Bangunlah, hai angin utara, dan marilah, hai angin selatan, bertiuplah dalam kebunku, supaya semerbaklah bau rempah-rempahnya! [Kidung Agung 4:16]

Apapun lebih baik daripada ketidakpedulian yang tenang dan mati. Jiwa kita mungkin dengan bijak menginginkan masalah dari angin utara, jika masalah itu bisa dikuduskan untuk menarik bau semerbak dari kasih karunia kita. Jadi selama tidak bisa dikatakan, “Tidak ada TUHAN dalam angin itu,” [1 Raja-raja 19:11] kita tidak akan ciut oleh badai terdingin yang pernah meniup tumbuh-tumbuhan kasih karunia. Bukankah mempelai wanita dalam ayat ini dengan rendah hati menyerahkan diri pada kecaman dari Kekasihnya; sekedar memohon Dia untuk memancarkan kasih karunia-Nya dalam bentuk apapun, tanpa menentukan harus dengan cara apa kasih karunia itu datang? Tidakkah dia, seperti diri kita sendiri, menjadi benar-benar diam dalam kematian dan berada dalam ketenangan yang tidak suci hingga merindukan sebuah kunjungan yang akan menguatkan dirinya untuk bertindak? Akan tetapi, dia juga menginginkan kehangatan angin selatan yang nyaman, senyum cinta ilahi, sukacita kehadiran Sang Penebus; hal-hal ini sering kali amat mujarab untuk membangkitkan kehidupan kita yang lamban. Diinginkannya angin utara, atau angin selatan, atau keduanya; asalkan dia dapat menyenangkan Kekasihnya dengan rempah-rempah dari kebunnya. Dia tidak tahan menjadi orang yang tidak berguna, begitu pulalah kita. Begitu menyenangkan memikirkan bahwa Yesus dapat menemukan suatu kenyamanan di dalam kasih karunia kita yang lemah dan miskin. Memangnya mungkin? Rasanya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Kita mungkin berani mendekati ujian atau bahkan kematian jika melaluinya kita ditolong membuat hati Sang Immanuel senang. O, silakan hati kami dihancurkan menjadi atom-atom jika hanya oleh memar seperti itu Yesus Tuhan kami yang manis itu bisa dipermuliakan. Kasih karunia yang belum terlatih adalah seperti wewangian yang tertidur pulas dalam kuncup bunga: kebijaksanaan dari Sang Petani agung mengesampingkan penyebab-penyebab yang beragam dan saling berlawanan demi menghasilkan sesuatu yang dikehendaki-Nya, dan membuat baik penderitaan maupun penghiburan menarik keluar wangi syukur dari iman, kasih, kesabaran, pengharapan, penyerahan diri, sukacita, dan bunga-bunga kebun lainnya yang indah. Semoga kita mengerti makna ini lewat pengalaman yang manis.

RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).
Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.

Leave a Reply