{"id":64501,"date":"2023-04-07T13:58:41","date_gmt":"2023-04-07T06:58:41","guid":{"rendered":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/?p=64501"},"modified":"2023-04-07T13:58:52","modified_gmt":"2023-04-07T06:58:52","slug":"mewujudkan-kekristenan-otentik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/mewujudkan-kekristenan-otentik\/","title":{"rendered":"Mewujudkan Kekristenan Otentik"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"Diakonia.id - \u201cHendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.\u201d \u2014Kolose 2:7 Umat Kristen yang hidup di abad-abad pertama begitu banyak menghadapi tantangan, hantaman multidimensi yang menyerang iman mereka telak dan bertubi-tubi. Serangan itu tidak saja datang dari dalam, soal teologi, relasi iman dengan budaya setempat, tetapi juga dari luar: Resistensi masyarakat, sikap penguasa yang tidak ramah, dan sebagainya. Sebagai \u201cagama\u201d baru, tentu saja kekristenan tidak begitu mudah diterima oleh khalayak pada zaman itu yang telah memiliki pandangan hidup tertentu dan telah memengaruhi kedirian mereka, bahkan telah memberi mereka kenyamanan tertentu serta mengurung mereka dalam \u201czona nyaman\u201d. Jemaat di Kolose yang dikirimi surat oleh Paulus terdiri dari orang-orang eks-Yahudi, bahkan ada banyak orang yang dulunya tidak mengenal Allah (vide 1:21, 2:13). Dalam kondisi seperti itu maka penguatan spiritual warga menjadi hal yang sangat urgen, agar dengan iman yang teguh-kukuh mereka bisa survive di tengah guncangan zaman yang mereka hidupi pada era itu. Paulus mengungkapkan beberapa kata kunci dengan mengacu pada diksi dan vokabulari yang amat dikenal dalam kehidupan umat sehari-hari. la meminta agar warga Jemaat Kolose \u201cberakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia\u201d. Akar, yang biasanya jauh menghunjam ke dalam tanah, adalah benda yang membuat sebuah pohon tegak dan kukuh berdiri. Pohon dengan \u201cakar serabut\u201d maupun \u201cakar tunggang\u201d memiliki kekuatan sejati justru pada akarnya itu. Itulah sebabnya, dalam merawat tanaman para petani tidak hanya menyiram pokok dan dahan tanaman itu, tetapi juga akarnya. Jika akar tidak kuat, kurang pupuk, ia akan menjadi lemah dan nirnutrisi sehingga tak mampu menjadi penyangga pohon tatkala pohon menjadi besar. Akar adalah dasar, fundamen, yang membuat sebuah pohon\/tanaman bertahan hidup. Akar, radiks, radikal, mengacu pada pemaknaan kekuatan mendasar yang memiliki kedalaman dan penetrasi yang kuat. Ada kalimat standar: \u201cJika mau membubarkan suatu organisasi tidak cukup hanya secara formal hukum, tetapi harus dibasmi hingga ke akar-akarnya\u201d. Menarik, bahwa Paulus menggunakan kata \u201cberakar\u201d dari dunia agraris dan kata \u201cdibangun\u201d dari khazanah konstruksi. Secara eksplisit diingatkan, \u201cberakar di dalam Dia\u201d berarti berakar dan mengakar kepada Yesus Kristus yang telah mereka terima sebagai Tuhan (ayat 6). Jadi, bukan berakar kepada kekuatan-kekuatan lain, syariat yang lain, atau filsafat kosong menurut roh dunia yang bertentangan dengan Kristus (ayat 8). Jemaat tidak saja berakar kepada Kristus (keterikatan kepada yang di bawah seperti layaknya akar) tetapi juga dibangun di atas Dia. Kristus dalam konteks ini adalah fondasi yang kuat, di atasnya bangunan kekristenan itu didirikan. Membuat fondasi untuk sebuah bangunan, apalagi bangunan bertingkat yang tahan berbagai guncangan itu bukan hal yang mudah. Para arsitek dari teknik sipil ada yang khusus mendalami aspek ini. Dulu, jika kita lewat di tempat-tempat yang ada pembangunan gedung, sering kita baca \u201cfoundation by Franky\u201d. Itu menunjukkan bahwa Grup Franky ini memiliki keahlian khusus dalam hal membuat fondasi bangunan, misalnya jenis dan merek semen yang digunakan, komposisi adukannya, berapa lama pengerjaannya, dan sebagainya. Ucapan Paulus, \u201cdibangun di atas Dia\u201d adalah sebuah ungkapan imperatif bahwa konstruksi kekristenan hanya bisa teguh, kukuh, dan tangguh jika Kristus menjadi dasarnya. Paulus juga menekankan agar umat bertambah teguh dalam iman Yang diajarkan kepada mereka, dan agar hati mereka melimpah dengan syukur. Realitas konteks yang dihadapi umat waktu itu memang tidak kondusif terhadap iman Kristen, ada banyak aliran yang menyesatkan iman yang membawa umat ke arah yang salah. Umat harus menghadapi realitas itu dengan meneguhkan iman sambil tetap bersyukur kepada Tuhan. Kita umat kristiani tengah menghidupi sebuah dunia yang penuh dengan beragam turbulensi. Ada arogansi keagamaan ketika di suatu wilayah NKRI tak bisa dibangun gedung gereja, ada sisa-sisa sikap barbar tatkala tempat ibadah dihancurkan dan pejabat Gereja yang sedang\u00a0 melakukan pelayanan di gereja dianiaya, ada warga Gereja yang bertahun-tahun tak bisa beribadah di gedung gereja, dan begitu banyak persoalan internal dan eksternal yang mendera kehidupan kita sebagai warga Gereja dan warga bangsa. Di tengah realitas ini, Paulus mengajak kita mengaplikasikan empat keywords penting, yaitu BERAKAR, DIBANGUN, BERIMAN TEGUH dan BERSYUKUR. Kesemuanya itu ditujukan kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Karena itu, mari terus memberi yang terbaik dalam hidup ini, menggarami dan menerangi dunia, menampilkan kekristenan yang cantik, otentik, elegan, penuh cinta kasih, dan menebarkan buah-buah Roh (Galatia 5:22-23) tanpa jeda, tanpa lelah. Dalam kasus skenario pembunuhan berencana di kompleks Duren Tiga Jakarta Selatan yang melibatkan oknum-oknum beragama Kristen, kekristenan secara tidaklangsung ikut mengalami pengaruh negatip. Publik melihat itu secara cermat, apalagi pimpinan tertinggi organidasi itu juga beragama Kristen. Kita takboleh berfikir bahwa kasus itu bagian dari budaya kekristenan secara formal. Itu murni urusan pribadi oknum-oknum yang adalah warga Gereja. Kita takboleh terjebak dengan menyatakan bahwa itu seolah wujud formal sebuah agama. Dalam konteks itu maka Gereja-gereja harus terus berjuang menghadirkan sebuah kekristenan yang elegan, penuh kasih, yang mengarami dan menerangi dunia. Ditengah masa-masa Pra Paskah sekarang ini kita diingatkan bahwa Yesus telah menjalani jalan sengsara demi Keselamatan abadi yang Ia anugerahkan bagi umat manusia. Kita harus merespons hal itu dengan mewujudkan kekristenan sejati, kekristenan otentik, bukan kekristenan KTP, kekristenan formalistik atau pseudo kekristenan. God Bless Us. God Bless NKRI! Penulis: Weinata Sairin\/PGI\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Male\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca Artikel<\/span><\/button><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Diakonia.id<\/strong> &#8211;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p><strong><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-25843 alignleft\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/pgi.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Wainata-215x300-1.jpg?resize=215%2C300&#038;ssl=1\" alt=\"\" width=\"215\" height=\"300\" \/><\/strong><\/p>\n<p>\u201cHendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.\u201d \u2014Kolose 2:7<\/p>\n<p>Umat Kristen yang hidup di abad-abad pertama begitu banyak menghadapi tantangan, hantaman multidimensi yang menyerang iman mereka telak dan bertubi-tubi. Serangan itu tidak saja datang dari dalam, soal teologi, relasi iman dengan budaya setempat, tetapi juga dari luar: Resistensi masyarakat, sikap penguasa yang tidak ramah, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Sebagai \u201cagama\u201d baru, tentu saja kekristenan tidak begitu mudah diterima oleh khalayak pada zaman itu yang telah memiliki pandangan hidup tertentu dan telah memengaruhi kedirian mereka, bahkan telah memberi mereka kenyamanan tertentu serta mengurung mereka dalam \u201czona nyaman\u201d.<\/p>\n<p>Jemaat di Kolose yang dikirimi surat oleh Paulus terdiri dari orang-orang eks-Yahudi, bahkan ada banyak orang yang dulunya tidak mengenal Allah (vide 1:21, 2:13). Dalam kondisi seperti itu maka penguatan spiritual warga menjadi hal yang sangat urgen, agar dengan iman yang teguh-kukuh mereka bisa survive di tengah guncangan zaman yang mereka hidupi pada era itu.<\/p>\n<p>Paulus mengungkapkan beberapa kata kunci dengan mengacu pada diksi dan vokabulari yang amat dikenal dalam kehidupan umat sehari-hari. la meminta agar warga Jemaat Kolose \u201cberakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia\u201d. Akar, yang biasanya jauh menghunjam ke dalam tanah, adalah benda yang membuat sebuah pohon tegak dan kukuh berdiri. Pohon dengan \u201cakar serabut\u201d maupun \u201cakar tunggang\u201d memiliki kekuatan sejati justru pada akarnya itu. Itulah sebabnya, dalam merawat tanaman para petani tidak hanya menyiram pokok dan dahan tanaman itu, tetapi juga akarnya.<\/p>\n<p>Jika akar tidak kuat, kurang pupuk, ia akan menjadi lemah dan nirnutrisi sehingga tak mampu menjadi penyangga pohon tatkala pohon menjadi besar. Akar adalah dasar, fundamen, yang membuat sebuah pohon\/tanaman bertahan hidup. Akar, radiks, radikal, mengacu pada pemaknaan kekuatan mendasar yang memiliki kedalaman dan penetrasi yang kuat. Ada kalimat standar: \u201cJika mau membubarkan suatu organisasi tidak cukup hanya secara formal hukum, tetapi harus dibasmi hingga ke akar-akarnya\u201d.<\/p>\n<p>Menarik, bahwa Paulus menggunakan kata \u201cberakar\u201d dari dunia agraris dan kata \u201cdibangun\u201d dari khazanah konstruksi. Secara eksplisit diingatkan, \u201cberakar di dalam Dia\u201d berarti berakar dan mengakar kepada Yesus Kristus yang telah mereka terima sebagai Tuhan (ayat 6). Jadi, bukan berakar kepada kekuatan-kekuatan lain, syariat yang lain, atau filsafat kosong menurut roh dunia yang bertentangan dengan Kristus (ayat 8). Jemaat tidak saja berakar kepada Kristus (keterikatan kepada yang di bawah seperti layaknya akar) tetapi juga dibangun di atas Dia.<\/p>\n<p>Kristus dalam konteks ini adalah fondasi yang kuat, di atasnya bangunan kekristenan itu didirikan. Membuat fondasi untuk sebuah bangunan, apalagi bangunan bertingkat yang tahan berbagai guncangan itu bukan hal yang mudah. Para arsitek dari teknik sipil ada yang khusus mendalami aspek ini. Dulu, jika kita lewat di tempat-tempat yang ada pembangunan gedung, sering kita baca \u201cfoundation by Franky\u201d. Itu menunjukkan bahwa Grup Franky ini memiliki keahlian khusus dalam hal membuat fondasi bangunan, misalnya jenis dan merek semen yang digunakan, komposisi adukannya, berapa lama pengerjaannya, dan sebagainya. Ucapan Paulus, \u201cdibangun di atas Dia\u201d adalah sebuah ungkapan imperatif bahwa konstruksi kekristenan hanya bisa teguh, kukuh, dan tangguh jika Kristus menjadi dasarnya.<\/p>\n<p>Paulus juga menekankan agar umat bertambah teguh dalam iman Yang diajarkan kepada mereka, dan agar hati mereka melimpah dengan syukur. Realitas konteks yang dihadapi umat waktu itu memang tidak kondusif terhadap iman Kristen, ada banyak aliran yang menyesatkan iman yang membawa umat ke arah yang salah. Umat harus menghadapi realitas itu dengan meneguhkan iman sambil tetap bersyukur kepada Tuhan.<\/p>\n<p>Kita umat kristiani tengah menghidupi sebuah dunia yang penuh dengan beragam turbulensi. Ada arogansi keagamaan ketika di suatu wilayah NKRI tak bisa dibangun gedung gereja, ada sisa-sisa sikap barbar tatkala tempat ibadah dihancurkan dan pejabat Gereja yang sedang\u00a0 melakukan pelayanan di gereja dianiaya, ada warga Gereja yang bertahun-tahun tak bisa beribadah di gedung gereja, dan begitu banyak persoalan internal dan eksternal yang mendera kehidupan kita sebagai warga Gereja dan warga bangsa.<\/p>\n<p>Di tengah realitas ini, Paulus mengajak kita mengaplikasikan empat keywords penting, yaitu BERAKAR, DIBANGUN, BERIMAN TEGUH dan BERSYUKUR. Kesemuanya itu ditujukan kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Karena itu, mari terus memberi yang terbaik dalam hidup ini, menggarami dan menerangi dunia, menampilkan kekristenan yang cantik, otentik, elegan, penuh cinta kasih, dan menebarkan buah-buah Roh (Galatia 5:22-23) tanpa jeda, tanpa lelah.<\/p>\n<p>Dalam kasus skenario pembunuhan berencana di kompleks Duren Tiga Jakarta Selatan yang melibatkan oknum-oknum beragama Kristen, kekristenan secara tidaklangsung ikut mengalami pengaruh negatip. Publik melihat itu secara cermat, apalagi pimpinan tertinggi organidasi itu juga beragama Kristen. Kita takboleh berfikir bahwa kasus itu bagian dari budaya kekristenan secara formal. Itu murni urusan pribadi oknum-oknum yang adalah warga Gereja. Kita takboleh terjebak dengan menyatakan bahwa itu seolah wujud formal sebuah agama.<\/p>\n<p>Dalam konteks itu maka Gereja-gereja harus terus berjuang menghadirkan sebuah kekristenan yang elegan, penuh kasih, yang mengarami dan menerangi dunia. Ditengah masa-masa Pra Paskah sekarang ini kita diingatkan bahwa Yesus telah menjalani jalan sengsara demi Keselamatan abadi yang Ia anugerahkan bagi umat manusia. Kita harus merespons hal itu dengan mewujudkan kekristenan sejati, kekristenan otentik, bukan kekristenan KTP, kekristenan formalistik atau pseudo kekristenan.<\/p>\n<p>God Bless Us. God Bless NKRI!<\/p>\n<p><strong>Penulis: Weinata Sairin\/PGI<\/strong><\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diakonia.id &#8211; \u201cHendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.\u201d \u2014Kolose 2:7 Umat Kristen yang hidup di abad-abad pertama begitu banyak menghadapi tantangan, hantaman multidimensi yang menyerang iman mereka telak dan bertubi-tubi. Serangan itu tidak saja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":64502,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"floatbottom","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"3","hide":""},"jnews_override_bookmark_settings":[],"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[5,3],"tags":[],"class_list":["post-64501","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gereja","category-umum"],"better_featured_image":{"id":64502,"alt_text":"","caption":"","description":"c5ca65f5ec4a30d6862bf093408cc5dd","source_url":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/mewujudkan-kekristenan-otentik_642f03bbb3557.jpeg","medium_large":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/mewujudkan-kekristenan-otentik_642f03bbb3557.jpeg?fit=622%2C350&ssl=1","post_thumbnail":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/mewujudkan-kekristenan-otentik_642f03bbb3557.jpeg"},"categories_detail":[{"id":5,"name":"Gereja","description":"","slug":"gereja","count":204,"parent":0},{"id":3,"name":"Umum","description":"","slug":"umum","count":768,"parent":0}],"author_name":"Diakonia Indonesia","author_img":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/566178b6a9f3c2c7806468985c94c4cc2db638675565981dee558f164d50c689?s=96&d=mm&r=g","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/diakonia.id\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/mewujudkan-kekristenan-otentik_642f03bbb3557.jpeg?fit=622%2C350&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"comment_count":0,"views":"1270","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64501","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64501"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64501\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64507,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64501\/revisions\/64507"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64502"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64501"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64501"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/diakonia.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64501"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}