Aku bodoh dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. [Mazmur 73:22]

Ingat, ini adalah pengakuan seseorang yang berkenan di hati Allah [1 Sam 13:14]; dan saat menceritakan kehidupan batinnya, dia menuliskan, “Aku bodoh dan tidak mengerti”. Kata “bodoh,” di sini bermakna lebih banyak daripada makna dalam bahasa sehari-hari. Daud, dalam ayat Mazmur sebelumnya menulis “Aku cemburu kepada pembual-pembual [orang bodoh], kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik” [Maz 73:3] yang menunjukkan bahwa kebodohan yang dimaksud ada dosa di dalamnya. Dia menempatkan dirinya rendah seperti yang “bodoh”, dan menambahkan sebuah kata yang memberi kekuatan pada kata itu; “Aku begitu bodoh [So foolish was I, KJV].” Seberapa bodohnya dia sampai tidak bisa mengatakannya. Ini kebodohan yang berdosa, kebodohan yang tidak dapat dimaafkan karena kelemahan, tapi harus dihukum karena kebusukan dan ketidakpedulian yang disengaja. Dia telah iri hati pada kemakmuran orang fasik, dan melupakan bagaimana mereka akan berakhir secara mengerikan. Dan apakah kita lebih baik dari Daud sehingga kita menyebut diri kita bijaksana! Apakah kita mengakui bahwa kita telah mencapai kesempurnaan, atau telah dihukum terlalu banyak sehingga tongkat penghukuman telah mengambil semua kesengajaan kita ke luar? Ah, ini adalah kesombongan! Jika Daud saja bodoh, betapa bodohnya kita dalam menilai diri ketika kita melihat diri sendiri! Lihatlah ke belakang, hai orang percaya: pikirkan Anda yang meragukan Allah ketika Dia telah begitu setia kepada Anda—pikirkan jeritan bodoh Anda “Janganlah demikian, ayahku” [Kej 48:18], ketika Dia menyilangkan tangan-Nya di dalam penderitaan untuk memberikan Anda berkat yang lebih besar; pikirkan sudah berapa kali Anda telah melihat pemeliharaan-Nya dalam kegelapan, menyalahartikan kelonggaran-Nya, dan mengerang, “Segala perkara ini melawan aku” [Kejadian 42:36], saat semuanya bekerja sama untuk kebaikan Anda! Pikirkan betapa seringnya Anda memilih dosa karena kenikmatannya, padahal, kenikmatan itu adalah akar dari kepahitan pada diri Anda! Tentunya jika kita tahu hati kita sendiri, kita harus mengaku bersalah atas tuduhan melakukan kebodohan yang berdosa; dan setelah sadar akan “kebodohan” ini, kita harus menjadikan ketetapan hati Daud ini milik kita—Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku.” [Maz 73:24]

RENUNGAN HARIAN (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).
Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.

Leave a Reply