{"id":64471,"date":"2023-04-20T08:06:00","date_gmt":"2023-04-20T01:06:00","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=64471"},"modified":"2023-04-18T00:17:35","modified_gmt":"2023-04-17T17:17:35","slug":"kekristenan-di-sri-lanka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/kekristenan-di-sri-lanka\/","title":{"rendered":"Kekristenan di Sri Lanka"},"content":{"rendered":"<p><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - Kekristenan di Sri Lanka dimulai dengan datangnya Gereja Persia pada abad ke-6.[1] Namun, Gereja Persia ini kurang berkembang dan lenyap di kemudian hari.[1] Kekristenan datang kembali ke Sri Lanka lewat penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa pada abad ke-16.[1][2] Pertama-tama, orang Portugis datang dan menguasai daerah pesisir Sri Lanka pada abad ke-16, diikuti dengan pengabaran injil yang dilakukan oleh para rahib dari Katolik Roma di wilayah yang kekuasaan Portugis hingga ke Kerajaan Kandy.[1] Ketika Belanda mengusir Portugis dari Sri Lanka pada tahun 1658, jumlah penganut agama Katolik Roma dikabarkan sudah mencapai 90.000.[1] Kedatangan Belanda membawa denominasi kekristenan yang lain, yaitu Protestan.[1] Belanda berusaha untuk mengusir para pastor Katolik dan menginjili orang Sri Lanka supaya beralih agama menjadi Protestan.[1] Sementara itu, pastor-pastor Katolik Roma (misalnya Joseph Vaz) melayani jemaat katolik yang ada di Sri Lanka secara diam-diam dari Kerajaan Kandy.[1] Inggris datang pada tahun 1796, menandai akhirnya kekuasaan Belanda di wilayah tersebut.[1] Pendeta-pendeta Belanda diganti dengan pendeta-pendeta dari Inggris yang beraliran Gereja Anglikan.[1] Hukum-hukum Belanda yang melarang ibadah Katolik Roma dihapuskan oleh Inggris pada tahun 1806.[1] Pada tahun 1845, didirikan keuskupan Anglikan di Kolombo.[1] Uskup agung pertama diangkat pada tahun 1947.[1] ^ a b c d e f g h i j k l m (Indonesia) Anne Ruck.1997.Sejarah Gereja Asia.Jakarta:PT BPK Gunung Mulia. hlm 268-274. ^ R. F. Young &amp; J.E.B. S\u0113n\u0101n\u0101yaka.1998.The carpenter-heretic: a collection of Buddhist stories about Christianity from 18th century Sri Lanka.Colombo: Karunaratne &amp; Sons.\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><br \/>\n<strong>Diakonia.id <\/strong>&#8211; <b>Kekristenan di Sri Lanka<\/b> dimulai dengan datangnya Gereja Persia pada abad ke-6.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-0\" class=\"reference\">[1]<\/sup> Namun, Gereja Persia ini kurang berkembang dan lenyap di kemudian hari.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-1\" class=\"reference\">[1]<\/sup> Kekristenan datang kembali ke Sri Lanka lewat penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa pada abad ke-16.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-2\" class=\"reference\">[1]<\/sup><sup id=\"cite_ref-2\" class=\"reference\">[2]<\/sup> Pertama-tama, orang Portugis datang dan menguasai daerah pesisir Sri Lanka pada abad ke-16, diikuti dengan pengabaran injil yang dilakukan oleh para rahib dari Katolik Roma di wilayah yang kekuasaan Portugis hingga ke Kerajaan Kandy.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-3\" class=\"reference\">[1]<\/sup><\/p>\n<p>Ketika Belanda mengusir Portugis dari Sri Lanka pada tahun 1658, jumlah penganut agama Katolik Roma dikabarkan sudah mencapai 90.000.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-4\" class=\"reference\">[1]<\/sup> Kedatangan Belanda membawa denominasi kekristenan yang lain, yaitu Protestan.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-5\" class=\"reference\">[1]<\/sup> Belanda berusaha untuk mengusir para pastor Katolik dan menginjili orang Sri Lanka supaya beralih agama menjadi Protestan.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-6\" class=\"reference\">[1]<\/sup><\/p>\n<p>Sementara itu, pastor-pastor Katolik Roma (misalnya Joseph Vaz) melayani jemaat katolik yang ada di Sri Lanka secara diam-diam dari Kerajaan Kandy.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-7\" class=\"reference\">[1]<\/sup> Inggris datang pada tahun 1796, menandai akhirnya kekuasaan Belanda di wilayah tersebut.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-8\" class=\"reference\">[1]<\/sup> Pendeta-pendeta Belanda diganti dengan pendeta-pendeta dari Inggris yang beraliran Gereja Anglikan.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-9\" class=\"reference\">[1]<\/sup> Hukum-hukum Belanda yang melarang ibadah Katolik Roma dihapuskan oleh Inggris pada tahun 1806.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-10\" class=\"reference\">[1]<\/sup> Pada tahun 1845, didirikan keuskupan Anglikan di Kolombo.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-11\" class=\"reference\">[1]<\/sup> Uskup agung pertama diangkat pada tahun 1947.<sup id=\"cite_ref-Sejarah_1-12\" class=\"reference\">[1]<\/sup><\/p>\n<div id=\"mw-content-text\" dir=\"ltr\" lang=\"id\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"mw-parser-output\">\n<div class=\"reflist\">\n<div class=\"mw-references-wrap\">\n<ol class=\"references\">\n<li id=\"cite_note-Sejarah-1\"><span class=\"mw-cite-backlink\">^ <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-0\"><sup><i><b>a<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-1\"><sup><i><b>b<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-2\"><sup><i><b>c<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-3\"><sup><i><b>d<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-4\"><sup><i><b>e<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-5\"><sup><i><b>f<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-6\"><sup><i><b>g<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-7\"><sup><i><b>h<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-8\"><sup><i><b>i<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-9\"><sup><i><b>j<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-10\"><sup><i><b>k<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-11\"><sup><i><b>l<\/b><\/i><\/sup><\/a> <a href=\"#cite_ref-Sejarah_1-12\"><sup><i><b>m<\/b><\/i><\/sup><\/a><\/span> <span class=\"reference-text\"><span lang=\"Indonesia\" title=\"Bahasa Indonesia\">(Indonesia)<\/span> Anne Ruck.1997.<i>Sejarah Gereja Asia<\/i>.Jakarta:PT BPK Gunung Mulia. hlm 268-274.<\/span><\/li>\n<li id=\"cite_note-2\"><span class=\"mw-cite-backlink\"><b><a href=\"#cite_ref-2\">^<\/a><\/b><\/span> <span class=\"reference-text\">R. F. Young &amp; J.E.B. S\u0113n\u0101n\u0101yaka.1998.<i>The carpenter-heretic: a collection of Buddhist stories about Christianity from 18th century Sri Lanka<\/i>.Colombo: Karunaratne &amp; Sons.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; Kekristenan di Sri Lanka dimulai dengan datangnya Gereja Persia pada abad ke-6.[1] Namun, Gereja Persia ini kurang berkembang dan lenyap di kemudian hari.[1] Kekristenan datang kembali ke Sri Lanka lewat penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa pada abad ke-16.[1][2] Pertama-tama, orang Portugis datang dan menguasai daerah pesisir Sri Lanka pada abad ke-16, diikuti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":64684,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"wikipedia","source_url":"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kekristenan_di_Sri_Lanka","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"5","hide":""},"jnews_override_bookmark_settings":{"override_bookmark_button":"0","override_show_bookmark_button":"0"},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,22,20],"tags":[],"class_list":["post-64471","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-internasional","category-sejarah"],"better_featured_image":{"id":64684,"alt_text":"","caption":"","description":"","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Srilanka.png","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Srilanka.png?fit=550%2C275&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Srilanka.png"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":22,"name":"Internasional","description":"","slug":"internasional","count":158,"parent":0},{"id":20,"name":"Sejarah","description":"","slug":"sejarah","count":39,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Srilanka.png?fit=550%2C275&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1477","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64471","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64471"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64471\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64685,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64471\/revisions\/64685"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64684"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64471"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64471"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64471"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}