{"id":63944,"date":"2023-04-03T11:10:50","date_gmt":"2023-04-03T04:10:50","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=63944"},"modified":"2023-04-03T11:13:27","modified_gmt":"2023-04-03T04:13:27","slug":"vatikan-batalkan-doktrin-penemuan-yang-legitimasi-penaklukan-kolonial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/vatikan-batalkan-doktrin-penemuan-yang-legitimasi-penaklukan-kolonial\/","title":{"rendered":"Vatikan batalkan doktrin penemuan yang legitimasi penaklukan kolonial"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Vatikan secara resmi membatalkan &quot;doktrin penemuan&quot; yang memberikan pembenaran terhadap penaklukan Afrika dan Amerika oleh kuasa kolonial Eropa beberapa abad yang lalu, seraya menegaskan hal tersebut bukan bagian dari ajaran Gereja Katolik. Vatikan, melalui pernyataan departemen kebudayaan dan pembangunan manusia, mengakui bahwa beberapa dokumen kepausan dari abad ke-15 telah memberikan legitimasi kepada tindakan-tindakan kuasa kolonial, termasuk perbudakan. Departemen tersebut secara spesifik menyebut bulla-bulla kepausan Dum Diversas tahun 1452, Romanus Pontifex tahun 1455, dan Inter Caetera tahun 1493. &quot;Penelitian sejarah secara gamblang menunjukkan bahwa dokumen kepausan tersebut, yang ditulis di era sejarah yang spesifik dan menyangkut persoalan politik, tidak pernah mempertimbangkan ekspresi dari keyakinan Katolik,&quot; kata departemen tersebut. Mereka menyatakan bahwa dokumen tersebut dimanipulasi untuk tujuan politis oleh kuasa-kuasa kolonial yang saling bersaing untuk membenarkan tindakan amoral terhadap masyarakat pribumi yang dilakukan, saat itu, tanpa penolakan dari otoritas Gereja. Departemen Vatikan tersebut mengakui bulla-bulla tersebut, yang memberikan legitimasi politik terhadap penaklukan Afrika dan Amerika oleh Spanyol dan Portugal, tidak merefleksikan kesetaraan martabat dan hak yang dimiliki masyarakat pribumi. &quot;Ini hanya untuk mengenali kesalahan-kesalahan tersebut, mengakui dampak-dampak buruk kebijakan asimilasi dan rasa sakit yang diderita masyarakat pribumi, serta meminta maaf atas hal tersebut,&quot; lanjutnya. Gereja Katolik Roma telah sejak lama menghadapi tuduhan terlibat dalam kejahatan kolonial negara-negara Barat dan keturunannya yang mengklaim melakukannya demi menyebarkan ajaran Kristiani. Paus Fransiskus, yang pertama yang berasal dari Benua Amerika, mulai merangkul masyarakat pribumi, seperti yang ia lakukan dengan menyatakan permohonan maaf atas penindasan yang dialami masyarakat Inuit kala kunjungannya ke daerah Arktika Kanada tahun lalu. Sebelumnya, Paus Benediktus XVI pada 2007 juga merilis sebuah buku yang mengecam negara-negara kaya yang telah tanpa ampun menjarah Afrika dan daerah miskin lainnya serta mengekspor &quot;sinisme dunia tanpa Tuhan&quot; kepada mereka.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; Vatikan secara resmi membatalkan &#8220;doktrin penemuan&#8221; yang memberikan pembenaran terhadap penaklukan Afrika dan Amerika oleh kuasa kolonial Eropa beberapa abad yang lalu, seraya menegaskan hal tersebut bukan bagian dari ajaran Gereja Katolik.<\/p>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Vatikan, melalui pernyataan departemen kebudayaan dan pembangunan manusia, mengakui bahwa beberapa dokumen kepausan dari abad ke-15 telah memberikan legitimasi kepada tindakan-tindakan kuasa kolonial, termasuk perbudakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Departemen tersebut secara spesifik menyebut bulla-bulla kepausan Dum Diversas tahun 1452, Romanus Pontifex tahun 1455, dan Inter Caetera tahun 1493.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Penelitian sejarah secara gamblang menunjukkan bahwa dokumen kepausan tersebut, yang ditulis di era sejarah yang spesifik dan menyangkut persoalan politik, tidak pernah mempertimbangkan ekspresi dari keyakinan Katolik,&#8221; kata departemen tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka menyatakan bahwa dokumen tersebut dimanipulasi untuk tujuan politis oleh kuasa-kuasa kolonial yang saling bersaing untuk membenarkan tindakan amoral terhadap masyarakat pribumi yang dilakukan, saat itu, tanpa penolakan dari otoritas Gereja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Departemen Vatikan tersebut mengakui bulla-bulla tersebut, yang memberikan legitimasi politik terhadap penaklukan Afrika dan Amerika oleh Spanyol dan Portugal, tidak merefleksikan kesetaraan martabat dan hak yang dimiliki masyarakat pribumi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ini hanya untuk mengenali kesalahan-kesalahan tersebut, mengakui dampak-dampak buruk kebijakan asimilasi dan rasa sakit yang diderita masyarakat pribumi, serta meminta maaf atas hal tersebut,&#8221; lanjutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja Katolik Roma telah sejak lama menghadapi tuduhan terlibat dalam kejahatan kolonial negara-negara Barat dan keturunannya yang mengklaim melakukannya demi menyebarkan ajaran Kristiani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paus Fransiskus, yang pertama yang berasal dari Benua Amerika, mulai merangkul masyarakat pribumi, seperti yang ia lakukan dengan menyatakan permohonan maaf atas penindasan yang dialami masyarakat Inuit kala kunjungannya ke daerah Arktika Kanada tahun lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelumnya, Paus Benediktus XVI pada 2007 juga merilis sebuah buku yang mengecam negara-negara kaya yang telah tanpa ampun menjarah Afrika dan daerah miskin lainnya serta mengekspor &#8220;sinisme dunia tanpa Tuhan&#8221; kepada mereka.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Vatikan secara resmi membatalkan &#8220;doktrin penemuan&#8221; yang memberikan pembenaran terhadap penaklukan Afrika dan Amerika oleh kuasa kolonial Eropa beberapa abad yang lalu, seraya menegaskan hal tersebut bukan bagian dari ajaran Gereja Katolik. Vatikan, melalui pernyataan departemen kebudayaan dan pembangunan manusia, mengakui bahwa beberapa dokumen kepausan dari abad ke-15 telah memberikan legitimasi kepada tindakan-tindakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":64482,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"Reuters\/ Antara","source_url":"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/3464778\/vatikan-batalkan-doktrin-penemuan-yang-legitimasi-penaklukan-kolonial","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"22","hide":""},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[22,3],"tags":[],"class_list":["post-63944","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional","category-umum"],"better_featured_image":{"id":64482,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/vatikan.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/vatikan.png?fit=768%2C509&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/vatikan.png"},"categories_detail":[{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/vatikan.png?fit=1329%2C881&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"809","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63944","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63944"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63944\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64483,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63944\/revisions\/64483"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64482"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63944"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63944"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63944"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}