Tokoh Kristiani: Tahi Bonar Simatupang

LahirSidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Indonesia, 27 Januari 1920
ProfesiPenasehat Militer Departemen Pertahanan Republik Indonesia (1954 – 1955)

Karier

  • Letnan Muda Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) (1942-1942)
  • Kepala Staf Angkatan Perang Tentara Nasional Indonesia (1949-1952)
  • Wakil Kepala Staf Angkatan Perang Tentara Nasional Indonesia (1948-1949)
  • Penasehat Militer Departemen Pertahanan Republik Indonesia (1954-1955)

Pendidikan

  • Sekolah Dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Pematang Siantar (1927-1934)
  • SMP di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Tarutung (1934-1937)
  • SMA di Algemeene Middelbare School (AMS) Salemba, Jakarta (1937-1940)
  • Akademi MIliter Kerajaan Belanda di Bandung (1940-1942)

Tahi Bonar Simatupang alias TB Simatupang pernah menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) di akhir Revolusi. Dia adalah tentara teoritik karena dikenal sebagai pemikir militer Indonesia. Dia salah satu peletak dasar kemiliteran Indonesia. Setelah Peristiwa 17 Oktober 1952, Presiden Soekarno tak lagi mempercayainya sebagai KSAP.

TB Simatupang bersama dengan AH Nasution, yang menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dituding ada di belakang aksi demonstrasi yang disertai pengarahan moncong meriam tank ke Istana Negara pada 17 Oktober 1952. Tujuan demonstrasi adalah menuntut kepada Presiden untuk membubarkan parlemen. Menurut demonstran, Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) sudah terlalu banyak campur tangan dalam urusan militer.

Isu hangat di tahun 1952, Simatupang, bersama Nasution dan Alex Kawilarang, mengagendakan sebuah pendidikan militer yang disponsori oleh pemerintah Belanda. Isu ini dimainkan oleh DPRS untuk masuk dalam pusaran masalah TNI AD. Di tahun 1950an, di kalangan perwira TNI ada konflik internal antara bekas Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) dan bekas Pembela Tanah Air (Peta). Simatupang, Nasution dan Kawilarang adalah bekas KNIL. Bekas PETA ada Bambang Supeno.

Jumlah bekas PETA jauh lebih banyak, namun pucuk pimpinan Angkatan Perang adalah bekas KNIL. Ada provokasi Bambang Supeno, yang menjabat Kepala Staf Teritorial, untuk mencari dukungan dari perwira-perwira daerah untuk turut menggulingkan TB Simatupang dan Nasution. TB Simatupang akhirnya memecat Bambang Supeno sang Pencetus Sapta Marga.

Namun, TB Simatupang lpun akhirnya KSAP pada 3 Desember 1952.
Sejak itu Presiden mengurangi wewenang Simatupang di AD. Soekarno juga menghapus jabatan KASAP—kini disebut Panglima TNI—sejak 1953-159.

Simatupang lantas ditempatkan di Sekolah Staf dan Komando TNI. Simatupang makin tersingkir. Ia pensiun muda pada 1959. Usianya saat itu itu 39 tahun. Sejak itu hingga wafatnya 1 Januari 1990, Simatupang sendiri memilih aktif dalam kegiatan gereja dan menulis buku. Buku pertama yang ia tulis adalah Laporan dari Banaran. Buku ini mengisahkan tentang perannya dalam Revolusi Kemerdekaan.

Simatupang adalah adalah lulusan KMA Bandung pada 1942 bersama Alex Kawilarang, dan AH Nasution. Mereka pernah sebentar menjadi Letnan KNIL sebelum Belatentara Jepang menguasai Indonesia. Sebagai lulusan KMA Bandung, Simatupang bukan tentara dengan otak kosong. Selama masuk dalam kelompok intelektual anti Jepang ini, Simatupang mempelajari buku-buku teori perang dan revolusi.

“Dalam studi yang serius tentang perang tentu tidak dapat dilewati Carl Von Clausewitz. Dan dalam studi yang serius tentang revolusi tidak dapat dilewati Karl Marx. Kedua orang yang bernama Carl (Karl) itu memang banyak saya pelajari di tahun-tahun itu,” kata TB Simatupang di bukunya Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang (1989).

Di masa pendudukan Jepang, Simatupang sempat menjadi pegawai bea cukai. Bersamaan dengan itu Simatupang masuk dalam lingkaran kelompok intelektual jaringan Sjahrir. Ia masuk ke lingkungan Sjahrir berkat Ali Budiarjo. Ali adalah salah satu intelektual muda binaan Sjahrir. Belakang hari Ali belakangan menjadi adik iparnya.

Ketika Jepang keok lalu Republik berdiri pada 17 Agustus 1945, pada 5 Oktober kemudian Tentara Keamanan Rakyat (TKR) berdiri. Simatupang dipanggil ke Yogyakarta oleh Oerip Soemoharjo, bekas Mayor KNIL yang sudah sepuh, untuk bersama-sama mengorganisir TKR di Yogyakarta. Sementara itu AH Nasution di Bandung dan Alex Kawilarang di sekitar Purwakarta juga jadi komandan pasukan TKR.

Peran Simatupang makin membesar sejak menjadi Wakil Panglima Perang Jenderal Sudirman. Selama menjadi itu pula Simatupang turut membentuk dasar-dasar militer Indonesia. TB Simatupang pula yang mempopulerkan istilah Jerman “wehrkreise”, wilayah atau lingkungan pertahanan yang sering disingkat WK. [tirto]

Leave a Reply