• +62 857-7315-8269
  • bonpascamp@gmail.com

Janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! [Mazmur 103:2]

Ini merupakan pekerjaan yang menguntungkan sekaligus menyenangkan, jika bisa menandai tangan Tuhan di dalam kehidupan orang-orang kudus zaman dahulu, dan boleh mengamati kebaikan-Nya dalam membebaskan mereka, kemurahan hati-Nya dalam mengampuni mereka, dan kesetiaan-Nya dalam memelihara perjanjian-Nya dengan mereka. Tetapi tidakkah itu menjadi lebih menarik dan menguntungkan bagi kita untuk menandai tangan Tuhan di dalam kehidupan kita sendiri? Tidakkah seharusnya kita memandang sejarah kita sendiri sebagai kepenuhan dari Tuhan, sebagai kepenuhan di dalam kebaikan dan kebenaran-Nya, sebagai bukti nyata dari kesetiaan-Nya dan kejujuran-Nya, seperti hidup orang-orang kudus yang sudah terjadi sebelumnya? Kita memperlakukan Allah dengan tidak adil ketika kita mengira bahwa Dia menempa seluruh perbuatan dahsyat-Nya, dan menunjukkan diri-Nya yang kuat kepada mereka di zaman awal, tetapi tidak melakukan keajaiban atau meletakkan tangan-Nya kepada orang-orang kudus yang sekarang berada di atas bumi. Mari kita meninjau kehidupan kita sendiri. Tentunya di dalam hal ini, kita dapat menemukan beberapa peristiwa bahagia, menyegarkan diri kita dan memuliakan Tuhan kita. Bukankah kamu telah mengalami pemulihan? Bukankah kamu telah melewati laut yang terbelah, yang didukung oleh kehadiran ilahi? Bukankah kamu telah melewati api tetapi tidak terbakar? Bukankah kamu telah memiliki manisfestasi? Bukankah kamu memiliki pilihan dalam kebaikan? Allah yang memberi Salomo keinginan hatinya, apakah Dia tidak pernah mendengar dan menjawab permohonan-permohonanmu? Allah yang berlimpah kasih karunia, Allah yang dipuji Daud, “Yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan,”[Mazmur 103:5] apakah Dia tidak pernah mengenyangkan Anda dengan lemaknya? Apakah Anda tidak pernah dibaringkan di dalam padang rumput hijau? Apakah Anda tidak pernah dibimbing ke air yang tenang?[Mazmur 23:2] Tentunya kebaikan Allah sama bagi kita seperti kepada orang-orang kudus terdahulu. Maka marilah kita merangkai kemurahan-Nya menjadi sebuah mazmur. Mari kita mengambil emas murni puji syukur, dan perhiasan pujian dan membuatnya menjadi mahkota lain untuk kepala Yesus. Biarlah jiwa kita memancarkan musik semanis dan seriang suara yang datang dari kecapi Daud, ketika kita memuji Allah yang kasih setia-Nya bertahan selamanya.

____________________

RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).
Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.

Leave a Reply