{"id":62788,"date":"2023-04-02T12:55:35","date_gmt":"2023-04-02T05:55:35","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=62788"},"modified":"2023-04-02T12:55:35","modified_gmt":"2023-04-02T05:55:35","slug":"nasihat-paulus-tentang-pemenang-sejati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/nasihat-paulus-tentang-pemenang-sejati\/","title":{"rendered":"Nasihat Paulus tentang Pemenang Sejati"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Rasul Paulus menulis surat dari penjara untuk memelihara komunikasi dengan jemaat di Filipi. Ia memberikan nasihat-nasihat kepada jemaat di Filipi, bagaimana mengembangkan sikap hidup untuk menjadi seorang pemenang. Nasihat-nasihat tersebut dituliskannya berdasarkan inspirasi yang diperolehnya dari Tuhan Yesus yang sudah bangkit. Di antara kita mungkin ada yang merasa bahwa hidupnya telah gagal. Ada yang merasa selalu mengalami persoalan demi persoalan. Ada yang merasa tidak pernah meraih kesuksesan baik dalam pekerjaan ataupun pelayanan. Saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa orang Kristen akan bebas dari masalah, tetapi Tuhan berjanji untuk tetap menyertai kita untuk mendapat kemenangan. Bagian kita adalah tetap berkarya dan bersyukur! Tulisan ini mengajak kita unutk belajar dan mengembangkan ciri seorang pemenang dari Kitab Filipi. Gambaran yang dipakai oleh Paulus dalam nats ini adalah pertandingan atlit dalam gelanggang olimpiade. Ia menggunakan gambaran atlit olimpiade karena olahraga ini saat itu sudah memasyarakat. Dalam artian lain, Paulus mau menyatakan bahwa hidup adalah pertandingan. Setiap kita adalah atlit Allah yang punya kans untuk memenangkan pertandingan. Ada 3 ciri yang kita peroleh dari Rasul Paulus melalui Kitab Filipi 3:12-14, untuk memiliki ciri seorang pemenang. Pertama, tidak cepat puas. Pernyataan Paulus, \u201cbukan seolah-olah aku telah memperolehnya hal ini atau telah sempurna\u201d (12) dan\u2026\u201dtidak mengangap bahwa aku telah menangkapnya\u201d. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Paulus bukanlah rasul yang berpuas diri dengan prestasi rohani yang sudah diraihnya, tetapi dia berusaha untuk terus-menerus menciptakan prestasi. Seorang pemenang sejati tidak akan berpuas diri dengan prestasi yang sudah diraihnya. Dia akan terus berlatih untuk menciptakan rekor yang baru. Kata kuncinya adalah inovasi terus menerus. Meras puas dengan prestasi rohani yang diraihnya, bisa membuat kita sombong rohani. Kenapa kita cepat puas diri? Karena kita membandingkan prestasi rohani kita dengan prestasi orang lain. Akibatnya kita merasa lebih baik dari orang lain. Orang yang membandingkan kebaikan yang diperbuatnya dengan kebaikan yang Tuhan perbuat atas dirinya akan menciptakan keinginan diri untuk memberi yang terbaik lagi untuk kemuliaan Tuhan. Kedua, melupakan apa yang telah di belakang. Seorag atlit yang masih membawa ransel atau tas di belakang punggung, saat berada di lintasan lari, maka laju larinya tidak akan pernah optimal. Melupakan yang telah di belakang berarti sudah berdamai dengan masa lalu dan tidak sudi untuk kembali kepada masa lalunya. Kata \u201cmelupakan\u201d dalam (13) bukan berarti tidak ingat di otak, tetapi tidak mengingat-ingat atau tidak lagi dipengaruhi oleh peristiwa tragis atau kegagalan yang telah terjadi. Untuk menjelaskan ini, ingat Yusuf dan Yakob, bukan kah Yususf \u00a0masih teringatkan kejahatan saudara-saudaranya (Kej.50:20-21)? Pemenang sejati bukan tidak pernah kalah, tetapi belajar dari kekalahan untuk meraih dan mempertahankan kemenangan demi kemenangan yang berikutnya. Ketiga, fokus pada tujuan. \u00a0Pelari harus selalu fokus atau \u201cmengarahkan diri\u201d (13b) kepada tujuan. Dan tujuannya adalah garis akhir. Ketahuilah bahwa fakta-fakta keberhasilan atau kemenangan terletak pada akhir pertandingan, bukan awal pertandingan atau pertengahan. Pemenang sejati senantiasa memandang \u201chadiah\u201d atau mahkota yang kelak diterima bila ia menjadi juara. Memandang upah atau hadiah akan melahirkan semangat diri untuk menggapai kemenangan (14). Rasul Paulus mempunyai motivasi untuk meninggalkan masa lalunya. Dalam ayat 14, ia mengatakan: \u201cdan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah \u201c\u2013 apa hadiahnya? \u2013 \u201cpanggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.\u201d (kemenag) Penulis: Pdt. Iskandar Takoy, M.Th\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Rasul Paulus menulis surat dari penjara untuk memelihara komunikasi dengan jemaat di Filipi. Ia memberikan nasihat-nasihat kepada jemaat di Filipi, bagaimana mengembangkan sikap hidup untuk menjadi seorang pemenang. Nasihat-nasihat tersebut dituliskannya berdasarkan inspirasi yang diperolehnya dari Tuhan Yesus yang sudah bangkit.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>Di antara kita mungkin ada yang merasa bahwa hidupnya telah gagal. Ada yang merasa selalu mengalami persoalan demi persoalan. Ada yang merasa tidak pernah meraih kesuksesan baik dalam pekerjaan ataupun pelayanan.<\/p>\n<p>Saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa orang Kristen akan bebas dari masalah, tetapi Tuhan berjanji untuk tetap menyertai kita untuk mendapat kemenangan. Bagian kita adalah tetap berkarya dan bersyukur! Tulisan ini mengajak kita unutk belajar dan mengembangkan ciri seorang pemenang dari Kitab Filipi.<\/p>\n<p>Gambaran yang dipakai oleh Paulus dalam nats ini adalah pertandingan atlit dalam gelanggang olimpiade. Ia menggunakan gambaran atlit olimpiade karena olahraga ini saat itu sudah memasyarakat. Dalam artian lain, Paulus mau menyatakan bahwa hidup adalah pertandingan. Setiap kita adalah atlit Allah yang punya kans untuk memenangkan pertandingan.<\/p>\n<p>Ada 3 ciri yang kita peroleh dari Rasul Paulus melalui Kitab Filipi 3:12-14, untuk memiliki ciri seorang pemenang. Pertama, tidak cepat puas. Pernyataan Paulus, \u201cbukan seolah-olah aku telah memperolehnya hal ini atau telah sempurna\u201d (12) dan\u2026\u201dtidak mengangap bahwa aku telah menangkapnya\u201d.<\/p>\n<p>Pernyataan ini menunjukkan bahwa Paulus bukanlah rasul yang berpuas diri dengan prestasi rohani yang sudah diraihnya, tetapi dia berusaha untuk terus-menerus menciptakan prestasi. Seorang pemenang sejati tidak akan berpuas diri dengan prestasi yang sudah diraihnya. Dia akan terus berlatih untuk menciptakan rekor yang baru. Kata kuncinya adalah inovasi terus menerus.<\/p>\n<p>Meras puas dengan prestasi rohani yang diraihnya, bisa membuat kita sombong rohani. Kenapa kita cepat puas diri? Karena kita membandingkan prestasi rohani kita dengan prestasi orang lain. Akibatnya kita merasa lebih baik dari orang lain. Orang yang membandingkan kebaikan yang diperbuatnya dengan kebaikan yang Tuhan perbuat atas dirinya akan menciptakan keinginan diri untuk memberi yang terbaik lagi untuk kemuliaan Tuhan.<\/p>\n<p>Kedua, melupakan apa yang telah di belakang. Seorag atlit yang masih membawa ransel atau tas di belakang punggung, saat berada di lintasan lari, maka laju larinya tidak akan pernah optimal. Melupakan yang telah di belakang berarti sudah berdamai dengan masa lalu dan tidak sudi untuk kembali kepada masa lalunya.<\/p>\n<p>Kata \u201cmelupakan\u201d dalam (13) bukan berarti tidak ingat di otak, tetapi tidak mengingat-ingat atau tidak lagi dipengaruhi oleh peristiwa tragis atau kegagalan yang telah terjadi. Untuk menjelaskan ini, ingat Yusuf dan Yakob, bukan kah Yususf \u00a0masih teringatkan kejahatan saudara-saudaranya (Kej.50:20-21)?<\/p>\n<p>Pemenang sejati bukan tidak pernah kalah, tetapi belajar dari kekalahan untuk meraih dan mempertahankan kemenangan demi kemenangan yang berikutnya.<\/p>\n<p>Ketiga, fokus pada tujuan. \u00a0Pelari harus selalu fokus atau \u201cmengarahkan diri\u201d (13b) kepada tujuan. Dan tujuannya adalah garis akhir. Ketahuilah bahwa fakta-fakta keberhasilan atau kemenangan terletak pada akhir pertandingan, bukan awal pertandingan atau pertengahan.<\/p>\n<p>Pemenang sejati senantiasa memandang \u201chadiah\u201d atau mahkota yang kelak diterima bila ia menjadi juara. Memandang upah atau hadiah akan melahirkan semangat diri untuk menggapai kemenangan (14).<\/p>\n<p>Rasul Paulus mempunyai motivasi untuk meninggalkan masa lalunya. Dalam ayat 14, ia mengatakan: \u201cdan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah \u201c\u2013 apa hadiahnya? \u2013 \u201cpanggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.\u201d (kemenag)<\/p>\n<p><em><strong>Penulis: Pdt. Iskandar Takoy, M.Th <\/strong><\/em><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Rasul Paulus menulis surat dari penjara untuk memelihara komunikasi dengan jemaat di Filipi. Ia memberikan nasihat-nasihat kepada jemaat di Filipi, bagaimana mengembangkan sikap hidup untuk menjadi seorang pemenang. Nasihat-nasihat tersebut dituliskannya berdasarkan inspirasi yang diperolehnya dari Tuhan Yesus yang sudah bangkit. Di antara kita mungkin ada yang merasa bahwa hidupnya telah gagal. Ada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32165,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[69,70,78],"tags":[],"class_list":["post-62788","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-inspirasi","category-relasi","category-renungan"],"better_featured_image":{"id":32165,"alt_text":"","caption":"","description":"fee8913c3bd3653902c809abcd9cb8a7","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/menang-atas-ketakutan-anda_5df71305e9bf2.jpeg","medium_large":false,"post_thumbnail":false},"categories_detail":[{"id":69,"name":"Inspirasi","description":"","slug":"inspirasi","count":10,"parent":0},{"id":70,"name":"Keluarga &amp; Relasi","description":"","slug":"relasi","count":76,"parent":0},{"id":78,"name":"Renungan","description":"","slug":"renungan","count":399,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/menang-atas-ketakutan-anda_5df71305e9bf2.jpeg?fit=1000%2C500&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"875","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62788","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62788"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62788\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63911,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62788\/revisions\/63911"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62788"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62788"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62788"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}