasila,\\\" kata Hasiholan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat. Dasar pendiriannya, kata\u00a0Hasiholan, adalah membangun konsep teologi yang secara kontekstual sesuai dengan negara Indonesia. Selama ini, konteks Kristen mayoritas dipengaruhi oleh teologi-teologi dari Eropa yang belum tentu atau hampir pasti tidak sesuai dengan corak budaya Nusantara. Hasiholan menjelaskan bahwa Temani telah mendapat pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) sebagai perhimpunan. Temani resmi dikenalkan kepada publik pada hari Rabu, 1 Juni 2022, bersamaan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila. Pembentukan Temani, kata dia, untuk menemukan kesamaan dalam teologi, baik antara agama satu dan agama lainnya maupun antaragama sesama yang berbeda aliran, demi terciptanya kerukunan dan kedamaian beragama di Indonesia. Ia mengemukakan\u00a0bahwa Temani membawa program teologi damai, tenggang rasa, teologi tidak untuk menghakimi manusia lainnya, atau mengagungkan manusia lainnya. \\\"Teologi harus bermuara pada kasih kepada Allah\u00a0dan kasih kepada sesama. Teologi yang tidak mengasihi sesama adalah teologi yang salah\u00a0karena Allah tidak terlihat,\\\" ucap Hasiholan. Menurut dia, tujuan lainnya adalah teologi harus mendukung cita-cita Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD NRI Tahun 1945 pada alinea ke-4. Dalam poin tersebut, tercantum cita-cita untuk melindungi segenap tumpah darah, memajukan ketertiban umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut terlibat dalam ketertiban dunia. \\\"Target kami ke depan bisa memberi dana kepada guru-guru ngaji yang ada di daerah, di garis-garis terluar yang kekurangan, termasuk guru-guru agama Hindu, Buddha, dan honorer yang mengabdi di daerah,\\\" kata Hasiholan. Pendeta Hasiholan memperkirakan sampai akhir tahun 2022 bisa menyalurkan dana untuk 200 penerima. Dana ini didapat dari pribadi-pribadi yang mau membantu, dan keluarga yang mau membantu. (antara)\", \"Indonesian Male\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; \u00a0Pendeta Hasiholan Sihalaho membentuk Teologi Mandiri Indonesia (Temani) untuk lebih menyelaraskan teologi Kristen dengan dengan prinsip Pancasila.&#8221;Teologi Kristen yang berkembang di Indonesia banyak dipengaruhi oleh teologi dari Eropa sehingga penerapannya kurang beriringan dengan konsep Pancasila,&#8221; kata Hasiholan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Dasar pendiriannya, kata\u00a0Hasiholan, adalah membangun konsep teologi yang secara kontekstual sesuai dengan negara Indonesia. Selama ini, konteks Kristen mayoritas dipengaruhi oleh teologi-teologi dari Eropa yang belum tentu atau hampir pasti tidak sesuai dengan corak budaya Nusantara.<\/p>\n<p>Hasiholan menjelaskan bahwa Temani telah mendapat pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) sebagai perhimpunan. Temani resmi dikenalkan kepada publik pada hari Rabu, 1 Juni 2022, bersamaan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila.<\/p>\n<p>Pembentukan Temani, kata dia, untuk menemukan kesamaan dalam teologi, baik antara agama satu dan agama lainnya maupun antaragama sesama yang berbeda aliran, demi terciptanya kerukunan dan kedamaian beragama di Indonesia.<\/p>\n<p>Ia mengemukakan\u00a0bahwa Temani membawa program teologi damai, tenggang rasa, teologi tidak untuk menghakimi manusia lainnya, atau mengagungkan manusia lainnya.<\/p>\n<p>&#8220;Teologi harus bermuara pada kasih kepada Allah\u00a0dan kasih kepada sesama. Teologi yang tidak mengasihi sesama adalah teologi yang salah\u00a0karena Allah tidak terlihat,&#8221; ucap Hasiholan.<\/p>\n<p>Menurut dia, tujuan lainnya adalah teologi harus mendukung cita-cita Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD NRI Tahun 1945 pada alinea ke-4.<\/p>\n<p>Dalam poin tersebut, tercantum cita-cita untuk melindungi segenap tumpah darah, memajukan ketertiban umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut terlibat dalam ketertiban dunia.<\/p>\n<p>&#8220;Target kami ke depan bisa memberi dana kepada guru-guru ngaji yang ada di daerah, di garis-garis terluar yang kekurangan, termasuk guru-guru agama Hindu, Buddha, dan honorer yang mengabdi di daerah,&#8221; kata Hasiholan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendeta Hasiholan memperkirakan sampai akhir tahun 2022 bisa menyalurkan dana untuk 200 penerima. Dana ini didapat dari pribadi-pribadi yang mau membantu, dan keluarga yang mau membantu. (antara)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; \u00a0Pendeta Hasiholan Sihalaho membentuk Teologi Mandiri Indonesia (Temani) untuk lebih menyelaraskan teologi Kristen dengan dengan prinsip Pancasila.&#8221;Teologi Kristen yang berkembang di Indonesia banyak dipengaruhi oleh teologi dari Eropa sehingga penerapannya kurang beriringan dengan konsep Pancasila,&#8221; kata Hasiholan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat. Dasar pendiriannya, kata\u00a0Hasiholan, adalah membangun konsep teologi yang secara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":61955,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"14"},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-61954","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan"],"better_featured_image":{"id":61955,"alt_text":"","caption":"","description":"4ae1fa4c78880261a352fa8b3cb180f8","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/hasiholan-dirikan-temani-selaraskan-teologi-kristen-dengan-pancasila_629a44830371e.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/hasiholan-dirikan-temani-selaraskan-teologi-kristen-dengan-pancasila_629a44830371e.jpeg?fit=768%2C512&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/hasiholan-dirikan-temani-selaraskan-teologi-kristen-dengan-pancasila_629a44830371e.jpeg"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/hasiholan-dirikan-temani-selaraskan-teologi-kristen-dengan-pancasila_629a44830371e.jpeg?fit=800%2C533&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"731","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61954","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61954"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61954\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61955"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61954"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61954"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61954"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}