{"id":63918,"date":"2023-04-07T14:22:12","date_gmt":"2023-04-07T07:22:12","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=63918"},"modified":"2023-04-07T14:22:12","modified_gmt":"2023-04-07T07:22:12","slug":"shinta-nuriyah-ajak-semua-umat-beragama-jaga-tali-persaudaraan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/shinta-nuriyah-ajak-semua-umat-beragama-jaga-tali-persaudaraan\/","title":{"rendered":"Shinta Nuriyah ajak semua umat beragama jaga tali persaudaraan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Ibu Negara RI keempat Dr (HC) Hj. Shinta Nuriyah Wahid mengajak semua umat beragama menjaga tali persaudaraan, rasa cinta kasih dan saling menghargai dan menyayangi agar bisa hidup rukun dan damai. &quot;Karena dengan bersatu padu akan menjadi soko guru utama bagi tegaknya Negara Indonesia. Dengan situasi wilayah yang aman dan damai tentunya akan menjadi negara gemah ripah loh jinawi,&quot; ujarnya saat menghadiri buka puasa bersama di Kampung Sawah Segaran Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, di Kudus, Minggu. Ajakan menjaga tali persaudaraan terhadap semua umat beragama disampaikan, karena yang menghadiri acara buka puasa bersama tidak hanya dihadiri umat Muslim, melainkan ada umat agama lain, seperti Kristen, Budha, Konghucu serta aliran penghayat kepercayaan. Dalam rangka mewujudkan tali persaudaraan antar-umat, kata dia, selama mendampingi Abdurahman Wahid atau Gus Dur saat menjabat Presiden RI keempat sering membuat acara sahur bersama dengan kaum marjinal, di antaranya pengamen, dhuafa, pedagang sayur di pasar tradisional, kuli bangunan, serta tukang becak. Tujuan mengajak sahur bersama dengan kaum dhuafa, di antaranya agar mereka bisa menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Tujuan lainnya, yakni ingin mempersatukan semua orang bisa hidup rukun dan damai, karena dengan bersatu padu akan menjadi Soko guru utama bagi tegaknya bangsa Indonesia. Sementara acara buka bersama, imbuh dia, justru tidak pernah karena sudah banyak yang menyelenggarakannya. Sedangkan yang menyelenggarakan dan yang diundang terkadang juga tidak menjalankan puasa. Berbeda dengan acara sahur bersama, kata dia, bertujuan memberikan kesempatan kaum marjinal makan sahur yang terbaik, karena selama ini mereka belum tentu mampu menyiapkannya dengan baik. Bahkan, kata dia, pihaknya juga tidak segan untuk sahur bersama di tempat yang tidak biasa, seperti di kolong jembatan tempat para kuli bangunan bermukim sementara. &quot;Kalau sahur bersama dengan mbok-mbok bakul sayur di pasar, ya di tengah-tengah mereka berjualan, karena tentunya mereka juga tidak bisa menyiapkan menu sahur dengan sebaik-baiknya,&quot; ujarnya. Sementara sahur bersama pengamen dan tukang becak, katanya, akan digelar di alun-alun atau dekat terminal maupun stasiun. &quot;Karena juga dengan umat beragama lain, pelaksanaannya juga bisa di halaman gereja dan klenteng atau di mana saja, karena kita bersaudara,&quot; ujarnya. (antara)\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Ibu Negara RI keempat Dr (HC) Hj. Shinta Nuriyah Wahid mengajak semua umat beragama menjaga tali persaudaraan, rasa cinta kasih dan saling menghargai dan menyayangi agar bisa hidup rukun dan damai.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>&#8220;Karena dengan bersatu padu akan menjadi soko guru utama bagi tegaknya Negara Indonesia. Dengan situasi wilayah yang aman dan damai tentunya akan menjadi negara <em>gemah ripah loh jinawi<\/em>,&#8221; ujarnya saat menghadiri buka puasa bersama di Kampung Sawah Segaran Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, di Kudus, Minggu.<\/p>\n<p>Ajakan menjaga tali persaudaraan terhadap semua umat beragama disampaikan, karena yang menghadiri acara buka puasa bersama tidak hanya dihadiri umat Muslim, melainkan ada umat agama lain, seperti Kristen, Budha, Konghucu serta aliran penghayat kepercayaan.<\/p>\n<p>Dalam rangka mewujudkan tali persaudaraan antar-umat, kata dia, selama mendampingi Abdurahman Wahid atau Gus Dur saat menjabat Presiden RI keempat sering membuat acara sahur bersama dengan kaum marjinal, di antaranya pengamen, dhuafa, pedagang sayur di pasar tradisional, kuli bangunan, serta tukang becak.<\/p>\n<p>Tujuan mengajak sahur bersama dengan kaum dhuafa, di antaranya agar mereka bisa menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.<\/p>\n<p>Tujuan lainnya, yakni ingin mempersatukan semua orang bisa hidup rukun dan damai, karena dengan bersatu padu akan menjadi Soko guru utama bagi tegaknya bangsa Indonesia.<\/p>\n<p>Sementara acara buka bersama, imbuh dia, justru tidak pernah karena sudah banyak yang menyelenggarakannya. Sedangkan yang menyelenggarakan dan yang diundang terkadang juga tidak menjalankan puasa.<\/p>\n<p>Berbeda dengan acara sahur bersama, kata dia, bertujuan memberikan kesempatan kaum marjinal makan sahur yang terbaik, karena selama ini mereka belum tentu mampu menyiapkannya dengan baik.<\/p>\n<p>Bahkan, kata dia, pihaknya juga tidak segan untuk sahur bersama di tempat yang tidak biasa, seperti di kolong jembatan tempat para kuli bangunan bermukim sementara.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau sahur bersama dengan mbok-mbok bakul sayur di pasar, ya di tengah-tengah mereka berjualan, karena tentunya mereka juga tidak bisa menyiapkan menu sahur dengan sebaik-baiknya,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara sahur bersama pengamen dan tukang becak, katanya, akan digelar di alun-alun atau dekat terminal maupun stasiun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Karena juga dengan umat beragama lain, pelaksanaannya juga bisa di halaman gereja dan klenteng atau di mana saja, karena kita bersaudara,&#8221; ujarnya. (antara)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Ibu Negara RI keempat Dr (HC) Hj. Shinta Nuriyah Wahid mengajak semua umat beragama menjaga tali persaudaraan, rasa cinta kasih dan saling menghargai dan menyayangi agar bisa hidup rukun dan damai. &#8220;Karena dengan bersatu padu akan menjadi soko guru utama bagi tegaknya Negara Indonesia. Dengan situasi wilayah yang aman dan damai tentunya akan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":63886,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-63918","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebangsaan"],"better_featured_image":{"id":63886,"alt_text":"","caption":"","description":"4d1cf9964f2373845a298265eb2175a5","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/kedamaian-berbangsa-menuju-pemilu-2024-tanpa-politisasi-agama_641f31beb2047.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/kedamaian-berbangsa-menuju-pemilu-2024-tanpa-politisasi-agama_641f31beb2047.jpeg?fit=622%2C350&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/kedamaian-berbangsa-menuju-pemilu-2024-tanpa-politisasi-agama_641f31beb2047.jpeg"},"categories_detail":[{"id":14,"name":"Kebangsaan","description":"","slug":"kebangsaan","count":107,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/kedamaian-berbangsa-menuju-pemilu-2024-tanpa-politisasi-agama_641f31beb2047.jpeg?fit=622%2C350&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"708","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63918","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63918"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63918\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64513,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63918\/revisions\/64513"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63886"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63918"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63918"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63918"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}