Perkataan yang Dibumbui Garam: Kuasa di Dalam Kata


Diakonia.id -Kita semua tahu bahwa garam berkuasa bikin sebuah hidangan jadi enak atau enek. Garam berperan dalam melezatkan atau merusak rasa masakan. Namun, tahukah, brothers and sisters, bahwa kata-kata kita mirip dengan masakan yang dibubuhi garam?

Kurang garam membuat makanan hambar. Sebaliknya, garam yang berlebih bikin haus dan tidak baik untuk kesehatan. Demikian pula, ucapan boros akan membuat orang bosan atau merasa ‘garing’. Kata-kata kita juga dapat mengecilkan hati, bahkan menyakiti perasaan jika tidak disaring lebih dahulu.

Tentunya, kita ingin perkataan kita berkadar garam pas. Tidak hanya nikmat didengar, tetapi juga ‘mengenyangkan’.

Lantas, apa artinya perkataan yang dibumbui garam?

perkataan

Frasa ‘jangan hambar’ dalam bahasa Inggris adalah seasoned with salt, yang berarti dibumbui garam.

“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”
– Kolose 4:6

Sebagai murid Yesus, kita perlu menjaga ucapan. Jangan sampai kata-kata kita terucap sembarangan, bahkan memaki, menghina, dan merendahkan sesama. Perkataan kita hendaknya hangat dan penuh kasih, agar mereka yang menerimanya seperti mencicipi sajian yang lezat.

Baca juga:   'Api dalam sekam' konflik Aceh Singkil: 'Kita umat Kristen di sini merasa terombang-ambing'

Ujaran yang tidak asal bunyi, tetapi penuh kebaikan dan berisi, akan membangun dan menumbuhkan mereka yang mendengarnya.

Bagaimana supaya perkataan saya bisa menjadi garam bagi orang lain?

Tekanan emosi, situasi, dan kondisi kerap melemahkan filter omongan kita. Barangkali juga, kita menganggap bahwa berbicara banyak akan menunjukkan kepintaran, kekuatan, atau bahkan kekuasaan terhadap pihak lain.

Namun, kunci perkataan bergaram terletak pada kualitasnya, bukan kuantitas. Bukan tentang jumlah kata, melainkan seberapa besar kontribusi mereka dalam membangun dan menumbuhkan orang lain.

Di atas semua itu, kita perlu belajar dari keteladanan dari pembicara terbaik, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Dalam kisah-kisah Injil, kita melihat bagaimana tutur kata Yesus senantiasa dijiwai hikmat, kesederhanaan, kejelasan, ketegasan, dan terlebih, efektif dalam pengungkapannya.

Ingatlah tiga hal ini sebelum mengucapkan sesuatu:

Baca juga:   Kasus Abdul Somad: Adakah batasan ruang dalam berdakwah?

1. Kata-kata itu berkuasa.

Barangkali kita pernah dengar pembelaan diri atas ucapan yang tidak membuat orang lain bertumbuh. Misalnya, “Tapi, saya berniat baik!” atau, “Ini demi kebaikannya.”

Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang dewasa yang menjadi approval seeker. Mereka dibesarkan dengan prinsip reverse psychology dalam lingkungan keluarga dan sekolah. Mereka dihujani kritik, tetapi tidak mendapat dukungan, pujian, atau penghargaan.

Kawan, kata-kata kita berkuasa menumbuhkan atau meruntuhkan. Apapun motivasinya, ucapan kita memiliki dampak bagi sesama. Motivasi baik yang tidak disampaikan dengan baik malah akan menghambarkan hati orang.

2. Sebelum berucap, pikirkan: Bagaimana jika saya yang menerima perkataan ini?

Baik terhadap sesama orang percaya, maupun kepada mereka yang sedang kita jangkau, kita perlu kembangkan rasa empati saat bertutur kata. Latihlah kebiasaan menilik keadaan orang lain sebelum mengutarakan sesuatu. Apakah dia sedang marah? Sedang sedih? Kecewa? Lelah?

Dengan memahami perasaan orang lain, niscaya kata-kata kita dapat lebih efektif membangun mereka.

Baca juga:   Injil bahasa Minang: Alkitab sudah diterjemahkan ke ratusan bahasa daerah, kenapa kini muncul penolakan?

3. Jika marah, tundalah berkata-kata.

Ibarat gunung berapi meletus, perkataan kita saat sedang marah berpotensi melemparkan apa yang buruk dan kejam. Seringnya pula, kita menyesalinya setelah amarah itu reda.

Kawan, marah itu manusiawi. Tuhan Yesus menunjukkan kemarahanNya ketika Dia menjungkirbalikkan meja para pedagang di Bait Allah. Namun, ada pemisah yang sangat tipis antara marah dan berdosa. Butuh hikmat dan kedewasaan untuk tidak menembus batasnya.

Tak ada ruginya menunda kata-kata saat sedang marah. Jangan biarkan lidah menguasai tubuh. Menunda berucap lebih baik, agar kata-kata kita nantinya membangun ketimbang meruntuhkan.

Doa: Bapa, firmanMu adalah satu-satunya perkataan yang penuh kuasa. Dengan firman, Engkau menjadikan segala yang ada dari yang tidak ada. FirmanMu menyelamatkan, menegur, dan membangun. Kiranya kata-kata kami juga mendapat cipratan kuasaMu agar dapat membawa jiwa-jiwa ke dalam KerajaanMu. Amin.

Disunting dari artikel “Perkataan Yang Dibumbui Garamoleh Pdt. Togar Sianturi.

Next Post

Comments 2

  1. Yenny mustamu says:

    Terima kasih utk renunganx. God bless

Leave a Reply

Berlangganan

Daftarkan emailmu untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru Diakonia Indonesia melalui email

Join 63 other subscribers

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Follow & Support Us!!

Diakonia Indonesia encompasses the call to serve the poor and oppressed. The starting point for this is the gospel with Jesus as the role model and, based on this, our policy.